
DIM. 33
Mode pembangkang 👇
“Tuan muda mau pergi lagi?”
“Iya, mbak. Kenapa?”
Laki-laki muda yang baru saja meraih kunci motor Yamaha YZF-R1M berwarna hitam miliknya yang sudah terparkir dengan apik di garasi itu menoleh. Sebelah tangannya menenteng helm full face berwarna hitam yang biasa ia gunakan ketika berkendara menggunakan motor.
“Tadi ibu berpesan supaya tuan muda tidak pergi kemana-mana,” ujar perempuan paruh baya yang dipanggil ‘mbak’ oleh laki-laki tampan itu, memberitahu pesan sang nyonya.
“Memangnya kenapa? Ada yang mau datang?”
Si mbak mengangguk. “Iya, tuan muda. Hari ini ada yang mau datang.”
“Siapa?”
“Mbak kurang tahu. Tapi, tadi pagi ibu berpesan agar tuan muda tidak pergi kemana-mana setelah pulang sekolah.”
“Aku ada urusan di luar,” ujar laki-laki yang dipanggil dengan embel-embel ‘tuan muda’ tersebut. “Tolong sampaikan permintaan maaf ku pada mama.”
Setelah berkata demikian, laki-laki berparas rupawan yang telah mengganti seragam SMA Wijaya yang tadi digunakan dengan OOTD atau outfit of the day simpel, yaitu perpaduan antara hoodie berwarna hitam yang dipadukan dengan skinny jeans hitam, ditunjang dengan sneakers hitam serta headband yang melingkar di kepala. Ia memang baru saja pulang sekolah, namun pulang bukan untuk berlama-lama di rumah, melainkan hanya untuk berganti pakaian. Ia memang tidak terlalu suka menggunakan almamater untuk main. Menurutnya almamater digunakan untuk bermain adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Almamater adalah seragam yang menjadi identitas suatu instansi di mana kita mengenyam pendidikan, atau bekerja di dalamnya. Jadi, almamater tidak dapat digunakan sembarangan.
“Tapi tuan muda ….bapak juga sudah berpesan agar tuan muda tinggal di rumah sampai jamuan makan malam.”
Langkah kaki laki-laki bernama lengkap Rahardian Adiwangsa Wijaya terhenti seketika. “Memangnya siapa yang mau datang?” tanyanya kemudian, tanpa membalikkan badan.
“Mbak kurang tahu jika soal itu. Namun, ibu sempat bilang kalau tamu yang datang kali ini adalah tamu kehormatan.”
“Tamu kehormatan?” jengah Dian. Ia sudah bosan harus terus ikut jamuan guna menyambut kedatangan tamu kehormatan. Selama berlangsungnya acara, Dian terpaksa harus bersandiwara. Padahal ia tidak memiliki ketertarikan lebih untuk menghadiri acara tersebut. Apalagi jika jamuan makan itu ada ‘embel-embel’ perjodohan yang coba ditutup-tutupi.
“Mbak bilang saja kalau saya pergi,” kekeuh Dian seraya kembali berjalan. Meninggalkan ruang keluarga.
“Tapi, tuan muda….“ si mbak tampak ragu.
“Mbak tidak perlu khawatir, nanti aku sendiri yang akan mengatasinya.” Dian menoleh, lalu tersenyum sangat tipis. “Mbak bilang saja kalau aku pergi, nanti malam baru kembali. Bisa?”
“Bisa tuan muda,” sahut si mbak pada akhirnya.
Dian segera melanjutkan langkah setelah berhasil membuat si mbak menurut. Lagipula ia juga tidak berminat untuk ikut menyambut tamu kehormatan yang akan datang. Dian lebih memilih pergi ke basecamp untuk bertemu teman-teman tongkrongan, ketimbang menetap di rumah.
Dian memang berencana untuk pergi ke basecamp—menyusul Daru, Elang, Dan serta Duchess yang sudah terlebih dahulu datang ke sana. Namun, Dian memilih untuk pulang dan berganti pakaian terlebih dahulu. Barulah ia berencana untuk mengunjungi basecamp. Rasanya Dian ingin sekali pergi ke tempat itu, sekali pun awalnya merasa enggan. Namun, mengingat ada Duchess di sana, kemungkinan besar bad mood-nya juga akan sedikit terobati. Padahal schedule Dian hari ini cukup padat. Ia juga sempat diberi doping berupa pesan manis pada sticky note yang tertempel di atas bekal makan siang yang diberikan oleh Duchess.
