
DIM. 53
“Allahumma inny as-aluka rukya shoolihatan shoodiqotan ghoira kaadzibatin naafiatan ghoiro dzloorrotin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik dan benar, (serta) tidak dusta, yang bermanfaat dan tidak bahaya).”
Setelah membacakan do’a supaya mendapatkan mimpi baik, laki-laki tampan yang menggunakan hoodie berwarna abu-abu itu mengecup pucuk kepala sang kekasih, bergantian dengan sang adik. Ia kemudian beranjak dari tempat tidur Queen size yang ada di tengah-tengah kamar Dyra yang bernuansa soft pastel. Kontras sekali dengan kamar sang kakak yang lebih didominasi oleh warna-warna monokrom.
Setelah tugas negaranya selesai, Dan tersenyum tipis seraya meninggalkan ruangan. Jika menginap di kediaman Xander, sang kekasih pasti akan tidur bersama Dyra. Terkadang tidur di kamar Dan, jika Dan sedang menjadi pemaksa. Sebelum para princess itu terlelap di atas pulau kapuk, mereka sempat menghabiskan banyak waktu untuk menemani Dyra menonton serial Disney classics. Mereka sempat maraton nonton bareng serial klasik Disney mulai dari Cinderella, Lion King, Tinkerbell, Beauty and The Beast, Alice in Wonderland, Tangled, Maleficent, dan sebagainya.
Sekarang dua princess Dan sudah terlelap setelah kenyang menonton sambil menikmati pop corn rasa karamel. Demi menemani keduanya, Dan rela mengesampingkan sejenak beberapa tugas rumahnya. Toh, besok juga weekend. Masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas itu. Sekarang yang terpenting bagi Dan adalah menikmati akhir pekan bersama orang-orang terkasih.
Tiba di dalam kamarnya sendiri, Dan langsung menyambar MacBook iPhone miliknya. Kemudian ia membawa benda pipih tersebut ke atas tempat tidur. Ada yang perlu Dan cek sebelum menyusul Duchess dan Dyra ke alam mimpi. Baru saja menyalakan benda elektronik tersebut, suara notifikasi dari benda pipih yang teronggok begitu saja di atas meja dekat tempat tidur menarik perhatian.
Dan kemudian menggerakkan tangan untuk mengambil benda tersebut. Ia memang sempat meninggalkan benda pipih itu begitu saja, karena fokus menghabiskan waktu bersama Duchess dan Dyra. Ketika benda pipih itu dinyalakan, ada seratus lebih pesan singkat dari aplikasi WhatsApp yang belum dibaca. Selain itu ada juga notifikasi lain dari beberapa aplikasi, mulai dari Instagram, line, email, hingga telegram.
Salah satu alasan kenapa Dan tidak terlalu suka membawa handphone kemana-mana adalah ini. Terlalu merepotkan. Dan paling risih jika benda pipih itu terus-menerus mendapatkan pesan dan pemberitahuan. Seakan-akan benda elektronik itu tidak pernah ada diamnya, sekalipun data internet dimatikan. Jika bukan pesan singkat, pasti ada saja yang menelpon nomer Dan. Bukan cuma sehari satu kali, tetapi bisa berkali-kali. Bahkan sampai ratusan kali. Itu bisa berasal dari nomer yang satu kontan dengan Dan, namun kebanyakan adalah nomer asing yang suka iseng spam.
Melihat obrolan di grup anak satu tongkrongan 4 HANDS sampai ribuan percakapan, membuat Dan mengernyitkan kening. Padahal biasanya grup itu sepi-sepi saja, kecuali jika ada pembicaraan soal kegiatan sunmori, konvoi, kerja bakti, dan sebagainya. Pada hari-hari tertentu paling ada segelintir anggota yang suka meramaikan grup dengan candaan tidak berbobot, namun tidak sampai se-ramai hari ini.
Ketika Dan telusuri, ternyata Elang adalah pelaku dari kehebohan di grup tersebut. Maka tanpa pikir panjang lagi, Dan langsung menelpon Elang via voice call atau telepon suara lewat WhatsApp.
“Apa rencana mu sebenarnya?” pertanyaan to the point langsung Dan utarakan saat sambungan telepon terhubung.
“Hahaha. Mau tau atau mau tau banget, Dan?” tawa terdengar begitu renyah dari seberang sana. Di antara kebisingan, suara Elang terdengar kurang jelas.
“Di mana?”
“Apanya?”
“Kamu.”
“Oh, gue. Di apartemen.”
“Siapa?”
“Apanya, Dan? Bicara jangan satu kata doang. Mana gue ngerti!” seru Elang di seberang.
“Di apartemen siapa?”
__ADS_1
“Oh. Apartemen siapa,” ulang Elang. “Temen. Lagi rame nih, lo nggak kedengeran suara gue, ya? Lagi pada barbeque-an. Banyak beer juga anjirrr.”
