
DIM. 51
“Onty Daelyn beneran nggak tahu ya, Kak?”
Entah untuk ke berapa kian kalinya, gadis cantik yang sedang menikmati ice cream coklat mint itu bertanya demikian. Seolah-olah ia tengah menebar umpan untuk memancing emosi laki-laki yang duduk di seberang. Menikmati satu cup ice cream rasa raspberry bekas sang kekasih yang baru saja mendapatkan panggilan darurat dari konsultannya di tempat koas.
“Duchess nggak boleh ember loh sama Mamih. Nanti Kakak yang kena getahnya,” ujar laki-laki yang menggunakan oversized hoodie dengan baseball cap dan bawahan celana jeans—akhirnya buka suara setelah sekian lama.
“Siapa yang suka ember? Bukannya Kak Elang, ya? Waktu itu Kak Dan jalan sama anggota OSIS cewek terus Kakak laporan ke Duchess. Padahal Kak Dan udah bilang itu cuma keperluan organisasi.”
Skakmat.
Elang Gaharu kembali mendapatkan serangan mematikan dari Duchess yang tampak biasa saja setelah membuat jiwa Elang ketar-ketir.
“Rencana nya malam ini Mommy mau meet up sama Onty Daelyn dan Onty Deesa. Kalau tidak salah, Onty Daelyn mau ngenalin Kak Elang sama putri Onty Deesa yang menetap di Singapura.”
“Heh, masa?” kaget Elang. “Mamih mana ada niatan buat kenalin gue sama putri Tante Deesa. Itu cuma basa-basi kali.”
“Duchess juga kurang tahu sih. Cuma waktu itu Onty Daelyn bilangnya begini, ‘bisa deh nanti kita bawa anak-anak untuk kenalan. Supaya mereka bisa lebih dekat’ gitu.”
“Terserah apa kata Mamih deh. Intinya gue nggak minat sama perjodohan, karena udah punya calon sendiri. Elina udah jadi best couple buat gue.”
Duchess tersenyum mendengar perkataan Elang. “Cie, Kak Elang sweeth banget.”
“Iya, dong,” ujar Elang bangga seraya mengelus dada. “Gue tuh udah feeling deeper for her.”
“Terus kenapa backstreet?” sahut Dan tiba-tiba dengan tangan yang telaten menyeka sudut bibir sang kekasih.
Elang langsung terdiam pada suapan terakhir ice cream raspberry miliknya. Sungguh, pasangan kekasih di depannya saat ini seperti mood sekali memancing emosi. Dari tadi mereka itu terus mengintrogasi dirinya tanpa ampun. Padahal dari tadi ia sudah bilang jika alasan untuk backstreet diambil karena keputusan bersama.
“Sebenarnya Kak Elang boleh-boleh saja menyembunyikan hubungan Kakak dengan Kak Elina. Dengan catatan Kak Elang harus bisa menjaga kepercayaan yang Kak Elina berikan. Jangan sampai karena Kak Elina percaya sama Kakak, terus Kakak fine-fine saja dekat sama perempuan lain di luar sana. Kalau mereka baper, siapa yang repot? Kakak 'kan. Tapi, siapa yang bakal sedih, sakit, dan meras dibohongi? Jawabannya tentu saja Kak Elina.
Secara logis, perempuan mana sih yang mau pacarnya ditaksir perempuan lain. Jangan ditaksir deh, deket sama perempuan lain aja rasanya sudah membuat hati tidak nyaman.”
“…”
Elang terdiam. Tidak jadi menikmati suapan terakhir ice cream raspberry miliknya dengan tenang. apalagi setelah mendengar nasihat dari Duchess yang notabene mahluk ciptaan Tuhan yang cukup peka.
Dan dan Duchess juga backstreet. Namun, keluarga dan orang-orang terdekat mereka masuk ke dalam kategori pengecualian. Hubungan mereka berdua juga didukung oleh banyak pihak, berbeda posisi dengan hubungan Elang dan Elina. Namun, jika menilik lebih spesifik ke belakang, walaupun Elina adalah tipikal perempuan yang mandiri, independen dan berpikiran rasional, tetap saja ia adalah seorang perempuan.
Selama ini Elang tidak pernah bertanya apalagi mempertimbangkan lebih dalam soal perasaannya. Selama mereka merajut kasih, Elang memang menjalin kedekatan dengan perempuan lain. Bukan satu, tetapi tak terhingga. Hal itu dilakukan sebagai bentuk dari benteng yang dibuat Elang, supaya hubungan mereka tidak mudah terendus. Buktinya, sampai saat ini hubungan keduanya baru terendus oleh dua orang. Dan dan Duchess.
Kendati demikian, Elang jadi kepikiran soal perasaan Elina. Mereka sempat bertemu beberapa kali saat Elang hangout dengan teman-temannya. Di saat seperti itu mereka selalu seperti orang asing—sama pandai dalam bersandiwara. Jika sudah begitu, nantinya Elang ‘hanya’ akan minta maaf kepada Elina. Direspon sekenanya oleh Elina, memang Elina itu tidak seperti perempuan kebanyakan yang suka berkoar-koar karena masalah sepele. Namun, Elang lupa jika terkadang perempuan itu hanya ingin dimengerti.
Sekarang kata-kata Duchess malah menjadi pukulan telak bagi Elang. Selama ini ia ha-hi-hi dengan perempuan random di luar sana, apa ia pernah menjelaskan alasan yang lebih spesifik lagi pada Elina sebagai sebuah bentuk pengertian. Jawabannya tentu sama tidak. sekarang Elang sadar kalau ia telah menjadi pacar yang tidak pengertian dan care.
