Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 43


__ADS_3

DIM. 43


Duchess sudah diperbolehkan kembali ke rumah pada keesokan harinya. Hal itu dikarenakan kondisi Duchess dapat pulih dengan cepat. Para orang tua serta orang-orang terdekat tentu menyambut kabar tersebut dengan gembira. Karena masih lemas, Duchess mengambil cuti sakit atas usulan sang tunangan yang langsung over protektif. Dan sendiri langsung menghubungi wali kelas Duchess untuk memberitahukan soal kondisi Duchess. Karena Duchess tidak sekolah, sebagian besar dari 4 HANDS seperti kehilangan Queen mereka. Biasanya Duchess akan menjadi penghibur mereka disela-sela rutinitas belajar.


“Lo yakin nggak mau Dan?”


Elang yang menghabiskan sisa waktu sorenya bersama Dan untuk latihan fisik kembali bertanya. Ia sebenarnya sanggup menghabiskan jajanan street food alias kaki lima yang tadi dibeli. Namun, atas dasar kesopanan ia tentu menawari Dan yang ada di sampingnya.


“Nggak. Habisin aja.”


“Ok,” sahut Elang cepat. “Omong-omong, si Dian tumben nggak ikut latihan fisik? Biasanya dia ‘kan yang paling giat latihan fisik. Calon Abdi Negara.”


Elang terkekeh di akhir kalimat. Awalnya bukan ia dan Dan saja yang latihan fisik, tapi ada anak-anak yang lain. Biasanya Dian juga tidak pernah absen ikut latihan fisik, mengingat ia bercita-cita menjadi Abdi Negara.


Laki-laki yang menjabat sebagai ketua MPK, ketua ekstrakulikuler paskibraka dan ketua ekstrakulikuler renang itu sudah mempersiapkan diri dengan baik sejak lama. Dian juga sudah mengharumkan nama SMA Wijaya semenjak duduk di kelas X dari berbagai cabang olimpiade akademik maupun non akademik. Apalagi pada saat duduk di kelas XI, ia terpilih menjadi paskibraka perwakilan DKI Jakarta untuk menjadi pasukan pengibar bendera di istana Negara.


Detasemen Jala Mangkara atau DENJAKA adalah tujuan utama Dian. Ia ingin menjadi salah satu anggota pasukan elit dari TNI Angkatan Laut tersebut. Sekalipun nanti kulit seputih porselen miliknya akan berubah menjadi kecoklatan atau bahkan hitam legam, Dian tidak takut. Sebuah kebanggan tersendiri jika ia bisa bergabung dengan TNI AL Negara kesatuan republik Indonesia.


Sebagai teman dekat, Elang dan Dan termasuk dua orang yang tahu betul soal cita-cita mulia Dian. Sedangkan Elang sendiri, ia kemungkinan besar akan mengikuti jejak sang ayah jika tidak diijinkan untuk mengikuti audisi. Diam-diam Elang memang memiliki suara emas dan tubuh yang luwes ketika menari.


Ia bercita-cita untuk mengikuti audisi agensi raksasa yang biasa dibuka secara global. Namun, jika orang tuanya tidak mengizinkan, Elang tidak akan memaksa. Karena ayahnya sendiri berkata, ragu akan wajah rupawan dan suara emas sang putra. Apalagi sifat minus Elang yang selengehan, petakilan, dan susah diatur.


Lain cerita dengan Dan. Putra semata wayang Darren dan Ev itu memiliki cita-cita untuk menjadi bussines man di bidang star up. Mengingat perusahaan milik keluarganya sudah bergerak di bidang impor-ekspor, mulai dari furniture, sandang, pangan, mebel, dan banyak lagi.


Dan juga ingin mematenkan namanya di majalah FORBES—majalah bisnis dan majalah finansial Amerika Serikat—mengikuti jejak sang ayah sebagai salah satu eksekutif muda yang paling berpengaruh pada masanya. Mère-nya Dan juga pernah menghiasi cover majalah FORBES Asia. Mère Ev masuk ke dalam daftar FORBES 30 Under 30 Asia, kategori hiburan.


Nama Mère Ev masuk daftar FORBES bersama dengan nama orang tua Dian yang masuk daftar FORBES sebagai eksekutif muda yang bergemilang prestasi dan orang yang memiliki bakat tinggi terhadap pelestarian budaya.


“Dian mungkin sibuk,” kata Dan seraya membuka tutup botol air mineral yang tadi ia beli di toko waralaba serba ada.


Elang mengangguk-angguk paham. Ia kemudian kembali mengunyah sembari membuka handphone yang tadi sempat mati untuk beberapa saat. Sepertinya ada pesan singkat yang masuk. Ia langsung menarik sudut-sudut bibir saat membuka pesan singkat tersebut.


Gelagat Elang yang tampak seperti orang kasmaran saat membuka pesan dari ayang, tidak luput dari pantauan Dan. Dan selalu waspada setiap kali Elang berkomunikasi dengan Elang. Takut-takut Elang malah jatuh pada permainannya sendiri.


“Gue duluan ya, Dan. Udah dijemput,” kata Elang seraya memasukkan telepon genggam miliknya ke dalam saku celana. Ia juga bergegas membenahi sisa jajanan miliknya, dan membuang bekas bungkusnya ke tempat sampah terdekat.


“Hm.”


