Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 35


__ADS_3

DIM. 35



“Greta?” panggil Dan.


Sudah hampir tiga puluh menit mereka berada di bawah guyuran air hangat yang keluar dari shower. Namun, belum ada tanda-tanda bahwa gadis dalam pelukannya sudah lepas dari efek ‘permen cinta’ yang sangat dashyat. Bahkan sekarang gadis cantik yang tengah merintih dengan tubuh menggigil dan lemas itu masih bertingkat sedikit ‘aneh’. Contohnya saja saat ini, gadis cantik yang memiliki tinggi badan sekitar 170 centimeter itu mulai berani mengendus-endus leher Dan yang hanya terlindungi kemeja sekolah yang sudah basah.


Perlu digaris bawahi sekali lagi, jika Palacidio Daniel Adhitama Xander adalah anak laki-laki yang normal dan tentu saja memiliki hasrat seperti anak laki-laki pada umumnya. Apalagi saat ini mereka berdua berada dalam kondisi yang sangat rawan serta mudah terjerumus ke dalam jebakan setan jika tidak panda mengontrol diri. Out of control sekali saja, bisa dipastikan bahwa Dan sebagai satu-satunya yang masih memiliki kewarasan di antara mereka yang akan menanggung semua getahnya.


“Greta, ada apa?” tanya Dan dengan suara serak seolah-olah sedang menahan sesuatu.


Sebisa mungkin kedua tangan Dan tetap berada di tempatnya, yaitu melingkupi pinggang mungil sang tunangan. Tidak peduli jika sekarang tangan sang tunangan mulai bergerak, terangkat menuju lehernya.


“Hei, ada apa?”


“Kakak ….wangi.”


“Hm?”


“Wangi citrus,” lirih Duchess seraya melingkarkan kedua tangannya di punggung tegap Dan.


“Hm….itu karena body wash yang kamu beli untukku mengandung aroma citrus,” jawab Dan cukup panjang, supaya pikirannya tetap bisa fokus. “Apa tubuh kamu masih terasa tidak nyaman, Greta?”


Dan menunduk, mencoba melihat wajah sang kekasih yang sudah diguyur air hangat sejak tadi. Bersamaan dengan itu, Duchess juga mendongkrak. Menunjukkan keseluruhan wajah cantik miliknya yang tampak sedikit pucat, sayu, serta dihiasi semburat kemerahan yang padam. Ekspresi wajah Duchess yang satu ini, damage nya terlalu ‘danger’ bagi Dan.


“Kakak wangi,” lirih Duchess dengan suara berat. Gadis cantik itu masih belum sepenuhnya lepas dari efek permen cinta.


Dan sungguh kasihan melihatnya. Harus berapa lama lagi mereka bertahan di bawah guyuran shower dengan kondisi seperti ini?


“Kamu mau apa?” tanya Dan waspada saat kedua kelopak mata Duchess terbuka secara sempurna. Arah pandangan kedua bola mata cantik yang bersemayam di dalamnya, mengarah ke ….leher Dan yang sentuh-able.


“Greta?”


“….”


“Greta? Bicaralah sesuatu,” lirih Dan dengan suara kian memberat. Ia kemudian menurunkan wajahnya, supaya dapat menatap Duchess lebih dekat. “Kamu mau apa dengan ini?”


Dan memalingkan wajah, membuat wajah Duchess berhadapan langsung dengan leher jenjangnya yang dihiasi oleh jakun yang tengah naik turun.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Dan sekali lagi. Namun, apa yang Duchess lontarkan berikutnya, membuat Dan terhenyak kaget sampai mundur ke belakang tanpa perhitungan. Alhasil ia yang masih memeluk pinggang Duchess terdorong ke belakang, sampai-sampai membuat tubuh Duchess ikut menubruk tubuh Dan yang sudah menghantam tiang shower.


“Kamu ….mau gigit leherku?” tanya Dan memastikan. Tadi ia tidak salah dengan, ‘kan? Duchess bilang mau ‘menggigit’ leher Dan.


Alih-alih mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang membuat shocked, Dan malah menemukan sang tunangan yang telah memejamkan mata rapat-rapat. Duchess jatuh pingsan sebelum merealisasikan kalimat terakhir yang meluncur bebas dari mulutnya.


“Itu leher lo kenapa merah-merah?”


Dan langsung menyentuh lehernya sendiri yang tidak tertutup oleh apapun. Ingatannya baru saja memutar memori yang terjadi di bawah shower beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


“Jangan-jangan karena Duchess, ya?” tebak Elang seraya mendekat.


Dengan lancang laki-laki yang suka menggunakan aksesoris berupa kalung dan anting-anting itu menyibak kerah kaos yang digunakan Dan. Mata tajam Elang tampak meneliti warna merah yang terlihat agak samar di permukaan kulit Dan yang putihnya tidak kalah saing dengan kulit Dian.


“Tapi kalau diperhatikan lebih seksama lagi, ini kayak bukan ….kissmark,” monolog Elang.


“Memang bukan!” seru Dan seraya menjauhkan tangan Elang dari tubuhnya.


“Terus itu kenapa Dan? Jelasin. Jangan bikin gue over thinking.”


Dan berdeham seraya mengusap lehernya kikuk. “Kena tiang shower.”


“Hah? Gimana-gimana? Tolong dijelasin secara rinci, gue nggak ngerti.” Elang menuntut kejelasan seraya bersidakep dada.


“Gue bilang kena tiang shower,” sahut Dan dengan nada suara datar.


