
DIM. 46
Instrumen lagu berjudul SLUMP versi Japanese yang dibawakan dengan apik oleh para anggota boyband Stray Kids menggema di sebuah rungan cukup besar yang hanya diisi oleh dua orang anak Adam. Awalnya lagu yang dijadikan ringtone sambungan telepon itu tidak dipedulikan oleh si empunya, namun seiring dengan berjalannya waktu, ringtone itu membuat kegiatan mereka terganggu. Apalagi saat ringtone sudah memasuki bait demi bait bagian depan lagu.
“Angkat dulu. Itu ringtone telepon kamu ‘kan?”
Si perempuan menarik diri, memutuskan tautan di antara keduanya begitu saja. Membuat si laki-laki mendesah sedih, karena kesenangan yang baru saja dimulai beberapa menit harus kandas begitu saja.
“Nanggung, darl,” lirihnya seraya menyentuh bibir tipis sang kekasih yang berwarna kemerahan. Benda kenyal yang beberapa saat lalu ia sesap dengan penuh damba. Sudah cukup lama ia puasa, karena sang kekasih sibuk dengan kegiatan kuliah dan koas.
Baru juga berbuka dengan yang manis, eh malah diganggu oleh sesuatu yang tidak jelas.
“Siapa tahu itu telepon penting.”
Perempuan cantik berdarah Korea itu mencubit bisep sang kekasih gemas. Kalau sedang merajuk seperti saat ini, hilang titel badboy dan playboy cap Tuna yang disandang sang kekasih. Yang ada cuma gemas. Resiko punya pacar berondong, gemasnya suka nggak ketulungan. Untuk sayang.
“Siapa tahu itu Mamih. Beliau nggak tahu kamu di sini ‘kan?”
Elang menggelengkan kepala. “Mamih lagi ada jadwal operasi. Pasti nggak tahu aku ngapelin salah satu anak koas di sini.”
“Ish. Your language,” gemas kekasih Elang seraya mengecup bibir Elang singkat.
Elang tersenyum lebar saat mendapatkan bonus kecupan singkat. “Akhir pekan nanti kamu dapat jatah cuti ‘kan?” tanyanya kemudian, seraya mengambil handphone yang ada di dekat paper bag. Tanpa membuat sang kekasih jauh darinya.
“Iya. Kenapa?”
“Dating, yuk.”
“Hmm?”
“Harus mau. Kita udah lama nggak dating. Memangnya kamu nggak kangen habisin uang aku?”
“Uang kamu itu uang Papih Dewa, ya,” sindir sang kekasih seraya melipat tangan di depan dada. “Tapi ide kamu boleh juga.”
Elang tampak tertarik dengan jawaban sang kekasih. “So?”
“Ok. Kamu jemput aku di gereja biasa. Kita dating setelah aku ibadah rutin.”
Elang mengangguk. “Kita ibadah sama-sama aja. Nanti aku jemput kamu ke rumah.”
__ADS_1
Mendengar ide tersebut, sang kekasih langsung memutar bola mata. “Kamu mau ditembak daddy? Jangan meninggal dulu. Kalau kamu meninggal, gimana sama janji kamu mau nikahin aku?”
Elang tergelak mendengarnya. “Cantik, siapa yang bilang aku mau dead sekarang? Kamu kok gitu banget responnya.”
“Habisnya….”
“Habisnya apa?” tanya Elang seraya memasukkan handphone ke dalam saku oversized blazer yang ia gunakan setelah membaca nama si biang kerok dari terdengarnya ringtone SLUMP beberapa waktu lalu. “Lagian ya, mana berani daddy kamu tembak aku gitu aja. Secara aku ‘kan putra Papih Dewangga. Pasti daddy kamu pikir-pikir sebelum merealisasikan niatnya.”
Menyentuh surai sang kekasih yang diikat tinggi, dengan lembut Elang melepaskan ikatannya. Ia tidak suka jika sang kekasih dijumput, karena leher jenjang miliknya jadi terekspose.
“Kenapa dilepas?”
“Ada stempel kepemilikan dari aku. Nanti yang lain lihat, terus mau,” jawab Elang jenaka. Berhasil membuat sang kekasih langsung merapatkan rambut kecoklatan miliknya dengan leher.
“Memang beneran ada? Tadi ‘kan udah aku kasih warning jangan bikin tanda. Nanti aku ada jadwal PL sama konsulen. Aku harus iket rambut,” protes sang kekasih, galak.
Elang hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Setelah ini katanya sang kekasih ada jadwal PL atau Pemeriksaan Luar, yaitu proses pengidentifikasian jenazah lewat pakaian, kulit, rambut, badan, kaki, tangan, mulut, dan gigi, tanpa harus memeriksa organ dalam jenazah. Jika bisa, Elang malah ingin menahan sang kekasih lebih lama lagi.
“Nggak banyak kok. Cuma satu, tapi kentara.” Elang menyengir setelah berkata demikian. Orang kelepasan, mau gimana lagi?
Itu pun masih untung, karena tadi ciuman mereka terpotong karena ringtone telepon. Beberapa kali panggilan telepon masuk dari nomer yang sama, plus dengan serentetan pesan singkat dari nomer yang sama pula.
Perempuan cantik bernama Elina Choi bertanya seraya beranjak dari posisi duduk. Ia merupakan putri dari keluarga Choi. Salah satu marga yang terkenal dengan kekayaan dan kepintarannya di Korea Selatan. Oleh karena itu, Elina yang masih terbilang muda sudah bisa berkuliah di fakultas kedokteran salah satu universitas mentereng di Indonesia.
