
DIM. 20
“Maaf ya, Dian. Kamu jadi harus menunggu.”
Dengan rasa bersalah yang masih bercengkol di dalam hati, Ev selaku tuan rumah menghidangkan home lime coffe serta beberapa kudapan manis dan asin yang tentunya bisa dimakan oleh putra dari marga Wijaya tersebut.
“Tidak apa-apa, tante. Lagipula Dian juga datang ke sini tidak memberitahu Dan terlebih dahulu,” jawab laki-laki rupawan yang sekarang sudah melepaskan jaket denim hitam dengan ornament rantai miliknya.
“Dian butuh sekali ya softcopy file nya?”
“Hm, bohong kalau Dian bilang tidak. Tapi Dian masih bisa mencoba minta ke anak OSIS yang lain.”
“Memangnya anak OSIS yang lain punya softcopy file nya?”
“Dian juga belum tahu, karena setahu Dian softcopy file itu cuma ada di sekretaris OSIS dan ketua OSIS.”
Ev menghela napas kecil seraya mengangguk-anggukan kepala. “Sebentar lagi kayaknya Dan turun,” ujar Ev meyakinkan. Padahal Dian sudah menunggu lebih dari enam puluh lima menit. Namun, Dan tak kunjung turun ke lantai bawah.
“Ev, ini beneran putranya Dean, kan?” bisik Dewita yang sejak tadi ikut menyimak seraya menikmati flower oolong tea cookies dalam jar kaca berukuran sedang.
“Iya. Kenapa memangnya?”
“Masya Allah banget! Dayu pas dulu hamil ngidam apa ya, kira-kira? Apa ngidam oppa-oppa korea?” heboh Dewita. “Kamu ….beneran anak kandung Dean Wijaya sama Dayu, kan, ganteng?”
“Iya, mom. Masa lupa,” jawab Dian seraya tersenyum tipis. Jika lama tak jumpa, pasti begini.
“Habisnya kamu lama nggak main ke rumah, mommy jadi kangeeen,” gemas Dewita seraya menepuk-nepuk pucuk kepala Dian.
“Ada banyak tugas di organisasi, mom. Papa juga belakangan sering melibatkan Dian dalam acara-acara kemanusian yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Jadi Dian minta maaf karena jarang main ke rumah.”
“It’s okay, handsome,” jawab Dewita dengan suka cita. Bertemu dengan si ganteng Dian memang dapat mengobadi mood Dewita yang sempat memburuk beberapa saat yang lalu. “Hm, omong-omong Dian sayang sama mommy, kan?”
“Iya, kenapa memangnya mom?” bingung Dian.
“Mau nggak kalau diadopsi sama mommy dan daddy. Biar Duchess punya kakak laki-laki gitu.”
Dian tampak mengerjapkan bola matanya untuk beberapa kali. Dia tidak salah dengarkan, diadopsi?
“Itaa, jangan mengada-ngada. Kamu mau Dean memutuskan kerja sama dengan keluarga kita karena menculik putranya?”
“Kita adopsi, sayang. Bukan diculik. Lagipula Dean bisa buat lagi sama Dayu.”
Damian menghela napas kecil seraya geleng-geleng kepala menghadapi sikap sang istri. Jika sudah bertemu Dian, Dewita bawaannya memang ingin menjadikan Dian kakak untuk Duchess. Mengingat Dian sangat care juga sayang sama Duchess. Beda posisi dengan Dan. Dan itu sudah mutlak jadi calon menantu. Tidak dapat diganggu gugat. Dewita memang bersyukur sang putri dikelilingi para laki-laki good looking juga good attitude. Karena percuma kalau dikelilingi para laki-laki good looking tetapi tidak good attitude. Lebih baik laki-laki modal good attitude, ketimbang laki-laki modal good looking doang.
“Mama kamu juga ke mana saja beberapa waktu ke belakang? Kenapa nggak datang lagi ke bakery atau florist mommy?”
“Mama juga sibuk mengurus yayasan. Terkadang ikut menemani papa kunjungan ke luar kota.”
Dewita mengangguk-anggukan kepala mendengarnya. “Punya orang tua Mentri sama wanita karier yang super sibuk itu pasti tidak menyenangkan ya, Dian?”
“Hm?”
“Gimana kalau Dian tinggal sama mommy aja. Nanti setiap hari Dan ada yang menemani. Ada yang kasih—“
“Itaa,” lerai Damian. “Jangan didengarkan, nak,” lanjutnya seraya menatap Dian. Mengabaikan sang istri yang kini mulai merajuk. Usahanya untuk meyakinkan Dan lagi-lagi digagalkan.
