Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 21


__ADS_3

DIM. 21



Aura mencekam menyelimuti sebuah kendaraan roda empat dengan plat nomer berkode F pada bagian depan. Ada tiga penumpang yang menaiki kendaraan besi tersebut. Namun, hingga kendaraan besi itu berhenti di sebuah rumah satu lantai, tidak ada satu pun di antara mereka yang berani buka suara.


“Ibu, kita di mana?” cicit sang putri yang sejak tadi bersembunyi di ketiak sang ibu. ia takut melihat sang ayah, barang sedetik saja.


“Sudah, ayo turun. Jangan membuat ayah semakin marah.”


“I-ya.”


Ibu dan anak itu lekas turun dari masing-masing pintu kanan dan kiri kendaraan besi tersebut. Sedangkan sang supir sudah keluar terlebih dahulu, semenjak mesin mobil dimatikan.


“Di mana ini, mas?” tanya Estrella, baru berani mengajak sang suami bicara.


Rumah satu lantai dengan pekarangan yang cukup luas dan tampak terawat ini berada jauh dari keramaian ibu kota. Estrella tebak posisi rumah ini ada di pinggir kota, namun entah ada di daerah mana. Hanya sedikit rumah yang ada di sekitar. Sebagian besar masih dipenuhi oleh lahan kosong yang siap dibangun hunian. Ada pula tanah kosong yang dibiarkan begitu saja, sampai-sampai menjadi ladang bagi tanaman liar yang tumbuh begitu subur.


“Rumah siapa ini, mas?”


Estrella kembali bertanya seraya mendekati sang suami. Laki-laki berkulit kecoklatan itu tampak tengah memasukkan kunci pada lubang kunci yang ada di pintu.


“Mas?”


“Masuk!” jawab Elgara saat pintu rumah itu sudah berhasil dibuka.


“Jawab dulu, ini rumah siapa?” tuntut Estrella. Di sampingnya, sang putri tampak menunduk ketakutan.


“Rumah kita,” jawab Elgara singkat. Ia kemudian memberi isyarat lewat dagu agar istri dan putrinya segera masuk.


Estrella mau tak mau menuruti perintah sang suami. Bersama sang putri yang tidak mau melepaskan tangannya, ia melangkah masuk ke rumah satu lantai dengan cat berwarna putih, abu, dan hitam yang masih tampak baru itu. Saat melangkah masuk, Estrella langsung disambut dengan ruang tamu berukuran minimalis. Lengkap dengan satu set sofa berwarna abu untuk menjamu tamu dan perabotan lain seperti meja, vas bunga, bantal sofa dengan motif sarung bantal yang beragam.


Estrella pikir sang suami membawa mereka ke rumah kosong karena saking marahnya. Namun, siapa yang menyangka jika rumah ini sudah memiliki perabotan yang cukup lengkap. Ada berbagai perabotan elektronik juga di sana, mulai dari televisi yang menempel di dinding, kipas angin konvensional berukuran kecil, AC, water dispenser, lemari pendingin, rice cooker, air frayer, mesin pembuat coffe, dan beberapa perabotan lain yang ikut berjejalan di seisi rumah ini.


Rumah satu lantai itu sepertinya hanya memiliki dua kamar. Satu kamar utama, dan satu kamar tidur biasa. Rumah ini juga dilengkapi dengan ruang keluarga, ruangan makan yang all in one dengan dapur, ada perapian juga, tempat baca yang nyaman, serta kamar mandi dapur dengan ruang cuci baju yang terpisah. Singkatnya, rumah satu lantai itu overall nyaman dan sudah siap untuk ditinggali.


“Kita bermalam di sini. Besok baru kita melanjutkan perjalanan,” kata Elgara yang entah sejak kapan sudah menjatuhkan dirinya ke atas sofa.


“Capella, istirahatlah di kamar itu,” lanjutnya seraya menunjuk sebuah pintu dengan cat berwarna putih. Dihiasi oleh dreamcharter berwarna putih dan merah jambu yang tampak menggemaskan. Tergantung di pintu tersebut.

__ADS_1


“B-aik ayah.”


“Sekarang masuk dan istirahatlah,” titah Elgara.


Sebagai seorang anak, Capella hanya bisa mengangguk. Tidak baik membantah sang ayah yang saat ini sedang naik darah. Capella memutuskan untuk melepas pegangan pada sang ibu, kemudian meninggalkan orang tuanya di sana setelah masuk ke ruangan yang dimaksud. Setelah kepergian Capella, hanya ada Estrella dan Elgara di sana. Terbelenggu oleh bisu yang membuat satu sama lain membatu.


“Mas, tolong jujur sama Ella.”


Tidak tahan dibiarkan begitu saja oleh sang suami, Estrella kembali memberanikan diri. “Ini rumah siapa? Dan kenapa kamu bawa kita ke sini? Apa ini memang sudah kamu rencanakan sejak lama?


