Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 15


__ADS_3

DIM. 15


“Good Moorning, Perè, Mère.”


Sapa gadis yang tampak cantik juga menggemaskan balutan dalam dress model cut of shoulder warna soft nude. Dalam genggaman kedua tangannya, ia membawa nampan berisi tumpukan alat makan bekas pakai.


“Good Morning too, Duchess.”


Perempuan paruh baya yang masih tampak cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi itu menjawab seraya tersenyum ramah. “Kenapa repot-repot membawa semua ini, sayang? Nanti biar mbak yang ambil alat makan bekas sarapan kalian.”


Duchess menggelengkan kepala seraya menyimpan nampan itu di wastafel. “Duchess enggak merasa repot, kok. Lagipula Duchess juga mau turun ke bawah, jadi sekalian.”


“Mère cuma khawatir sama Duchess. Gimana kalau Duchess jatuh dari anak tangga karena kepeleset?” sahut Darren yang juga berada di rungan yang sama dengan mereka.


“Tapi Duchess enggak apa-apa, Perè.”


“Iya. Alhamdulillah kalau kamu tidak apa-apa,” tambah Darren. “Lain kali tidak perlu membuat diri kamu repot sendiri. Di sini ada mbok, mbak, dan bibi yang bisa kamu panggil sesuka hati. Ini rumah Dan, yang berarti akan menjadi rumah kamu juga.”


Duchess mengangguk seraya tersenyum lebar. Orang-orang di mansion ini memang baiknya tiada dua. Duchess diperlakukan seperti putri sendiri di sini. Siapa yang tidak iri coba? Diperlakukan seperti putri sendiri, padahal tidak memiliki ikatan apa-apa. Kecuali ikatan perjodohan yang sebelumnya belum pernah diresmikan.


“Kalau Mère boleh tahu, kenapa Duchess turun ke bawah? Ada yang Duchess butuhkan? Tadi katanya Duchess sedang ada online class.”


“Ah, iya. Duchess memang ada online class, tetapi di-cancel dua puluh menit sama coach. Jadi Duchess punya banyak waktu untuk turun ke bawah. Soalnya tadi mommy kirim pesan kalau bunga daffodil sama bunga philodendron pink princess yang Duchess minta sedang dalam perjalanan ke sini.”


“Bunga daffodil dan philodendron pink princess? Untuk apa bunga-bunga itu?”


“Buat Mère,” jawab Duchess gamblang. “Duchess, kan, sudah janji mau ganti bunga daffodil punya Mère. Sekalian sama bunga philodendron pink princess yang mau Duchess kasih ke Mère.”


“Ya ampun, Duchess. Kenapa kamu harus repot-repot begini, sayang?”


“Duchess tidak merasa direpotkan kok. lagipula Duchess juga niatnya kasih buat Mère karena koleksi bunga di depot milik mommy sudah kelebihan muatan.”


Ev tersenyum ramah seraya menyentuh pucuk kepala Duchess. Si cantik hasil perpaduan sempurna dari gen sekretaris datar macam Damian yang telah menjadi kaum bucin, pasca menikahi Dewita yang bar-bar. Si cantik yang berisik, comel, dan selalu mau menang sendiri. Dewita juga memiliki sifat yang energik, sehingga dirinya selalu jadi yang paling menonjol di antara para kaum Hawa yang ada di sekelilingnya. Sedangkan Duchess, kini jadi gadis yang paling shining alias bersinar terang di antara kaum Hawa lainnya.


“Kayaknya sopir mommy sudah datang. Duchess coba cek ke depan dulu ya, Mère, Perè,” ujar Duchess seraya melambaikan tangannya bak miss World yang hendak meninggalkan panggung.

__ADS_1


Sepasang suami-istri yang melihat kelakuan calon ‘menantu’ mereka itu hanya bisa menerbitkan senyum jenaka. Duchess dan segala tingkah ajaibnya adalah satu kesatuan yang bersifat kompleks.


Tak berselang lama pasca kepergian Duchess, Dan turun dari anak tangga dengan langkah tergesa-gesa.


“Dan, kenapa berlarian di anak tangga? Nanti jatuh Schatz (sayang).”


Laki-laki tampan yang tampaknya baru berganti pakaian itu menatap kedua orang tuanya sekilas, lantas melarikan pandangan ke arah lain. “Duchess mana, Mère? Tadi aku suruh dia menunggu, tetapi dia malah pergi begitu saja.”


“Cewek kok disuruh nunggu lama, auto kabur dong,” celetuk sang ayah, jenaka. “Cewek itu diberi kepastian, Dan. Bukannya malah dibiarkan menunggu terlalu lama.”


Dan menatap sang ayah dengan mata menyipit. Ini alur pembicaraan mereka mengarah ke mana sih?


“Mas, gak usah mulai deh,” lerai Ev, pada akhirnya ikut angkat suara. “Tadi Duchess pamit ke depan buat ambil bunga yang dikirimkan mommy-nya.”


“Bunga?”


Ev mengangguk seraya beranjak dari posisi duduknya. “Coba Mère cek dulu ke depan. Dan tunggu di sini dulu sama Perè.”


“Hm.”


