
DIM. 6
“Lain kali jangan diulangi lagi sikap tidak jantan seperti itu. Memalukan.”
Sindiran pedas itu datang dari laki-laki yang sedang duduk di kursi makan sambil mengetik sesuatu di atas keyboard MacBook. Kacamata baca juga tampak bertengger apik di hidung bangir laki-laki itu.
Dan yang baru saja pulang pasca mengantarkan Duchess langsung mengangguk tanpa banyak kata. Dan paham maksud dari ucapan sang ayah. Toh, ia memang salah karena lalai. Mau dilihat dari sudut manapun, Dan memang salah. Mana ada laki-laki jantan yang membuat kekasihnya menunggu berjam-jam, kemudian kekasihnya sampai karena lupa.
“Cuci tangan di wastafel, kemudian makan malam. Jangan buat masakan yang Mère buat dengan penuh cinta dingin begitu saja.”
Dan langsung menjalankan perintah tersebut tanpa membantah. Ia berjalan ke arah wastafel untuk mencuci tangan, kemudian mengambil satu piring dan alat makan lain. Lalu kembali ke meja makan, duduk berhadapan dengan sang ayah yang masih sibuk mengetik. Tangannya kemudian terulur untuk mengambil nasi, tahu gurita, ayam goreng bacem dan tumis buncis dengan telur secara bersamaan.
“Perè sudah makan?”
“Hm. Perè sudan makan dan coba ayamnya. Perè suka ayam goreng bacem itu. Rasanya manis dan gurih. Tahu gurita kesukaan kamu juga enak, saat Perè makan tadi masih hangat. Jadi makin nikmat. Mungkin sekarang sudah agak dingin, kamu bisa hangatkan lagi menggunakan airfryer atau microwave.”
“Dan makan begini saja. Rasanya juga pasti masih sangat enak.”
“Hm.”
“Kalau begitu Dan makan dulu, Perè.”
Darren mengangguk saat sang putra berkata demikian. “Jangan lupa baca doa.”
“Udah,” sahut Dan.
Darren mengangguk tipis. Ia tak bohong soal rasa ayam goreng bacem kesukaan putranya. Rasanya memang enak, dominan manis dan gurih. Sebelum digoreng ayamnya terlebih dahulu diungkep dengan air kelapa, gula merah, lengkuas, daun salam, serta bumbu ayam sehingga rasa ayam saat dimakan menimbulkan citarasa yang khas. Citarasa yang kaya akan bumbu dan rempah.
“Duchess marah?”
Pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan ayahnya itu berhasil membuat Dan menahan kunyahan nya. Ia hampir saja tersedak jika tidak hati-hati. Ia kemudian menjawab dengan anggukan kepala.
“Sudah minta maaf?”
Lagi-lagi, Dan menggunakan anggukan kepala sebagai jawaban. Laki-laki tampan itu masih sibuk mengunyah.
“Sudah pasti Duchess marah karena kelalaian kamu. Untuk kedepannya jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran. Jangan diulangi lagi. Ingat itu, jangan diulangi lagi,” ujar Darren penuh penekanan pada akhir kalimatnya.
Anggukan kepala kembali Dan jadikan sebagai jawaban untuk pertanyaan tersebut. Sang ayah sepertinya tidak akan berhenti menginterogasi jika belum puas.
“Perè tugas kamu di organisasi bukan cuma satu, tapi ingat satu hal Dan. Jangan lupa jika Duchess adalah perioritas kamu setelah Tuhan dan keluarga kamu. Jangan buat Perè sama Mère kecewa karena sudah menjadikan kamu pasangan Duchess. Jika sampai kamu menyakiti Duchess, sengaja atau tidak, kamu tahu sendiri om Damian dan onty Dewita tidak akan tinggal diam bukan? Mereka tidak mungkin menyerahkan putri satu-satunya kepada laki-laki yang tidak dapat dipegang ucapannya.”
“….”
“Satu hal lagi yang perlu papa ingatkan, pria umumnya akan mengalami dua fase penting saat beranjak dewasa. Fase itu adalah quarter life crisis yang terjadi pada rentan usia 20-an sampai 30-an, dan fase mid life crisis terjadi pada rentan usia 40 sampai 40-an. Salah satu dampak fase mid life crisis adalah pubertas kedua. Pada dasarnya, pria itu besar karena ego. Saat menjalin sebuah hubungan akan ada masa menggebu-gebu hingga fase jenuh tak menentu.
