Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 31


__ADS_3

DIM. 31


“Attantion, please.”


Seorang gadis dengan almamater SMA Wijaya berdiri di balik meja guru seraya mengangkat ballpoint Hi Tec C berwarna biru. Bola mata amber nya tampak bergerilya, menatap satu per satu teman sekelasnya—kelas sepuluh dua.


“Sesuai hasil musyawarah kita bersama, posisi ketua kelas tetap dipegang sama Dylan Adiwijaya. Wakil ketua kelas dipegang sama aku—Danisa Mutiara Larson. Posisi bendahara satu dipegang sama Iris Wihelmina, bendahara dua dipegang sama Gemma Ariesta. Sedangkan posisi sekretaris satu dipegang sama Duchess Aretha Darchell, dibantu sama Dayita Salim selaku sekretaris dua. Untuk seksi-seksi yang lain tidak ada perubahan. Jika tidak ada lagi pergantian personil dalam struktur organisasi kelas, kita tinggal konfirmasi sama miss. Suci.”


“Udah, nggak ada perubahan lagi,” ujar salah seorang isiswa, mewakili aspirasi teman-teman sekelasnya yang lain.


Gadis dengan name tag Danisa Mutiara Larson itu kemudian mengangguk. Waktu lima belas menit yang merupakan bagian dari jam pelajaran kedua mereka gunakan untuk memperbaiki struktur organisasi kelas, mengingat hari ini guru yang bertugas mengajar di jam kedua berhalangan hadir. Hanya tugas menumpuk yang hadir kepada siswa dan siswi kelas sepuluh dua. Kelas si cantik Duchess Aretha Darchell.


Duchess sendiri menjadi salah satu siswi yang famous di sekolah, apalagi di kelas. Siapa sih yang tidak kenal Duchess Aretha Darchell? Si cantik yang multitalenta. Oleh karena itu, Duchess juga diperlakukan like a queen every days di dalam kelas. Anak-anak laki-laki bahkan di hari pertama rebutan tempat duduk di samping, belakang, hingga depan tempat duduk Duchess. Namun, para anak perempuan bertindak kooperatif dengan membuat blockade dadakan. Mereka langsung mengisi kursi-kursi kosong di samping, belakang, hingga depan Duchess supaya anak laki-laki tidak rebutan.


Siapa sih yang tidak mau dekat dengan Duchess, namun perlu diingat bahwa setiap orang pasti akan merasa tidak nyaman jika lingkungan baru di sekitarnya terlalu tidak kondusif. Setiap orang punya cara sendiri dalam beradaptasi, dan punya rentan waktu masing-masing untuk dapat menyesuaikan diri.


Sebenarnya bukan Duchess saja yang berasal dari keluarga kalangan menengah atas, hampir semua teman-teman Duchess berasal dari kalangan menengah ke atas. Di antara mereka, ada yang berprofesi sebagai konten creator, dancers, tiktokers, youtubers, gamers, selebgram, driver professional, anak boyband, pengusaha muda, dan sebagainya. Intinya, di kelas Duchess terdiri dari berbagai macam siswa dan siswi dengan kultur dan passion yang berbeda.


Sejauh ini Duchess bisa dengan mudah beradaptasi karena teman-temannya friendly dan tidak toxic. Untuk seukuran anak kelas sepuluh SMA, sebagian besar dari mereka juga sudah mandiri. Namun, bagi Duchess teman yang paling dekat dengannya hingga saat ini adalah Iris dan Dara. Ada juga teman-teman Duchess dari sekolah yang terdahulu, namun mereka tidak terlalu akrab.


“Jadi gimana? Lo pada mau masuk ekstrakulikuler apa? pas hari terakhir MOPDB ada demo ekstrakulikuler yang menarik nggak?”


Gadis dengan rambut pendek sebahu yang sekarang diubah menjadi gaya wolf cut berkata seraya menyodorkan dua lembar kertas pendaftaran ekstrakulikuler yang harus diikuti oleh setiap siswa dan siswi baru di SMA Wijaya.


“Ekstrakulikuler yang wajib dan pilihan gue sebutin satu per satu nih, ada kepramukaan, latihan dasar kepemimpinan, palang merah remaja, pasukan pengibar bendera pusaka atau paskibraka, karya ilmiah remaja atau KIR, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi atau TIK, English club, seni tari, keagamaan kayak rohani islami atau ROHIS, yang terakhir ada ekstrakulikuler olahraga, kayak basket, voli, renang, atletik, karate, dan sebagainya.” Gadis dengan rambut bergaya wolf cut itu menarik napas panjang setelah menjelaskan panjang kali lebar. “Sisanya baca sendiri deh di brosur,” tambahnya.