“Baru juga ditinggal satu menit, kamu sudah kelimpungan nya minta ampun,” sindir Darren yang sejak tadi tengah memainkan sebuah rubik.


Dan tidak mau ambil pusing dengan ucapan sang ayah. Jika sedang kerasukan jin usil, sang ayah memang akan sangat menyebalkan. Sebagai anak yang harus terus menghormati orang tuanya, Dan senantiasa memilih untuk menggunakan silent mode supaya tidak memperpanjang masalah.


“Sudah ditinggal satu menit saja begitu responnya. Apalagi kalau ditinggal seumur—“


Kalimat Darren terpotong begitu saja saat indra pendengarannya menangkap suara tamparan yang cukup nyaring dari arah depan mansion. Padahal ruang tamu mansion ini luas, dan butuh cakupan yang cukup luar pula untuk menuju area dapur. Namun, suara tamparan yang sepertinya berasal dari luar itu terdengar cukup nyaring di pendengaran. Itu berarti jika tamparan ini cukup kencang.


“Suara apa itu, Perè?” Dan bertanya seraya ikut beranjak dari posisi awal.


Begitu pula dengan Darren yang sudah meninggalkan kursi yang sempat ia duduki. Ayah dan anak itu langsung berjalan cepat ke arah depan mansion, karena yakin jika suara nyaring itu berasal dari mereka.


“Itu adalah balasan untuk kamu yang telah lancang menyakiti calon menantu Evelyn Xander.”


Saat Dan juga Darren tiba di luar mansion, mereka melihat Ev tengah pasang badan di depan Duchess yang tampak berdiri dengan tatapan kosong. Sedangkan di depan mereka, ada Estrella yang berdiri berhadapan dengan Ev. Di belakangnya, ada Elgara yang tengah memeluk sang putri.

__ADS_1


“Sayang, ada apa ini?” Darren bertanya seraya mendekati sang istri yang tampak murka.


Wanita cantik bak batari itu tampak lepas kendali, walaupun raut wajahnya masih seperti biasa.


“Dia telah lancang menyakiti calon menantu kita. Padahal kita, apalagi orang tuanya, belum pernah dan tidak akan pernah sekalipun memperlakukan Duchess dengan demikian.”


“Menyakiti? Memangnya Duchess diapakan sama dia, sayang?” darren menoleh ke arah Duchess yang sudah ditenangkan oleh Dan. Putranya tampak memeluk Duchess erat, padahal gadis cantik itu tak merespon sedikitpun. Dan juga tampak kebingungan, namun tersirat raut cemas juga emosional di wajahnya. Darren kemudian kembali menatap sang istri, menanti jawaban darinya.


“Dia,” si rubah ekor Sembilan—lanjut Darren di dalam hati. “Telah melakukan apa pada Duchess?”


“Dia ….menampar calon menantu kita tanpa alasan, mas.”


“APA?!”


Darren langsung beralih menatap ke arah Estrella dengan tatapan horor. Mantan bakal calon mistress alias wanita simpanannya di dunia mimpi. Darren pernah merasa sangat bersyukur karena lepas dari pengaruh buruk Estrella. Namun, sekarang ia harus kembali dihadapkan dengan kenyataan jika sebagian dari pengaruh mimpi buruk di masa lalu, seperti akan terulang kembali di dunia nyata. Yaitu pada generasi sang putra.


“Berani-berani sekali kau menyakiti Duchess Aretha Darchell, putri Damian dan Dewita Widyatama yang akan segera resmi menjadi menantu keluarga Xander!” seru Darren murka seraya menghadap Estrella dengan raut mematikan.


“Ella …..” terpesona dengan ketampanan tuan yang selalu saja memukau mata,’ batin Estrella tiba-tiba meronta-ronta.


“Tiba-tiba bisu hm?” sindir Darren seraya bersidakep dada. “Sudah berapa kali aku ingatkan untuk tidak lagi mendekati keluarga Xander? Sekarang, kau menyakiti calon menantu keluarga Xander. Kau ini benar-benar bebal atau bagaimana?”


Elgara yang melihat sang istri terus-menerus didesak, ikut angkat suara. Soal salah atau benar, itu belakangan. Yang terpenting sekarang, sang istri selamat dari amukan tuannya itu. “Tuan, saya ….”


“Diam! Saya sedang berbicara dengan istrimu yang tidak tahu diri ini, bukan kamu,” potong Darren kemudian. “Saya Darren Aryasatya Xander tidak akan diam saja melihat soulmate alias belahan jiwa putra saya disakiti secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Jika perlu, saya akan mengurut masalah ini sampai ke meja hijau. Satu hasil visum saja sudah mampu menjebloskan kamu ke penjara.” Darren menambahi seraya menyeringai evil.


“Sudah aku katakan berulang kali, jangan coba main-main dengan para anggota keluarga Xander. Duchess termasuk di dalamnya, karena dia juga akan SEGERA menjadi bagian dari keluarga Xander secara sah.”


💐💐


TBC


NEXT LAGI KEMARAHAN PERÈ DARREN? YOK, LIKE, VOTE, KOMENTAR YANG RAMAI & SHARE ❤️


Tanjung Priuk 16-07-22

__ADS_1


__ADS_2