Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 68 (Extra part)


__ADS_3

DIM. 68 (Extra part)


“Sorry, bro. I’am late. Soalnya tadi nganterin wife dulu ke rumah sakit, tiba-tiba ada emergency call.”


Laki-laki dengan semerbak aroma wangi maskulin yang menyegarkan itu berujar ketika berhasil melewati sebuah pintu. Aroma wangi maskulin yang menyegarkan itu tentu bukan aroma dari jenis parfum Dior Sauvage atau Versace Eros yang biasa jadi andalan para buaya.


“Memang kapan kalian nikah?” tanya seorang laki-laki dengan setelah jas berwarna dark abu-abu. “Perasaan panggilannya udah suami-istri aja.”


“Simulasi, bro. Tahun depan gue sama ayang juga nikah kok.” Seraya menggeser kursi, laki-laki yang dulu dapat dicirikan dengan anting-anting dan kalung itu berujar dengan bangga. Sudah bukan rahasia lagi jika memang pernikahannya dan sang kekasih akan dilangsungkan tahun depan. Mengingat mereka sudah cukup lama bertunangan.


“Wah, tumben formasi hampir lengkap!” serunya kemudian. “Bapak CEO Xander Company yang paling hetic malam ini juga berkesempatan hadir, ya?”


Si empunya nama yang sejak tadi sibuk bermain gaway, langsung mengangkat pandangan saat namanya disebut-sebut.


“Anda tidak ada schedule meeting penting, Pak CEO?” sindir laki-laki yang baru saja bergabung tersebut.


“Hari ini free.”


“Ya iyalah, free. Orang lain mah pas lagi ulang tahun itu bikin party, lah ini malah mempersesibuk diri sendiri."


Hari ini memang seharusnya diperingati sebagai hari lahirnya Palacidio Daniel Adhitama Xander yang ke dua puluh delapan. Namun, setelah merayakan hari lahirnya secara sederhana bersama kedua orang tua serta adik kecilnya yang sudah beranjak dewasa, Dan langsung pergi ke kantor untuk bekerja. Di kantor juga diadakan perayaan kecil-kecilan untuk memperingati hari lahirnya CEO tampan nan rupawan meraka yang masih lajang hingga saat ini.


Tidak ada yang spesial di hari lahirnya, kecuali merayakan bersama kedua orang tua serta adiknya. Mengingat kekasih hatinya sendiri sedang tidak berada di tanah air.


“Duchess masih di LA, Dan?” tanya Elang.


Laki-laki yang dulu terkenal sebagai playboy plus biang masalah di sekolah itu, sekarang menjelma menjadi presdir muda yang memimpin beberapa rumah sakit swasta milik jaringan keluarga Wijaya yang bekerja sama dengan dirinya. Sedangkan di sisi Elang, ada Daru yang duduk seraya menikmati makanan penutup bercitarasa lengit yang memanjakan lidah. Semenjak istrinya hamil, ia jadi suka makan makanan manis. Entahlah, semenjak menyandang status sebagai calon ayah selera makannya memang jadi banyak berubah.


“Hn.”


“Kapan pulang? Perasaan udah beberapa lebaran Duchess nggak pulang,” ujar Elang seraya mendekatkan gelas berisi air putih miliknya. “Kalian masih aktif berkomunikasi, ‘kan?”


Dan lagi-lagi merespon dengan dehaman kecil. Sang kekasih memang sudah tidak pulang ke tanah air beberapa tahun ke belakang. Jika rindu bertamu dengan sangat tidak tahu diri, maka Dan sendiri yang akan menyusul ke Los Angles. Bukan tanpa alasan sang kekasih tidak bisa pulang, karena perempuan cantik itu terikat kontak dengan brand perhiasana luxury kenamaan dunia, serta beberapa brand pakaian ternama. Semenjak didapuk sebagai global brand ambassador, mau tidak mau Duchess harus menuruti apa yang telah menjadi rules dalam kontrak. Salah satu “rules” yang tertera dalam kontrak tersebut adalah larangan menikah dan hamil dalam kurun waktu yang telah disepakati.


