Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 44


__ADS_3

DIM. 44


“Dari mana saja kamu? kenapa kemarin tidak pulang ke rumah?”


Pemuda yang baru saja menurunkan standar motor Yamaha YZF-R1M hitam miliknya tampak mendongkrak. Pandangannya yang terhalang kaca helm full face yang ia gunakan, secara tidak langsung bertemu pandang dengan tatapan laki-laki paruh baya yang juga baru keluar dari sebuah Mercy hitam.


Pemuda itu masih duduk di atas motor, baru hendak membuka helm full face yang ia gunakan saat laki-laki paruh baya itu mendekat ke arah motor Yamaha YZF-R1M hitam miliknya.


“Kenapa tidak menjawab Rahardian Adiwangsa Wijaya?”


Si pemilik nama yang barusan membuka helm full face tak kunjung menjawab, sebelum ia meraih punggung tangan laki-laki paruh baya yang merupakan ayah kandungnya sendiri.


“As’salamualaikum, Pah.”


“Waalaikumsalam,” sahut sang papah datar. “Sekarang berikan penjelasan pada Papah?”


Dian menarik napas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Ia sudah menebak akan terjadi interogasi seperti ini, jadi sudah mempersiapkan diri dengan baik.


“Kemarin Dian menginap di rumah sakit untuk ikut menjaga Duchess. Sempat berkeinginan untuk pulang, tetapi karena cuaca yang tidak menentu, tiba-tiba turun hujan lebat disertai angin kencang, Dian mengurungkan niat tersebut karena Tante Evelyn melarang Dian pulang. Kemudian Dian kirim pesan ke Papah, tetapi tidak ada respon. Sempat telepon juga, tetapi tidak diangkat. Jadi Dian memutuskan untuk mengirim pesan ke Mamah.


Dian akhirnya menetap di sana setelah mendapatkan izin dari Mamah. Keesokan harinya, Dian tidak pulang karena akan membuang-buang banyak waktu jika harus pulang untuk mandi dan berganti pakaian, kemudian pergi ke sekolah. Apalagi rute yang harus dilewati rawan macet. Jadi Dian memutuskan untuk mandi dan berganti seragam di markas. Kebetulan ada anak-anak lain juga yang menginap di sana. Dian baru pergi ke sekolah setelah memberi pesan kepada Mamah, jika Dian baru akan pulang nanti. Kemungkinan besar sore, karena ada jadwal kumpulan organisasi.”


Panjang kali lebar Rahardian Adiwangsa Wijaya menjelaskan. Padahal bukan tipikal Rahardian Adiwangsa Wijaya berbicara panjang kali lebar seperti demikian. Namun, untuk menjelaskan pada sang papah adalah pengecualian. Dian harus menjelaskan se-detail mungkin, karena Dean Wijaya adalah orang yang sangat teliti. Kurang detail sedikit saja, dapat menimbulkan kecurigaan bagi Dean Wijaya.


“Bagaimana dengan kondisi Duchess? Apa dia sakit parah?”


Alih-alih merespon laporan sang putra, Dean Wijaya malah menanyakan Duchess. Itu berarti Dian selamat dari interogasi lanjutan. Sekarang Dian hanya perlu menjawab pertanyaan sang papah seputar kondisi Duchess. Anak perempuan pertama yang sejak kecil berhasil menarik perhatian Dean Wijaya. Mengingat Dean Wijaya juga menyukai anak-anak, apalagi anak perempuan.


“Kondisi Duchess sudah jauh lebih baik sekarang. Duchess juga sudah diperbolehkan pulang tadi pagi.”


“Apa orang tua Dan ada di sana kemarin?”


Dian tampak ragu menjawab. “Hm. Iya. Kemarin Om Darren dan Tante Evelyn ada di sana, mejenguk sekaligus ikut menemani Duchess. Bukan mereka saja yang sempat datang untuk menjenguk, Om Dewangga, Tante Daelyn, Om Dimas dan Om Dimi juga datang bersama pasangan mereka.”

__ADS_1


“Jadi cuma Papah dan Mamah yang tidak datang?” kata Dean tiba-tiba.


“Hm.”


Dian tidak tahu harus merespon apa. Namun, memang begitu faktanya. Hanya kedua orang tuanya yang tidak datang menjenguk karena sibuk. Sibuk mengurusi si pecinta Crème brulee dan ratatouille. Siapa lagi jika bukan putri dari Aroha, Princess Daneen.


Omong-omong soal Princess Daneen, bagaimana kabarnya sekarang? Apa Princess Daneen masih ada di Indonesia? Dian jadi merasa sedikit tidak karena meninggalkan Princess Daneen dan tidak sempat memberikan salam perpisahan.