“Oh,” respon Dan singkat. Pantas saja ramai. Dan kira Elang sedang berada di club night atau sebagainya. Jika iya, maka Elang harus siap-siap namanya dicoret om Dewangga dari kartu keluarga.
“By the way, lo kenapa tiba-tiba telepon gue?”
“Pengumuman di grup WhatsApp apa maksudnya?”
"Oh."
“Oh?”
Tawa kembali terdengar dari seberang sana. Membuat Dan kian kebingungan. Sampai saat ini ia belum tahu apa yang akan direncanakan Elang untuk menyingkirkan Capella. Lebih tepatnya memutuskan hubungan yang terjalin di antara Elang dan Capella untuk selamanya. Walaupun pada dasarnya mereka tidak terikat hubungan apapun.
“Lo tenang aja, Dan. Serahin semuanya sama gue.”
“Hm?”
“Satu hal yang perlu lo lakuin, yaitu amankan Duchess. Kalau ada dia, gatot alias gagal total rencana gue.”
“Memangnya kenapa dengan Duchess?”
“Duchess nggak bisa diajak bohong, njirr. Lupa lo? Kabar kalau gue jalan sama cewek aja udah nyampe ke telinga nyokap. Untung aja Duchess nggak bilang apa-apa, karena katanya itu murni keceplosan.”
“Nah itu lo tau. Makanya, besok malam jangan sampai Duchess ikut dateng ke tempat Derick.”
“Tempat Derick? Bukannya itu—“
“Iya, gue tahu. Tempat Dercik yang itu,” potong Elang cepat. “Jangan khawatir. Gue udah booking tempat Derick, jadi aman deh.”
Dan masih tampak meragukan ucapan Elang. Pasalnya ia tahu betul jika tempat yang dimaksud Elang tempat seperti apa.
“Besok malem lo dateng aja ke tempat Derick. Jam lapan. Okay?”
Dam terdiam cukup lama. Apa ia harus pergi ke tempat Derick untuk melihat secara langsung rencana yang dijalankan Elang? Atau malah berdiam diri di rumah dan menghabiskan waktu bersama Duchess serta Dyra lagi?
“Gimana? Lo bisa dateng?”
Dan tampak ragu. Namun, sepersekian sekon berikutnya, ia memberikan jawaban. “Hm.”
__ADS_1
“Ok. Besok gue tunggu di tempat Derick.”
Sambungan telepon kemudian berakhir sampai di sana. Pada akhirnya Dan memilih untuk datang dan melihat bagaimana cara Elang mengatasi Capella. Namun, Dan masih agak mempertanyakan alasan Elang, kenapa Elang memilih tempat Derick untuk eksekusi. Padahal tempat Derick adalah caffe yang mengusung tema ala bar atau club night.
“Apa yang sebenarnya dia rencanakan?”
💐💐
“Kamu yakin mau ke alamat itu?”
Gadis yang tengah menikmati bubur ayam tampa diaduk itu mengangguk.
“Pacar kamu yang ngajak kamu ketemuan di sana?” tanya gadis satunya lagi yang bernama Siha. Tatapannya tampak beralih sejenak dari bubur ayam yang sudah diaduk-aduk.
“Em, bukan juga sih. Tapi, dia juga mau ke sana.”
“Oh. Itu yang ngontak kamu temen pacar kamu itu? yang foto profil nya cowok pakai anting?”
“I-ya, yang itu.”
Siha mengangguk seraya menyuapkan satu sendok bubur diaduk ke dalam mulut. Mengunyahnya perlahan, lantas kembali bertanya kala ada pertanyaan yang singgah di kepala. “Coba cek dulu alamatnya, jauh enggak dari rumah temen Ayah aku? Kita nggak boleh pergi jauh-jauh, apalagi temen pacar kamu ngajak ketemuan malam-malam.”
“Dekat kok. Cuma lima belas menit menggunakan sepeda motor,” sahut si lawan bicara. “Kalau Siha nggak bisa nganter, biar Capella pergi sendiri.”
“Jangan deh. Biar aku minta izin ke Ayah, supaya aku boleh temenin kamu.”
“Siha beneran mau nganter Capella?”
“Iya, cantik. Hitung-hitung cari hiburan juga,” tambah Siha. “Coba kamu bagi alamatnya, biar aku cari di google maps.”
Capella mengangguk. Ia kemudian mengirimkan alamat yang dikirimkan Elang kepada Siha.
“Lah.” Siha tiba-tiba bersuara setelah sekitar lima menit mereka berhenti bicara, dan fokus makan bubur masing-masing. “Kamu yakin mau datang ke alamat itu?”
“Memangnya kenapa? Alamatnya benar kok. bukan alamat bohongan. Tadi Capella juga sudah pastiin—“
“Itu tempat hiburan malam, Capella!”
💐💐
__ADS_1
TBC
Tanggerang 12/09/22