
DIM. 28
“Aduh, aduh, kok Dian pakai repot-repot segala bawain lumpia basah Suryakencana 88 buat mommy.”
Laki-laki tampan yang masih menggunakan seragam putih abu dilapisi oleh jaket itu tersenyum tipis. “Inisiatif Duchess, mom.”
“Iya. Itu inisiatif Duchess, mommy,” setuju sang putri.
“Oh, begitu. Tapi, kan, yang bawa dari SCBD sampai ke tangan mommy bukan Duchess, tapi Dian,” elak Dewita. Perempuan itu tampak happy sekali saat melihat putra menteri Pendidikan dan Kebudayaan bertandang ke rumahnya malam-malam seperti ini.
“Daddy kemana, mom? kok nggak kelihatan? Duchess bawain nasi goreng kesengsengan nih.”
“Daddy ada di ruang kerja. Nanti biar mommy yang panggil. Kalian masuk dulu,” ajak Dewita seraya memboyong Dian serta Duchess. “Langsung ke ruang makan aja.”
Duchess dan Dian menyetujui usulan tersebut tanpa kata. Tiba di dapur, kantong-kantong keresek bening yang mereka bawa dari luar langsung diserahkan pada maid untuk disiapkan. Sedangkan Duchess serta Dian diminta menunggu di meja makan setelah cuci tangan menggunakan handwash di wastafel. Ketika baru kembali setelah pergi ke luar, Dewita memang mewajibkan setiap anggota keluarganya untuk langsung bersih-bersih. Misalnya mandi, atau paling mentok cuci tangan menggunakan handwash.
Dian juga biasa menerapkan protokol kesehatan seperti itu jika di rumah. Mengingat keluarga besar Wijaya berkecimpung di dunia pendidikan juga dunia kesehatan, bahkan sebagian besar om dan tante Dian berprofesi sebagai Professor serta dokter. Keluarga Wijaya juga memiliki rumah sakit keluarga yang bekeerja sama dengan keluarga Xander. Tak heran jika mereka sangat memperhatikan kebersihan supaya senantiasa memperoleh kesehatan.
“Dan sama Duchess makan dulu gih,” ujar Dewita seraya menghidangkan dua porsi nasi goreng krengsengan.
Satu porsi nasi goreng krengsengan menggunakan topping telur mata sapi. Itu pasti milik Duchess, pikir Dewita. Mengingat sang putri memang hobby makan nasi goreng dengan topping telur mata sapi.
Sedangkan yang satu porsi nasi goreng krengsengan lagi tidak menggunakan telur mata sapi, melainkan menggunakan telur dadar sebagai topping. Dewita juga tak lupa mengeluarkan satu toples berisi kerupuk udang, bawang goreng, serta acar yang akan menciptakan citarasa segar.
“Enak?” tanya Dewita pada Dian yang baru saja mengunyah satu sendok nasi goreng krengsengan.
“Kalau lagi makan nggak boleh bicara, mom. Jadi jangan tanya-tanya kak Dian,” celetuk Duchess yang sedang menaburkan satu sendok acar di nasi goreng miliknya.
“Mommy kan cuma penasaran, sayang.”
“Tapi kak Dian lagi mengunyah, nggak boleh bicara. Nggak baik.”
“Iya, iya. Princess mommy selalu benar,” ujar Dewita mengalah.
Dalam diam Dian tersenyum tipis melihat interaksi mereka. Ah, senang rasanya bisa memiliki akses supaya dapat keluar-masuk kediaman Widyatama dengan mudah. Keluarga ini hangat juga ramah. Berbanding terbalik dengan keluarga Dian. Orang tuanya terkadang terlalu sibuk, jadi jarang bisa menghabiskan waktu bersama putra mereka. Sedangkan di keluarga Widyatama, para orang tua selalu bisa menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama di sela-sela padatnya aktivitas mereka.
“Nasi gorengnya enak. Mommy mau coba?” tanya Dian saat kunyahan pertamanya telah ditelan.
Dewita menggelengkan kepala seraya mengulurkan tangan untuk mengelus surai hitam milik Dian. “Kalau gitu Dian harus makan yang banyak. Habiskan, jangan disisakan. Mommy lihat belakangan ini Dian terlihat kurusan.”
“Mungkin cuma perasaan mommy saja. Aku selalu makan teratur.”
“Selalu makan teratur, ya? Coba mommy tanya, pagi tadi Dian breakfast sama apa?”
Dian tampak berpikir untuk sejenak. Mengingat apa yang ia makan untuk sarapan pagi tadi. “Tadi pagi Sarapan sama American breakfast.”
“American breakfast?”
__ADS_1
Dian mengangguk sebagai jawaban. Pagi tadi ia memang hanya sarapan dengan American breakfast buatan mbak pengasuhnya saat masih kecil. Hidangan breakfast yang terdiri dari bahan simpel, namun kaya gizi menjadi pilihan bagi Dian. Dalam satu porsi American breakfast ada bahan-bahan kaya gizi seperti telur, kacang merah, sosis sapi, dan roti. Telur biasanya dibuat menjadi omelette atau telur mata sapi yang ditambahkan seasoning berupa garam dan lada hitam agar terasa lezat.
Sementara itu untuk kacang merah bisa direbus hingga empuk, kemudian ditumis dengan dressing tomat atau saus tomat. Sedangkan untuk roti tawar, dikreasikan menjadi menu French toast dengan cara merendam roti dengan campuran telur yang dikocok, butter cair, susu putih cair, gula, dan vanili cair. Roti kemudian dipanggang bersama sosis sapi hingga berwarna kecoklatan. Jika sudah matang, tinggal hidangkan French toast, sosis bakar, tumis kacang merah, serta telur yang dijadikan omelette atau telur mata sapi.