“Kita menginap di sini untuk malam ini saja. Aku capek. Dengan kondisi ku saat ini, aku tidak mungkin kuat menyetir untuk perjalanan pulang. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan besok pagi,” ujar Elgara seraya beranjak dari posisi duduknya. Ia kemudian melenggang pergi begitu saja.


Berjalan ke sebuah pintu dengan cat berwarna putih dan coklat, lantas menghilang di balik pintu yang tadinya terbuka cukup lebar.


‘Tidak bisa aku biarkan mas El marah terus seperti ini,” gumam Estrella sebelum ikut beranjak guna menyusul sang suami.


“Mas!” panggil Estrella saat menemukan sang suami di dalam ruangan yang ternyata master room di rumah tersebut.


Master room itu tampak nyaman dan luas, dengan warna dominan putih dan hijau muda.


“Hm?”


“Mas El masih marah karena insiden di kediaman Xander?”


“Mas El, Ella, kan, tadi sudah mengalah dan minta maaf. Kenapa mas El masih marah? Ella ….nggak tahu harus menghadapi kemarahan mas El dengan cara apa lagi. Capella ….putri kita juga sampai ketakutan melihat kemarahan mas El.”


Elgara yang tengah duduk di bibir ranjang terlihat mengurai surai hitam miliknya frustasi. “Kamu berbuat sangat kesalahan fatal hari ini, Ella.”


“Iya, Ella tahu kalau Ella salah. Tapi, itu adalah tindakan refleks seorang ibu, mas El.”


“Tapi tidak perlu dengan cara kekerasan seperti itu. Kamu ingat, siapa yang telah kamu tampar?”


Estrella mengangguk samar. “Kenapa memangnya? Dia anak manusia, kan? Bukan anak malaikat.”


“Ella!”


“Kenapa mas El takut sekali sama mereka?” cibir Ella secara halus.


“Aku bukan takut, tapi menghormati,” jawab Elgara seraya melepaskan dasi yang terasa semakin mencekik lehernya.

__ADS_1


“Bukan seperti itu cara menghormati, mas El. Mas El terlalu patuh, sampai-sampai tega berbuat kasar sama Ella dan Capella.”


Elgara menghembuskan napas gusar seraya menatap sang istri yang sudah berdiri menjulang di hadapannya. “Maaf, aku memang salah. Akan tetapi, tindakan yang kamu lakukan hari ini tidak dapat dibenarkan juga. Kita sudah janji tidak akan menyakiti keluarga Xander. Tapi buktinya?”


“Kita bukan orang jahat yang berencana menyakiti mereka, mas. Ini semua di luar kendali kita.”


“Iya, aku tahu. Namun, kita tetap harus memenuhi janji kita. Untuk kedepannya, Capella tidak lagi boleh datang ke sini. Tuan dan tuan muda sangat membenci kehadiran putri kita.”


Estrella mengerucutkan bibir seraya membawa tubuh mungilnya agar duduk di pangkuan sang suami. “Putri kita punya salah apa sampai-sampai tidak boleh datang ke sini, mas El?”


“Kamu lupa janji yang kita sepakati sekitar empat belas tahun yang lalu?”


“Janji?”


“Hm. Kita berjanji akan menjauhkan anak kita jika berjenis kelamin perempuan. Capella harus dijauhkan dari keluarga Xander karena lahir sebagai putri kita.”


“Kenapa harus begitu, mas El?” tanya Estrella seraya merebahkan dirinya di dada bidang sang suami, pura-pura tak tahu maksud dari ucapan sang suami.


“Entahlah. Aku sebagai seorang bawahan dan laki-laki sejati hanya bisa menepati janji,” kata Elgara mantap.


‘Tapi jika kamu terus begini, putri kita akan sulit mengubah nasib hidupnya. Capella tidak boleh jadi tokoh pembantu di kehidupan ini. Setidaknya Capella harus menggeser posisi pemeran utama wanita agar dapat hidup bahagia dengan peran utama pria, yaitu Dan. Bagaimana pun caranya, Capella HARUS bisa menjadi anggota keluarga Xander. Sekali pun harus menggunakan cara kotor dan picik.’


“Ella,” panggil Elgara tiba-tiba.


“Iya, mas?” kikuk Estrella yang barusan ke-geep melamun.


“Aku mohon tolong jaga sikap jika kita bertemu dengan keluarga Xander lagi. Aku tidak mau kamu membuat hubungan baik ini dengan keluarga Xander jadi merenggang.”


“Tapi, masa El….”


“Satu lagi,” potong Elgara cepat. Ditatapnya wajah sang istri yang masih cantik secara lekat. “Tolong kondisikan pandanganmu jika berada di sekitar tuan Darren. Itu membuatku tidak nyaman, saat kamu melihat tuan Darren dengan yang seolah-olah ....penuh damba.”


‘Tentu saja aku melihatnya demikian, karena tuan Darren adalah The Lord of my heart,’ jawab Estrella di dalam hati.


“Iya, mas. Ella akan Gadhul bashar, jaga pandangan.”


💐💐


TBC

__ADS_1


DON'T FORGET TO LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, AND RABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐


Sukabumi 24-07-22


__ADS_2