Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 26


__ADS_3

DIM. 26


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri sambil melihat telepon?”


Gadis dengan setelan piyama model baby doll dengan motif sun flower berwarna broken white itu tampak gelagapan seraya menyembunyikan telepon pintar miliknya di belakang tubuh. Ia langsung menatap ke arah pintu, di mana asal suara yang baru saja terdengar berada.


“Capella cuma melihat video lucu.”


Perempuan yang menggunakan sleepwear dress berwarna maroon dengan model tali spaghetti sebagai penyangga itu tampak menautkan alis. Seolah-olah jawaban dari putrinya tidak memuaskan hati.


“Kamu tidak sedang membohongi ibu, ‘kan?”


Gadis itu menggelengkan kepala dengan kuat-kuat. “Nggak. Capella mana berani membohongi ibu.”


“Bagus. Kamu pasti tahu apa hukumannya jika ketahuan berbohong sama ibu.”


“I-ya. Capella tahu.”


“Lebih baik sekarang kamu tidur. Nanti ayah kamu marah-marah lagi, karena kamu tidak jadi anak penurut. Besok kamu juga harus masuk sekolah.”


“I-ya, ibu.”


Estrella berjalan masuk seraya tersenyum tipis. Ia berjalan mendekati sang putri, kemudian mengangkat tangan guna mengusap pucuk kepala sang putri sayang. “Sudah, tidur. Jangan mainan telepon lagi. Ibu sayang Capella,” ucapnya sembari menaikkan selimut hingga batas dada. Tak lupa ia memberikan kecupan singkat di kening putrinya itu.


“Capella juga sayang ibu,” sahut si pemilik nama.


Perempuan dengan sleepwear dress berwarna maroon itu tersenyum tipis, lalu bergerak ke arah pintu. Sebelum keluar ia menyempatkan diri untuk menekan saklar lampu agar penerangan di ruangan tersebut padam. Hanya cahaya dari lampu tidur berbentuk bulan dalam mode super moon yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di sana.


Ia kemudian keluar dari kamar sang putri yang bernuansa merah jambu. Membiarkannya tidur dengan nyaman. Tanpa sepengetahuan perempuan itu, sang putri kembali menghidupkan telepon pintar miliknya. Jari-jemarinya bergerak dengan lincah, mengetik balasan untuk pesan dari seseorang di ibu kota sana. Ia memang aktif cahttingan dengan laki-laki beranting-anting yang belum lama ia kenal. Laki-laki itu yang lebih dulu minta dihubungi, namun ternyata lama-kelamaan membuat candu untuk diladeni.


Capella ketagihan cattingan dengan laki-laki tampan dengan ciri khas berupa anting-anting dan kalung salib itu. Salah satu dari tiga teman dekat pangerannya—Palacidio Daniel Adhitama Xander.


Boleh Capella akui jika teman-teman pangeran Dan memang tampan-tampan. Terutama laki-laki tampan yang kala itu mengenakan jeans hitam dengan atasan kaos polos berwarna hitam yang dilapisi jaket denim hitam dengan aksesoris rantai. Pemilik motor Yamaha YZF-R1M berwarna hitam yang waktu itu diparkir di depan mansion Xander.


Namanya? Entah siapa.


Capella tidak tahu nama Second Prince itu, karena tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui namanya. Namun, Estrella yakin jika ia akan dipertemukan lagi dengan laki-laki tampan berkulit seputih porselen itu, suatu saat nanti. Atau mungkin, Elang yang akan mempertemukan mereka kembali.


“Capella.”

__ADS_1


Deg!


Capella langsung terdiam kala mendengar suara dari orang yang paling ia takuti di dunia ini. Suara sang ibu.


“Putri ibu masih belum tidur rupanya?”


“Ibu ….bagaimana ibu bisa masuk tanpa menimbulkan suara?” cicit Capella saat matanya bersirobak dengan milik sang ibu.


Perempuan itu kini sudah berdiri lagi di ambang pintu yang membuka sedikit celah. “Tidur Capella Megantara, atau kamu lebih suka tidur di dalam kamar mandi yang dingin?”


Capella kontan menggelengkan kepala kuat-kuat. “Capella tidur sekarang,” katanya kemudian seraya menarik selimut hingga batas leher, kemudian memejamkan mata erat-erat.


“Kalau ibu melihat kamu masih sibuk dengan telepon, besok ibu akan memastikan benda itu berubah menjadi dua keping.”


Setelah berkata demikian, terdengar suara derit pintu yang tertutup. Setelah itu keheningan kembali menyelimuti. Capella yang belum benar-benar tertidur langsung menyimpan telepon pintar miliknya ke dalam laci dekat tempat tidur. Chattingan dengan Elang bisa dilanjutkan besok. Ia tidak mau berbuat nekad dan berujung kehilangan benda pipih seri terbaru yang ayahnya barikan secara cuma-cuma itu.