Perè akan terus mengingatkan kamu untuk selalu memegang teguh janji kamu. Jika suatu saat nanti kamu menemukan ketertarikan dari gadis lain saat jenuh menjalin hubungan dengan Duchess, bicaralah secara baik-baik. Jangan jadi pecundang dengan cara berbohong. Menyakiti hati seorang wanita adalah kesalahan paling fatal bagi seorang pria. Kamu juga harus ingat bahwa perselingkuhan adalah penyakit yang sulit diobati. Jika kamu sudah pernah sekali berbohong demi menutupi hubungan gelap dengan gadis lain, tak menutup kemungkinan jika di kemudian hari kebohongan seperti itu akan terjadi lagi.”
__ADS_1
Dan yang sudah selesai menghabiskan menu makan malamnya, tepat saat Darren menyelesaikan kalimat panjangnya. Perè-nya Dan itu memang jauh dari image datar, dingin, dan irit bicara jika sudah berada di rumah. Laki-laki tampan yang mengoleksi delapan pack di tubuhnya itu akan menjelma jadi sosok Perè yang cerewet melebihi sang istri.
“Tapi terlalu posesif dari pasangan juga tidak baik loh,” sindir sang ayah tiba-tiba.
Berhasil membuat sang putra tersedak air yang tengah diminum.
“Perè tahu Dan posesif sekali sama Duchess.”
“Itu ….karena Dan ingin memnjaga Duchess.”
“I know. Perè juga pernah muda, dan Perè yakin sifat itu adalah turunan.”
“Turunan?”
Darren mengangguk seraya menatap sang putra lamat-lamat. “Ya. Soalnya Perè juga posesif kalau sudah menyangkut Mère. Kamu ingat om Dean—ayahnya Dian, teman sekolah kamu?”
“Hm. Kenapa?”
“Dia itu rival terberat Perè. Dulu Mère itu susah sekali didapatkan.”
“Bukannya Perè sama Mère dijodohkan sejak kecil? Bagian mananya yang susah?”
Darren tampak memicing mendengar kalimat sang putra. “Mendapatkan hatinya. Memperjuangkan cintanya. Meyakinkan jika Perè adalah pilihan terbaik untuknya.”
Dan tersenyum kecil saat mendengar cerita sang ayah yang tampak menggebu-gebu saat menceritakan itu. Sampai saat ini pun, Dan bisa melihat kewaspadaan sang ayah saat om Dean—yang katanya rival Perè-nya menghabiskan waktu bersama Mère-nya karena urusan pekerjaan atau urusan lain.
“Cinta adalah reaksi kimia yang terjadi dalam otak manusia. Prosesnya terkadang tidak bisa dinalar karena berkaitan dengan hormon-hormon di dalam tubuh. Sekarang Dan paham kenapa jatuh cinta sama Duchess itu selalu membuat Dan berperilaku di luar nalar,” katanya kemudian yang langsung membuat sang ayah tertawa lepas.
“Cinta itu adalah fitrah. Pemberian Allah sebagai anugrah,” sahut Darren kemudian.
“Sudah seharusnya kamu menjaga anugrah itu dengan baik untuk kedepannya.”
Pembicaraan ayah-anak itu baru terhenti saat perempuan yang mereka cintai ikut bergabung di ruang makan. Setelah sang ayah, tinggal sang ibu yang ikut memberi wejangan walaupun sedikit. Bagaimana pun juga sebagai orang tua, Darren dan Ev memiliki tanggung jawab untuk mendidik Dan. Tugas orang tua memang tidak berhenti sampai tahap seorang anak menikah, melainkan sampai tutup usia. Begitulah besarnya tugas orang tua terhadap anaknya.
Setelah kenyang makan dan diberi asupan berupa wejangan, Dan langsung pamit untuk naik ke atas. Di mana kamarnya berada. Tubuh Dan sudah terasa letih juga lengket dan ingin segera diguyur air hangat agar lebih rileks. Sebelum mandi, Dan menyempatkan diri mengirim pesan singkat pada Duchess. Hanya pesan singkat berisi ucapan selamat malam dan mengingatkan kembali jika besok mereka akan berangkat bersama.
