Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 37


__ADS_3

DIM. 37


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Darren Aryasatya Xander dengan tangan sudah beralih meremat kerah baju sang putra.


Daru, Elang, and the geng tentu terkejut melihat tindakan spontan Darren. Ingin melerai, takut salah mengambil keputusan. Bagaimana pun juga Darren adalah ayah kandung Dan. Laki-laki paruh baya itu berhak marah jika sang putra membuat kesalahan fatal. Mereka tidak boleh as ikut campur jika menyangkut masalah ayah dan anak.


“Om, bisa tolong ditahan dulu emosinya?” lerai Elang pada akhirnya. Ia tidak enak jika hanya diam dan menjadi penonton “Ini di rumah sakit, om. Nggak enak sama pasien yang lain. Mendingan dibicarakan secara baik-baik.”


Darren menarik napas panjang, kemudian menghelanya perlahan-lahan. “Cepat jelaskan!” serunya kemudian, setelah melepaskan kerah baju sang putra. Ia terpancing emosi sampai berpikir dangkal barusan.


“Duchess tidak sengaja memakan permen cinta yang dia temukan di dekat water dispenser,” kata Dan mulai menjelaskan. Raut wajah laki-laki rupawan itu tetap tenang sekali pun ia baru saja ‘hampir’ dijadikan samsak hidup oleh Perè-nya sendiri.


“Ada salah satu teman tongkrongan yang membawa permen itu ke basecamp, tetapi meninggalkannya begitu saja. Dan juga salah di sini, karena tidak melarang Duchess memakan permen itu. Dan luput memeriksanya.”


Darren masih mendengarkan dengan seksama. Ia mulai mengerti alur cerita yang sebenarnya. Jadi Duchess tidak memakan permen cinta tanpa sengaja, atau akibat perbuatan sang putra. Melainkan murni karena ketidaksengajaan.


“Jelaskan lebih detail lagi. Baru Perè akan memutuskan apa tindakan yang sudah kamu ambil benar atau tidak.”


Dan mengangguk sebagai respon. Ia kemudian kembali buka suara, menjelaskan kronologi yang sebenarnya terjadi secara detail. Dibantu pula oleh kesaksian Daru dan Elang. Jika tidak dijelaskan dengan cara demikian, nanti Dan bisa saja dihakimi. Mengingat Dan yang paling bertanggungjawab dengan keselamatan Duchess selama mereka bersama.


Setelah mendengar keseluruhan kronologi peristiwa yang telah terjadi, Darren baru bisa merangkai semua teka-teki yang ada. Intinya masalah mereka dipicu oleh kelalaian satu orang, sampai-sampai permen cinta jatuh ke tangan Duchess dan luput dari pengawasan Dan, Daru, serta Elang.


“Bagaimana kondisi putri kami, dok?”


Perempuan dengan snelli dokter itu tersenyum ramah saat ia diberondong pertanyaan oleh orang tua pasien. Ia sebagai dokter tentu tahu betul rasa cemas yang dirasakan oleh keluarga pasien. Apalagi jika seorang ibu yang sudah bertanya.


“Kondisi pasien untuk saat ini sudah stabil,” ujar si dokter memberitahu keluarga pasien. Membawa angin segar bagi mereka yang sejak tadi dirundung kecemasan. “Pasien dapat melewati masa-masa krusial, karena cepat dibawa ke rumah sakit sehingga mendapatkan penanganan lanjutan. Sebelum demam, sepertinya pasien sempat mengalami hipotermia.”


Dan dari tempatnya berdiri tampak meng-iyakan di dalam hati. Ia sudah menduga jika sang tunangan sempat mengalami hipotermia. Hipotermia adalah kondisi ketika suhu tubuh turun drastis hingga di bawah 35°C. Akibatnya, jantung dan organ vital lainnya gagal berfungsi dengan semestinya. Hipotermia juga dapat berakibat fatal, karena dapat menyebabkan henti jantung, gangguan sistem pernapasan, bahkan resiko kematian.


Belum lagi setelah itu kondisi Duchess langsung berubah drastis. Suhu tubuhnya meroket dalam waktu singkat, entah apa penyebabnya. Dan juga tidak tahu pasti.


Namun, efek samping permen cinta perlu diwaspadai. Karena biasanya, beberapa jenis obat perangsang tertentu dapat menimbulkan efek samping yang berbeda-beda, misalnya sakit kepala hebat, jantung berdebar kencang, berkeringat, insomnia, tekanan darah menurun, kelelahan, dan efek samping lainnya.


