
DIM. 17
“Kayaknya sopir mommy sudah datang. Duchess coba cek ke depan dulu ya, Mère, Perè,” ujar Duchess seraya melambaikan tangannya bak miss World yang hendak meninggalkan panggung.
Setelah berpamitan, gadis cantik dengan dress model cut of shoulder warna soft nude melenggang pergi menuju pintu utama di kediaman Xander. Ia yakin supir pribadi dari keluarga Widyatama pasti sudah tiba di depan sana. Membawa dua pot bunga daffodil dan satu pot bunga philodendron pink princess yang ia minta. Bunga-bunga itu nantinya akan berganti kepemilikan dan akan menetap di mansion ini.
Kendati demikian, alih-alih menemukan seorang laki-laki berusia hampir setengah abad yang sudah Duchess kenal sejak masih kecil, ia malah melihat seorang gadis dengan terusan berwarna hijau muda yang tengah berdiri seraya menatap lurus ke arah balkon kamar Dan.
“Kamu sedang melihat apa?”
Duchess bertanya seraya menatap ke arah yang sama.
“Kenapa tanya-tanya?”
“Eh?” Duchess tampak kebingungan saat mendapat respon demikian. “Duchess, kan, cuma bertanya. Apa salahnya?”
“Memang nggak salah. Cuma Capella nggak suka aja ditanya sama kamu.”
“Oh, gitu. Ya udah, Duchess minta maaf kalau kamu nggak suka,” kata Duchess ramah seraya tersenyum kecil. “Omong-omong kamu sedang melihat apa di balkon kamar kak Dan?”
“Capella bilang jangan tanya-tanya. Kita nggak se-akrab itu.”
Duchess terdiam untuk sejenak. “Hm, kalau gitu, apa kamu lihat supir keluarga aku datang ke sini?”
“Tidak.”
“Kok kamu jawabnya jutek? Memang ada yang salah sama pertanyaan Duchess?”
“Capella nggak suka ditanya sama kamu,” balas si pemilik nama Capella itu seraya menatap Duchess lekat.
Bola mata coklat yang senantiasa terlihat lugu, kali ini terlihat sangat ambigu.
Duchess mengedipkan bahu, lalu kembali melanjutkan langkah. “Mungkin supir daddy belum datang,” pikirnya.
“Hei, kamu.”
“Duchess?” tanya Duchess seraya menunjuk diri sendiri. Tiba-tiba gadis yang tadi jutek karena tidak mau ditanya sama Duchess, sekarang memanggil.
“Iya, kamu.” capella, si gadis pendiam, lugu, dan pemalu itu mengangkat wajah dengan sorot mata yang tampak mengintimidasi Duchess.
Duchess takut? Tentu saja tidak. toh, Duchess cuma takut sama Tuhan yang Maha Esa, mommy, daddy, Perè, Mère, juga Dan. Memangnya Capella siapa? Sampai-sampai harus ditakuti oleh Duchess.
“Ada apa?”
“Jauhi kak Dan.”
“Eh?”
“Kak Dan nggak cocok sama kamu.”
“Terus ….cocoknya sama kamu, begitu?” tanya Duchess to the point. “Kalau kamu mau bicara seperti itu, kamu mungkin perempuan ke seratus atau seribu sekian, karena Duchess sudah pernah dengar kalimat seperti itu dari perempuan-perempuan lain di luaran sana.”
“Kamu….”
“Kalau kamu mau jawaban atas pertanyaan kamu yang barusan sudah Duchess tebak, jawabannya of course NO. Kalau kamu tanya kenapa? Karena baik Duchess maupun kak Dan sudah dijodohkan sejak kecil. Kami tumbuh besar bersama, belajar bersama, saling mengenal kata suka dan cinta bersama. Lalu atas dasar apa kamu bilang kami tidak cocok? Sedangkan kami satu sama lain sudah saling mengenal hampir seumur hidup.”
__ADS_1
Capella bungkam mendengar kalimat Duchess. Kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. Ternyata, membuat mental Duchess down menggunakan trik yang sudah diajarkan ibunya tidaklah mudah.