Dunia memang belum tahu ikatan Dan dan Duchess yang sebenarnya. Hubungan perjodohan mereka masih disembunyikan, sehingga hanya segelintir orang yang tahu. Namun, Dan bersama sikap over posesif nya tidak akan membuat hubungan backstreet ini bertahan lama.
“My girls,” komentar Dan saat melihat wallpaper tampilan desktop handphone miliknya yang menampilkan potret candid Duchess saat sedang bermain dengan Dyra.
💐💐
“Dan sudah bangun?”
“Hm, iya Mère,” jawab si pemilik nama yang baru saja bergabung ke meja makan. Di sana sudah ada Perè, Mère dan Dyra—adik kecilnya yang masih tampak mengantuk.
Pagi hari di kediaman Xander akhir pekan ini tampak hangat seperti biasa. Para anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan seraya bercengkrama, sebelum mengisi perut dengan menu breakfast yang telah dibuat sang ibu rumah tangga.
__ADS_1
Breakfast kali ini Ev selaku istri dan seorang ibu menyajikan nasi goreng spesial seperti request-an sang putri. Padahal sang suami dan si sulung memiliki kebiasaan yang sama, yaitu tidak terlalu suka makan nasi di pagi hari. Kebiasaan itu dimulai dari sang suami yang jarang makan nasi. Alih-alih makan nasi, Darren lebih memilih menggantinya dengan makan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti kentang, gandum atau oat.
Kebiasaan itu kemudian turun pada si sulung yang tidak terlalu suka makan nasi di pagi hari. Bahkan saat masih kecil, Dan sulit sekali makan nasi jika Ev tidak pandai memutar otak. Untungnya Ev punya banyak cara agar sang putra mau makan nasi.
“Hari ini kita sarapan sama nasi goreng, sayang?”
“Iya. Kenapa? Kamu enggak mau? Perlu aku suruh bibi buat roti bakar pakai—“
“It’s okay, beb. Aku bisa makan nasi goreng buatan kamu, tapi porsi biasa,” potong sang suami, tak mau membuat Ev salah paham.
Ev tersenyum tipis, kemudian dengan cekatan mengambilkan nasi goreng untuk sang suami. Satu centong saja. Lalu ia beralih pada si kecil Dyra yang masih tampak mengantuk. Padahal anak gadis itu sudah bangun sejak subuh. Setelah mengisi piring Dyra dengan nasi goreng ekstra baso, sosis dan telur mata sapi, Ev beralih pada sang putra.
“Dan mau sarapan pakai apa? nasi goreng atau sereal?”
“Nasi goreng aja. Samakan seperti punya Perè.”
Ev tersenyum seraya mengangguk. Anak dan ayah itu sudah seperti pinang dibelah dua saja. Apa-apa sama.
Keluarga kecil Darren Aryasatya Xander dan Evelyn Xander itu kemudian larut dalam keheningan saat mulai sarapan. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama saat siluet seorang gadis dengan dress putih selutut lewat begitu saja di dinding kaca yang menjadi pembatas antara area makan dan kolam renang yang ada di luar rumah.
“Itu siapa, Perè, Mère?” tanya Dan dengan mata memicing saat melihat sosok itu berhenti di ujung kolam, lalu berjongkok dan bermain air layaknya anak kecil. “Kenapa dia pakai baju Duchess?!”
“Perè gak tahu,” jawab Darren, kemudian beralih pada sang istri. “Itu siapa sayang?” bingung Darren yang juga tidak mengenali sosok tersebut.
Ev menoleh ke arah yang dimaksud suami dan putranya. Ia kemudian menyunggingkan senyum lembut saat melihat tingkah polos gadis dengan dress putih model baby doll tersebut. Darren dan Dan hanya bisa menautkan kening saat Ev tak kunjung memberikan jawaban dari pertanyaan mereka.
“Siapa gadis itu, Mère??” tanya ayah dan anak itu lagi, secara bersamaan.
“Dia ….Capella.”
“Capella??”
“Iya, Capella Megantara. Putri Elgara dan Estrella.”
💐💐
TBC
DUH, SIAPA TUH YANG NONGOL? HANTU YA?
ADA YANG MASIH MAU LANJUT? KOMENTAR DULU TERUS SPAM PAKAI IKON 💐💐💐💐💐
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 04-07-22
__ADS_1