Alasan itu pula yang membuat Duchess sudah dua kali menolak ajakan menikah dari Dan. Padahal Duchess hanya bekerja sebagai model internasional, belum lagi jika ia menerima ajakan join dari beberapa agensi besar dunia yang ingin menjadikan solois. Pasti target menikah akan jadi nomor ke sekian dalam daftar hidupnya.


Namun, sebagai seseorang yang mencintai Duchess dengan tulus, Dan mencoba menempatkan diri di posisi yang selalu harus mengerti. Walaupun ia sendiri merasa “sedikit” iri melihat teman-teman sebaya nya sudah menyebar undangan pernikahan, bahkan ada yang akan segera menjadi ayah. Contohnya saja Daru. Siapa sangka jika laki-laki yang biasa menggunakan kacamata itu pada akhirnya akan nikah muda, mendahului yang lain dan akan segera menjadi seorang ayah.


Sedangkan Elang beserta Dian juga sudah menentukan tanggal cantik untuk menikahi kekasih mereka. Sedangkan Dan? Sudah, jangan ditanya lagi.


Untung saja sebagai laki-laki yang tingkat “bucin” nya sudah level dewa, Dan masih punya stok sabar yang luar biasa banyak.


“Happy born day Palacidio Daniel Adhitama Xander. Gue nggak tahu harus kasih hadiah apa, karena lo pasti udah punya segalanya. Tapi, kalau yang ini pasti belum.” Elang tersenyum jenaka seraya menyodorkan beberapa vocher dan sebuah undangan misterius yang membuat Dan mengernyitkan kening.


“Apa ini?”


Laki-laki keturunan Xander yang berkali-kali lipat lebih tampan dengan visual yang lebih dewasa itu menatap pemberian Elang dengan kebingungan.

__ADS_1


“Coba lo buka.”


Dan mengiyakan perintah tersebut. Ia membuka undangan berwarna putih dengan stempel merah yang khas itu. Ketika berhasil mengeluarkan isinya, ia bisa membaca beberapa untai kata dalam bahasa Perancis.


“Undangan fashion show private?”


Anggukan Elang berikan sebagai jawaban. “Di sana Duchess bakal jadi angel model untuk yang terakhir.”


Kernyitan di kening Dan kian bertambah. Ia memang tahu sang kekasih telah didapuk sebagai angel model. Itu berarti Duchess bukan model ecek-ecek lagi. Namun, “yang terakhir” maksud Elang itu apa?


“Kalau vocher itu bisa lo pake kalau mau honeymoon sama Duchess. Gue sediain kamar terbaik di hotel gue yang baru launching di derah Seminyak.”


“Hm. Terima kasih,” ucap Dan kemudian. Hadiah dari Elang tidak dapat dibilang biasa saja. Apalagi undangan putih dengan cap merah atas nama dirinya.


Entah bagaimana cara Elang mendapatkannya, Dan cukup terharu. Daru juga ternyata tidak mau ketinggalan memberikan hadiah. Walaupun Dian tidak ada bersama meraka, dikarenakan laki-laki itu sedang menjalankan kunjungan kerja ke Afrika Selatan bersama sang kekasih, ia juga tetap ikut memberi hadiah ulang tahun untuk Dan. Hubungan mereka memang sudah membaik semenjak masa akhir di zaman SMA.


Kenangan baik dan buruk yang sempat terjadi di masa lalu, kini sudah menjadi pelajaran bagi mereka. Semua sudah tersimpan di dalam lembar cerita dahulu bernama masa lalu. Tempat di mana cerita soal Capella si gadis desa juga pernah ambil bagian tersimpan.


Sekarang gadis yang sudah menjelma menjadi perempuan dewasa itu kabarnya sempat tinggal nomaden atau berpindah-pindah. Terakhir Capella tinggal di daerah Lembang, Bandung bersama Ayahnya. Membangun sebuah depot bunga dan kebun hidroponik yang cukup luas. Jika kalian bertanya soal ibunya? Jawbannya adalah RSJ alias rumah sakit jiwa.