“Gimana kabar papa kamu? masih hetic sama pekerjaan?”
“Iya, dad. Belakangan papa sibuk bolak-balik Jakarta-luar kota, karena ada serangkaian agenda kunjungan kerja di beberapa kota.”
__ADS_1
“Bekerja sebagai Mentri pendidikan ternyata membuat papa kamu semakin menjadi orang sibuk yang sulit dijumpai, ya.”
Darren yang sejak tadi berdiam diri ikut buka suara. “Katanya papa kamu juga sedang mengaplikasikan silabus pendidikan yang baru dan lebih efisien, ya?”
“Masalah jobdesk itu masih dalam peninjauan, om. Saat ini papa kurang lebih fokus pada penyaluran program beasiswa untuk anak-anak kurang mampu di Indonesia yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SLTP, SLTA, hingga perguruan tinggi.”
Darren tersenyum tipis seraya mengangkat cangkir keramik bergambar bunga orchid yang berisi teh merah Cheonil yang baik untuk menenangkan hati. “Bicara sama anak Kemendikbud memang beda, ya. Topik yang dibahas saja tidak main-main.”
“Namanya juga putra Dean Wijaya. Umur dan casing boleh saja anak SMA, isi kepala janganlah ditanya,” sahut Dewita seraya terkikik geli.
Dian yang tengah menjadi perdebatan hanya bisa berdeham kecil. Ya, mau bagaimana lagi, topik pembicaraan seperti ini memang topik yang paling sering Dian bahas jika menyangkut pekerjaan sang papa. Jika masalah pekerjaan sang mama, Dian agak kurang menguasai. Ibunya yang merupakan Mantan finalis putri Indonesia itu juga banyak berkecimpung di dunia pendidikan.
Beliau juga ikut membantu mengelola yayasan milik keluarga Wijaya, seraya membantu mengontrol perkembangan D’EV dan mengurus pekerjaannya sendiri. Ibu Dian memang aktif menyuarakan suara untuk membela hak-hak perempuan dan anak. Oleh karena itu ia juga didapuk menjadi salah duta UNICEF.
Jobdesk orang tuanya yang tidak pernah jauh dari ruang lingkup pendidikan, kebudayaan, dan kemanusiaan, sedikit-banyak telah menurun pada Dian. Oleh karena itu semenjak kecil ia sudah memiliki rasa empati yang tinggi. Saat masuk SMA Dian memutuskan untuk membangun Rumah Berbagi sendiri, yaitu lembaga untuk berbagi terhadap sesama lewat cara galang dana dan membuka donasi. Dian juga aktif membantu program-program UNICEF guna menyelamatkan mimpi anak-anak Indonesia dengan cara mendonasikan sebagian uang jajan bulanannya.
Besaran uang yang dapat didonasikan minimal 150.000 ribu rupiah per bulan sampai 300.000 ribu rupiah per bulan. Dengan berdonasi sebesar 150.000 ribu rupiah saja Dian sudah mendapatkan Gelang Pendekar Anak berwarna biru. Gelang dengan bandul khas berwarna silver yang tidak pernah lepas dari pergelangan tangan kirinya.
“Ngapain di sini?”
Pertanyaan itu datang dari laki-laki dengan kaos putih polos yang tengah menuruni anak tangga seraya membawa wadah kecil berisi es batu bekas kompresan.
“Mau minta softcopy file yang kemarin dibahas pas briefing.”
“Oh.”
Respon si Tuan Muda seadanya. Respon itu juga membuat para orang tua geleng-geleng kepala melihatnya.
“Jauh-jauh ke sini cuma buat minta softcopy file yang kemarin dibahas pas briefing doang?”
“Hm. Aku butuh sekarang untuk diperiksa, sebelum diberikan ke Pembina OSIS dan Kesiswaan.”
“Dian udah nunggu lama di sini loh, Dan. Kamu nggak ada rasa bersalah, gitu?” tanya Ev yang tiba-tiba buka suara. Ia sendiri merasa tidak enak karena Dan menunggu cukup lama.
“Salah siapa datang ke sini tidak menghubungi terlebih dahulu,” kata Dan seraya mengedipkan bahu.
“Kamu susah dihubungi. Bahkan nomer ponsel kamu sempat tidak aktif.”
Dan terdiam untuk sejenak. Ia baru ingat jika hampir beberapa jam ini tidak memikirkan di mana benda pipih itu berada. Semenjak insiden Duchess yang terlibat salah paham dengan Capella dan Estrella, Dan memang fokus menenangkan sang kekasih.