“Saat ini pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Pasien baru bisa dijenguk lima belas menit lagi, dengan catatan tidak diperbolehkan lebih dari dua orang yang menjenguk. Lebih baik satu per satu jika ingin menjenguk pasien, supaya pasien yang sedang membutuhkan banyak istirahat tidak terganggu.”


“Baik, dokter.”


Dewita merespon dengan singkat. Mommy Duchess itu baru bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dokter. Di sampingnya ada Ev— Mère Dan sekaligus bestie Dewita semenjak muda—yang tengah memberi support. Dewita tak lupa berucap syukur sepeninggalan sang dokter. Setidaknya sekarang Duchess baik-baik saja.


“Bagaimana dengan kondisi Duchess?” tanya Darren yang baru saja datang mendekat. Di sampingnya ada Dan, Daru, serta Elang yang mengikuti.


“Duchess sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, mas. Kondisinya sudah lebih stabil.”

__ADS_1


“Syukurlah,” ujar Darren seraya menatap Damian yang sejak tadi diam saja. Laki-laki berkacama itu pasti sangat cemas. Darren tahu betul jika kelemahan terbesar Damian Widyatama adalah putri kecilnya semenjak ia bergelar seorang ayah.


“Tenanglah. Kondisi Duchess sekarang sudah lebih baik.” Darren mencoba memberi dukungan moril lewat tepukan pelan di bahu Damian. “Aku tahu kamu cemas, Dam. Sekarang kamu sudah dapat bernapas lega, karena kondisi Duchess sudah kembali stabil.”


Damian mengangguk. Ia kemudian menatap Dan yang sejak tadi terdiam. Walaupun begitu, ia bisa melihat sorot cemas di bola matanya.


“Dan,” panggil Damian.


“Iya, dad.”


“Kemari.”


Dan mengangguk, ia kemudian berjalan mendekat ke arah Damian. “Ada apa dad?”


Tanpa suara, Damian memeluk putra semata wayang Darren Aryasatya Xander dan Evelyn Xander. Untuk beberapa saat semua orang di sama memberikan waktu bagi Damian dan Dan. Sebelum mantan sekretaris Darren itu melepaskan pelukannya.


“Terima kasih, Dan.”


“Terima kasih untuk apa, dad?”


Dan tampak kebingungan dengan ucapan terima kasih yang tiba-tiba diberikan Damian kepadanya. Terima kasih untuk apa?


“Terima kasih karena lagi-lagi kamu yang telah menjadi orang pertama yang menyelematkan Duchess.” Damian menatap Dan dengan sorot mata yang melunak. “Duchess mungkin kekanakan, tetapi kamu selalu bersikap dewasa dalam menghadapi setiap tingkah lakunya. Kamu juga selalu siap pasang badan setiap kali bahaya menghadang Duchess.”


Damian bersyukur karena Dan yang menolong Duchess saat masa depannya di pertaruhkan, hanya karena sebuah permen. Jika saja laki-laki lain yang menemukan Duchess dalam kondisi tersebut, entah apa jadinya.


“Dan.”


Kini giliran Dewita yang memanggil Dan dengan mata berkaca-kaca. “Calon menantu mommy memang selalu bisa diandalkan,” ungkapnya. “Jika bukan karena Dan, mungkin sekarang kondisi Duchess bisa semakin buruk.”


Dan menggelengkan kepala. “Dan tidak melakukannya tanpa sebab, mom. Selain itu, Dan juga tidak menolong Duchess sendirian. Ada Elang, Daru, dan anak-anak yang membantu Dan membawa Duchess ke rumah sakit.”


Dewita semakin berkaca-kaca. Ia dengan segera memeluk Dan—calon menantu kebanggaannya. Bergantian dengan Elang dan Daru. Namun, tiba-tiba Dewita seperti menyadari ketidakhadiran seseorang di sana. Jika Duchess berada dalam kondisi seperti ini, biasanya ia tidak pernah absen hadir. Akan tetapi, kali ini kemana sosok rupawan pemilik kulit seputih porselen itu pergi?


💐💐


“Tidak perlu,” tolak Dian saat dua orang bodyguard yang diperintahkan sang papa hendak mengawal dirinya masuk ke dalam rumah.


Mood keturunan Wijaya satu itu sedang tidak baik-baik saja. Sepanjang jalan pulang ia bahkan memacu kendaraannya cepat-cepat, mengingat jalan yang tadi ia lewati cukup lenggang.


Memasuki kediaman Wijaya, Dian sayup-sayup mulai mendengar pembicaraan orang-orang di dalam sana. Pasti tamu kehormatan yang dimaksud si mbak siang tadi masih tinggal. Terbukti dari adanya 4 orang berwajah European yang berjaga di luar sana. Mereka pasti bodyguard tamu kehormatan yang dimaksud.