“Besok gue kirim contoh LPJ ekstrakulikuler basket ke lo lewat surel. Nanti malem gue mau teror sekretaris ekskul basket dulu.” Laki-laki yang memiliki tahi lalat di bawah mata kiri itu kembali berkata.


Dan mengangguk kecil seraya membuang botol bekas air minumnya ke tong sampah khusus plastik. Sebelum benar-benar membiarkan Elang pergi, Dan sempat berucap sekali lagi.

__ADS_1


“Jangan sampai terbawa perasaan saat meladeni cewek itu, Lang. Dia medusa.”


Dan sudah memperingati Elang. Berulang kali malahan, namun entah bagaimana respon Elang. Semua kembali kepada ia yang menjalankan permainan dengan takdir. Jika Elang tidak cerdik bermain, bisa saja ia menjadi bulan-bulanan sebuah rasa bernama cinta.


“Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Ngeri Papih lihatnya.”


Elang yang baru saja tiba di rumah, langsung disindir oleh kata-kata ‘nyelekit’ dari laki-laki paruh baya yang merupakan ayah kandungnya sendiri.


“Bucin?” tanya Dewangga tiba-tiba.


“Apaan sih, Pih. Kepo aja kayak dora.”


Dewangga—ayah Elang membulatkan mata mendengarnya. “Bahasa mu, anak muda. Mau Papih kutuk jadi kecebong lagi supaya bisa dimasukin ke dalam perut?”


“Terserah deh, Pih. Terserah,” kata Elang seraya mengambil posisi duduk di samping sang ayah. Ia masih asik bertukar pesan dengan seseorang.


“Papih nanya serius ini.”


“Iya. Tanya aja kenapa sih? Papih dari tadi banyak prolog nya doang.”


Dewangga mendengus seraya melirik sang anak. “Kalau pacaran jangan kebablasan, Lang. Papih dengar kamu sering gonta-ganti pacar. Masih gitu sampai sekarang?”


“Hm.”


Elang mengerucutkan bibir seraya mematikan handphone. “Nggak kok. Sekarang lagi pensiun.”


“Terus barusan chattingan sama siapa?” selidik Dewangga.


Elang tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuk. “Calon, Pih.”


“Calon apaan?”


“Calon ….pacar,” kata Elang dengan suara kian mengecil di akhir.


Dewangga menghela napas gusar seraya menepuk dada. “Lang, Papih dulu juga playboy loh. Tapi playboy yang bermodal.”


“Maksudnya, Pih?”


“Playboy sudah jadi eksekutif muda. Itu pun track record Papih nggak kayak kamu. Kalau masih sekolah, ya fokus sekolah aja dulu. Cewek nggak akan habis kok di bumi, nggak perlu khawatir. Buktinya Papih nikah sama Mamih kamu, padahal dulu Papih pacarannya sama temen Mamih kamu.”


“Itu sih, Papih yang doyan. Pacaran lama sama siapa, nikah sama siapa.”

__ADS_1


Dewangga tergelak mendengarnya. “Salahin temen Mamih kamu lah. Siapa suruh mau diseriusin, eh nolak karena nggak mau punya anak sama Papih. Padahal dia sehat, Papih juga sehat. Tetapi kita udah nggak satu frekuensi seh.” Ia kemudian melirik sang putra yang masih serius mendengarkan.


“Papih bukan melarang kamu pacaran, tapi dengan catatan tetap ada batasan. Jangan sampai kamu merusak anak gadis orang karena embel-embel cinta.”


“Iya, Pih.”


“Jangan iya-iya doang, buktikan.”


“Siap, Pih.”


“Siap-siap, tapi kalau uda punya pacar baru, hobby nya ternak cup*ng. Halah.” Dewangga berdecak seraya menatap sang putra. “Ingat, gimana kalau nanti kamu punya anak perempuan, terus diperlakukan seperti itu. Kamu memangnya terima?”


Elang cepat-cepat menggelengkan kepala.


“Ya sudah, kurang-kurangi itu track record mu. Contoh kesetiaan Dan atau Dian yang mencintai satu orang perempuan.”


“Iya sih, tapi nggak satu cewek buat dibagi-bagi juga, Pih. Mengsedih banget.”


Dewangga tertawa kecil mendengarnya. “Kayak nggak suka Duchess aja,” sindirnya kemudian. Berhasil membuat sang putra melotot padanya. “Berani melotot ke Papih? Fasilitas dicabut.”


“Dih, Papih sensi amat kayak Mamih kalau lagi PMS.” Canda Elang. Anak dan ayah jika selera humornya sudah satu frekuensi, pasti seperti mereka berdua.


“Ah, satu lagi yang perlu kamu ingat, Lang.”


“Apaan tuh, Pih?” Elang bertanya dengan raut wajah penasaran.


“Sebisa mungkin hindari hubungan berbeda keyakinan, soalnya …tembok hubungan beda keyakinan itu terlalu tinggi. Papih udah pengalaman.”


“Yah,” respon Elang sedih.


“Kenapa?”


“Calon Elang yang satu ini muslim, Pih. Sedangkan Elang,” ia menyentuh benda yang setia melingkari lehernya. “Kristen.”


💐💐


TBC


Koreksi Typo!


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon 💐💐💐💐

__ADS_1


Sukabumi 18-08-22


__ADS_2