
DIM. 40
Nasi hangat dipadukan dengan suwiran tongkol pedas yang dimasak dengan kemangi, benar-benar juara rasanya. Selain lauk suwiran tongkol pedas yang dimasak dengan kemangi, ada juga lauk lain, seperti tumis brokoli dengan daging, udang asam manis, cumi goreng tepung, dan sup hangat yang disajikan dengan isian bakso ikan, fish dumpling cheese, beserta kawan-kawannya. Tidak lupa pula makanan penutup yang manis, seperti puding jeruk, siap menjadi santapan mereka.
“Habiskan.”
Keturunan Wijaya yang tengah mengunyah nasi hangat dengan tumis brokoli dan daging itu memutar bola mata saat satu sendok cumi goreng tepung mengisi piringnya. Ia kemudian menoleh, ke arah si pelaku dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Apa? disuruh makan, tinggal dimakan aja. Tega buat Mère sedih?”
Kini giliran keturunan Xander yang mengintimidasi secara halus. Palacidio Daniel Adhitama Xander tampak menyunggingkan senyum penuh kemenangan saat melihat lawan bicaranya memasukkan satu cumi goreng tepung ke dalam mulut. Ia sendiri kemudian kembali memasukkan satu suap nasi dengan lauk suwiran tongkol pedas yang dimasak dengan kemangi.
“Heh.”
“Apa?”
Dengan wajah watados alias wajah-wajah tanpa dosa, Dian Wijaya yang baru saja memindahkan beberapa ekor udang yang dimasak asam manis ke piring Dan menoleh.
“Habiskan. Supaya Mère tidak sedih.”
Dan mendengus mendengar kalimat yang diucapkan Dian. “Ck. Copy paste.”
“Apa?”
“Nggak usah copy paste. Nggak cocok.”
“Aku cuma mengingatkan kembali,” dalih Dian.
Ia tidak mau dibilang copy paste, karena memang hanya mengingatkan jika mereka harus menghabiskan semua itu. Berdua. Tolong dicatat dan diingat. Dihabiskan berdua.
Walaupun katanya makanan yang disiapkan untuk Dan cukup untuk satu orang, namun saat dimakan bersama Dian, rasa-rasanya semua makanan itu cukup untuk makan 3 sampai 4 orang.
“Kamu habiskan itu, aku habiskan ini.”
Dan menyodorkan piring berisi cumi goreng tepung yang tinggal tersisa beberapa biji ke hadapan Dian. Kemudian ia menarik satu piring berisi udang asam manis ke arah dirinya sendiri. Ia berencana membagi secara rata makanan yang tersisa. Supaya apa? tentu saja supaya cepat habis tak bersisa.
“Habiskan. Jangan sampai bersisa.”
“Hm. Kamu juga. Habiskan sampai tetes terakhir saus asam manisnya,” timpal Dian tidak mau kalah.
Dan mendengus. Dian memilih mengabaikan. Ia kembali menikmati sisa nasi dan lauk di piringnya. Bohong jika Dian keberatan menghabiskan semua masakan Ev. Orang semua makanan Ev sangat Dian sukai. Perpaduan citarasa dari berbagai rempah dan bumbu benar-benar pas, sehingga melahirkan rasa yang lezat nan nikmat. Padahal menu yang dibuat sederhana, namun rasanya luar biasa.
“Duchess lihat? Mereka itu sebenarnya bestie, cuma kegedean gengsi.”
__ADS_1
Si pemilik nama yang tengah berbaring di atas bed pasien tampak tersenyum tipis. Sedari tadi ia memang menikmati interaksi antara keturunan Xander dan keturunan Wijaya. Pemandangan yang jarang sekali dilihat, Dan dan Dian satu frame, serta sedekat itu. Mereka juga tampak manis saat bergantian mengambilkan lauk untuk masing-masing. Walaupun kerap terlihat enggan saat berinteraksi secara langsung, namun semua orang tidak dapat menebak bagaimana sebenarnya perasaan keduanya. Apa benar mereka saling benci? bisa jadi benar kata sang mommy, mereka cuma gengsi.
