Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 45


__ADS_3

DIM. 45


“Setelah Bang Dimas, laki-laki mana lagi yang sedang kamu pikat?”


Gadis dengan terusan bermotif kotak-kotak warna kalem yang baru saja keluar dari area kebun bunga matahari itu tampak tersentak. Tatapannya kemudian bertemu dengan milik seorang gadis berkacamata yang tengah menaiki sebuah sepeda. Ia datang dari arah berlawanan.


“Apa maksud Duma? Capella nggak lagi deket sama siapa pun,” sanggah si pemilik nama.


Agaknya sanggahan itu tidak berhasil meyakinkan lawan bicaranya. Terbukti dari raut wajah si lawan bicara yang tampak mendengus tak percaya.


Duma adalah putri pak Lurah yang sudah menjabat dua periode di tempat tinggal Capella. Duma merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua saudaranya yang berjenis kelamin laki-laki, yaitu Damara dan Dimas. Damara tinggal di luar kota bersama keluarga kecilnya setelah resmi menikah. Sedangkan Dimas kembali menetap di desa setelah resmi bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara atau ASN.


Sosok Dimas cukup popular di desa karena rupanya yang rupawan dan memiliki sifat yang menyenangkan. Hampir separuh gadis di desa ingin bersanding dengan Dimas yang tampan, mapan, dan sudah hidup mandiri sejak lulus perguruan tinggi. Namun, bagi Dimas hanya putri Elgara dan Estrella yang menarik perhatian. Capella Megantara si gadis polos nan lugu yang meneruskan jejak sang ibu sebagai kembang desa.


Singkat cerita, Dimas dan Capella jadi dekat karena Dimas kerap kali datang ke rumah Elgara dan Estrella untuk membahas banyak hal. Terutama masalah proyek kerjasama desa dan Elgara.


Dimas juga bersikap sangat manley, saat mengutarakan ketertarikannya pada Capella. Ia secara langsung mengatakan keinginannya pada Elgara dan Estrella selaku orang tua Capella. Bagaimana pun juga Dimas ingin mendekati Capella dengan cara yang baik dan benar.


Hubungan mereka direstui kedua belah pihak, tentu saja. Jalinan kekerabatan akan semakin kental lewat hubungan dekat keduanya. Awalnya hubungan Dimas dan Capella memang berjalan baik-baik saja, karena niat baik Dimas mendapatkan feedback. Capella juga berkesan menerima Dimas dengan legowo. Namun, semua itu tidak bertahan lama, apalagi sampai ke jenjang yang lebih serius.


Pasalnya Duma—adik Dimas yang merupakan teman satu angkatan dan satu kelas Capella, mengetahui bagaimana tabiat asli yang dimiliki Capella. Tidak di sekolah, ataupun di luar sekolah, Capella selalu baik pada semua orang. Terutama berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu, Capella sering membuat orang lain salah paham, dan baper tanpa pertanggungjawaban. Di saat yang bersamaan, Capella juga deket dengan Candra. Ketua kelas paling fenomenal di sekolah tempat Capella menimba ilmu. Candra juga merupakan ketu Osis yang cukup disegani dan disukai.


“Nggak cukup kakak aku sama anak laki-laki di sekolah kita yang kamu tipu dengan pesona sok polos kamu itu. Sekarang siapa lagi?”


“Kenapa Duma harus repot-repot ingin mencari tahu? Lagipula urusan Capella tidak perlu menjadi urusan Duma,” balas Capella seraya melenggang pergi begitu saja.


Meninggalkan Duma tanpa gentar.


“Justru jadi urusan aku, karena kamu maruk. Serakah. Mau menang sendiri.” Duma kembali bersuara.


“Capella nggak gitu,” bantah si pemilik nama. Lagi-lagi membantah, karena tidak mau namanya dituduh begitu saja. “Bukan salah Capella kalau mereka terpesona sampai jatuh cinta sama Capella,” ungkapnya, percaya diri.