Estrella masuk rumah sakit jiwa semenjak kehilangan bayi dalam kandungannya, karena kesalahan sendiri. Dokter mengatakan bahwa kemungkinan besar Estrella depresi berat karena ia terobesi. Rasa obesesi yang bertahun-tahun tidak dapat dipenuhi itu lah yang memicu delusi, sehingga muncul berbagai masalah kejiwaan pada Estrella. Pada akhirnya perempuan itu berakhir di rumah sakit jiwa. Bahkan hingga detik ini, dalam ingatan Estrella yang tertinggal hanya nama Darren Aryastya Xander sebagai suaminya, serta Danadyaksa Xander sebagai anaknya.


“Lo yakin nggak mau mampir ke mana dulu, Dan?” tawar Elang saat mereka hendak berpisah di parkiran caffe tempat mereka kumpul.


Dan menggeleng. Jarum di jam yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh malam. sudah terlalu malam, ia harus bergegas pulang. Mengingat besok masih weekdays, itu artinya ia masih harus berkutat dengan segunung pekerjaan.


“Tidak, terima kasih.”


Ketimbang mampir ke tempat haram tersebut, Dan lebih memilih berkutat dengan kemudi guna menjangkau unit apartemen nya yang ada di daerah Thamrin. Lebih baik tidur lebih awal daripada harus pergi ke club night yang bising dan berbau menyengat.


Dan memang sudah tinggal terpisah semenjak pulang ke tanah air. Keputusan itu diambil karena Dan mau mandiri. Toh, saat kuliah di luar negeri ia juga sudah tinggal sendiri dan hidup mandiri. Jadi, ia ingin menerapkannya lagi di sini.


Unit yang ia beli memang tidak besar. Hanya menyediakan dua kamar tidur, satu ruangan yang dijadikan sebagai ruang kerja, ruang tamu dengan dapur yang menyatu, serta satu ruang olahraga yang dilengkapi dengan peralatan fitness. Lokasi unit apartemen Dan juga tidak terlalu jauh dari unit apartemen sang Mère.


Walaupun ketika tiba di unitnya ia selalu disambut dengan kegelapan seperti saat ini, Dan tidak pernah mengeluh. Toh, ia sudah biasa berteman dengan sepi semenjak tinggal di sini. Namun, ketika ia selesai menyimpan sepatu di tempat biasa dan menyalakan lampu, ada sesuatu yang berbeda dan berhasil membuatnya terdiam untuk beberapa saat.


“Happy birth day my future husband!”


Ya, bedanya ruang tamu yang biasa sepi dan tampak tidak hidup, kini lebih berwarna dan hidup berkat balon-balon berwarna biru dan gold serta aneka macam peralatan brith day, mulai dari brith day cake sampai brith day gifs yang tersusun rapih di atas meja. Namun, yang paling menonjol adalah kehadiran sang kekasih hati yang sangat ia rindukan setengah mati.



Perempuan itu tampak cantik, berdiri dengan tangan memegang satu bouqet bunga hydrangea berwarna biru berukuran cukup besar. Walaupun hanya tampil dengan outfit sederhana, di mata Dan kecantikannya sungguh luar biasa.


“Greta?” panggil Dan. Mencoba menguji apakah penglihatannya benar atau tidak.


“Iya. Ini Greta.”

__ADS_1


Ketika keyakinanya sudah berhasil dipastikan, maka dengan segera Dan mengikis jarak di antara mereka. Ia kemudian berdiri tepat di hadapan sang kekasih agar dapat lebih leluasa memandang wajah cantik tersebut.



“Maaf karena datang terlambat,” ucapnya seraya menyodorkan bouqet bunga hydrangea berwarna biru. Jika kalian bertanya kenapa biru? Bukan merah, pink, ungu, atau putih? Itu karena hydrangea biru melambangkan permintaan maaf, hati yang dingin, penolakan lamaran serta penyesalan.


