
DIM. 12
“Allahumma inny as-aluka rukya shoolihatan shoodiqotan ghoira kaadzibatin naafiatan ghoiro dzloorrotin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik dan benar, (serta) tidak dusta, yang bermanfaat dan tidak bahaya).”
Laki-laki muda dengan wajah tampak nan rupawan itu berbisik kecil di atas pucuk kepala seorang gadis cantik yang tengah menguasai ranjang king size miliknya. Gadis cantik itu sudah terlelap dengan nyenyak seraya memeluk seorang gadis kecil yang menggunakan piyama bermotif unicorn yang berwarna rainbow.
“Bonne nuit, ma belle fille (selamat malam, gadis cantikku),” katanya kemudian, menggunakan bahasa Prancis. Bahasa yang ia gunakan pula untuk memanggil ayah dan ibunya.
Dulu, sewaktu masih kecil, ia memang sempat hidup nomaden alias berpindah-pindah dari satu Negara ke Negara lain. Salah satu Negara yang paling lama ia tinggali adalah Swiss dan Prancis. Alhasil ia jadi fasih kedua bahasa yang umum digunakan di sana, yaitu bahasa Jerman dan Prancis. Di Swiss bahasa resmi yang digunakan memang bahasa Jerman, dilanjut bahasa Prancis pada urutan ke dua.
Seharusnya gadis cantik yang sudah berganti pakaian menggunakan sleep wear yang nyaman itu pulang beberapa jam yang lalu. Bahkan supir keluarga Widyatama juga sudah datang untuk menjemput, namun sang Tuan Muda melarang kekasihnya pulang dengan 1001 alasan yang tentu saja sukar ditolak. Siapa sih yang tidak tahu seberapa bucin Tuan Muda Palacidio Daniel Adhitama Xander pada gadis pecinta ice cream coklat mint itu. Dan juga sudah menghubungi pasangan suami istri Widyatama mengenai acara menginap yang dadakan ini.
Dan mendapatkan izin? Jangan ditanya lagi. Tentu saja dapat izin. Toh, selama ini Dan selalu berusaha menjaga kepercayaan orang-orang kepada Dan dengan baik. Termasuk menjaga Duchess yang notabene calon pasangan sehidup-semati nya kelak.
Selepas memastikan Duchess dan Dyra tertidur dengan nyaman, pasca keduanya sibuk menghabiskan waktu untuk bercerita, Dan memilih menyingkir ke meja belajar. Di sana ada tumpukan tugas dan MacBook yang sudah menyala. Siap untuk menjadi partner Dan malam ini untuk bergadang. Namun, baru saja duduk di atas kursi belajar putarnya, suara ketukan pintu berhasil membuat Dan menaikkan sebelah alis.
“Siapa?” tanyanya datar dari dalam.
Tidak berniat membuka pintu. Ini sudah malam loh. Dan juga tidak minta sesuatu pada mbok Surti, mbak Dini atau siapa pun. Mustahil ada salah satu maid yang datang tanpa diminta.
Karena tak kunjung mendapatkan jawaban, Dan memilih melangkahkan kaki ke pintu. Dengan gerakan perlahan ia membuka pintu. Sebisa mungkin meminimalisir bunyi yang terdengar karena gerakan pintu yang terbuka. Agar tidak menganggu tidur para gadis di atas ranjang king size miliknya.
“Ada urusan apa?” tanya Dan to the point plus sangat datar.
“Kak ….tadi …..”
“Gue tahu lo nggak tuli apalagi gagu,” potong Dan tajam seraya menutup pintu kamarnya. Untuk sekilas lawan bicaranya yang menggunakan piyama terusan berwarna pink kalem itu bisa melihat siapa yang menguasai ranjang king size si empunya kamar. Enak sekali sepertinya tidur di ranjang dengan bedcover berwarna biru tua itu, pikirnya.
“Gue harus bilang berapa kali supaya lo ngerti?”
“Capella….”
“Nggak usah sebut-sebut nama lo, gue muak dengernya!” sahut Dan dingin. Dengan segera ia menarik pergelangan tangan gadis bersurai hitam panjang itu untuk turun ke bawah.
Dan tidak mau tidur Duchess terganggu. Ia tahu betul akan sulit bagi Duchess tidur lagi jika sudah terbangun dari tidurnya. Namun, bagi si pemilik nama yang berasal dari nama rasi bintang itu, pegangan tangan Dan pada pergelangan tangannya sangatlah spesial. Sekali pun meninggalkan rasa nyeri dan bekas kemerahan yang samar.
Capella suka kok diperlakukan seperti itu.
Asalkan yang menggenggam tangannya adalah Palacidio Daniel Adhitama Xander.
“Pergi. Lancang banget lo keluar masuk rumah gue. Nggak diajarin etika dan tata krama lo?” sengit Dan, tak suka.
“Kak, Capella cuma mau bilang—“
__ADS_1
“Gue gak mau denger,” potong Dan. “Pergi atau gue seret lo sekarang juga.”
Gadis itu tak bergeming. “Kak Dan kenapa marah-marah terus sama Capella?”
“Karena gue benci lo.” Dan berujar penuh penekanan.
“Tapi kata ibu, benci sama cinta itu beda tipis, kak,” sahut Capella dengan raut wajah polosnya yang malah membuat Dan makin naik pitam.
“Gue udah rajin berdo’a sama Tuhan supaya dijauhkan dari cewek kayak lo. Cewek yang sok polos, lugu, dungu, tetapi aslinya sok kepedean, belagu, gak tahu diri, dan lancang.” Dan menghela napas kasar karena kesal. Ia jadi harus repot-repot meladeni mahluk tidak jelas satu ini.