Duchess dan Iris mengangguk. Mereka pun langsung mengambil alih kertas pendaftaran ekstrakulikuler yang dibawa oleh Dara. Mereka membaca setiap informasi dengan teliti. Setiap siswa dan siswi baru memang diharuskan untuk segera memilih ekstrakulikuler yang akan mereka ikuti. Tersedia banyak ekstrakulikuler wajib dan pilihan yang bisa diikuti oleh setiap siswa.


SMA Wijaya yang berdiri di atas tanah yang luasnya sekitar 18 hektare memang memiliki fasilitas sarana dan prasarana yang lengkap. Keamanan di SMA Wijaya juga sangat dijaga dengan baik. Salah satu cara untuk menjaga kemanan siswa selama berada di sekolah adalah dengan memasang kamera pengawas atau CCTV sebanyak 4.000 buat di berbagai titik. SMA Wijaya memang sekolah menengah atas bertarap internasional yang tetap mengedepankan Indonesian culture. Untuk membuat siswa dan siswi nyaman dan betah saat berada di sekolah, di sepanjang taman sekolah juga disediakan healing place yang bisa digunakan oleh para siswa dan siswi.


“Kira-kira kalian bakal daftar OSIS nggak?” tanya Dara tiba-tiba.


“Kalau aku sih berminat untuk mendaftar,” sahut Iris seraya tersenyum malu. “Kalau Duchess gimana?”


“Hm, kalau Duchess mau diskusikan sama mommy atau Choach dulu. Soalnya takut nggak bisa aktif, karena susah membagi waktu. Sepulang sekolah Duchess, kan, harus kerja di D’EV juga. Kadang pemotretan, syuting, rekaman di studio musik om Dewa, reality show dan banyak kegiatan lagi.”


“Duchess sih nggak usah ditanya lagi. Dia mah hetic teros,” sahut Dara seraya menepuk-nepuk bahu Duchess.


Duchess tersenyum kikuk seraya mengangguk. “Tapi Duchess suka kok banyak beraktivitas. Jadinya setiap hari aktif.”


“Iya, sih. Tapi pasti capek. Apalagi remaja seumuran kita itu harusnya bisa menyeimbangkan waktu antara sekolah dan belajar, dan main. Bukan sekolah sama kerja, tanpa bermain. Nanti pening.”

__ADS_1


Duchess tertawa kecil dengan tangan menutup mulut saat tertawa. “Nggak gitu juga, kok. Masih ada waktu buat main kalau pandai manage waktu.”


“Ya, itu kan lo yang pandai memanage waktu, bukan gue yang hobby rebahan sama nonton drakor.” Dara berkata seraya mengedipkan bahu. “Hetic kita beda level, beb.”


Duchess mengangguk seraya mengurai tawa. Iris juga diam-diam ikut tertawa kecil. Punya teman seperti Dara memang menyenangkan. Apalagi saat Dara sudah mengoceh soal perkepopan. Dari generasi pertama di industri k-pop sampai generasi sekarang—generasi keempat, bisa Dara bahas dalam satu kali duduk. Selain k-popers, Dara juga pecinta cogan—cowok ganteng—dua dimensi alias animasi, kartun, donghua, dan sebagainya.


“Duchess Aretha Darchell.”


Duchess dan dua temannya langsung menoleh saat nama Duchess diserukan dari arah pintu. Saat menoleh, mereka menemukan sosok rupawan yang tengah tersenyum sangat lebar seraya melambaikan tangan.


“Kak Elang ngapain ke sini?” tanya Duchess seraya mendekati laki-laki rupawan itu.


“Mau lihat princess Duchess,” sahut si pemilik nama. “Cantik banget,” pujinya kemudian.


“Terima kasih atas pujiannya, kak Elang,” jawab Duchess dengan suara kecil. “Jawab yang jujur, kakak mau apa ke kelas Duchess? Mau buat kehebohan, ya?” tanya Duchess, masih penasaran.


“Dibilangin mau lihat kamu juga,” ujar Elang menegaskan. “Sambil nganterin ini.”


“Ini apa?”


