
DIM. 59
“Jadi benar anak itu terobsesi sama putra Perè?” raut cemas tampak tergambar di wajah laki-laki yang masih rupawan walaupun sudah memasuki usia kepala empat. Ia kemudian menatap sang istri yang tengah mengelus surai hitam milik putra mereka. “Bener ‘kan sayang, anak itu ada something dengan kejiwaannya.”
Sang istri yang tiba-tiba disebut-sebut hanya mengangguk kecil. “Sekarang yang terpenting Dan sudah mengatasi masalah itu dengan bijak,” katanya seraya tersenyum kecil. “Mère bangga sama Dan.”
Si pemilik nama yang sedang berbaring di pangkuan sang ibu tampak menyunggingkan senyum tipis. Setelah sekian lama merasa ada beban yang menghimpit hati juga pikiran, hari ini satu per satu beban itu terangkat. Oleh karena itu, ia ingin sekali manja pada perempuan yang telah melahirkannya ke dunia. Muka boleh saja kaku, dingin, plus datar. Namun, jika sudah bertemu sang ibu ia akan berubah seratus delapan puluh derajat.
“Jadi sekarang bagaimana dengan kondisi Capella?” tanya sang ibu tiba-tiba.
“Pak Elgara masih menunggu di rumah sakit, karena putrinya masih harus mendapatkan pengawasan intensif,” tutur Dan. Ia kemudian merubah posisinya menjadi duduk.
“Apa Obsessive compulsive disorder yang dialami oleh Capella sudah sangat parah?”
Dan menggelengkan kepala. “Dan tidak tahu secara detail mengenai parah atau tidaknya OCD yang dialami oleh putri Pak Elgara. Namun, jika diperhatikan lebih seksama, tindakannya sudah sering kelewat batas.”
Ev mengangguk paham. Ia dan sang suami sempat merasa risau karena sang putra tak kunjung pulang sampai pagi menjelang. Sekitar pukul satu dini hari putra mereka baru pulang dan langsung ambruk di sofa ruang tamu. Tuan muda Xander itu terlihat sangat lelah setibanya di rumah. Ketika diintrogasi lebih lanjut oleh kedua orang tuanya, mereka baru dapat memahami situasi Dan.
Dan menceritakan semuanya, tidak terkecuali soal rencana Elang yang ingin menjebak Capella agar hubungan di antara mereka selesai begitu saja. Namun, rencana itu tidak berjalan mulus dan harus membuat Dan ikut turun tangan. Akan tetapi plot twist muncul dari Capella. Gadis muda itu sempat melakukan percobaan bunuh diri dengan cara menyayat nadi nya sendiri menggunakan pisau cutter yang ada di area bar. Setelah dilarikan ke rumah sakit, ternyata tim medis malah menemukan fakta yang mencengangkan.
Capella mengalami Obsessive compulsive disorder. Obsessive compulsive disorder atau OCD mungkin sudah tidak asing lagi di telinga sebagian orang, mengingat salah satu percabangan dari gangguan kejiwaan ini dapat menyerang siapa saja. Termasuk anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang tua. Selain itu OCD juga tidak mengenal gender serta status sosial. Bahkan sekelas publick figure saja dapat mengalami OCD karena alasan berbagai faktor.
OCD sendiri adalah gangguan mental yang gejalanya bisa hilang dan timbul. Gejala OCD terdorong oleh pikiran obsesif untuk menghindari rasa takut dan cemas. OCD membuat pengidapnya mempunyai pikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol, dan sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif.
“Biasanya pengidap OCD harus mengonsumsi obat-obatan seperti serotonin reuptake inhibitors (SRIs) dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Kemungkinan besar dokter yang menangani Capella juga akan menyarankan dua jenis obat itu,” monolog Ev.
“Mère tahu dari mana soal obat-obat itu?” tanya Dan, mewakili rasa penasaran sang Perè pula.
__ADS_1
“Waktu Mère belum menikah dengan Perè, Om El juga pernah mengidap Obsessive compulsive disorder.”
Dan tampak terkejut mengetahui fakta yang baru saja dibeberkan sang ibu. Om-nya yang terkenal sangat menjaga kesehatan, serta tidak pernah terlihat jatuh sakit ternyata pernah mengalami Obsessive compulsive disorder atau OCD.
“Kalau Dan penasaran kenapa Om El sempat mengidap OCD, itu karena dulu Om terlalu tertekan dengan batasan yang dibuat oleh Opa. Opa menuntut Om El untuk terus memenuhi standar yang Opa buat, padahal Om El sangat tertekan. Tapi, sekarang Om El sudah baik-baik saja.”
Dalam hidup Dan, El termasuk salah satu orang yang cukup berperan besar di dalamnya. Ev memiliki dua kakak laki-laki, tetapi El lah yang paling dekat dengan Dan sejak Dan kecil. Sekali pun laki-laki itu tinggal di Swiss, kadang berpindah ke beberapa Negara lain di Eropa dan Amerika. Namun, komunikasi di antara mereka tetap terjalin dengan baik.
