
DIM. 64
“Kalian bisa tunggu di luar dulu? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Dan.”
Setelah mengguncang dunia dengan satu pernyataan, kalimat yang dilontarkan Dian berikutnya adalah sebuah pengusiran. Permintaan tersebut tentu tidak dapat dengan mudah diiyakan oleh para penghuni di sana. Bagaimana pun juga apa yang baru saja dilontarkan Dian adalah pernyataan yang menimbulkan banyak pertanyaan.
“Kamu barusan bicara apa?”
Emily yang juga sempat dibuat mematung oleh pernyataan Dian, langsung melontarkan pertanyaan ketika kesadaran kembali didapatkan.
“Tadi aku sudah kasih kode, Em.”
“Kode?” kebingungan Emily kian bertambah saat Dian berkata demikian.
Alih-alih langsung menjelaskan, laki-laki yang memiliki kulit sangat putih itu malah mengulas senyum terbaiknya untuk Emily. “Nanti aku jelaskan. Sekarang tunggu di luar dulu, bisa? Aku membutuhkan ruang untuk bicara dengan Dan,” lanjut Dian.
“Kalian bisa tunggu di luar.” Dan ikut buka suara. Memperjelas situasi jika mereka butuh ruang untuk bicara.
“Kalau gitu gue tunggu di ruang tengah,” sahut Elang yang sejak tadi masih berdiri di ambang pintu. “C’mon my Duchess. Kita tunggu di depan.”
Duchess menggelengkan kepala. Tatapan sepasang netranya masih tertuju pada Dian. Laki-laki yang baru saja mengguncang batinnya dengan sebuah pernyataan.
Selama Duchess mengenal Dian, laki-laki itu tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada gadis lain. Hidup Dian hanya berporos pada pendidikan, pekerjaan, dan pertemanan. Duchess juga tidak tahu ia adalah dalam opsi yang mana. Namun, memiliki Dian dalam hidup seorang Duchess, membuatnya terasa lengkap. Dian selalu mengutamakan Duchess dalam segala hal. Terlebih lagi Dian juga tidak mengekang seperti Dan. Intinya, Duchess senang memiliki Dian dalam hidupnya karena pembawaan laki-laki itu yang membawa pengaruh positif.
Kendati demikian, Duchess juga bukan mau menjadi penghalang bagi kebahagiaan Dian. Mengingat Duchess tidak mungkin menjadi sumber kebahagiaan Dian, dikarenakan ia sudah memiliki Dan. Hanya saja Duchess merasa terkejut. Dian memang berhak untuk menjalin kasih dengan gadis manapun untuk mewarnai masa mudanya. Namun, yang Duchess sayangkan kenapa Dian tidak pernah jujur selama ini?
Bagaimana pun juga Emily bukanlah orang asing di antara Dan, Dian, maupun Duchess. Lalu, bagaimana bisa Dian dan Emily dekat selama ini? tanpa membuat Dan maupun Duchess mengetahui kedekatan tersebut.
“Duchess.”
Seolah-olah tahu jika Duchess hendak melontarkan pertanyaan, serta akan menolak ketika disuruh untuk menunggu di luar. Dian kemudian ambil bagian untuk meyakinkan gadis cantik tersebut.
“Trust me," ujar Dian seraya menatap Duchess dengan senyum kecil yang tersungging di bibir. “Tunggu di luar sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan dengan Dan.”
__ADS_1
Melihat keseriusan di wajah rupawan tersebut, Duchess menelan semua rasa penasarannya. Ia kemudian mengangguk dengan lesu. Sebelum benar-benar pergi, Dan juga sempat mengelus pucuk kepala sang kekasih dua kali. Ia berjanji tidak akan ada baku hantam di antara mereka. Mungkin hanya ada sedikit perdebatan, tanpa perkelahian.
Sepeninggalan Elang, Emily dan Duchess, menyisakan Dan serta Dian dalam ruangan, pembicaraan langsung dibuka oleh Dan yang baru saja mengikis dua langkah jarak di antara mereka. Pandangan Dan tampak terkunci pada Dian.
“Jadi apa tujuan mu mendekati sepupuku?”
“Jika kamu pikir aku mendekati Emily untuk balas dendam, maka pikiranmu sangat dangkal,” sahut Dian santai. “Aku dan Emily berhubungan dekat murni karena merasa cocok. Kami juga met memiliki beberapa kesamaan, dan terkadang memiliki sudut pandang serta idealisme yang hampir serupa.”
“Lalu apa maksud dari ucapanmu?”
“Aku suka Emily.” Alih-Dian kembali menjawab dengan sebuah pernyataan. Mengulang dengan suara yang terdengar begitu mantap. “Aku sudah memutuskan untuk berhenti mengejar Duchess. Dia milikmu. Tidak ada tempat bagiku untuk berada di antara kalian. Kecuali, jika kamu menyia-nyiakan Duchess. Aku tidak akan segan-segan untuk merebut Duchess.”
