
DIM. 11
“Mas.”
“Ada apa? kamu mau mandi juga? Mau aku siapkan air hangatnya?” laki-laki baru hendak mendekati usia kepala empat itu tampak menatap sang istri yang tengah duduk di tengah-tengah ranjang dengan satu alis terangkat.
“Katanya tadi mau langsung tidur karena capek. Sekarang kenapa malah bangun?”
Laki-laki yang masih topless dan hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi bagian pinggang hingga bagian atas lutut itu berjalan mendekati sang istri. Ditatapnya perempuan yang telah memberikan dirinya seorang putri cantik jelita itu lamat-lamat.
“Mau lagi?” tanyanya ambigu seraya mendudukkan diri di samping sang istri.
“Bukan gitu, ih.”
Laki-laki itu tersenyum tipis. “Terus apa lagi? Bilang sama aku. Kamu mau apa?”
“Kita ….nginep di sini satu malam lagi, gimana?”
“Menginap satu malam lagi?” laki-laki bernama Elgara itu menatap sang istri yang sama-sama topless, hanya bermodalkan selembar kain selimut untuk menutupi tubuh polosnya. “Kenapa memangnya? Kamu masih mau di sini?”
Perempuan itu mengangguk dengan puppy eyes andalannya. Membuat laki-lakinya tersenyum melihat itu. “Ok. Satu malam lagi kita menginap di sini. Tapi, kasih tahu Capella. Dia pasti merasa tidak nyaman ditinggal lama-lama di tempat asing.”
“Aku sudah hubungi Capella kok. Putri kita kayaknya suka deh tinggal di sana, mas.”
“Jangan bercanda, kamu tahu sendiri, kan, kalau tuan dan tuan muda tidak suka melihat putri kita berada di sekeliling mereka. Kita harus segera menjemput Capella.”
“Iya, iya. Tapi nanti,” kata perempuan itu seraya menyentuh bisep sang suami dengan gerakan sensual. “Ella masih mau di sini sama mas El.”
“Masih mau di sini hm?” goda Elgara, terpancing akan undangan sang istri. “Kalau begitu kita harus memanfaatkan waktu selama di sini dengan sangat baik.”
“Tentu saja,” katanya dengan suara sensual yang mendayu-dayu di telinga sang suami. “Mas El,” panggilnya kemudian saat sang suami sudah mulai nakal mengendus-endus bagian tulang selangkanya. Diselingi ciuman basah yang mulai berjatuhan.
“Hm?”
“Ella mau mandi.”
“Terus?”
“Mandiin.”
“Manja sekali ibu satu ini,” kata mantan body guard di keluarga Xander itu seraya mengangkat tubuh sang istri untuk dibawa ke kamar mandi. Sebuah kesenangan tersendiri dapat memberikan acts of service atau memberi pelayanan pada istri cantik dan pemalu nya. Ibu satu anak yang di matanya selalu terlihat seperti anak newbie yang baru kemarin ia nikahi.
__ADS_1
Tidak sulit memang merayu suaminya itu. Laki-laki baik hati yang permainannya di atas ranjang cukup memuaskan, namun tetap tidak membuat seorang Estrella yang polos, lugu dan pemalu itu puas. Ia malah ingin sekali merasakan permainan panas di atas ranjang dengan sosok super hot daddy seperti Darren Aryasatya Xander. Majikan suaminya.
Di dalam hati, ia kemudian bergumam dengan penuh keyakinan. ‘Ibu harap kamu menggunakan kesempatan ini dengan sangat baik, Capella. Jangan sia-siakan kerja keras ibu untuk menahan ayahmu yang bodoh ini.’
💐💐
“Apa Dan nggak terlalu berlebihan sama Capella, mas?”
Perempuan cantik yang baru saja kembali pasca mengantarkan gadis bernama Capella ke paviliun itu berkata seraya mengambil posisi duduk di samping sang suami. Ia merasa agak tidak enak karena sang putra bersikap demikian. Padahal Dan tidak pernah begitu pada orang lain. Putranya Palacidio Daniel Adhitama Xander senantiasa bersikap cuek, padahal sangat care. Dan juga tidak pernah bersikap kasar, apalagi pada orang tua, kaum Hawa dan anak-anak. Sedari kecil Ev juga sudah mengajarkan Dan untuk tidak menyakiti pada orang tua, kaum Hawa apalagi anak-anak.
“Kamu kayak nggak kenal putra kita aja, sayang,” sahut sang suami seraya menatap wajah istrinya dari samping. “Dan kalau sudah benci pada sesuatu, mana mungkin ia pandang bulu. Itu, kan, sifat buruk yang diturunkan dari aku.”
“Iya sih,” kata Ev menyetujui.
Darren menghela napas gusar mendengar persetujuan sang istri. Niat hati cuma ingin melakukan stand up comedy, eh malah berujung seperti ini.
“Akan tetapi Dan membenci anak itu juga bukan tanpa alasan, sayang. Mana mungkin kamu lupa, ‘kan?”
“Tidak. Aku tidak melupakan itu.”
Mana mungkin Evelyn lupa pada tragedi di hari jadi sang putra yang ke-7. Pada hari yang seharusnya sangat bahagia itu, sang putra malah jadi anak yang sangat pendiam karena melihat gadis kecil yang sudah ia anggap adik sendiri, teman dekat, dan sahabat, hampir meregang nyawa di depan matanya. Semenjak peristiwa itu, Dan jadi lebih pendiam.