Elang dan Elina pertama kali bertemu saat Elang masih duduk di bangku kelas 9 SMP. Saat itu ia menghadiri sebuah acara launching produk kecantikan milik orang tua Elina yang bekerja sama dengan salah satu kerabat Elang. Orang tua Elina juga kenal orang tua Elang, bahkan menjalin hubungan yang cukup baik. Mengingat mommy Elina dan mamih Elang memiliki profesi yang sama, hanya berbeda spesialis. Elina juga mengikuti jejak sang mommy untuk terjun di dunia kesehatan, namun ia memilih menjadi dokter forensik.
Elang tidak langsung tertarik pada Elina waktu itu. Ia mulai memiliki ketertarikan pada Elina yang lebih tua darinya semenjak duduk di kelas XI SMA. Semenjak Elina jadi tutor belajar Elang lebih tepatnya. Namun, Elina tidak mudah bertekuk lutut pada pesona Elang. Elina berbeda dengan gadis-gadis yang pernah Elang pacari. Elina yang pintar, dewasa, dan tenang seperti air kerap kali membuat Elang frustasi. Kendati demikian, usaha Elang pada akhirnya membuahkan hasil.
Siapa sangka jika sikap agresif, selengehan, serta humoris yang ia tunjukan secara apa adanya selama ini, berhasil membuat Elina tertarik di kemudian hari. Mereka kemudian resmi berpacaran, dengan syarat harus disembunyikan dari orang lain sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Alasannya bukan karena Elina atau Elang malu, tetapi karena hubungan mereka butuh waktu. And then, sekarang mereka diam-diam sudah jarum dan benang.
“Kamu belum jawab pertanyaan aku loh?”
Elina berbalik badan seraya membawa satu potong cheese cake.
“Nih, lihat sendiri,” balas Elang sambil menyodorkan handphone miliknya. “Kamu bebas lihat isi handphone aku, darl. Mau riwayat panggilan, room chat, line, DM, inbox, atau apapun itu, dipersilahkan.”
Elina tampak menyipitkan mata. Namun, alih-alih mengambil benda pipih tersebut, ia lebih memilih untuk kembali duduk untuk menikmati cheese cake. “Aku percaya sama kamu kok.”
Elang mendekati sang kekasih dengan pandangan tidak beralih sedikit pun. “Kalau aku berbohong?”
__ADS_1
“Tanggung resikonya sendiri. Kamu tahu ‘kan kalau aku nggak suka pembohong?”
Elang menelan salivanya sendiri dengan susah payah. “Hmm. Aku tahu.”
“Kalau gitu jangan coba-coba,” kata Elina sambil menyimpan sisa cheese cake yang baru sedikit ia gigit. “Soalnya aku nggak tahu bakal maafin kamu atau nggak kalau sudah begitu,” tambahnya. Sebelum sempat Elang mendapatkan kesempatan untuk menjawab, Elina sudah terlebih dahulu menarik kerah oversized blazer yang digunakan oleh sang kekasih. Melabuhkan satu bungkaman bercitarasa manis, asin, serta gurih dari after taste yang tertinggal dari cheese cake yang baru dinikmati.
💐💐
“Tumben?” monolog gadis dengan piyama tidur berbentuk terusan yang jatuh di atas lutut. Kedua matanya masih fokus menatap room chat nya dengan seseorang yang jauh di ibu kota sana.
Tidak mau terlalu lama larut dalam tanda tanya, ia kemudian beralih fokus. Menggulirkan jemari pada sebuah nomer yang belum ia simpan, tetapi digit demi digit nomer itu sudah sangat ia hafal di luar kepala. Ia kemudian mencoba membawa jemarinya menari di atas keyboard touchsreen guna menyusun satu per satu huruf agar menjadi sebuah kalimat yang dirangkai dari beberapa suku kata.
Setelah tertulis beberapa suku kata dalam dua kalimat singkat, ia kemudian mengirimkan pesan tersebut. Berharap jika si pemilik nomer akan membuka, membaca, kemudian membalas.
Cklak.
Mendengar suara daun pintu yang berusaha dibuka dari luar, ia segera menyembunyikan handphone di bawah bantal. Kemudian bergegas menutup mata dengan jantung yang berdegup kencang. Apakah ibunya yang datang? Tapi kenapa akhir-akhir ini sang ibu jadi sering menyelinap di malam hari? Apa ibunya mencurigai gelagatnya?
Suara pintu dibuka terdengar. Kemudian suara derap langkah kaki yang kian mendekat ikut menyusul. Jantung si pemilik kamar kain berdegup kencang kala langkah kaki misterius itu berhenti tepat di dekat tempat tidur.
“Bahkan dalam keadaan terlelap saja, putriku terlihat sangat cemas.”
Itu suara ayahnya. Capella mengenali suara tersebut. Suara familiar yang selalu terdengar lembut dan penuh kasih sayang saat berbicara. Suara yang sekali pun tidak pernah membentak kepadanya.
“Maafkan Ayah karena gagal membimbing Ibu kamu, Capella. Hingga detik ini, Ibu kamu masih belum sadar jika apa yang ia kejar sangatlah mustahil untuk digapai.”
Maksudnya?
Capella tidak mengerti apa yang ayahnya ucapkan. Ibunya mengejar apa? untuk apa pula sang ayah minta maaf? Apa karena perilaku sang istri?
Capella tidak dapat menerima maaf itu, karena ayahnya tidak bersalah. Yang bersalah di sini adalah sang ibu. Perempuan yang digadang-gadang bertabiat sanga baik, tetapi memiliki wujud asli yang sangat berbanding terbalik.
Jika boleh jujur, Capella sudah capek mengikuti permainan sang ibu.
💐💐💐
TBC
Sukabumi 22-08-22
__ADS_1