“Pada dasarnya apapun yang dipaksakan tidak akan membuahkan hasil baik,” ujar Darren kemudian. “Oleh karena itu, sejak dulu Perè dan Mère tidak pernah menekan Dan. Kita selalu berusaha memberikan Dan maupun Dyra kebebasan dalam memilih. Contohnya saja Dan dan Duchess. Perjodohan itu memang benar adanya, serta telah Perè cetuskan semenjak Duchess belum lahir ke dunia. Tapi, Dan juga memiliki hak untuk menolak dijodohkan dengan Duchess jika tidak suka. Lagipula pertunangan kalian belum diumumkan secara resmi, jadi masih bisa dibatal—“
“No, Perè!” potong Dan cepat. Menyadari kesalahannya karena memotong perkataan sang ayah tanpa sopan-santun, Dan langsung mengucapkan permintaan maaf. “Maaf, Perè. Dan hanya spontan menjawab.”
Darren tersenyum tipis melihat tingkah laku sang putra yang jarang, bahkan tidak pernah diperlihatkan pada orang lain, kecuali pada orang tua serata orang-orang terkasihnya.
“Kalau melihat kondisi yang sekarang, Perè mana sanggup membatalkan pertunangan kamu dan Duchess. Orang kamu nya sudah bucin begitu.” Darren menatap putranya dengan senyum tersungging di bibir.
Ev juga melakukan hal yang sama. Ia masih dengan teratur membelai surai hitam sang putra, sekali pun sekarang Dan sudah tidak berbaring di pangkuannya lagi. “Dan sangat sayang sama Duchess, ya? Sampai-sampai setiap perempuan yang berniat dekat dengan Dan langsung ditolak mentah-mentah.”
Darren langsung tertawa renyah mendengar putranya yang sebelas dua belas dengan dirinya saat masih muda. Sedangkan Ev hanya menatap sang suami heran, seraya tetap mengelus sayang surai sang putra.
“Pantas saja kamu diam-diam posesif-nya minta ampun. Nggak heran sih, sejak Duchess baru lahir juga sudah kamu klaim,” komentar Darren kemudian. “Perè juga sempat dapat informasi kalau kamu sering nyuri Duchess diam-diam, supaya Duchess punya lebih banyak waktu sama kamu di sekolah. Mengingat Duchess itu sangat popular, jadi kamu takut kalah saing?”
Dan tidak merespon ucapan sang ayah, toh apa yang dikatakan sang ayah tidak sepenuhnya salah.
“Sabar, boy. Itu ujian. Dulu Perè juga pernah berada di posisi kamu. Karena kita memiliki pasangan yang sama-sama luar biasa sempurna.”
Ev tersenyum simpul mendengar perkataan sang suami. “Berlebihan.”
“Siapa? Aku?” darren menunjuk dirinya sendiri. “Aku bicara apa adanya, Ev. Karena dulu mendapatkan kamu itu susah sekali.”
__ADS_1
Ev hanya merespon singkat. Ia kemudian menatap sang putra lekat. “Jika Dan sayang Duchess, jangan sampai Dan merusak Duchess sebelum kalian memiliki ikatan yang resmi di mata hukum dan agama.”
Dan mengangguk. “Iya, Mère. Dan mengerti.”
“Mengerti apa, boy?” pancing Darren seraya menaik turunkan alisnya.
“Dan harus menjaga Duchess, karena cuma laki-laki pengecut yang merusak gadis yang ia sayangi dengan dalih bukti mencintai.”
“Good opinions,” puji Darren. Tak lupa ia memberikan satu jempol untuk sang putra.
“Oleh karena itu, jika Perè dan Mère menyetujui, Dan ingin langsung menikahi Duchess setelah lulus S1.”
Darren langsung terlonjak kaget mendengar penuturan sang putra. Begitu pula dengan Ev.
“Kamu yakin ingin menikahi Duchess setelah lulus S1?”
Dan mengangguk mengiyakan dengan penuh keyakinan.
“Perè kira kamu mau nikahin Duchess sekarang-sekarang saking ngebet-nya,” lanjut Darren kemudian. Menyulut tatapan tajam dari sang istri. Sedangkan senyum tipis tersungging di bibir sang putra.
“Kalau Perè dan Mère tidak keberatan Dan nikah muda, why no’t? bukan kah jika seorang laki-laki sudah baligh dan siap untuk menikah, maka hukum menikah itu akan berubah menjadi wajib?”
Darren gelagapan. Ia tidak menyangka jika guyonan yang ia layangkan ditanggapi dengan serius oleh sang putra. “Eh, maksudnya Perè cuma bercanda, Dan. Perè dan Mère maunya kamu itu sukses dulu, baru menikahi Duchess. Lagipula menikah itu tidak mudah. Kamu dan Duchess juga masih sangat muda, jadi pikir-pikir dulu lah.”
Dan tersenyum tipis seraya mengangguk. “Kalau itu yang Perè dan Mère inginkan, Dan akan berusaha mewujudkannya. Dan harus sukses, lalu membuat Perè dan Mère bangga, baru mengutarakan niat baik untuk segera menikahi Duchess.”
💐💐
TBC
__ADS_1
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
Tanggerang 27-09-22