Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 16


__ADS_3

DIM. 16


“Sudah aku katakan berulang kali, jangan coba main-main dengan para anggota keluarga Xander. Duchess termasuk di dalamnya, karena dia juga akan SEGERA menjadi bagian dari keluarga Xander secara sah.”


Selama bekeja untuk keluarga Xander, Elgara belum pernah melihat kemarahan Darren Aryastya Xander seperti saat ini. Kemarahan yang sebenarnya. Tuannya itu tampak sangat marah lewat setiap kalimat yang ia lontarkan. Elgara sampai bergidik sendiri, karena kemalangan datang pada istri dan putrinya yang telah membuat seorang Darren Aryasatya Xander marah. Padahal sudah belasan tahu lamanya, Elgara mencoba menjauhkan sang istri dan sang putri dari keluarga Xander. Mengingat dulu ia sudah menyetujui janji lisan pada Darren Aryastya Xander.


Kini ia malah menjilat ludah sendiri, karena melanggar janji. Ia malah menuruti permintaan sang istri, saat mengusulkan ide agar putri mereka dititipkan di mansion Xander selagi mereka pergi ke luar kota. Awalnya Elgara sempat menolak dan meragukan ide tersebut, dikarenakan rasa sungkan. Namun, pada akhirnya ia tidak dapat menolak permintaan sang istri


Elgara memang lemah jika sudah menyangkut Estella. Istrinya. Perempuan yang berhasil merajai seluruh ruang di hatinya. Perempuan yang telah menjadikannya seorang ayah belasan tahun silam.


“Maafkan istri saya yang telah lancang menyakiti nona muda Duchess, tuan. Istri saya tidak bermaksud melakukan itu.”


Elgara buka suara. Bagaimana pun juga Estrella adalah istrinya. Perempuan yang telah menjadi tanggung jawab baginya setelah terjadi proses ijab-qabul di depan orang tua, wali, dan saksi. Elgara tidak mungkin diam saja dan tutup mata saat melihat istrinya jadi objek amukan Darren Aryasatya Xander.


“Jelaskan dulu kenapa istrimu itu lancang menyakiti Duchess? Dia tidak mungkin asal menampar putri orang sembarangan tanpa sebab dan akibat.”


Darren berkata seraya menatap lurus ke arah si pemilik nama yang menjadi objek pembicaraan mereka saat ini. Lucunya lagi, alih-alih merasa bersalah, perempuan yang sudah memiliki satu orang putri itu tampak tidak memperlihatkan rasa bersalah sedikitpun. Coba saja jika sang putri yang berada di posisi Duchess, apa dia akan tinggal diam saja seperti saat ini?


Nalurinya, seorang ibu tidak akan tinggal diam saja jika buah hatinya disakiti tanpa sebab yang jelas. Apalagi sampai titik mau tangan, padahal dipancing oleh perihal sepele.


“Bicara. Kamu tidak bisu bukan?” tanya Darren seraya bersidakep dada. “Bicara dengan lantang, apa alasan dibalik tindakan tidak terpuji yang kamu lakukan ini?”


“Saya …..” perempuan yang sudah memiliki putri yang sudah gadis itu tampak ragu untuk menjawab. Antara ragu dan menggebu-gebu. Ragu karena ia memang bertindak tanpa alasan yang jelas. Menggebu-gebu, karena hasrat untuk memiliki Draren Aryasatya Xander semakin tinggi saat mereka kembali dipertemukan sedekat ini.


Penyakit menyimpang itu sudah ia alami sejak lama. Bermula dari mengagumi Darren Aryasatya Xander, kini sampai mencintai, hingga ingin memiliki Darren Aryasatya Xander yang notabene suami perempuan lain.


“Jadi begini, tuan. Tadi kami baru tiba dari luar kota, kebetulan saat itu kami melihat putri kami dalam posisi duduk di paving blok, sedangkan nona muda Duchess tampak berdiam diri dalam posisi berdiri. Istri saya spontan langsung menghampiri putri kami dan nona muda. Namun, karena salah paham, istri saya tiba-tiba menampar nona muda Duchess karena terpancing emosi.”

__ADS_1


Elgara berbaik hati mau menjabarkan kronologi yang sebenarnya terjadi sebelum peristiwa ini terjadi.


“Istrimu menampar Duchess begitu saja hanya karena kesalah paham tersebut?” Darren geleng-geleng kepala mendengar cerita itu. Kok bisa, seorang perempuan yang juga seorang ibu, out of control hanya karena masalah sepele


“Iya, tuan.” Elgara menjawab seraya berdiri dengan Estrella yang tidak mau jauh dari rengkuhan sang ayah.