“Capella ….mau kak Dan.”
Duchess tersenyum tipis mendengarnya. “Jangan bilang kalau kamu terobsesi untuk memiliki kak Dan?”
“Obsesi?”
“Ya. Kamu terobsesi sama kak Dan.” Duchess berkata seraya berdiri tegap di tempatnya berdiri. Jiwa-jiwa pemberani Damian dan Dewita memang campuran yang kompleks dalam membentuk karakter Duchess. Walaupun bisa dibilang kids zaman now, Duchess tetap digembleng untuk menjadi anak perempuan yang tahu norma, juga attitude and manner asli orang Timur.
“Jika memang iya kamu terobsesi pada kak Dan, Alter your thinking. Ubah pola pikir kamu dari sekarang. Menginginkan sesuatu yang bukan milik kamu itu tidak baik. Apalagi jika kamu sampai bertindak agresif untuk merebut milik orang lain, walaupun kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Pada akhirnya kamu tidak akan bahagia, karena apa yang kamu dapatkan adalah hasil dari merusak kebahagiaan milik perempuan lain.”
Capella tak memberikan respon apa-apa. gadis itu hanya diam di tempatnya berdiri seraya menggigit bibir bagian bawahnya kuat-kuat.
‘Berpikir, berpikir, berpikir. Berpikirlah supaya dapat mengalahkan putri penyihir,’ batinnya di dalam hati.
Tak lama kemudian, Capella dapat mendengar suara gerbang utama dibuka. Pasti ada yang datang. Capella memang diberikan kelebihan oleh Tuhan, berupa indra pendengaran yang sangat tajam. Ia mampu mendengar suara benda-benda yang bergerak di sekitar dengan akurat. Ia juga mampu menebak suara-suara yang diciptakan oleh benda-benda di sekitar yang sudah biasa ia dengar suaranya. Seperti suara mobil milik sang ayah, Capella juga tahu suara mobil itu.
‘Ibu,’ gumamnya seraya menyunggingkan senyum tipis.
“Tapi, Capella tidak mau berubah pikiran,” katanya kemudian sembari mengangkat wajah tinggi-tinggi, guna menatap Duchess.
“Kamu….”
“Capella mau kak Dan, sekali pun harus merebutnya dari kamu.”
Setelah berkata demikian, Capella berjalan mundur tanpa ancang-ancang.
“Hei, hati-hati berjalannya. Nanti kamu jat—“
“Ahk!”
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Duchess seraya berjalan dengan cepat agar dapat menghampiri Capella.
“Jangan mendekat.”
“Duchess cuma mau membantu kamu.”
“Capella nggak butuh,” tolak Capella mentah-mentah. “Kamu jahat. Kamu dorong Capella.”
“A-pa? tapi kamu jatuh sendiri!” Duchess tentu tidak mau disalahkan atas kejahatan yang tidak ia perbuat. “Kamu….”
“Capella!”
Kalimat Duchess tidak sampai rampung diucapkan, karena seorang perempuan seusia sang ibu tiba-tiba datang menghampiri.
“Ibu.”
Duchess juga baru tahu jika perempuan itu adalah ibu kandung Capella saat Capella memanggilnya dengan embel-embel ‘ibu’. Ibu Capella tergolong awet muda dengan wajah baby face yang ia miliki.
“Kamu diapakan sama dia, sayang?” tanya Estrella risau. “Kamu didorong sampai jatuh sama gadis jahat ini?” tebaknya.
“Ibu….”
“Iya, jawab sayang. Jujur sama ibu, kamu diperlakukan buruk, kan, sama dia?”
Duchess menggelengkan kepala. Ia tidak pernah mendorong Capella. “Tante, Capella tadi—“
__ADS_1
“Diam kamu!” bentak Estrella yang otomatis membungkam Duchess.
Duchess sempat terpaku untuk beberapa waktu, karena tiba-tiba dibentak oleh orang asing. Padahal mommy dan daddy nya saja tidak pernah membentak Duchess. Apalagi Dan sang tunangan, Mère, Perè, dan orang-orang lain yang mengenal Duchess dengan baik.