Bekal makan siang berisi nasi daun jeruk dengan lauk ayam goreng, sambal, tumis sayuran, kremesan ayam goreng dan kentang mustofa. Lagi-lagi menu yang Dian sukai semenjak masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu mommy Dewita sering membelikan Duchess dan Dian bekal nasi daun jeruk itu untuk makan siang.
__ADS_1
Baru saja mengeluarkan motor Yamaha YZF-R1M berwarna hitam miliknya dari garasi, mobil Mercedes Benz warna hitam dengan kode depan plat nomer B dibuntuti oleh mercy berwarna hitam pula memasuki kediaman Wijaya. Dian tahu betul kendaraan itu milik siapa, dan kemungkinan besar membawa siapa didalamya. Alih-alih menghentikan laju motor Yamaha YZF-R1M miliknya, Dian malah sengaja melajukan kendaraannya semakin kencang supaya dapat meninggalkan kediaman Wijaya lebih cepat.
“Tadi itu ….Rahardian?”
Perempuan paruh baya yang duduk di samping gadis bersuara brunette yang baru saja bertanya itu tersenyum canggung. Ia kemudian melirik kaca spion tengah, perantara yang dapat membuat ia dan sang suami yang duduk di depan berkomunikasi.
“Iya.”
“Sepertinya dia sedang terburu-buru,” celoteh gadis dengan wajah European itu seraya menatap ke luar jendela.
“Iya. Sepertinya Dian sedang sibuk dengan urusan sekolah,” sahut Dayu. Ibu dari Rahardian itu tahu betul jika mood gadis di sampingnya saat ini pasti sedang anjlok. “Tuan Putri tenang saja. Dian pasti akan segera pulang menjelang jamuan makan malam.”
“Apakah benar begitu?”
“Iya. Tuan Putri tenang saja. Dian pasti akan pulang.”
💐💐
“Air nya sudah siapa?”
“Sudah,” sahut Daru yang baru saja muncul dari balik pintu kamar mandi milik Dan.
Markas atau basecamp 4 HANDS memang dilengkapi dengan beberapa fasilitas mewah seperti di hotel bintang lima. Para anggota inti juga memiliki kamar sendiri, dengan fasilitas singel bed yang empuk serta nyaman, kamar mandi dengan bathtub, lemari pakaian, meja belajar, balkon dengan view terbaik kota Jakarta, serta beberapa perabotan lain yang dapat digunakan sewaktu mereka menginap.
“Keluar.”
“Bagaimana tuan muda?” Daru loading seketika.
Daru mengangguk, namun sebelum pergi ke luar ia menyempatkan diri untuk menatap Dan lekat-lekat.
“Jangan sampai merusak kepercayaan yang sudah dititipkan orang-orang pada tuan muda. Saya pergi.”
Dan mengeram lirih seraya membawa Duchess ke kamar mandi setelah memastikan Daru pergi ke luar. Dan juga berharap cara yang selama ini ia pelajari dari berbagai materi, bisa berhasil mencegah efek ‘permen cinta’ ketika diaplikasikan.
Sebenarnya ini adalah salah satu cara mengurangi efek dari obat perangsang atau obat kuat yang biasa diberikan pada laki-laki. Dan mempelajari materi ini untuk menjaga diri. Karena kata Perè, menjadi seorang laki-laki juga harus pandai menjaga diri. Jika tidak, bisa saja masa depannya hancur karena niat jahat oknum-oknum tidak bertanggung jawab di luar sana. Dan harap teori-teori yang ia pelajari dapat menyelamatkan sang tunangan dari efek permen cinta.
Dalam pandangan ilmiah sendiri, permen cinta belum diketahui secara pasti bahan-bahan penyusunnya. Akan tetapi, menurut seorang seksolog—sebenarnya mustahil ada obat yang bisa memengaruhi libido seseorang dalam tempo secepat kilat. Beberapa obat perangsang juga membutuhkan rangsangan fisik terhadap penggunanya. Larisnya obat semacam ‘permen cinta’ adalah bukti dari kekeliruan masyarakat, yang masih membutuhkan sugesti untuk memacu libido.
“Hei, Greta.”
Dan memanggil sang tunangan seraya mengambil sejumput rambut yang menutupi wajah cantiknya, kemudian diselipkan pada bagian belakang telinga. “Kamu masih bisa mendengar suaraku?”
“Hmm....”
“Tenang,” ujar Dan sembari melepaskan jas almamater SMA Wijaya yang membungkus tubuh mungil Duchess. Menyisakan kemeja putih berlengan pendek serta bawahan berupa rok yang jatuh di atas lutut.
Dan juga dengan telaten melepaskan sepatu dan kaus kaki Duchess, sebelum membawa gadis cantik yang mulai kepayahan itu masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi oleh air hangat.
