
“Ini maksudnya apaan, ya? Nggak pamali gitu, ngelangkahin yang udah lamaran plus booking gedung dari lama,” sindiran itu dilayangkan oleh laki-laki rupawan yang baru saja menghempaskan tubuhnya pada sofa berwarna burgundy. Satu tangannya membawa sebuah perkamen berwarna putih, coklat muda dan emas.
Perkamen tersebut bukanlah perkamen yang isinya sebuah surat atau titah kerajaan, melainkan sebuah undangan yang tidak disangka-sangka datang begitu cepat.
“Maklum lah, yang sudah booking gedung duluan buat nikah itu Dan, tapi terus di-pending rencananya,” sahut seorang laki-laki yang datang membawa dua gelas ice Americano coffe. “Nih, minum coffe dulu. Biar waras ditengah gempuran sebar undangan.”
“Bisa aja lo kalau bicara.”
Elang bergegas mengambil satu gelas ice Americano coffe tersebut. Ia lah yang datang-datang langsung berkoar-koar, sedangkan yang lain—yang sudah datang dan kumpul duluan—terlihat santai-santai saja. Ia tentu terkejut saat tiba-tiba undangan berkedok perkemen cantik datang kepadanya.
“Pahit banget, berapa shot nih?”
Seolah-olah tidak ada habisnya, ada saja yang membuat Elang bad mood sejak datang ke sini. Sekarang rasa ice Americano coffe yang baru saja ia tenguk, rasanya juga pahit seperti kehidupan.
“Tiga, kenapa? Biasanya gue buat delapan shot malah.”
“Delapan shot? Gimana rasanya tuh kopi? Njir, pasti pahit banget,” Elang melotot tak percaya. Gila, Americano coffe dua atau tiga shot saja sudah pahit, lah ini delapan shot. Bagaimana rasanya coba?
“Istri lo yang bunting, selera makan lo yang banyak berubah. Heran gue, Ru.”
“Efek kehamilan simpatik. Selagi itu tidak berdampak buruk, tidak masalah bagiku,” sahut si empunya nama. Dewandaru. Calon ayah yang memang mengalami kehamilan simpatik atau syndrome couvade semenjak sang istri dinyatakan positif berbadan dua. Namun soal ice Americano coffe yang rasanya sangat pekat, itu sudah jadi minuman favorit nya sejak lama. Sebenarnya Daru ketularan sang atasan yang sudah lebih dulu suka Americano coffe yang dominan terasa pahit.
“Back to topic,” ucap Elang seraya menatap pemilik ruangan yang tadinya sedang melihat-lihat sesuatu di sebuah katalog. Di sampingnya ada seseorang yang sudah lama sekali tidak ikut kumpul bersama, siapa lagi jika bukan Rahardian Adiwangsa Wijaya.
Laki-laki yang punya warna kulit sangat putih itu tetap tampan, rupawan, juga mapan. Penampilannya tidak banyak berubah, hanya gaya rambutnya yang lebih rapih dan berpotongan pendek khas tentara. Ya, sekarang ia sudah bergabung dengan TNI Angkatan Laut, pasukan Detasemen Jalamangkara atau DENJAKA.
Setelah berjuang selama empat tahun mengenyam pendidikan Akademi Militer Angkatan Laut, Dian berhasil mengamankan penghargaan Adhi Makayasa. Adhi Makayasa sendiri adalah penghargaan tahunan yang diberikan kepada lulusan terbaik dari dari setiap mitra TNI dan kepolisian. Sebuah kebanggan dan pencapaian yang sangat luar biasa bagi setiap anggota muda yang mendapatkannya.
Dian juga sempat ditugaskan ke Afrika selama satu tahun, karena ia tergabung dalam pasukan perdamaian yang ditugaskan untuk melakukan misi-misi kemanusian ke Negara-negara yang membutuhkan, seperti Negara yang sedang mengalami krisis gencatan senjata, dan Negara terdampak krisis lainnya.
“Lo kok nikahnya dadakan banget, Dan. Gue kira the last fashion show Duchess di Paris nanti karena dia mau rehat dulu sebentar. Taunya ….langsung dikawinin!” celetuk Elang, tidak ada habisnya.
“Nikah dulu, baru kawin,” koreksi Daru.