“Buka aja sendiri,” ujar Elang seraya menyodorkan paper bag berwarna pink promise tersebut.


“Ini dari kak Elang?”


Duchess tersenyum tipis dengan rona tipis yang mulai menyebar di pipi. “Tolong sampaikan terima kasih dari Duchess.”


“Kasih tahu aja langsung sama orangnya.”


“Memangnya bisa?”


“Nanti sepulang sekolah ikut ke basecamp. Dia ada kok di sana. Kalau sekarang lagi sibuk ngurusin anak OSIS.”


Duchess menyetujui lewat anggukan kepala. Laki-laki yang menarik perhatian semenjak kedatangannya itu tersenyum kecil, kemudian menjawil pipi Duchess. Membuat si empunya mengerucutkan bibir sebal. Setelah berhasil membuat Duchess kesal, Elang langsung angkat kaki tanpa permisi. Meninggalkan Duchess yang langsung jadi bulan-bulanan teman-temannya.


💐💐


“Ngemil, Dan.”


“Siapa yang beli?”


“Gue, kenapa? Halal kok,” sahut Elang yang tengah menikmati roti bakar topping choco crunchy, keju dan susu atau CKS yang legend, karena sudah berjualan semenjak 50 tahun lalu. “Ini roti bakar legend yang usianya udah sepuh. Dibakarnya juga masih pakai arang woi, makanya seenak itu,” tambah Elang, bak seorang food blogger professional.

__ADS_1


“Rasanya terlalu manis,” komentar Daru yang juga ikut menikmati roti bakar legend dengan topping keju, coklat dan pisang. “Dan mana suka.”


“Suka kalau udah bekas bibir Duchess,” seloroh Elang tanpa dosa. Membuat si pemilik nama yang baru saja duduk mendelik tajam. “Kenapa kaget gitu? Nanti lo juga bakal sering kissing sama Duchess kalau udah nikah. Atau udah nyicil dari sekarang?”


“Jaga bicaramu,” protes Dan.


“Lah, itu fakta. Bahkan nanti kalian bakal sering—“


“Sering apa, kak?”


Kalimat Elang terpotong oleh suara Duchess yang baru saja muncul. Gadis cantik itu memang baru saja izin ke belakang untuk mengambil air putih di water dispenser. “Kok diam?”


“Jangan didengar,” sela Dan seraya meraih tangan sang tunangan supaya gadis cantik itu duduk di sampingnya. “Sudah minum?”


“Sudah. Barusan sama ambil ini juga.” Duchess menunjukkan dua buah permen penyengar mulut. “Ini punya siapa, kak? Kok ada di dekat water dispenser? Jadi barusan Duchess ambil aja.”


“Uhuk, uhuk.”


Belum sempat Dan menjawab ucapan sang tunangan, Elang tiba-tiba terbatuk-batuk karena tersedak saliva sendiri. Daru yang peka langsung menyodorkan satu botol air mineral ke arah Elang.


“Kak Elang kenapa? Kok makannya bisa sampai tersedak? Pasti nggak baca doa dulu,” cerocos Duchess seraya membuka satu bungkus permen yang menurutnya permen penyegar mulut itu. “Kak Dan mau? Rasanya unik loh. Nggak terlalu manis,” kata Duchess sembari menoleh ke arah Dan.


Di posisi duduknya, Elang memberikan kode agar Dan menolak. Ia kemudian menunjuk handphone, supaya Dan melihat handphone. Dan tidak bodoh untuk mengartikan semua kode tersebut.


“Hm.”


Dan merespon singkat seraya menerima permen dari Duchess, namun tidak langsung dimakan. Ia kemudian mengeluarkan handphone saat Duchess tidak lagi fokus padanya. Kira-kira pesan apa yang Elang kirim lewat WhatsApp.



“Damn!” umpat Dan setelah membaca pesan Elang.


Sedetik kemudian Dan menatap Elang dengan tatapan tajam. Sedangkan yang ditatap demikian hanya bisa menyengir seraya menangkupkan kedua tangan di dada sebagai bentuk permintaan maaf.


💐💐


TBC


WAH, ELANG BENER-BENER YA 😱


TERUS DUCHESS GIMANA? MEMANGNYA DAN MAU BANTUIN DUCHESS KALAU UDAH GITU??

__ADS_1


NEXT? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐


Sukabumi 05-08-22


__ADS_2