“Dulu papa-nya Dian sama Perè-nya Dan gitu loh.”
“Masa mom?”
Dewita tersenyum seraya menyentuh pucuk kepala sang putri. “Iya. Tapi, saat mereka beranjak dewasa, pemikiran mereka juga lebih open minded. Satu alasan yang membuat mereka bersaimbara di masa lalu, tidak lagi diperdebatkan di masa depan, karena mereka sama-sama sudah memaafkan.”
Dengan senyum yang manis terukir, Dewita yan duduk di kursi bekas Dan singgahi, menatap sang putri lembut. Ia kemudian mengenggam satu telapak tangan sang putri. Buah hati tercintanya.
“Asal Duchess tahu, seorang pria bisa melakukan apa saja demi wanita yang dia cintai. Namun, pria yang lebih hebat adalah pria yang mampu melepaskan dengan ikhlas saat wanita yang dia cintai bahagia walaupun bukan dengan dirinya.”
“Begitu ya, mom?”
Dewita tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Akan tetapi, seorang wanita juga harus bisa tegas jika dihadapkan dengan dua pilihan yang rumit. Melepaskan atau mempertahankan. Suatu saat nanti, Duchess bisa saja berada dalam posisi yang sama, yaitu harus memilih antara melepaskan atau mempertahankan.”
Dewita bisa melihat kebingungan di wajah sang putri. Ia kemudian kembali berujar. “Kita tidak boleh serakah. Ah, bukan kita saja. Semua umat manusia seharusnya tidak boleh serakah, karena serakah itu sifat yang tidak baik. Ujung-ujungnya, manusia yang serakah pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.”
Dewita beralih, menatap ke arah Dan dan Dian yang terlihat sudah mulai selesai mengisi perut. Kedua anak muda itu tampak tengah sibuk membenahi alat makan kotor yang telah digunakan. Memasukkan lagi Tupperware yang tidak digunakan ke dalam paper bag.
“Suatu saat nanti, bisa jadi Dan atau Dian akan meninggalkan Duchess.”
“Maksud mommy?”
“Maksud mommy Duchess tidak akan menjadi perioritas utama lagi?”
“Ini bukan masalah perioritas utama lagi, akan tetapi bagaimana kalian menyikapi proses menuju dewasa. Terkadang cinta bisa menjadi perioritas utama, namun tidak untuk selamanya. Mommy di sini cuma ingin Duchess bersiap untuk kedepannya. Duchess tahu Mère Ev? Walaupun sejak kecil Mère Ev dikelilingi oleh pria-pria yang memperlakukannya like a queen every days, Mère Ev tidak jadi wanita yang lembek dan manja. Mère Ev tumbuh menjadi wanita yang independen dan tidak bergantung pada siapa pun, termasuk kepada Perè-nya Dan yang jelas-jelas pria yang Mère Ev cintai.”
Dewita mengelus kerutan yang tercipta di kening sang putri. Duchess tampak berpikir cukup keras agar dapat mencerna ucapan sang mommy.
“Perlahan-lahan Duchess pasti akan mengerti apa yang mommy maksud.”
Dewita mengecup sebelah pipi sang putri. Ia gemas sendiri mengingat posisi sang putri mirip Ev di masa lalu. Dulu Ev juga dikelilingi oleh para laki-laki tampan, mulai dari Darren, Dian, Damian—suaminya, dua saudara laki-lakinya—El dan Ed, serta Dimi. Walaupun Dimi sempat memiliki problem dengan masalah seksual, namun visual Dimi sebagai laki-laki dapat dikategorikan cukup di atas rata-rata. Walaupun diperlakukan like a queen every days setiap hari, Ev memilih tumbuh menjadi perempuan independen yang selalu berusaha agar bisa melakukan semua sendiri.