Duma dari tempatnya berdiri sudah seperti banteng yang siap mengamuk. “Kalau kamu nggak pasang tampang sok polos dan lugu kamu itu, nggak akan kayak gini ceritanya. Aku cuma kasihan aja sama laki-laki manapun yang sekarang dekat dengan kamu.”


“Jaga bicara Duma. Capella selama ini tidak pernah ganggu Duma, kenapa Duma ganggu Capella?”


“Karena kamu ganggu Abang aku,” sahut Duma seraya mencengkram kuat-kuat stang sepeda miliknya. “Dia jadi korban PHP Capela Megantara setelah rela melakukan semuanya untuk kamu.”


“Melakukan apa?” lirih Capella dengan raut wajah yang masih stabil. Wajah watados alias wajah tanpa dosa. “Kak Dimas yang memberikan Capella barang-barang secara cuma-cuma, padahal Capella tidak pernah meminta apa-apa.”

__ADS_1


Duma semakin geram dibuatnya. “Kita lihat saja nanti, Capella. Kamu yang selalu berlindung di bali tampang sok suci kamu, pada akhirnya akan ternoda juga. Kamu tunggu saja, Capella. Lain kali kamu yang akan merasakan sakitnya ditinggalkan pas lagi sayang-sayang nya.”


Setelah berkata demikian, Duma menginjak pedal sepeda miliknya. Mulai mengayuh kendaraan beroda dua tersebut. Meninggalkan Capella yang masih mematung di tempatnya berdiri.


“Apa yang kamu barusan katakan tidak akan terjadi pada Capella,” bisik Capella pada angin yang berhembus perlahan.


“Duma nanti harus tahu, jika Capella tidak pernah kekurangan Pangeran. Sekalipun Capella belum memiliki kesempatan untuk bersama pangeran dari keluarga Xander. Setidaknya, sekarang Capella sudah punya kak Elang dalam genggaman.”


Sudut bibir mungil Capella tampak terangkat simetris saat berkata demikian. Kedua bola matanya tampak menggambarkan sebuah rencana besar yang akan segera terealisasi.


💐💐


“Hatcim.


Hatcim.”


Laki-laki tampan yang tampil classy namun tidak terkesan kaku dalam balutan oversized blazer yang dikombinasikan dengan shirt dan celana panjang. Outfit yang cocok jadi andalan saat menghadiri acara semi-formal.


“Dih, pasti ada yang lagi nge-ghibahin gue nih. Buktinya gue bersin-bersin terus dari tadi,” monolognya seraya menyentuh hidung bangir miliknya yang berwarna kemerahan.


Saat ini ia tengah berjalan santai di lorong rumah sakit milik keluarga teman dekatnya—siapa lagi jika bukan keluarga Dian Wijaya yang bekerja sama dengan orang tua Dan Xander.


Sembari bersiul lirih, keturunan Dewangga itu melewati lorong demi lorong dengan membawa paper bag dengan logo toko waralaba popular yang memiliki logo khas berwarna hijau. Di dalamnya ada satu paper cup Americano, greentea frappucino, cheese cake, cheese bagels dan beberapa jenis cookies serta pastry yang lain. Ia memang sempat mampir ke toko waralaba popular yang kebetulan buka juga di kafetaria rumah sakit, di lantai satu lebih tepatnya. Rumah sakit ini memang terbilang sangat mewah dengan fasilitas wah. Maka tak heran jika biaya untuk menginap semalam saja di tempat ini menyentuh nominal yang cukup tinggi.


Ia kemudian berbelok di lorong dekat poli bedah syaraf, lalu menghentikan langkan di depan sebuah pintu ruangan yang agak terbuka. Menciptakan sebuah celah kecil di antara pintu yang terbuka.


“Darl!”


Namun, bukan Elang Gaharu namanya jika tidak membuat kehebohan. Dengan sengaja ia malah membuka pintu seraya berseru heboh. Membuat tiga orang mahluk ciptaan Tuhan yang paling perasa di dalamnya menoleh secara bersamaan.