“Oh, maaf. Ponsel ku tidak tahu ada di mana. Mungkin juga sudah tidak aktif karena kehabisan daya.”
“Hm.”
Melihat interaksi dua anak manusia itu, Darren hanya bisa terkekeh kecil. Walaupun tidak dapat dikatakan sebagai musuh abadi, mereka juga tidak dapat dikatakan sebagai teman sejati. Namun, baik Dan maupun Dian memang dekat. Mereka juga tetap bersikaf professional jika menyangkut masalah organisasi. Bahkan Rumah Berbagi yang Dian bangun juga dikelola bersama Dan serta dua anggota 4 HANDS yang lain.
“Ini sudah hampir masuk jam makan siang. Gimana kalau Dan ajak Dian untuk makan siang dulu.”
“Ogah,” kata Dan lugas.
Ev tersenyum mahfum mendengar jawaban sang putra. “Dan, nggak boleh gitu loh sama Dian.”
“Ya sudah,” kata Dan pada akhirnya. “Kita makan siang dulu, baru bahas pekerjaan,” lanjutnya seraya melirik Dian, sebelum berlalu menuju ruang makan.
“Gih, Dian makan siang dulu sama Dan,” suruh Ev seraya tersenyum ramah.
Dijawab anggukan oleh putra Wijaya tersebut. Ia kemudian menyusul Dan ke ruang makan, meninggalkan para orang tua.
“Jangan bilang kalau Dan masih suka bersikaf begitu ke Dian karena Duchess?” tanya Dewita tiba-tiba.”
“Kamu kayak nggak kenal Dan aja, Dew.” Ev membalas seraya mendudukkan dirinya di samping sang suami. “Dan itu copy paste Perè-nya. Kamu tahu sendiri, kan, gimana Perè-nya dulu ke papa nya Dian?”
__ADS_1
Dewita terkikik geli seraya melirik Darren. Laki-laki yang tengah menikmati secangkir teh itu tampak berdecak sebal walaupun tetap stay cool. “Memang ya, keturunan Xander itu sudah punya sifat posesif sejak dini. Orang-orang yang berpotensi menganggu kepunyaanya pasti bakal diperlakukan berbeda.”
“Itu namanya antisipasi,” sahut Darren sebelum menyeruput tetes-tetes terakhir teh di cangkirnya.
💐💐
“Duchess ke mana? Tidak ikut makan siang?”
Gerakan tangan Dan yang sedang mengambil ayam lada hitam yang menjadi salah satu pilihan lauk untuk makan siang hari ini, kontan berhenti di udara.
“Tidur.”
“Tidak biasanya Duchess tidur jam segini,” komentar Dian yang sudah mengisi piringnya sendiri dengan nasi.
“Kecapean,” kata Dan.
Dian mengangguk seraya mengambil segelas air putih. “Dan.”
“Hm.”
“Siapa perempuan itu?”
“Perempuan mana?” bingunga Dan. Ia baru saja hendak mengambil tumis buncis dan telur untuk dipindahkan ke piring.
“Perempuan yang tadi aku temui saat datang ke sini. Perempuan itu yang dilihat Elang pas malam-malam, kan?”
“Hm. Cewek sial*n itu.”
Dian menautkan kening mendengar nada bicara Dan yang tiba-tiba berubah. Kosa kata yang digunakan juga jadi kasar.
“Kenapa?” tanya Dan. “Kaget? cewek itu memang pantes dikasih titel itu karena berani menyakiti Duchess.”
“Maksudnya?”
“Masih ingat insiden saat ulang tahunku yang kedelapan?”
“Hm?”
“Dulu ada gadis kecil yang datang bersama kedua orang tuanya dari kampung. Dia adalah penyebab dari insiden terjatuhnya Duchess ke kolam renang.”
“Hm. Apa hubungannya sama dia?”
Dan menoleh, menatap Dian langsung ke bola matanya. “Mereka adalah orang yang sama.”
“….”
“Jangan tertipu sama wajah polosnya, jangan sampai kamu tertarik kepadanya. Dia itu manipulatif,” kata Dan dengan raut wajah yang sulit dideskripsikan. “Hari ini dia kembali berulah.”
Dan mengalihkan pandangan seraya berdecak sebal. “Ck, ibu dan anak sama-sama banyak drama dan bermuka dua.”
💐💐
TBC
NEXT?? HARI INI 1 PART AJA YA ☺️
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 23-07-22
__ADS_1