Dain membuang muka ke samping, lebih tepatnya ke arah meja belajar. Di sana ada beberapa figura foto yang mencetak gambar Dian, Duchess, dan tentu saja Dan. Hanya ada beberapa foto yang mencetak gambar Dian dan Duchess berdua. Selebihnya foto Dian seorang diri, bertiga, berempat dengan Elang, atau bahkan berenam dengan Daru.
“Selama ini aku tidak pernah berniat untuk mengambil Duchess darimu. Kamu adalah pemenangnya. Pemenang yang berhasil mendapatkan hati Duchess.”
“….”
“Lagipula sejak dulu keturunan Wijaya selalu belajar dari sebuah kekalahan.”
“Karena kamu sudah memiliki Duchess, biarkan aku memulai dari awal bersama Emily.”
“Kenapa harus sepupuku?”
“Entahlah,” jawab Dian sekenanya. “Jawaban paling logis yang aku punya adalah karena Emily mampu dengan mudah memahami ku. Secara sadar ataupun tidak, sejak awal aku juga mudah menerima keberadaan Emily. Oleh karena itu, aku berpikir membuka hati untuk Emily tidak akan terlalu sulit.”
Dan menghela napas dalam. Ia tidak berkomentar untuk beberapa sekon. Sebenarnya, Dan lebih marasa dibohongi, ketimbang merasa marah. Ia tidak menyangka jika selama ini Dian dekat dengan Emily—sepupunya, padahal jika diingat-ingat interaksi mereka cukup terbatas. Emily pun yang bisa dibilang cukup dekat dengan Dan, tidak pernah bicara apa-apa soal hubungan mereka. Padahal selama ini Dan selalu berpikir jika Dian tidak akan mudah melepaskan Duchess, sekali pun Duchess sudah bertunangan dengan Dan.
“Untuk kedepannya, biarkan aku memulai bersama Emily.”
“Bukankah kalian tidak akan memiliki banyak waktu untuk memulai suatu hubungan?”
Pertanyaan Dan benar adanya. Setelah Dian lulus sekolah menengah atas, ia akan mengikuti seleksi untuk masuk akademi militer. Jika berhasil lulus dan masuk akademi militer, maka akan semakin sedikit waktu yang Dian miliki untuk mengurus masalah pribadi. Ditambah lagi Emily juga mengenyam pendidikan di London, Inggris. Kurang lebih ada jarak sejauh 11,714 kilo meter yang terbentang di antara Dian dan Emily. Lantas bagaimana jadinya jika Dian baru saja mulai berhubungan dengan Emily, sedangkan di London Emily menemukan laki-laki yang jauh lebih potensial?
__ADS_1
Dian tidak bodoh, Emily itu selain cantik dan cerdas, ia juga digandrungi karena memenuhi tipe girlfriend material kebanyakan kaum Adam.
“Jika Emily mau menunggu dengan sabar, kita bisa memulainya dari awal. Hubungan jarak jauh sekali pun bisa ditempuh, jika memang kita saling percaya.”
Dan menatap Dian penuh selidik. Mencoba mencari kebohongan di netra lawan bicaranya, namun nihil. Laki-laki itu tampak jujur dalam setiap kalimat yang diutarakan.
“Hm. Kalau begitu semua kembali pada Emily.”
Dian tampak tertegun saat melihat respon Dan barusan. “Jadi, kamu membiarkan aku dekat dengan Emily?”
“Aku tidak berhak menghalangi hubungan kalian. Semua kembali kepada Emily.” Dan mengistirahatkan kedua tangannya di dalam saku celana setelah berkata demikian. “Dan ingat satu hal, jangan pernah sekali pun menyakiti Emily.”
Karena selain mirip Evelyn—sang Mère, Emily juga menuruni kecerdasan dan karakteristik Evelyn. Dan hanya tidak mau jika sepupu perempuan satu-satunya itu terluka karena cinta pertamanya.
“Dan.”
“Hm?” Dan yang baru saja meraih daun pintu menjawab dengan respon andalan. “Ada apa?”
“Aku bukan bermaksud ingin ikut campur. Tapi, ada satu hal yang ingin aku tanyakan.” Walaupun Dan tampak tidak berminat untuk kembali memutar badan, Dian tetap melanjutkan pertanyanya. “Siapa anak perempuan yang malam itu kamu bawa ke unit gawat darurat.”
“Jadi kamu ada di sana?”
Dian mengangguk samar. “Siapa anak perempuan itu? aku juga pernah bertemu dengan dia di kediaman Xander.”
“Capella Megantara,” ungkap Dan. Menyebutkan satu nama dari objek yang dimaksud oleh Dian. “Murder. She’s the on who tried to kill Duchess.”
“Jadi dia anak perempuan yang waktu itu?”
“Hm. Belakangan dia mencoba kembali menyusup ke kehidupan ku. Puncaknya malam ketika kamu melihatku membawanya ke unit gawat darurat, dia baru saja melakukan percobaan bunuh diri.”
💐💐
TBC
__ADS_1
Tanggerang 14-10-22