Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 27


__ADS_3

DIM. 27


Balok Es yang cuma bisa meleleh sama Duchess 😉



“Camera, rolling, action!”


Mendengar interupsi dari suara familiar milik coach Dhisty, gadis cantik yang tengah berdiri ditemani oleh seorang aktor itu langsung memerankan bagiannya. Saat ini mereka sedang syuting untuk iklan barang penunjang kebutuhan sekolah seorang pelajar, seperti tas dan sepatu, dari brand lokal yang cukup popular di kalangan masyarakat.


“CUT!”


Interupsi itu berarti pengambilan gambar untuk keperluan iklan sudah selesai. Baik si aktor maupun aktris sekarang sudah boleh rehat barang sejenak.


“Break dulu tiga puluh menit. Nanti kita lanjut lagi,” ujar coach Dhisty yang datang menghampiri.


“Duchess haus, coach.”


“Minum air putih dulu,” kata coach Dhisty. Perempuan dengan gaya rambut choppier pendek sebatas bahu, seperti gaya rambut Taeyeon SNSD dalam acara reality show SNSD yang berjudul ‘Soshi Tam Tam’ yang diberi warna pirang itu menyodorkan satu botol air mineral dingin. “Satu kali syuting lagi. Habis itu kamu boleh pulang.”


“Ok, coach.”


Coach Dhisty tersenyum seraya menepuk bahu Duchess dua kali, sebelum pamit pergi untuk menghampiri seseorang. Duchess pikir coach Dhisty memintanya datang ke sini untuk pemotretan saja, mengingat Duchess baru pulang dari sekolah di hari pertama. Dengan kondisi yang capek plus letih, ia malah dituntut untuk bersikap professional karena syuting iklan yang seharusnya dilakukan lusa dimajukan begitu saja.


Coach Dhisty sudah memberitahu lewat pesan singkat sih, namun tetap saja kondisi tubuh Duchess sekarang jadi dua kali lipat lebih letih. Ingin sekali ia menyelesaikan syuting ini dengan cepat, supaya bisa lekas pulang ke rumah.


“Capek?” tanya suara familiar bersamaan dengan datangnya satu botol orange C1000 yang biasa Duchess konsumsi.


“Iya,” sahut Duchess seraya mengambil orange C1000 itu tanpa malu.


“Belum makan, kan? nanti mau makan di luar dulu sebelum pulang?”


“Gimana nanti aja deh, kak. Soalnya Duchess capek banget, mau cepat-cepat pulang,” jawab Duchess seraya berusaha ekstra guna membuka tutup botol orange C1000.


“Sini,” kata Dian seraya mengambil alih botol orange C1000 itu lagi. Dengan satu gerakan ringan, laki-laki tampan yang sejak tadi ikut mengamati proses syuting Duchess untuk iklan itu berhasil membuka tutup botol orange C1000.


“Terima kasih banyak, kak Dian,” ucap Duchess dengan senyum yang begitu lebar. Ia kemudian segera meminum orange C1000 itu. Rasa manis, segar, sedikit asam benar-benar menyegarkan tenggorokan Duchess.


“Hm.”


Dian merespon seraya membenarkan pita yang menghiasi dua kunciran Duchess. Sepertinya benda itu bergeser, jadi kurang enak dipandang.


“Kenapa kak?”


“Tidak simetris,” jawab Dian kala Duchess bertanya. “Hari ini pulang malam?”


“Kayaknya iya, kak. Kalau kak Dian mau pulang duluan nggak papa kok. Nanti biar Duchess dijemput sama supir daddy.”


“Aku tunggu,” ujar Dian final. “Lagipula aku masih ada pekerjaan di sini.”


“Tapi, kak….”


“Semangat kerjanya,” potong Dian cepat seraya menepuk pucuk kepala Duchess dua kali. Kebiasaannya.

__ADS_1


Duchess tersenyum lebar seraya mengangguk. Ia happy-happy saja ditemani kerja sampai ditawari pulang bersama oleh Dian. “Ya sudah kalau begitu. Nanti Duchess pulang sama kak Dian. Tapi kita mampir buat makan malam dulu.”