Kenapa sih Mère-nya dilahirkan sebagai perempuan yang terlalu baik? Sampai-sampai rubah ekor Sembilan, ah mungkin rubah ekor dua belas, karena rubah jenis ekor Sembilan sudah berevolusi mengikuti perkembangan zaman, dibiarkan tinggal di rumah mereka. Seperti tidak ada tempat lain saja. Padahal bisa sekali orang tua si Capella menitipkan anaknya itu di rumah kerabatnya yang ada di Jakarta, atau paling tidak di hotel. Memangnya Jakarta kekurangan hotel, sampai-sampai mansion Xander jadi tampungan?
“Pergi,” desis Dan tajam.
“Tapi, kak, kita butuh bicara.”
“Gue gak butuh,” sahut Dan tajam. “Mbak!” panggil Dan kemudian saat melihat seorang perempuan baru saja menyimpan stok pakan Emilia—anak dari hasil kawinan Emilio, ikan kesayangan Mère-nya Dan lewat.
“Iya, den. Ada sesuatu yang bisa bibi bantu?”
“Bawa cewek ini ke tempatnya.”
“Ke tempatnya, den?” bingung si bibi.
Dan mengurut pelipisnya sejenak. Mungkin sekarang tensi darahnya mulai naik karena lonjakan emosi. “Paviliun,” ujar Dan seraya menunjuk ke arah paviliun.
Perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu langsung mengangguk, lalu mengajak Capella pergi. Walaupun Capella tentu saja menolak dan terus menerus memanggil Dan. Katanya ada yang ingin dibicarakan berdua saja, tetapi Dan yang enggan menanggapi hanya menganggapnya angin lalu.
“Dan.”
Dan langsung menoleh saat melihat siapa yang baru saja menyapa.
“Siapa tuh cewek? Gue baru lihat cewek itu.”
“Orang gila,” kata Dan, enteng.
“Wah, your eye katarak, Dan? Itu tadi cewek cantik loh. Polos, lugu, gimana gituu….”
“Ambil aja kalau mau, gue gak butuh,” kata Dan seraya berjalan ke ruang tamu. “Mana barang yang gue minta?”
Terlanjur sebal, sekali pun teman-temannya yang datang, Dan jadi bersikap ketus dan menggunakan kata ganti ‘lo-gue’ untuk menyapa mereka.
“Semua ada di sini. File yang sudah direkap disimpan di file doc A+ sedangkan yang belum di file doc A-.” laki-laki berkacamata dengan hoodie hitam itu berkata seraya menyodorkan sebuah flashdisk berwarna merah.
“Hm. Thanks,” kata Dan kemudian. “Omong-omong kenapa lo bawa mereka?”
__ADS_1
Dewandaru—putra Dimas yang dulu bekerja sebagai asisten Damian, sedangkan kini bekerja sebagai sektretaris ayah Dan—itu menggaruk tengkuk karena kikuk. “Tadi nggak sengaja ketemu di jalan. Mereka juga mau main ke sini.”
“Ngapain main malem-malem?” tanya Dan, datar.
“Lah, gue tadinya ke sini mau ngapelin Duchess. Soalnya doi nginep di sini, kan?” sahut Elang yang baru saja ikut bergabung di sofa. “Sekarang Duchess nya mana?”
“Tidur.”
“Jam segini udah tidur? Masa?” Elang tampak tak percaya.
“Ini udah jam Sembilan lebih,” koreksi laki-laki yang dari tadi diam saja di sofa singel dekat tempat Daru duduk.
“Lo juga ngapain ikut-ikutan ke sini?” tanya Dan dengan mata memicing.
“Main.”
“Jam segini?”
“Hm.”
“Mau main apa mau ketemu Duchess.”
“Kalau bisa keduanya, kenapa tidak?” sahut putra keluarga Wijaya itu, enteng.
Dan langsung mengeram lirih mendengarnya. Sudah dibuat darah tinggi oleh kelakukan si Capella, sekarang ia dibuat semakin darah tinggi oleh kelakukan absurd teman-temannya yang tidak tahu waktu kalau main ke rumah.
“Tadi katanya lo mau ke basecamp bawa Duchess. Tahunya lo PHP doang,” kata Elang, berlagak sedih.
“Dyra tadi rewel mau ikut, jadi batal ke basecamp.” Dan menuturkan seraya mengambil flashdisk dari Daru. “Kalian kalau mau minum atau makan ambil sendiri. Mbok, mbak, sama bibi udah pada tidur kayaknya. Jangan ngerepotin pekerja Mère.”
Woah, suatu keajaiban bagi mereka yang malam ini main ke mansion Xander. Pasalnya Dan mau bicara sepanjang itu guys. Apa karena ada Duchess, ya? Pengaruh Duchess bagi Dan memang sebesar itu, sih.
“Kita gak bakal lama juga sih, soalnya masih tahu aturan kalau main ke rumah orang,” kata Elang seraya tersenyum jumawa. “Btw, tuh cewek tadi siapa, Dan? Jujurly, gue penasaran. Gue baru lihat cewek modelan gitu soalnya”
Dan beranjak dari sofa tempatnya duduk, lantas menatap teman-teman satu almamaternya itu bergantian. “Cewek nggak bener. Kalian jangan ketipu sama cover luarnya yang sok polos.”
💐💐
TBC
DAN & DUCHESS UPDATE LAGI NIH 🤗 SIAPA YANG KANGEN HAYO?
ATAU MALAH KANGEN CAPELLA?
MAAF BARU BISA UPDATE LAGI, KARENA AUTHOR SEMPAT DROP SELAMA DUA HARI. JADI BELUM BISA UPDATE MAKSIMAL 🙏🏻
__ADS_1
TAPI, JANGAN LUPA TERUS DUKUNG LAPAK DIM DENGAN CARA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 12-07-22