Sebelum benar-benar tertidur, Capella sempat membaca do’a mau tidur dan tiga surat pendek di juz 30 sesuai apa yang diajarkan oleh sang ayah. Ditambah do’a yang ibunya ajarkan. Do’a yang katanya mujarab untuk mendapatkan calon suami seperti pangeran Dan. Capella tidak tahu apa arti dari do’a nya, namun hafal dengan kalimat do’a tersebut. Jadi Capella selama membacanya setiap malam.


“Allahummarzuqni fataan mutadayyinan, muta’alliman, jamilan jiddan jiddan, wa ghaniyyan.”


(ya Allah berikanlah aku seorang laik-laki yang beragama, berpendidikan, ganteng banget banget, dan kaya raya).


💐💐


“Hm,” sahut laki-laki yang tengah menikmati semilir angin malam dari balkon kamar itu. Ditambah pemandangan hutan Pinus di malam hari yang cukup cerah karena sinar rembulan.


“Masuk yuk, mas. Di luar dingin, nanti masuk angin,” ajak sang istri seraya menyentuh bisep sang suami dengan lembut. Laki-laki nya itu memang tengah bertelanjang dada.


Tubuh bagian atasanya yang tidak dapat dikatakan ‘biasa saja’ terekspose, memperlihatkan dada bidang yang dihiasi empat pack, bahu yang lebar serta tegap, serta punggung kokoh yang nyaman sekali untuk dijadikan sandaran. Tidak lupa area V line yang terbentuk jelas, sebelum hilang di antara ban celana jenas pendek yang laki-laki nya pakai. Menambah kesan menawan juga sexy pada penampilan ayah satu anak itu.


“Mas masih marah?”


Estrella bertanya seraya membawa kedua lengan sang suami agar menghadap ke arahnya seorang.


“Tidak.”


“Tapi sifat mas masih dingin ke Ella,” rajuk ibu satu anak itu.


“Aku cuma lelah,” jawab Elgara seraya meraih pinggang ramping sang istri. Membawanya mendekat.

__ADS_1


“Mas kelelahan? Mau Ella pijat?” tawar Ella dengan senyum semanis madu.


“Pijat? Hm, boleh juga.”


Estrella tersenyum penuh kemenangan seraya melingkarkan tangannya di leher sang suami. “Kalau gitu ayo kita masuk, mas. Di sini dingin, Ella butuh kehangatan.”


“Hm.”


Elgara merespon dengan sangat cepat. Ia membawa tubuh mungil sang istri ala bridal style seraya membungkam bibir mungil yang sejak tadi menggoda untuk disantap. Menggunakan salah satu kakinya, Elgara menutup pintu balkon supaya udara dingin dari luar tidak mengangguk kehangatan yang akan mereka ciptakan sebentar lagi.


“Mass….”


Estrella mendesah seduktif saat Elgara menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah tempat tidur. Tanpa membiarkan sang istri bicara lagi, Elgara kembali menjatuhkan serangan. Bibir Estrella yang kembali jadi titik penyerangan yang datang secara menggebu-gebu itu. Sampai-sampai si empunya kesulitan mengimbangi permainan tersebut. Tak puas hanya bermain di bibir, Elgara beralih ke bagian belakang telinga sang istri, memberi beberapa serangan di sana hingga meninggalkan stampel kemerahan. Kemudian bibir Elgara turun ke bawah, ke leher jenjang sang istri.


“Masss….”


“Silent,” ujar Elgara dengan suara berat dan serak. “Capella bisa dengan jika kamu berisik.”


“Tapi kamu ….mainnya agresif mass….”


Elgara menyeringai tipis di antara lekukan leher jenjang sang istri. “Sengaja,” katanya sebelum kembali menawan bibir sang istri.


Malam ini biar Elgara memberi sang istri hukuman yang setimpal atas apa yang telah perempuan itu lakukan. Supaya perempuan itu jera, maka Elgara malam ini rela melepaskan hewan buas dalam tubuhnya.


Jika selama mereka menikah Elgara selalu bermain lembut dan penuh kasih sayang, malam ini Elgara akan memberitahu Estrella perihal power asli seorang Elgara. Mantan bodyguard yang dulu sangat setia mengabdi pada Darren Aryasatya Xander.


“Letih?”


“Hm,” lirih perempuan yang sudah berada di ambang batas kesadaran itu.


“Kalau begitu tidurlah,” ujar Elgara seraya menepuk-nepuk bahu telanjang sang istri. Perempuannya tampak bergumam tidak jelas, sebelum benar-benar jatuh tertidur. Tak sampai sepuluh menit setelah percintaan mereka usai, dengkuran halus dari perempuan itu terdengar. Membuktikan bahwa ia telah terlelap saking lelahnya.


“Tidur Ella. Jangan memikirkan suami orang lagi, karena sekarang suami kamu adalah aku,” bisik Elgara di telinga sang istri. Bola matanya tampak berkilat marah saat berkata demikian.


“Kamu pikir aku tidak tahu soal ketertarikan kamu pada tuan Darren?”


💐💐


TBC

__ADS_1


Sukabumi 01-08-23


__ADS_2