“Owh, maaf kalau kehadiran orang tampan satu ini mengangguk waktu eonni-eonni sekalian,” kata Elang seraya melangkah masuk. Ia kemudian menyimpan paper bag bawaannya di atas meja yang tengah digunakan oleh salah satu di antara mereka.


“Lagi ngapain ke sini?”


“Aku?” Elang menunjuk dirinya sendiri.


“Iya.”


“Nyamperin pacar aku dong,” sahut Elang gamblang dengan senyum manis yang terpatri di bibir. “Memangnya nggak boleh nyamperin pacar sendiri ke tempat koas-nya?” tanyanya seraya melirik dua teman dari perempuan yang ia sebut ‘kekasih’.

__ADS_1


“Nggak dong.” Dua teman sang kekasih menjawab dengan kompak. Bisa lah dikasih satu paper cup frappucino gratis.


“See, teman-teman kamu aja bilang begitu.”


Elang tersenyum penuh kemenangan seraya menarik sebuah kursi agar dapat ia duduki. Tepat di samping perempuan cantik yang saat ini tengah mengerucutkan bibir sebal seraya membuka paper bag yang tadi Elang bawa. “Nggak usah dimaju-majuin gitu bibirnya. Nanti di kissing malah ngambek.”


“Apaan sih. Bicaranya nggak jelas.”


“Bicaranya nggak jelas? Tapi, kalau balik ke apart beda lagi ceritanya.” Elang kembali menimpali. Menggoda si pemilik senyum manis yang sudah lama menjadi pemilik hati. Walaupun ya, hubungan mereka sempat terkendala oleh perbedaan usia di antara meraka. Oleh karena itu, mereka memilih backstreet. Sejauh ini hanya dua orang yang tahu mengenai hubungan mereka, yaitu dua sahabat si perempuan.


“Nggak mau peluk dulu? Aku jauh-jauh datang dari Kokas ke sini demi kamu loh.”


Perempuan cantik yang baru saja mengeluarkan greentea frappucino itu berdeham kecil seraya melirik dua sahabat dekatnya. Yang mendapatkan lirikan langsung izin ke luar ruangan dengan berbagai alasan. Meninggalkan mereka berdua di dalam sana.


Benar-benar wajib dikasih satu paper cup frappucino.


“Sini, sini. Peluk dulu. Takutnya kamu butuh isi baterai,” kata Elang seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Mengundang sang kekasih hati untuk mengisi ruang yang tersisa di antara mereka.


Maka dengan segera, calon dokter muda itu tersenyum tipis sembari mengikis jarak di antara mereka. Bohong jika ia tidak merindukan kekasihnya yang masih duduk di bangku SMA, tetapi selalu bisa menjadi kekasih yang dewasa ketika dibutuhkan.


“Miss me hm?” goda Elang. Ia dapat mencium aroma harum khas bunga-bungaan saat sang kekasih memeluknya. Aroma khas yang selalu ia rindukan.


“Hmm.”


Sang kekasih hanya membalas dengan suara yang tertahan. Namun, Elang tidak bodoh untuk mengartikannya.


“Mee too, darling. I miss you so bad,” ujar Elang seraya kian erat memeluk tubuh mungil sang kekasih. Seolah-olah tiada hari untuk esok.


Ia adalah satu-satunya perempuan yang berhasil membuat Elang Gaharu berani menipu dunia, supaya ia dapat melindungi sang kekasih dari ancaman di luar sana. Untuk waktu yang belum dapat ditentukan, Elang akan tetap menjalani backstreet dengan sang kekasih. Jika situasi dan kondisinya sudah meyakinkan, ia baru akan go publik secara terang-terangan.


Sudah waktunya dunia tahu jika playboy cap Tuna seperti Elang juga punya limit. Ia akan berhenti berkelana jika sudah menemukan pasangan yang klop di hati. Ibarat manusia serigala yang telah menemukan mate atau cinta sejatinya setelah sekian lama


💐💐


TBC


Elang 🥲😅😂🤣


Sukabumi 21-08-23

__ADS_1


__ADS_2