“Hm. Sesuai keinginan kamu,” sahut Dian enteng.


Laki-laki tampan putra pemilik D’EV itu memang sudah menyelesaikan tugasnya semenjak tadi. Namun, ia memilih menunggu Duchess yang entah berantah kapan selesai syuting. Kemungkinan besar sekitar pukul tujuh atau delapan baru selesai. Tetapi Dian tetap niat untuk menunggu, karena Duchess datang ke sini bersama dirinya. Pulang pun harus dengannya. Itulah prinsip yang Dian anut.


Selama break, Duchess menggunakan waktu tersebut untuk berbicang ringan dengan Dian, melihat hasil syuting, hingga ngemil makanan ringan untuk menganjal perut. Ketika syuting kembali dilanjutkan, Dian tidak beranjak dari tempatnya sama sekali. Ia duduk di samping produser yang kebetulan salah satu orang yang Dian kenal dengan baik di gedung ini.


“Mau makan di mana?” tanya Dian pada saat mereka sudah keluar dari D’EV. Tepat pukul tujuh lebih sepuluh menit—seperti perkiraan di awal—mobil yang Dian kendarai meninggalkan area parkir D’EV.


Tadi coach Dhisty sempat menawari Duchess tumpangan untuk pulang bersama, karena


“Di angkringan pak Sur,” kata sang lawan bicara enteng.


“Yakin?”


“Hu’um. Duchess laper, mau makan nasi goreng krengsengan topping telur mata sapi pakai acar.”


“Nggak takut gemuk?” sindir Dian secara halus. Duchess itu kalau sudah dikait-kaitkan dengan kata ‘gemuk’ pasti jealous. Padahal Duchess punya tubuh ideal incaran para kaum Hawa. Ia juga rajin melakukan olah raga yoga dan playing pilates untuk menjaga bentuk tubuhnya.


“Nggak. Pokoknya kakak harus berhenti di depan, di angkringan pak Sur. Deket yang jualan lumpia basah Suryakencana 88.”


“Ok,” sahut Dian, menyanggupi. “Nggak takut dimarahin mommy?”


Duchess menggelengkan kepala dengan berani. “Nggak. Kalau makan nasi goreng aja, mommy pasti bolehin. Apalagi ini nasi goreng krengsengan punya pak Sur.”


Nasi goreng krengsengan adalah nasi dicampur mie dan daging yang kemudian dimasak bersama. Sedangkan nasi goreng krengsengan yang Duchess maksud adalah nasi goreng krengsengan dengan pilihan topping yang beragam, mulai dari telur mata sapi, telur dadar mix dengan suwiran ayam, atau tanpa telur.


Nasi goreng di angkringan itu adalah nasi goreng langganan keluarga Widyatama. Nasi gorengnya dimasak dengan bumbu yang medok sehingga memunculkan citarasa yang lezat, ditambah suwiran ayam yang banyak pula.


Banyak pembeli yang memadati angkringan tersebut sampai antrian mengurai ke trotoar di sekitar, jadi Dian tidak mungkin membiarkan Duchess turun. Bisa-bisa Duchess jadi pusat perhatian, alih-alih dapat makan.


“Aku akan turun dan pesan. Kamu tunggu di sini saja.”


“Kenapa nggak makan di tempat aja, kak?”


“Padat pengunjung,” sahut Dian seraya mengambil jaket guna melapisi seragam sekolah miliknya. Tak lupa ia juga mengambil uang tunai untuk pembayaran. “Kamu mau pesan apa saja?”


“Nasi goreng krengsengan spesial satu, topping telur mata sapi. Kalau nggak ada, ganti sama telur dadar spesial. Level kepedasannya yang ulti.”


Dian tersenyum tipis saat melihat Duchess menyebutkan pesanannya dengan raut wajah yang sangat kiyowo.


“Itu saja?”


Duchess mengangguk. “Pesan satu nasi goreng lagi yang level noob buat daddy.”