Setelah dibentak, kejadian selanjutnya berjalan begitu cepat. Bak mimpi buruk yang datang begitu cepat juga singkat, namun meninggalkan ingatan buruk yang akan selalu teringat.
Sekarang Capella ditanya oleh Darren, apakah perempuan itu akan menjawab dengan jujur? Di balik pelukan erat nan hangat yang Dan berikan, Duchess mencoba untuk menanti. Apa yang akan perempuan dari kampung itu utarakan. Kebenaran atau sebaliknya. Kita lihat saja bersama, Duchess juga penasaran. Hingga saat ini, rasa sakit dan panas akibat tamparan ibu Capella masih dapat Duchess rasakan.
“J-atuh.”
“Jatuh? Siapa? Kamu?” tanya Darren bertanya dengan kening bertaut cukup dalam.
Gadis dengan terusan hijau muda yang masih berlindung pada sang ayah itu tampak mengangguk. “Didorong.”
“Bicara dengan jelas, jangan dipotong-potong. Kamu sengaja ya, bicara satu kata, satu kata, begitu?” kata Darren mulai murka.
“Kita lihat CCTV saja, Perè. Kesaksiannya dapat dipastikan secara akurat,” usul Dan yang tetap setia memeluk sang kekasih. “Lama kalau bertanya sama orang yang suka bertele-tele.”
Deg!
Capella langsung menunduk dalam mendengarnya. Hal itu tentu disadari oleh Elgara selaku ayahnya. Sedangkan bagi Estrella, ia merasa tersinggung karena sang putri dikatakan demikian.
“Kalau begitu ayo lihat rekaman kamera pengawas,” tambah Estrella, menyetujui. “Ella yakin Capella tidak bersalah, mas.” Ia menambahi seraya menatap sang suami. Dijawab oleh anggukan kepala Elgara.
“Ada apa ini? kok pada kumpul di sini?”
Sebelum mereka sempat menuju ke ruang pengawas untuk melihat rekaman CCTV, sebuah suara tiba-tiba terdengar menyapa mereka.
“Mommy!” panggil Duchess, senang. “Daddy,” tambahnya, kian senang saat melihat siluet laki-laki yang begitu familiar di matanya muncul dari belakang sang mommy. Penyelamat Duchess dalam segala situasi dan kondisi.
“My princess. Mommy sama daddy mampir ke sini untuk membawakan bunga yang kamu minta ….wait, itu pipi my princess Duchess, kenapa?”
Mantan super model itu langsung bergerak dengan gesit mendekati sang putri. Buah hati yang dilahirkan dengan susah payah, setelah berupaya melakukan serangkaian program hamil yang melelahkan dan membutuhkan banyak biaya tentunya.
“Ada yang main tangan sama princess mommy?” tanya Dewita saat sudah berdiri di depan sang putri. Ia dengan teliti mengamati. “Siapa orangnya? Ev, Darren, Dan, siapa?”
“Mommy.”
“Iya, siapa sayang? Bilang sama mommy.”
“Mommy, sebenarnya ini cuma salah pah—“
“Ella yang menampar dia, kenapa?”
Dewita langsung berbalik seratus Sembilan puluh derajat ke arah sumber suara non familiar tersebut. Ditatapnya perempuan berpenampilan sederhana, dengan polesan make up sangat tipis, bahkan mungkin tanpa polesan make up. Ditambah lagi ada satu ….ah, dua hickey yang tampak di bagian tulang selangka perempuan itu yang tidak tertutup baju. Cih, mau pamer?
Tunggu, Dewita seperti kenal wajah sok polos ini. wajah yang pernah muncul di dalam mimpinya belasan tahun lalu.
“Oh, jadi ini bentuk mistress di dunia nyata? Tidak aku sangka akan benar-benar berjumpa dengan kamu.”
💐💐
TBC
NEXT??
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Sukabumi 20-07-22