“Masa? Kok gue nggak percaya. Bisa jadi itu bukti kalau lo sama Duchess ada main dulu sebelum lo turun. And the, lo juga turun paka baju baru. Bukan baju tadi. Itu berarti lo ikut basah-basahan sama Duchess—“


“Kebanyakan spekulasi,” potong Dan seraya menampung air hangat yang keluar dari water dispenser menggunakan gelas yang tadi ia ambil.


“Terus?? Lo jelasin yang rinci dong, supaya gue nggak mati penasaran.”


Dan menatap Elang setelah gelas yang ia ambil sudah terisi penuh dengan air hangat. “Duchess pingsan.”


“KOK BISA?!”


Dan menatap Elang tajam karena terganggu dengan teriakan laki-laki beranting-anting itu. Elang yang menyadari sikap kelewatannya, langsung menyengir.


Dan menatap Elang dengan tajam. Bisa-bisanya Elang berkata demikian. Nama ada Dan main kasar, mengambil first kiss Duchess saja masih Dan cancel hingga mereka nanti menikah, atau paling tidak sama resmi bertunangan. “Kemungkinan besar hipotermia. Sekarang tubuh Duchess demam dan menggigil.”


“Segitu parahnya? Perlu gue panggil dokter sekalian nggak?”


“Jangan,” tolak Dan. “Nanti menimbulkan kecurigaan. Akan semakin panjang masalahnya.”


Elang mengangguk. Benar juga perkataan Dan. “Terus sekarang gimana?”


“Beli plester demam instan di toko kelontongan depan. Sama minta tolong bawa putri pemilik toko buat ke sini. Baju Duchess basah, harus diganti.”


Elang menatap Dan dengan tatapan sulit diartikan. “Lo ….sama sekali nggak nyentuh Duchess?”


“Nggak.”


“Kenapa?”


“Karena gue nggak mau rusak dia dan rusak kepercayaan semua orang yang udah mempercayakan dia ke gue,” balas Dan sebelum berlalu setelah menepuk bahu Elang. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan dapur, Dan sempat meminta Elang untuk buru-buru pergi ke depan.


“Lo memang benar-benar kandidat paling potensial untuk Duchess,” gumam Elang saat Dan menghilang di balik pintu.


💐💐

__ADS_1


“Kenapa nggak diangkat?”


“Males.”


“Siapa tahu itu penting, yang telpon tante Dayu loh?”


Laki-laki yang menggunakan kaos hitam dilapisi jaket denim dan dipadukan dengan celana jeans itu bertanya pada laki-laki yang menggunakan hoodie berwarna hitam dipadukan dengan skinny jeans hitam, sneakers hitam serta head band yang melingkar di kepala yang menjadi lawan bicara. Saat ini mereka tengah bermain game online, sepeninggalan Elang yang pergi ke dapur menyusul Dan. Namun, Elang tak kunjung muncul. Sekali pun Dan sudah kembali ke lantai atas.


“Paling disuruh pulang,” sahut si pemilik telepon yang sejak tadi bergetar di atas meja.


“Memangnya kamu kabur dari rumah?”


“Tidak sepenuhnya benar.”


“Terus?”


“Pergi tanpa pamit,” papar Dian seraya menggerakkan stik game di tangannya.


“Itu namanya sama saja,” kelakar Daru yang menjadi lawan bermain. “Kenapa lagi? Kamu disuruh menghadiri perjodohan berkedok jamuan makan dengan para collega?”


“Bukan,” sanggah Dan. “Ada tamu kehormatan yang datang.”


“Ingin bertemu dengan kamu?”


“Kurang lebih begitu.”


“Dan kamu malah sengaja pergi ke sini?”


“Hm.”


Daru mengangguk-anggukan kepala. Ia mulai tahu duduk permasalahannya. “Jadi kamu pergi karena….” Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, suara langkah kaki yang bertubrukan dengan lantai yang terdengar sangat rebut sudah terlebih dahulu menarik perhatian mereka.


“WOI, IAN. CERITANYA BOKAP LO MAU NYERANG BASECAMP ATAU GIMANA?”


Dian yang merasa dipanggil langsung menaikkan satu alis mendengar kehebohan yang diciptakan Elang. Laki-laki yang datang dengan napas ngos-ngosan serta satu tangan menenteng keresek putih berlogo toko kelontong depan itu tampak menampilkan raut yang tidak bersahabat.


“Kenapa?”


“Bodyguard bokap lo ada di depan, njirr. Dua orang, badannya tinggi, tegap. Udah kayak PASPAMPRES mau nyerang aja auranya!” kelakar Elang seraya berjalan mendekat ke arah Daru dan Dian. “Lo kayaknya dijemput, tuh. Disuruh balik,” tambah Elang seraya menepuk bahu Dian.


Ia kemudian berjalan dengan santai melewati Dian dan Daru menuju undakan tangga. Ada yang harus segera ia serahkan pada Dan untuk Duchess—plester demam instan pesanan Dan. Selain plester demam instan pesanan Dan, Elang juga sengaja membeli beberapa obat demam dari minimarket terdekat.


“Balik, Ian. Bokap lo kayaknya kali ini lagi serius,” ujar Elang untuk terakhir kalinya.


Melihat dua bodyguard sampai diturunkan untuk menjemput Dian, berarti laki-laki paruh baya bermarga Wijaya itu sedang tidak dibantah. Jika diperintahkan untuk pulang, berarti Dian harus pulang sekarang juga.


‘Kenapa kamu harus kembali jika membuat hidupku semakin rumit,’ batin Dian di dalam hati seraya melemparkan stik game yang tadi ia pegang ke sembarang arah.


💐💐

__ADS_1


Sukabumi 10-08-22


__ADS_2