“Kalau mommy?”


“Mommy katanya udah makan,” sahut Duchess seraya memperlihatkan room chat nya dengan sang mommy. “Nanti beliin mommy lumpia basah aja deh. Mommy pasti suka.”


“Hm.”


Dian membuka seat belt miliknya, setelah membuka lock door. “Kamu tunggu di sini.”

__ADS_1


“Aye, aye Captain!” seru Duchess dengan ekspresi wajah yang aegyo—menggemaskan.


Dan tak kuasa menahan tawa, sehingga tawa kecil lolos. Wajah yang biasanya datar, dingin dan cool itu sekarang mencair karena tak kuat melihat tingkah aegyo Duchess.


“Kak Dian ketawa?!”


“Mana ada,” sahut Dian cepat seraya beranjak membuka pintu.


“Ih, Duchess nggak salah lihat kok. kak Dian barusan ketawa.”


Sayup-sayup masih terdengar suara Duchess yang berceloteh saat Dian memutuskan untuk kabur—keluar dari dalam mobil. Ia langsung bergegas ikut mengantri untuk membeli nasi goreng kerengsengan pesanan sang Tuan Putri. Duchess Aretha Darchell. Antrian cukup panjang, sehingga cukup memberikan durasi bagi Dian untuk menormalkan detak jantung serta ekspresinya. Baru kali ini ia kelepasan, sampai tak kuasa menahan tawa. Putri daddy Damian itu memang sulit sekali dihiraukan pesonanya.


💐💐


“Duchess belum pulang?”


“Belum. Barusan mommy-nya Duchess bilang begitu sama Mère.”


Anak laki-laki yang baru sama menyelesaikan acara makan malam menggunakan steak dada ayam yang sajikan dengan sayuran serta potato wedges—kentang yang direbus dengan bawang putih dan garam, lalu digoreng dengan lapisan tepung hingga kering. Disajikan bersama saus ketika sudah matang—itu langsung terlonjak kaget.


“Kok bisa jam segini belum pulang?” kata Dan kemudian. ‘Pasti diajak jalan dulu sama Dian,’ batin Dan di dalam hati.


“Mungkin pekerjaan Duchess belum selesai, Dan,” sahut sang ibu, menengahi.


Perempuan bermarga Xander itu duduk di sebelah kanan—di seberang sang putra—bersebelahan dengan si kecil Dyra. “Eh, Dan mau kemana?” tanya Mère Ev saat melihat si sulung beranjak begitu saja dari meja makan.


“Jemput Duchess,” sahut Dan sekenanya.


“Dyra mau ikutt!” seru si kecil Dyra, ikut heboh. “Dyra mau ikut ke rumah kak Duchess. Dyra mau ikut abang!”


Dan menoleh, lantas menganggukkan kepala. “Princess Dyra boleh ikut, tapi ambil pakaian hangat dulu.”


Si kecil Dyra mengangguk dengan antusias. Ia kemudian buru-buru beranjak dari kursi makan setelah meminta izin pada Mère Ev.


“Dan.”


“Iya Mère?” Dan kembali berhenti melangkah, kemudian menatap sang ibu yang sepertinya ingin bertanya.


“Kamu tidak meninggalkan Duchess lagi, ‘kan?”


Dan menggelengkan kepala dengan tegas. “Tadi Dan ada tugas tambahan, jadi menyuruh Duchess pergi ke D’EV bersama Dian. Tapi, jika sampai saat ini mereka belum pulang, Dian pasti mengajak Duchess ke suatu tempat terlebih dahulu.”


“Kenapa Dan bisa berpikir seperti itu? mungkin saja pekerjaan Duchess belum selesai.”


“Pekerjaan Duchess seharusnya selesai tiga puluh menit yang lalu, karena Dan sudah tahu jadwal kerja Duchess dari coach Dhisty.”


💐💐


TBC


CEMBURU TINGGI DEWA YA, DAN 😅


NEXT? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, BOOM BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐

__ADS_1


Sukabumi 02-08-22


__ADS_2