__ADS_1
“Bertahan sebentar lagi Greta,” ujar Dan memberi support. Ia merendahkan tubuhnya di dekat bathtub yang tengah digunakan Duchess. “Sebentar lagi, bertahanlah.”
Duchess menjawab dengan geraman kecil. Gadis cantik itu tampak berupaya melawan gejolak nafsu sendiri. Di dalam air hangat yang memenuhi bathtub, Duchess mulai terisak karena rasa nyaman yang kian menyiksa. Sedangkan Dan hanya bisa menggenggam tangannya erat-erat di samping bathtub. Hanya ini yang bisa Dan lakukan, selebihnya ia tidak dapat berbuat apa-apa. Jika Dan berbuat lebih dari ini, ia malah takut lepas kendali. Toh, Dan juga anak laki-laki biasa yang masih normal. Ia punya hasrat dan insting berburu yang bisa bekerja saat melihat mangsa di depan mata dengan kondisi tak berdaya.
“DAN. BUKA DULU PINTUNYA! GUE BAWA AIR KELAPA YANG LO MINTA.”
Dan menoleh ke arah pintu kala mendengar suara Elang berteriak-teriak di luar kamar. “Tunggu sebentar di sini, aku akan keluar,” pesan Dan yang dijawab oleh anggukan lemah dari Duchess.
Dan bergegas keluar dari kamar mandi guna membuka pintu.
“Duchess mana?” tanya Elang dengan raut wajah yang dipenuhi kecemasan. Di sebelah tangannya ada satu buah kelapa muda berwarna hijau yang masih bulat utuh.
“Gue minta air kelapa muda, bukan kelapa muda utuh,” lirih Dan dengan kepala yang mulai mendidih.
“Lah, ini apaan?” sebelah tangan Elang yang lain mengangkat kantong kresek bening yang di dalamnya berisi air kelapa muda murni yang dibungkus dalam sebuah plastik. “Gue bawa yang masih utuh buat jaga-jaga. Takutnya gue salah beli.”
“Nggak. Ini sudah benar,” ujar Dan seraya mengambil kantong kresek bening itu dari tangan Elang.
“Kalau kurang lo tinggal panggil aja. Tukang es kelapa mudanya kebetulan udah gue suruh mangkal di depan markas,” beritahu Elang seraya menyengir. Inisiatif sekali.
“Hm.”
“Terus kondisi Duchess gimana?”
“Not good,” sahut Dan seraya membuang napas kasar. “Thanks buat air kelapa mudanya. Lo kirimin rincian biayanya ke gue, nanti gue transfer.”
“Nggak usah,” tolak Elang cepat. “Lagian gue ikut ambil bagian dalam insiden ini. Coba aja tadi gue ingetin Galang buat bawa itu permen laknat, pasti nggak bakal gini kejadiannya.”
Elang menatap Dan dengan sendu. “Gue harusnya minta maaf, karena menempatkan Duchess dalam posisi ini. Tapi, dia baik-baik aja, ‘kan? efek permen cinta pasti buat dia kepayahan, ya?”
“Hmm. Ini bukan sepenuhnya kesalahan lo. Duchess juga salah karena sembarangan mengambil barang yang bukan miliknya.”
“Duchess gitu karena kita memang mengizinkan dia buat mengambil apapun yang dia mau di tempat ini. Duchess punya akses untuk itu. Menurut gue sih, kita yang harus lebih teliti lagi. Soalnya kita membebaskan Duchess berkeliaran di basecamp, tetapi kita nggak teliti mengawasi barang bawaan anak-anak.”
“Hm. Jadikan ini pelajaran untuk kita semua,” pungkas Dan. “Lo bisa tunggu di bawah sama Daru.”
“Lo ….yakin bisa mengatasi ini sendirian, Dan? Tanpa ….touching Duchess?”
Dan terdiam untuk sejenak. Genggamannya pada kantong plastik kian menguat kala memikirkannya lebih jauh. Jika Dan sampai lepas kendali guna menolong Duchess, besok ia akan memastikan jika anggota yang bernama Galang akan ia beri pelajaran habis-habisan.
“Gue lakukan semampu gue.”
“Kalau ….lo gagal dan berakhir menyentuh Duchess, gimana? Secara kita nggak tahu, sekuat apa setan menggoda kita menggunakan orang yang kita cinta.” Elang menatap Dan hati-hati. Ia takut perkataannya menyinggung Dan.
“Kalau itu sampai terjadi, segera hubungi Perè dan daddy Damian. Biarkan mereka menghajar ku habis-habisan, sebelum aku bertanggung jawab atas perbuatan ku.”
💐💐
__ADS_1
TBC
Sukabumi 08-08-22