“Kamu tidak mau tahu soal Princess Daneen?”


“Hm?”


“Princess Daneen sudah kembali ke negaranya siang tadi.”


Dian mengangguk samar. Ternyata sudah pulang. Ya sudahlah, mungkin lain kali Dian akan meminta maaf pada Princess Daneen. Itu pun jika ada waktu dan kesempatan.


“Princess Daneen sempat mengundang kamu ke Aroha jika ada waktu. Tetapi Papah belum memberikan jawaban.”


“Kenapa?” tumben sekali—lanjut Dian di dalam hati. Biasanya sang papa tidak peduli pada keputusannya.


“….”


“Tidak banyak waktu yang dapat kamu sia-siakan untuk bermain-main. Kamu harus mulai start dari sekarang untuk mempersiapkan diri menjadi anggota Detasemen Jala Mangkara atau DENJAKA.”


Dian mendongkrak, menatap sang papah lekat. “Kenapa tiba-tiba Papah bicara begini?” tanyanya tanpa ekspresi.


Dean tersenyum tipis seraya mengeluarkan satu tangan untuk menepuk bahu sang putra pelan. “Papah cuma bicara apa adanya.”


Dian semakin kebingungan. Ia pikir sang papah akan marah karena ia tidak pulang, dan membiarkan tamu kehormatan mereka pulang begitu saja. Ternyata, dugaan Dian salah besar.


“Ayo masuk. Mamah kamu katanya masak spicy honey chicken tenders atau menu apalah itu, untuk menu makan malam. Padahal Papah harap Mamah masak sayur asem dan empal goreng untuk menu makan malam.”


Dean tampak berdeham kecil setelah berkata demikian. “Kamu masih sering makan di rumah Dan?”

__ADS_1


“Hm?” Dian melirik sang papah dari ekor matanya. “Kemarin malam Dan sama Dian disuruh habiskan bekal yang dibawa Tante Evelyn. Isinya nasi hangat, suwiran tongkol pedas masak kemangi, tumis brokoli dengan daging, udang asam manis, cumi goreng tepung, dan sup hangat.”


Dean tampak berdeham canggung seraya berbalik badan. “Ternyata Ev masih suka masak menu Indonesian food dari pada European food.”


Diam-diam Dian tersenyum sangat tipis mendengar sang papah bergumam. Sepertinya memang ada yang bermasalah dengan sang papah. Tapi, apa ya?


💐💐


“Permisi, kak. Boleh minta foto nggak?”


Dan yang sedang menunggu jemputan tampak kebingungan saat dua orang gadis mendekatinya. Daru wajah yang masih sangat baby face, sepertinya mereka sebaya dengan Duchess. Berarti dua tingkat di bawah Dan.


“Maaf. Saya selalu merasa tidak nyaman jika diajak foto bersama,” kata Dan. Menolak secara halus.


Sejak ia duduk dan menunggu di halte bis ini, ada saja yang melirik ke arahnya. padahal Dan cuma numpang duduk dan menunggu di sini. Dan memang tidak membawa kendaraan saat latihan fisik bersama Elang dan anak-anak yang lain. Alhasil ia harus menunggu jemputan saat hendak pulang. Katanya supir pribadi keluarga Xander sudah dalam perjalanan, tetapi belum juga sampai hingga saat ini.


“Kita bisa fotonya berdua-duaan kok, kak,” tawar salah satu gadis, masih kekeuh ingin foto dengan Dan.


“I-iya, kak. Kalau kakak nggak nyaman, bisa foto masing-masing,” ibuh gadis yang satunya lagi.


“Maaf,” ujar Dan untuk kedua kalinya. Ia kemudian merogoh sesuatu yang menggantung di leher—tersembunyi di balik baju yang ia gunakan. “Ada yang melarang saya berfoto dengan gadis mana pun, karena nanti dia marah.”


Dua gadis itu tampak tertegun saat Dan memperlihatkan kalung yang melingkari lehernya dengan bandul sebuah cincin. Itu adalah salah satu tanda dan bukti jika Palacidio Daniel Adhitama Xander yang sangat suka tahu gurita, ayam goreng bacem khas Yogya, dan Americano coffe, sudah ada yang punya.


Sudah ada pawangnya.


“Saya sudah ada pacar. Kalian cari laki-laki lain saja yang masih single dan bersedia diajak foto bersama.”


💐💐


TBC


ADA YANG MAU COPY PASTE DIAN OR DAN SATU??

__ADS_1


Sukabumi 20-08-22


__ADS_2