“Emosional sekali istrimu,” sindir Darren. “Sifat buruk seperti itu harus dihilangkan. Tidak baik menyaki putri orang lain tanpa sebab yang jelas. Yang ada, nanti istrimu malah diperkarakan karena tindakan cerobohnya.”


Setelah berkata demikian, Darren beralih menatap pada putri Elgara dan Estrella. Kemudian kembali menatap Estrella. Emosi yang berkumpul di ubun-ubun terasa hendak pecah tiap kali menatap perempuan tersebut. Perempuan yang Pernah menjadi bagian dari mimpi buruk yang ingin Darren lupakan seumur hidup.


Mimpi pernah memiliki Mistress alias wanita simpanan macam Estrella, jika dipikir-pikir saat ini, bodoh sekali. Darren bodoh karena berhasil jatuh ke pelukan rubah betina semacam Estrella. Dari luar saja terlihat polos, lugu, dan pemalu. Namun, saat bergerak auto jadi suhu.


“Ternyata wanita seperti kamu memiliki kebiasaan buruk, yaitu ringan tangan, ya,” kata Darren kemudian. “Sifat jelek seperti itu jangan sampai diturun-temurunkan. Tidak bermanfaat juga, yang ada malah merugikan.”


“Tuan, Ella….”


“Tuan….”


“Aku bukan tuan mu!” sahut Darren cepat. “Jangan panggil saya dengan embelembel ‘tuan’ lagi, karena aku memang bukan tuan mu.”


“Mas,” lerai Ev kala melihat sang suami mulai lepas kendali. “Jangan terlalu berlebihan, ada anak-anak di sini.”


“Dia, kan, yang mulai duluan? Dia menyakitu Duchess. Bagaimana jika Damian dan Dewita tahu soal masalah ini? mau ditaruh di mana muka kita sebagai calon mertua yang tidak dapat menjaga Duchess?”


“Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik. Di dalam, tidak di sini, mas.”


“Seharusnya pemikiran seperti ini dimiliki juga oleh dia,” kata Darren seraya melirik Estrella lewat ekor mata. “Semua masalah selalu memiliki jalan tengah. Bisa-bisanya dia memilih keputusan yang paling riskan, yaitu menyakiti Duchess. Padahal kita belu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi pada Duchess dan Capella.”

__ADS_1


“CCTV.”


Dan buka suara. Laki-laki tampan dan rupawan itu tampak murka pula. Namun, sebisa mungkin ia menjaga emosi agar dapat menenangkan sang kekasih hati. Siapa juga yang tidak shok melihat kondisi Duchess saat ini.


“Di sini ada CCTV yang menyala selama dua puluh empat jam, kita bisa meihat kebenarannya lewat rekaman tersebut." Dan menunjuk letak di mana sebuah kamera pengawasan terpasang.


“Apa yang dikatakan Dan memang benar, mas,” dukung Ev. Lagipula Ev juga merasakam rasa sakit sebagai seorang ibu saat melihat Duchess ditampar begitu saja dengan mata kepalanya sendiri.


Darren mengangguk, kemudian kembali melarikan pandangan ke arah keluarga kecil Elgara.


“Sebelum itu, saya akan memberikan satu kesempatan pada putri kalian.”


“….”


“Bercerita dengan jujur, atau ….” Darren menyeringai evil seraya menatap anak dan istri Elgara. Dua manusia yang sudah dapat diibaratkan sebagai rubah ekor Sembilan berjenis kelamin betina. Sama-sama butuh kesabaran ekstra untuk membuatnya mengakui kesalahan yang telah ia perbuat.


“….memilih menutup-nutupi. Jika kamu memilih opsi yang ke dua, jangan harap jika kalian bisa lagi menampakkan batang hidung kalian di depan keluarga Xander. Terutama kamu," telunjuk Darren Bergerak mengarah ke arah si mana Capella berada.


“Jangan pernah lagi muncul di hadapan Dan, apalagi berniat untuk menjadi benalu di hubungi Dan bersama Duchess. Pasalnya, kamu selama berhasil membuat Dan out of control setiap kali kalian bertemu. Saking bencinya Dan sama kamu. ”


💐💐


TBC


JANGAN lupa like, vote, komentar follow Author & share ❤️


Tanjung Priuk 17-07-22

__ADS_1


__ADS_2