Secara tidak langsung, Duchess memilih bunga itu sebagai perwakilan dari kata maafnya atas rasa sesal yang timbul akibat penolakan ajakan menikah yang pernah Dan utarakan.


“Apa Kakak masih bersedia memaafkan aku?”


“Jangan bercanda,” sahut Dan. “Melihat kamu ada di sini saja sudah seperti mimpi,” tambahnya seraya mengambil alih bunga yang dibawa sang kekasih. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk kekasihnya.


“Aku berharap kali ini kamu akan tinggal lebih lama.” Setelah berkata demikian, Dan akhirnya membawa sang kekasih ke dalam pelukan.


Setelah sekian lama berpisah, akhirnya mereka bertemu. Menjalin hubungan jarak jauh itu tidaklah mudah. Malah cenderung sangat berat dan beresiko. Namun, sejauh ini mereka sudah berhasil memalui semua itu.


“Sebentar.”


Duchess menarik diri setelah lima menit berada dalam pelukan Dan yang entah sampai kapan akan berakhir. Laki-laki lupawan itu terlihat hendak menyuarakan protes, namun Duchess sudah terlebih dahulu berkata.


“Setelah pagelaran pashion show di Paris selesai, ayo kita menikah.”


Dan tampak terpaku di tempatnya berdiri. Kedua bola matanya tampak menatap sang kekasih lamat-lamat. Iya tidak salah dengar bukan?


“Duchess sudah memikirkannya dengan matang,” ucapnya seraya menunjukkan cincin yang dulu digunakan Dan untuk melamar Duchess. “Sudah cukup Kakak menunggu. Sekarang waktunya aku memenuhi janji.”


“Kamu ….yakin?”


Duchess mengangguk seraya memberikan senyum terbaiknya. “Duchess sudah bilang sama Mommy, Daddy, Mère dan Perè. Pagelaran pashion show di Paris jadi akhir dari perjalanan kontrak kerja sama Duchess. Setelah itu kita bisa menikah dan….”


“Apa?” pancing Dan.


“We can have a cute baby soon (kita bisa segera punya bayi yang lucu).”


Dan tidak tahu harus memberikan respon apa selain tersenyum lebar seraya kembali memeluk sang kekasih erat. Akhirnya, setelah menunggu bertahun-tahun lamanya, sang kekasih mengiyakan ajakan untuk menikah. Ditambah lagi sekarang sang kekasih sudah mulai bisa terbebas dari yang namanya jerat kontrak pekerjaan.


Jika boleh egois, Dan malah ingin Duchess menjadi ibu rumah tangga saja jika meraka sudah resmi menikah. Namun, ia tidak boleh egois. Jadi, Dan akan mencontoh sang Perè yang selalu memberikan kebebasan pada istrinya, yaitu Mère Ev. Mère Ev juga sebagai seorang istri tahu posisi sebagai istri, ibu, serta publik figur. Semoga saja Duchess bisa mencontoh jalan yang dipilih oleh Mère Ev atau Mommy Dewita yang langsung memilih off dari dunia modelling setelah dipersunting oleh sang kekasih. Namun, semua kembali pada Duchess. Toh, Dan juga tidak bisa egois.


“Maaf sudah membuat Kakak menunggu terlalu lama. Dan terima kasih, sudah mau bertahan dengan perasaan yang masih sama.”


Dan mengurai pelukannya. Menggunakan jemarinya, ia menyusuri visual cantik yang tercipta di wajah sang kekasih. “Waktu yang aku habiskan untuk menunggu masih terbilang tidak ada apa-apanya. Semua itu aku lakukan sebagai bentuk perjuangan untuk menjadikan kamu pasangan hidup satu-satunya dan selama-lamanya.”


✈️✈️


SEMOGA SUKA YA SAMA EXTRA PART NYA ☺️


Tanggerang 05-11-22

__ADS_1


__ADS_2