“Zaman sekarang sih kebanyakan kawin dulu, ya. Baru nikah,” timpal Elang, tidak mau kalah. Tapi, ucapannya memang ada benarnya juga. “Kalau gue sih masih waras, jadi bakal dinikahin dulu, baru diajak kawin,” tambahnya.
“Ya, walaupun setiap habis kissing langsung kelimpungan sendiri,” koreksi Daru yang tengah menyeruput ice Americano coffe miliknya dengan tenang.
__ADS_1
“Ah, lo mah buka-buka aib terus sukanya!” seru Elang, tidak suka. Ia kemudian melirik si pemilik ruangan lagi. Sepertinya yang dilirik sadar juga akan eksistensinya.
“Kamu datang ke sini cuma mau berkoar-koar?”
Dan akhirnya buka suara. Pemilik ruangan tersebut menatap Elang, di saat ia tengah sibuk memilih model jas yang akan ia kenakan. Dari ratusan jas berbagai model, warga, serta harga, ia belum menemukan satu pun yang cocok. Mungkin setelah pulang dari kantor, ia akan langsung bicara pada sang Mère untuk copy paste jas yang dulu digunakan sang Perè ketika menikah. Ketimbang bingung, lebih baik Dan ambil jalur tengah. Lagipula semua jas yang ia lihat-lihat di katalog seperti sama semua.
“Gue ke sini mau minta klarifikasi. Jangan-jangan Duchess lo kawinin dulu, makanya sekarang kalian nikah dadakan.”
Dan yang mendengar ucapan sahabatnya itu langsung mengatupkan rahang. Ia tidak sepicik itu sebagai laki-laki. Walaupun ia mencintai Duchess, bukan berarti ia harus ‘menyentuh’ Duchess terlebih dahulu supaya mereka bisa cepat-cepat menikah. Bukan itu pernikahan impian yang Dan inginkan bersama Duchess.
“Duchess menerima ajakan menikah setelah dua kali menolak. Aku tentu saja langsung mewujudkan permintaannya.”
Elang manggut-manggut seraya menyeruput ice Americano coffe yang Daru buatkan. Walaupun rasanya pekat, tapi lumayanlah. Cocok di lidahnya. “Iya juga, sih. Cewek kayak Duchess itu susah diikat kalau nggak dia sendiri yang udah bilang ‘yes I will’ gitu. Apalagi karir Duchess sedang bagus-bagusnya. Menikah bukanlah keputusan yang mudah diambil.”
“Duchess itu tipikal perempuan yang tidak bisa terlalu dikekang, karena sejak kecil dia tidak diperlakukan demikian oleh Om Damian dan Tante Dewita,” sahut Dian yang baru terdengar suaranya. “Dia akan mengambil keputusan jika memang dirasa waktunya sudah pas. Duchess tidak akan terburu-buru mengambil keputusan, karena dia itu teliti. Ada banyak aspek yang dia pertimbangkan sebelum mengambil keputusan.”
Baik Dan, Dian, maupun Daru dan Elang, semua kenal betul dengan Duchess. Apalagi mereka melewati banyak momen bersama Duchess. Duchess sejak dulu tidak hidup dalam kekangan. Kedua orang tuanya—Damian dan Dewita—selalu membebaskan putri mereka untuk mengambil keputusan. Namun, dengan syarat Duchess mampu mempertimbangkan beberapa aspek yang terkait dengan keputusan yang nantinya ia ambil.
Soal menikah, bukan berarti Duchess tidak mau menikah dengan Dan saat ia menolak dua kali ajakan yang dilontarkan. Hanya saja Duchess mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari pekerjaan, karir, hingga kehidupan asmaranya dengan Dan di kemudian hari. Untung saja Duchess punya orang-orang yang mau mengerti pada keputusannya.
“Nanti kalian semua jadi groomsmen. Jangan lupa bawa pasangan masing-masing,” ujar Dan memperingati.
Jarak dari akad nikah ke resepsi pun lumayan jauh, sekitar tiga minggu. Kenapa? Karena baik Ev, Darren, Dewita dan Damian ingin yang terbaik untuk pernikahan putra-putri mereka. Walaupun akad diadakan secara mendadak, persiapannya tidak ada yang main-main. Khusus untuk resepsi, lebih tidak main-main lagi. Mengingat Dan adalah cucu pertama dari keluarga Xander yang akan menikahi putri semata wayang dari keluarga Widyatama.