Dewita tahu role model bagi Duchess adalah Evelyn Xander. Duchess kerap kali bercermin pada Ev untuk mencari tahu apa yang harus ia contoh dan terapkan dalam kehidupan masa remajanya. Oleh karena itu, Dewita menjadikan Ev ibarat dalam topik pembicaraannya agar Duchess mudah mengerti.
Sebenarnya Dewita bicara seperti ini agar sang putri mewanti-wanti sejak dini. Manusia hanya bisa berharap dan berencana. Jodoh, rizki, dan maut adalah rahasia milik Tuhan. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui soal jodoh, rizki, serta maut kapan menjemput. Dewita ingin sang putri mewanti-wanti sejak dini apa saja yang nantinya dapat menghadang jalannya. Apalagi sekarang Dewita sudah melihat bibit-bibir problem bagi masa depan Duchess.
Siapa lagi jika bukan putri dari mantan calon Mistress dalam hidup Darren Aryasatya Xander. Sekalipun mimpi buruk itu tidak pernah terjadi, namun Dewita dapat melihat jika perempuan itu masih berambisi. Entah ia yang masih sangat berambisi untuk melakukannya sendiri, atau malah diturunkan pada putri sendiri.
💐💐
“Ibu perhatikan belakangan ini kamu sering berperilaku aneh. Ada yang sedang kamu sembunyikan dari ibu?”
__ADS_1
Perempuan dengan gaun tidur tanpa tali yang dilapisi dengan bathrobe bertali itu menghadang jalan sang putri yang baru saja kembali dari dapur.
“Maksud ibu apa? Capella tidak menyembunyikan apapun.”
“Jangan coba-coba membohongi ibu, Capella Megantara. Kamu lupa siapa yang melahirkan kamu?”
“….”
“Aku. Ibumu. Wanita yang melahirkan kamu ke dunia dan membesarkan kamu hingga sebesar ini adalah aku, ibumu.”
Estrella bergerak guna mengikis jarak di antara mereka. Sedangkan Capella, bergerak mundur secara perlahan. Ia selalu ketakutan jika sang ibu menunjukkan sisi gelapnya.
“Katakan. Apa yang sedang kamu coba sembunyikan?”
“….”
“Katakan …atau ibu akan mencaritahu sendiri,” desak Estrella.
“Tidak ada yang Capella sembunyikan,” jawab sang putri dengan suara kecil. Wajahnya tertunduk, takut menatap sang ibu.
“Begitu, ya?” Estrella tersenyum miring seraya meraih dagu sang putri. “Kamu pikir ibu bodoh? Kamu pikir ibu tidak tahu bagaimana ekspresi wajah kamu saat kamu menyembunyikan sesuatu?”
“Ibu ….Capella….”
“Katakan, atau ibu mencaritahu nya sendiri.”
“Capella ….sudah dapat berkomunikasi dengan kak Dan!” ujar Capella dalam satu kali tarikan napas.
“Itu kabar bagus,” respon Estrella. Senyum miring di bibirnya perlahan-lahan mulai terganti. “Kamu harus semakin dekat dengan Dan. Mengerti?”
“I-ya, ibu.”
“Anak pintar,” puji Estrella seraya mengelus pipi sang putri. ‘Kamu harus menjadi pion untuk rencana ibu, sayang. Teruslah mendekati Dan, Capella. Sedangkan ibu akan semakin agresif mendekati ayahnya.’ Estrella membatin licik di dalam hati.
Tanpa mereka berdua ketahui, sejak tadi interaksi merka direkam oleh sepasang netra coklat milik laki-laki yang berdiri di ujung tangga denagn kondisi bertelanjang dada. Kedua tangan laki-laki itu tampak mengepal, kala melihat ekspresi ketakutan di wajah sang putri.
“Kamu benar-benar telah merusak putri kita, Ella.”
💐💐
TBC
Sukabumi 15-08-22
__ADS_1