“As’salamaualaikum. Dian pulang,” kata Dian memberi salam.

__ADS_1


Se-marah apapun Dian, ia tetap tidak akan melupakan adab dan etika yang sudah diajarkan orang tuanya sejak ia masih kecil. Ucapan salam yang ia lantunkan barusan, ternyata langsung menarik perhatian tiga orang yang mengisi ruang tamu.


“Waalaikumsalam. Mamas sudah pulang?”


Sang mama yang pertama kali merespon ucapan salamnya, kemudian sang papa yang memberikan respon singkat. Sedangkan tamu kehormatan yang dimaksud si mbak siang tadi, tampak menebar senyum hangat yang memiliki kadar gula di atas rata-rata. Namun, itu tidak sama sekali berpengaruh bagi Dian.


“Maaf, telat. Tadi ada urusan di basecamp.”


“Iya, nggak apa-apa.” Dayu tersenyum hangat seraya memberikan intrupsi supaya sang putra duduk. “Mamas duduk dulu.”


Dan mengikuti perintah sang mama. Ia duduk di sofa singel yang bersebrangan langsung dengan sofa yang digunakan mama serta tamu kehormatan mereka.


“Mamas nggak mau nyapa tamu kita dulu? Ini teman lama mamas loh? memang nggak kangen?”


Dayu yang biasanya pendiam dan bicara secukupnya, kali ini sampai repot-repot bicara panjang kali lebar untuk memberikan sang putra kode secara langsung. Jika tidak begitu, Dian tidak akan konek.


“Kamu kembali.”


Alih-alih sapaan hangat yang diberikan—seperti sapaan yang diberikan orang-orang pada umumnya kala bertemu kerabat lama—Dian memilih to the point berkata demikian dengan suara datar. Dari sebelah kanan tempatnya berdiri, sang ayah tampak mengamati. Siapa menegur.


“Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali lagi ke sini,” tambah Dian tanpa ekspresi. Membuat lawan bicaranya serba salah, padahal tidak berbuat kesalahan sedikitpun.


“Dian, jaga bicaramu.” Dean buka suara. Jika dibiarkan, lama-lama sang putra bisa semakin lepas kendali. “Apa begini cara kamu menyapa teman lama?”


Merasakan atmosfir yang tidak bersahabat karena kehadirannya, tamu kehormatan yang berasal dari sebuah negera kecil yang makmur nan jauh di belahan bumi sana tampak itu menundukkan kepala. Ia tahu jika kedatangannya ke sini pasti tidak akan mendapatkan sambutan yang baik, terutama dari Dian.


“Tuan putri,” panggil Dayu. Membuat si pemilik nama menoleh ke arahnya. “Maaf atas ketidaksopanan Dian. Dian pasti tidak bermaksud demikian.”


“Tidak apa-apa,” sahut si pemilik nama lengkap Princess Daneen. Nama Princess Daneen sendiri memiliki arti putri raja, sesuai posisinya sebagai putri pertama raja Aroha.


“Senang berjumpa dengan kamu lagi, Rahardian. Sudah lama aku ingin menjumpai kamu.”


Princess Daneen mungkin senang bertemu lagi dengan Dian, namun tidak bagi Dian. Ia malah tidak mau bertemu lagi dengan gadis yang terlahir dengan darah bangsawan yang berasal dari Negara kecil bernama Aroha. Negara kecil yang besarnya tidak sampai setengah dari besaran pulau Jawa. Namun, Aroha sangat kaya, karena negaranya memiliki komoditas utama berupa berlian alam, emas, dan gas bumi.


Selain itu Aroha juga terkenal akan keindahan alamnya. Oleh karena itu, walaupun Aroha negara yang kecil, setiap tahun pengunjung yang datang ke Aroha cukup banyak. Hal tersebut tentu membuka peluang tersendiri bagi para rakyat Aroha. Namun, kunjungan ke negara Aroha setiap tahunnya tetap dibatasi oleh pemimpin negara mereka.


Aroha adalah negara yang rakyatnya dikenal penuh cinta. Nama Aroha sendiri mengandung arti cinta dalam bahasa Maori, New Zeland. Sistem pemerintahan di Aroha adalah monarki atau Negara Kerajaan. Salah satu bentuk negara selain serikat. Negara dengan sistem pemerintahan monarki dipimpin oleh raja atau kaisar.


“Sayang sekali,” balas Dan. Ia menatap gadis di hadapannya. Gadis dengan visual yang mendekati kata sempurna dengan perpaduan rupawan Asia dengan European. “Aku tidak merasakan perasaan yang sama dengan apa yang Anda rasakan.”


💐💐


TBC

__ADS_1


Sukabumi 12-08-22


__ADS_2