
DIM. 14
“Segera habiskan makanan kamu, kita harus bergegas untuk pulang.”
Perempuan dengan kaos hitam polos yang menenggelamkan hampir setengah bagian tubuhnya itu memberangus seraya menikmati pisang goreng yang dilumuri topping coklat dan parutan keju yang melimpah ruah.
“Mas, gimana kalau kita pulangnya besok pagi aja?” pinta perempuan itu dengan nada setengah merajuk pada sang suami.
Laki-laki yang tengah berjongkok di depan koper yang terbuka lebar itu menoleh, seolah-olah bertanya ‘kenapa lagi’ lewat tatapannya.
“Malam ini katanya Pamungkas mau tampil di pusat perbelanjaan yang kita datangi kemarin. Bukannya dari dulu kamu suka sama musisi itu, mas?”
Laki-laki dengan kemeja fit body berwarna semi maroon itu tampak terdiam untuk beberapa saat. Ia memang penggemar berat musisi yang terkenal dengan lagu-lagu yang sering kali trending hingga ke luar negeri. Pamungkas sendiri merupakan musisi asli asal Indonesia yang sangat hebat. Ia menulis, menciptakan lagu, bermain alat musik, hingga menyanyikan lagunya sendiri. Beberapa lagunya sering kali jadi topik yang hangat diperbincangkan, juga kerap diperdengarkan, sebut saja lagu Wait A Minute, Kenangan Manis, Sorry, One and Only, I Love You But I’am Letting Go, Monolog, sampai lagu To The Bond.
Sudah cukup lama juga tidak melihat pertunjukan live music, apalagi ini musisi favoritnya. Namun, laki-laki yang sudah memiliki seorang putra itu tidak mau egois. Toh, ia juga sudah cukup umur, sehingga ia bisa membedakan mana kepentingan urgensi dan mana kepentingan yang di luar lingkup urgensi.
Ia dan sang istri sudah mangkir hampi dua kali dari jadwal kepulangan mereka. Masa harus mangkir lagi?
Elgara tidak enak hati pada tuan dan nyonya yang selama ini menjadi tempat penitipan putri mereka. Elgara juga tahu betul jika tuan dan tuan muda sangat tidak menyukai keberadaan putri mereka. Apalagi sekarang Elgara malah melanggar janji lisan yang terucap tujuh belas tahun yang lalu.
“Lain kali kita ke sini lagi bersama Capella.”
“Kamu yakin, mas? Kalau ada putri kita, kamu jadi nggak leluasa loh.”
Perempuan yang hanya menggunakan kaos suaminya sebagai pelindung tubuh itu membalikkan badan, agar sepenuhnya mengarah ke sang suami.
“Capella kan putri kita, Ella. Kenapa juga aku harus merasa tidak leluasa karena ada Capella? Aku malah senang jika kita bisa liburan bersama putri kita. Toh, selama ini kita jarang pergi berlibur bertiga.”
‘Ya, itu karena aku risih bawa-bawa anak,’ batin Estrella di dalam hati.
“Jangan sedih, okay? Lain kali kita ke sini lagi. Kalau mau, kamu boleh pesan tiket liburan ke Bali bulan depan. Kayaknya bonus aku bulan ini cukup untuk trip ke Bali.”
“Ke Bali berdua?”
__ADS_1
“Bertiga dong,” jawab Elgara seraya menutup kembali koper setelah mengambil pakaian ganti untuk sang istri, lengkap dengan underwear nya.
Estrella yang polos, lugu, dan tampak cupu itu, kalau bersama sang suami memang akan tampil maksimal agar dapat memberikan layanan yang terbaik untuk sang suami.
Untungnya, Elgara adalah tipikal laki-laki dengan libid* normal. Bukan laki-laki dengan libid* yang tinggi sehingga jadi maniak saat disodorkan istri yang tampang polos nan lugu, tetapi selalu berpenampilan suhu ketika di atas ranjang. Elgara hanya akan menggagahi sang istri jika memang ia benar-benar mau, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri. Elgara juga selalu mengutamakan kenyamanan sang istri, tidak pernah memaksa melakukan hubungan badan jika sang istri sudah berkata ‘tidak’.
“Kenapa diam terus dari tadi? Kamu marah?”
Elgara bertanya saat mobil yang ia kendarai memasuki area jalan bebas hambatan alias jalan tol. Pada akhirnya mereka kembali setelah mangkir pulang beberapa hari. Bohong jika Elgara tidak merindukan sang putri.
Capella Megantara. Nama yang bagus dan cantik bukan? Nama yang memang cocok disematkan untuk sang putri yang menuruni sebagian besar para cantik sang ibu. Mulai dari paras, kesukaan, karakteristik, hingga sebagian besar sifatnya. Sedangkan dari gen Elgara? Mungkin cuma menyumbang beberapa bagian kecil. Misal pada bagian tubuh, terletak pada hidung dan bentuk cuping telinga. Sedangkan pada sifat, Capella sama seperti sang ayah, suka membaca dan belajar.