Alih-alih banyak bicara, Dan lebih mengutamakan reaksi dan aksi. Dan tak segan-segan pasang badan demi menjaga Duchess. Seiring dengan berjalannya waktu, sikap Dan juga cenderung lebih posesif karena tindakan itu bentu perlindungan untuk membentengi Duchess dari kejahatan yang tidak tahu datang kapan, di mana, dan dari siapa saja.
Darren berkata seraya menangkup kedua sisi wajah sang istri. “Kamu tahu sendiri jika sakit rasanya hampir kehilangan seorang putri, bukan?”
Ev mengangguk tanpa kata. Dulu, jauh sebelum Dyra lahir ke dunia, Ev sempat mengalami peristiwa kurang menyenangkan. Ev dan Darren hampir kehilangan Dyra yang masih dalam kandungan. Untung saja Tuhan masih berbaik hati dengan memberi mereka kepercayaan untuk menjadi orang tua lagi. Rasa sakit yang timbul karena hampir kehilangan memang tidak pernah gagal menjadi pengingat untuk selalu mengucap syukur.
“So, aku harap kamu tidak membela anak itu lagi. Kamu bisa sedikit jadi jahat untuk menjadi calon ibu mertua yang baik, sayang.”
“Apaan sih,” ketus Ev seraya menyikut perut sang suami.
“Aw, kok KDRT sih, sayang? Sakit nih.”
“Sakit beneran?”
“Iya,” bohong Darren seraya mendekatkan wajahnya pada sang istri yang tampak cemas. “Tapi bohong,” lanjutnya seraya menawan bibir ranum milik sang istri yang selalu membuat candu.
Mau seberapa banyak meraup bibir itu, Darren tidak pernah merasa puas. Di luaran saja, ratusan, ribuan, bahkan mungkin jutaan kaum Adam menginginkan posisinya. Memiliki istri cantik yang pandai mengurus dan memenuhi segala kebutuhan suami dan keluarganya. Istri yang bisa jadi partner dalam segala kondisi, sehingga rumah tangga mereka adem ayem saja hingga belasan tahun telah berlalu. Walaupun begitu, yang namanya pernikahan pasti akan ada saja halangan dan rintangan yang menghadang. Kendati demikian, jika komunikasi antara suami dan istri baik, maka mereka akan bisa bekerja sama dengan baik untuk mencari solusi guna menghadapi halangan dan rintangan tersebut.
“Kenapa?” tanya Dan dengan satu alis terangkat.
“Sssttt!”
“Kenapa?” tanya Dan sekali lagi. Posisi mereka saat ini bersembunyi di balik tembok dekat anak tangga. Dengan posisi Dan yang berdiri di hadapan Duchess yang tampak salah tingkah. “Kamu melihat sesuatu?”
__ADS_1
Duchess tidak menjawab, namun jari telunjuknya bergerak ke arah dua orang yang tengah duduk di meja makan. They are kissing. Dan bisa melihat itu, orang tuanya sedang kissing di tempat umum. Hm, bagi Dan ruang makan dan ruang-ruang lain di lantai satu adalah tempat umum yang riskan untuk digunakan sebagai tempat untuk bermesraan.
“Kenapa?”
“Apanya yang kenapa, kak?” tanya Duchess dengan tampang cengo. Cute sekali di mata Dan.
“Mau?”
“Mau apa?” bingung Duchess.
“Kayak Mère sama Perè,” kata Dan seraya tersenyum miring. Menggoda Duchess itu menyenangkan sekali.
“Ih, apaan sih, kak Dan pervert.” Duchess bergidik ngeri saat laki-laki tampan di hadapannya berkata demikian. Kata sang mommy, Duchess ini masih di bawah umur. Belum legal. Belum boleh melakukan hal-hal yang berbau ‘1821’. Apalagi dalam agama yang mereka anut, dilarang bersentuhan fisik dengan laki-laki yang bukan muhrim.
“Gak boleh kayak gitu, kak. Mère sama Perè, kan, sudah menikah. Sudah muhrim. Bukan kayak kita yang belum menikah. Masih haram,” ujar Duchess bak seorang Guru yang tengah menasehati muridnya.
“Kalau gitu mau dihalalin?” celetuk Dan seraya memenjarakan sang kekasih di antara kedua lengan kokohnya.
“M-emangnya Duchess barang haram, sampai-sampai perlu dihalalin?” jawab Duchess terbata-bata.
Dan sampai dibuat tersenyum melihatnya. “Hubungan. Maksudnya yang dihalalkan hubungan kita.”
“Memang bisa?”
“Bisa, nikah muda.” Dan berkata seraya memainkan poni Duchess. “Tapi, kalau usia kamu sudah legal,” tambahnya seraya menampilkan senyum yang semakin lebar.
“Makanya kak Dan sabar dulu. Lagipula Duchess belum mau menikah. Apalagi menikah muda sama kak Dan yang galak, dingin dan datar kayak coolkas dua pintu.”
Dan menautkan kening mendengarnya. “Coolkas dua pintu?” ia sudah bersiap-siap untuk memotong kalimat Duchess saat gadis cantik itu tak kunjung menjawab, namun malah memeluk tubuhnya erat.
“Eh, bukan coolkas dua pintu deh. Coolkas dua pintu mana ada yang enak buat dipeluk begini,” katanya yang langsung membuat mood sorang tuan muda Xander membaik seketika.
💐💐
TBC
LIKE MOTHER, LIKE DAUGHTER (Estrella & Ella)
LIKE FATHER, LIKE SON (Darren & Dan)
NEXT?
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 09-07-22
__ADS_1