“Kalau makan siang?”
“Hm, kalau makan siang sama Choipan yang tadi mommy kasih.”
“Itu doang?” kaget Dewita.
Dian mengangguk seraya menggaruk tengkuk. “Tadi di D’EV sempat makan juga mom.”
“Makan apa?”
“Chili oil wings.”
“Chili oil wings?” Dewita kontan menatap sang putri yang masih asik makan sambil mendengarkan. “Pasti Duchess yang order?” tebaknya tepat sasaran.
Dewita tahu betul jika sang putri sangat suka makan makanan yang pedas. Chili oil wings adalah salah satu olahan sayap ayam yang sering Duchess pesan dari restoran yang menyajikan berbagai jenis makanan korea yang cukup terkenal di daerah SCBD—Sudirman, Citayam, Bojong, Depok.
“Tadi Duchess nggak habis makan Chili oil wings nya, mom. Terus kak Dian menawarkan diri untuk membantu menghabiskan.”
“Makanya kamu jangan terlalu sering jajan yang pedas-pedas, sayang. Nanti sakit perut, siapa yang repot?”
“Kak Dian,” celetuk Duchess seraya tersenyum tipis. “Kalau Duchess sakit, kan, kak Dian yang bawa Duchess ke rumah sakit keluarga.”
“Dasar.” Dewita geleng-geleng kepala sendiri mendengar jawaban sang putri. Sedangkan Dian hanya tersenyum tipis. “Kalian habiskan nasi gorengnya, mommy mau ke ruang kerja daddy dulu.”
“Jadi kak Dian belum makan nasi dari pagi?” tanya Duchess kemudian, memecahkan keheningan.
“Lalu ini apa?” Dian menunjuk nasi goreng krengsengan miliknya dengan sendok.
“Maksud Duchess sebelum ini.”
“….”
“Harusnya kak Dian bilang. Jadi Duchess bisa order nasi buat kakak makan.”
“Tidak perlu. Lagipula sekarang aku sudah makan nasi,” jawab Dian.
“Tapi, gimana kalau kak Dian sakit perut….”
“Buktinya nggak, ‘kan?” Dian menatap Duchess yang tampak menurunkan bibir, sedih. “Sudah, habiskan nasi gorengnya.”
Duchess mengangguk dengan raut wajah yang masih muram. Sore tadi Chili oil wings yang ia beli level kepedasannya sangat tinggi. Duchess takut Dian sakit perut karena perutnya kosong, tetapi sudah makan makanan pedas.
“Kak Dian harus minum ini.”
Duchess menyodorkan satu gelas minuman berwarna ungu pasca mereka selesai makan nasi goreng.
__ADS_1
“Apa ini?”
“Minum aja,” pintu Duchess, agak memaksa. “Atau mau Duchess bantu?” tambahnya seraya mengangkat gelas berisi minuman berwarna ungu itu ke hadapan bibir Dian.
“Ayo, buka mulut.”
“Hm?”
“Buka mulut kak….”
“Duchess!”
Duchess serta Dian kontan menoleh saat mendengar suara tersebut. Dari arah datangnya suara, munculah Dian yang datang bersama Dyra. Mata hitam laki-laki itu tampak menatap tajam ke arah mereka berdua.
“Kak Duchess,” panggil si kecil Dyra antusias.
“Halo little princess,” sambut Duchess. Ia dengan segera menyimpan gelas berisi minuman berwarna ungu tadi, lantas bergegas mendekati Dyra. “Tumben Dyra main ke rumah kakak malam-malam. Memangnya dikasih izin sama Mère?”
“Mère kasih izin, soalnya Dyra bilang mau pinjam buku paket matematika punya kak Duchess yang lama.”
“Ah, iya. Buku paket matematika kakak yang lama ya. Bukunya ada di atas, kakak ambil dulu. Dyra mau ikut?”
“Mau!”
Duchess tersenyum lebar seraya mengambil alih tangan mungil Dyra untuk ia genggam. “Kak, Duchess bawa Dyra ke atas dulu, ya?” izin nya pada Dan.
“Hm.”
“Terima kasih.”
Setelah mengucapkan terima kasih, Duchess langsung mengajak si kecil Dyra untuk naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Duchess memang hendak meminjamkan buku paket matematika nya yang lama kepada si kecil Dyra yang juga suka belajar matematika. Kebetulan Duchess masih menyimpan buku-buku lamanya. Sepeninggalan Duchess dan Dyra, tinggal Dan serta Dian yang ada di ruang makan.
“Duchess dibawa kemana dulu sebelum pulang?”
Dian yang baru saja meminum minuman berwarna ungu yang tadi Duchess berikan, langsung menatap Dan dengan sebelah alis terangkat. “Tidak kemana-mana.”
“Lo bohong?”
“Buat apa?” kata Dian seraya berjalan mendekati Dan. “Setelah syuting selesai kita langsung pulang. Sempat mampir dulu buat beli nasi goreng langganan Duchess. Itu juga Drive thru.”
Dan tak langsung menjawab. Ia tampak masih tidak percaya dengan ucapan Dian.
“Kalau tidak percaya, hubungi coach Dhisty. Tanyakan pukul berapa Duchess pulang dari D’EV. Kita baru saja sampai di sini sekitar tiga puluh menit yang lalu. Coba dikroscek dengan informasi yang kamu dapat dari coach Dhisty.”
Setelah berkata demikian, Dian menepuk bahu Dan. “Tenang saja, aku tidak pernah ingkar janji. Jika pun aku ingin merebut Duchess, akan aku lakukan dengan cara yang benar,” katanya sebelum berlalu meninggalkan Dan.
💐💐
TBC
__ADS_1
Sukabumi 02-08-2