“Kakak capek, ya? Dari tadi kelihatan banyak pikiran.”
Dan yang sedang menikmati ayam goreng bacem khas Yogya buatan tangan sang kekasih itu mendongkrak. Mengalihkan tatapan dari piring berisi makanan yang diambilkan sang kekasih. Gelengan kepala ia berikan sebagai jawaban, karena saat ini ia masih makan.
“Kalau capek seharusnya Kakak istirahat dulu. Jangan terlalu diforsir,” ucap sang kekasih yang saat ini sedang mengupas beberapa jenis buah. Ia memang sengaja datang untuk mengantarkan makan siang. Ia juga sempat mampir ke supermaket untuk membeli beberapa jenis buah segar.
Duchess memang tidak langsung istirahat sepulang dari luar negeri. Ada banyak hal yang perlu disiapkan untuk menghadapi pernikahan yang akan segera dilaksanakan. Semua itu harus diselesaikan sebelum ia kembali terbang ke Los Angles, sebelum bertolak ke Paris, Perancis untuk memenuhi undangan sebagai salah satu model yang tampil di catwalk.
“Greta.”
“Ya!” Entah sejak kapan ia melamun, sampai-sampai ketika sang kekasih memanggil, ia terkejut sendiri. “Ada apa, Kak?”
“Ada satu pertanyaan yang ingin aku dengan jawabannya.”
“Pertanyaan apa itu?”
__ADS_1
Dan yang baru saja selesai makan, berdeham kecil. Ia juga sudah minum air putih untuk menetralkan rasa yang tertinggal, sebelum memulai pembicaraan.
“Kamu yakin mau menikah denganku?”
Duchess terdiam. Duchess speechless mendengar apa yang baru saja Dan lontarkan. “Iya. Apa jawaban Duchess waktu itu masih kurang meyakinkan Kak Dan?”
“Kenapa tiba-tiba kamu mau menerima ajakan menikah itu?” tanya Dan, seolah-olah masih belum puas.
“Kak Dan pikir Duchess tiba-tiba menerima lamaran Kakak? Duchess sudah memikirkan lamaran itu sebelum pergi ke LA.” Duchess menjawab seraya menatap Dan lekat. “Mau sampai kapan lagi Duchess membuat Kakak menunggu. Itu adalah salah satu contoh pertanyaan yang terus menganggu Duchess ketika mengingat seberapa besar perjuangan Kakak untuk menunggu.”
“….”
“Duchess rasa ini sudah waktunya untuk membalas perjuangan Kakak selama ini.”
Dan tersenyum tipis. Kedua tangannya bergerak di atas meja, membuat sikunya bertumpu pada meja. “Dengan menikah?”
Duchess mengangguk. “Dengan menikah Duchess bisa membayar waktu yang Kak Dan habiskan seorang diri dengan waktu yang akan kita habiskan bersama sampai menua.” Seulas senyum manis terbit di bibir perempuan cantik tersebut. “Ada lagi yang perlu Duchess jawab untuk menghilangkan keraguan Kakak?”
Dan menggelengkan kepala seraya menerbitkan senyum tipis. Salah satu tangannya terulur, meraih telapak tangan kanan sang kekasih. “Sudah, cukup."
Duchess mengangguk. Tatapannya masih terpatri pada Dan seorang. Sampai laki-laki itu kembali angkat suara, senyum masih terpasang di bibirnya.
"Kalau begitu untuk kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadikan kamu bagian dari keluarga Xander."
🍀🍀
Apa kabar semua 👋
Terima kasih masih neror Author untuk up extra part, alhasil nulis segini aja butuh dua hari 🥲
Udah, ya? apa mau lagi?
Untuk mengisi waktu luang, Readers boleh banget mampir ke cerita baru Author yang akan tayang sampai akhir tahun ini. Judulnya UN FAMILIAR BROTHER & MENDADAK JADI ISTRI PRESDIR 👏
Selain itu BCT & BDJ juga insyaallah akan update teratur, supaya bisa ending di akhir tahun. Soalnya tahun baru Author sudah siapkan para Perwira tampan untuk berjumpa dengan readers 😘
Dah dulu ya, cuap² nya. Kita jumpa lagi di lapak anak baru. Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & tonton iklan sampai selesai 👏
Tanggerang 02-12-22
__ADS_1