Capella kecil sangat suka menemani Elgara bekerja di lapangan, mulai dari melakukan pengecekan barang-barang produksi, hingga ikut turun tangan untuk menyelesaikan hambatan yang terjadi pada saat produksi berlangsung. Namun, semakin dewasa, Capella semakin mirip ibunya. Ia lebih banyak berdiam diri di rumah, dengan aktivitas harian yang biasa ia lakoni, mulai dari memasak, membuat kue, belajar, hingga bercocok tanam. Bahkan Elgara juga sempat membeli beberapa petak tanah di desa, untuk hobby sang putri, yaitu bercocok tanam dan berkebun bunga.
Setelah melakukan perjalanan cukup panjang dan melelahkan, Elgara dan Estrella tiba di kediaman Xander saat matahari sudah kembali meninggi di atas khatulistiwa. Sebenarnya mereka bisa saja mempersingkat waktu dengan cara bepergian menggunakan pesawat udara. Namun, ide itu ditolak mentah-mentah oleh Estrella dengan alasan ia fhobia ketinggian. Alhasil mereka melakukan perjalanan menggunakan jalur darat.
“Mas, itu putri kita, ‘kan?”
Estrella bertanya saat kendaraan yang mereka naiki memasuki kediaman Xander setelah diberi izin masuk.
Itu Capella, putrinya. Akan tetapi, kenapa putrinya duduk di tanah seperti itu?
“Aku tidak akan biarkan putri kita disakiti, mas.”
Estrella berkata demikian seraya membuka pintu mobil dengan cepat. Kendaraan yang mereka tumpangi memang sudah berhenti.
“Capella!” panggil Estrella seraya berjalan dengan langkah cepat.
“Ibu.”
Mengenali suara siapa yang memanggil, si pemilik nama langsung menyahut.
“Kamu diapakan sama dia, sayang?” tanya Estrella risau. “Kamu didorong sampai jatuh sama gadis jahat ini?” tebaknya kemudian.
“Ibu….”
__ADS_1
“Iya, jawab sayang. Jujur sama ibu, kamu diperlakukan buruk, kan, sama dia?”
“Tante, Capella tadi—“
“Diam kamu!” bentak Estrella yang otomatis membungkam Duchess.
Ya, gadis yang menggunakan cut of shoulder dress berwarna soft nude itu adalah Duchess. Gadis cantik itu tampak terpaku untuk beberapa waktu, karena tiba-tiba dibentak oleh orang asing. Padahal mommy dan daddy nya saja tidak pernah membentak Duchess. Apalagi Dan sang tunangan, Mère, Perè, dan orang-orang lain yang mengenal Duchess dengan baik.
“Kamu yang dorong Capella kan?”
Duchess menggelengkan kepala seraya melangkah semakin mendekat. “Tadi Capella jatuh send—“
PLAK!
“Kamu pikir saya percaya sama ucapan kamu?” potong Estrella setelah menampar pipi mulus Duchess hingga meninggalkan bekas kemerahan yang amat kentara di sana. Bahkan saking kerasnya, bunyi tamparan Estrella sampai terdengar sangat nyaring.
Elgara yang baru tiba saja langsung dibuat shock dengan tindakan sang istri. Ia buru-buru menghampiri sang putri, lantas berkata. “Ella, sebaiknya tanyakan dulu pada Capella apa yang sebenarnya terjadi. Jangan asal menuduh orang, apalagi kamu sampai main tangan.”
Elgara membantu sang putri berdiri, lantas mendekati sang istri yang masih tak bergeming. Ia kemudian mengalihkan tatapan pada gadis yang sebaya dengan putrinya. Gadis itu tampak berdiri dengan satu tangan memegang pipi yang baru saja kenapa tamparan. Tatapan gadis itu tampak kosong, mungkin karena terlalu shock. Elgara jadi tidak enak hati melihatnya.
“Nona, apa Anda baik-baik saja?” tanya Elgara prihatin, melihat putri dari mantan tangan kanan tuannya itu tampak sangat terguncang.
“Ngapain sih kamu tanya-tanya dia, mas? Sudah jelas-jelas dia yang buat Capella—“
PLAK!
Kalimat Estrella langsing terpotong begitu saat sebuah telapak tangan melayang begitu saja, lantas mendarat dengan sangat apik di pipi kirinya. Dengan tampang innocent , Estrella menoleh ke samping. Tempat di mana si pelaku dari tamparan keras itu berasal.
“Itu adalah balasan untuk kamu yang telah lancang menyakiti calon menantu Evelyn Xander.”
✈️✈️
TBC
NEXT? JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR & TEBAR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐💐 LIKE, VOTE & FOLLOW AUTHOR JUGA JANGAN LUPA 🙌
__ADS_1
Sukabumi 14-07-22