Derrtt Derrtt Derrtt
“Angkat, Kak. Kenapa di-reject?”
Duchess yang pertama kali bersuara saat ringtone handphone milik Elang berbunyi. Lagu SLUMP versi Japanese yang dinyanyikan oleh para anggota Stray Kids sudah cukup familiar di telinganya.
Alih-alih menjawab, Elang malah memilih me-reject panggilan tersebut. Padahal ia tahu betul nama siap yang muncul di layar handphone.
“Itu bukan Kak Elina?”
Elang gelagapan. Kalau darling-nya yang telepon, sudah pasti langsung diangkat. Masalahnya ini bukan darling Elang, tapi someone yang ia abaikan beberapa waktu ke belakang.
“Bukan. Nggak penting juga buat diangkat,” sahut Elang kemudian. “Gue ke toilet dulu.”
Elang kemudian beranjak dari tempatnya duduk. Izin pergi ke toilet untuk menelpon balik, alih-alih buang air seperti alasan klasik jika seseorang pergi ke toilet.
“Halo.”
“….”
“Nanti kita bicara lagi. Gue lagi sibuk,” ujar Elang cepat kala sambungan telepon telah diterima oleh seseorang di seberang. Ia sedang tidak mood untuk bicara panjang kali lebar. “Gue tutup dulu ya, cantik. Jangan marah, nanti cantiknya hilang.”
Elang tahu orang-orang di dalam toilet saat ini pasti merasa jijik dengan gaya bicaranya, namun ia tak mau ambil pusing. Sekarang yang terpenting adalah seseorang di seberang sana mengerti.
“Siapa?”
__ADS_1
“ANJ*NG?!”
Elang Seketika itu pula mengumpat kala ada suara yang tiba-tiba terdengar dari arah samping. Ia memang sengaja tidak masuk ke dalam bilik toilet, karena kedatangannya hanya untuk menelpon.
“Dan, lo ngapain anj*r! bikin gue kaget aja.”
Si pemilik nama hanya merespon lewat satu alis yang menaik. “Cewek kampung itu?” tebak Dan kemudian.
“H-mm.”
“Kenapa? Dia jadi lebih agresif sama kamu?”
“Um, ya, bisa dibilang gitu.”
Berhubung sekarang hanya tinggal Elang bersama Dan di dalam toilet—beberapa pengguna lain sudah pergi semenjak Elang menelpon. Mereka dapat bicara agak leluasa.
“Aku sudah bilang, jika kamu mulai kewalahan lebih baik berhenti.”
“Maksud lo?”
“Cewek itu jadi menuntut lebih.”
“Ya… nggak gitu juga. Dia cuma mau intens berkomunikasi gitu.”
Dan berkata seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Jika aku tahu kamu sudah memiliki pasangan, aku tidak akan menyuruh kamu melakukan itu.”
Dan jadi mengingat ucapannya dulu yang membuat Elang mengikuti permainan Capella.
“Ikuti permainannya.”
“Hah?”
“Ikuti permainannya. Buat dia percaya kalau kamu sudah berada dalam jangkauannya, lalu tikam perlahan.”
“Maksud lo ….gue tetep harus bersikap biasa aja sama Capella?”
“Hm. Kalau bisa, buat dia jatuh cinta.”
“Buat dia merasakan sakitnya patah hati karena dikhianati sampai dia tak percaya lagi akan adanya cinta sejati.” Dan berbalik, hendak mengambil langkah guna meninggalkan ruangan. “Namun ingat satu hal, jangan sampai kamu melibatkan perasaan dalam permainan yang kamu buat sendiri.”
Elang memang tidak melibatkan perasaannya saat mengikuti permainan Capella, dikarenakan Elang sudah punya pawang. Sekarang yang Dan takutkan adalah Capella. Ia takut jika Capella juga akan berbalik arah—merusak hubungan Elang dan Elina yang terlihat sama-sama saling mencintai.
“Lebih baik akhiri.”
“Hah? Maksud lo gimana Dan?”
“Akhiri permainan yang kamu ikuti bersama Capella. Jika tidak, takutnya dia akan membahayakan hubungan kamu.”
Elang mematung mendengarnya. Apa benar Capella sejahat itu?
But, she is murder.
Capella pernah berencana membunuh Duchess, padahal waktu itu ia masih anak-anak. Apa jadinya Capella sekarang jika dicampakkan begitu sama? Akan kah ia juga berbalik arah dan menyerang Elang atau bahkan Elina?
“Gimana caranya Dan? Lo pikir gampang mengakhiri suatu hubungan dengan toxic people kayak dia?”
“….”
“Diem ‘kan lo?” Elang menguyar rambutnya sendiri frustasi. “Gue juga udah muak ngeladenin itu cewek sok polos. Gue takut cewek gue tahu, terus dia marah.”
Elang berdecak seraya berkacak pinggang. Salahnya juga karena dulu mengiyakan perintah Dan. Sekarang dia telah berdosa membuat anak orang terbawa perasaan. Ditambah lagi ia tidak dapat lepas dengan mudah dari toxic people seperti Capella.
“Atau gini aja, Dan.”
“Hm?”
“Gue punya ide,” kata Elang seraya tersenyum miring.
Tiba-tiba ada sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya.
💐💐
__ADS_1
“Ini anak-anak pada kemana?”
“Tidak tahu.”
“Memangnya kalau weekend nggak ada schedule apa gitu di basecamp? touring? sunmori?”
“Tidak ada.”
Laki-laki yang datang dengan peralatan bengkel itu merespon secukupnya. Membuat perempuan dengan style tomboy itu berdecak.
“Dan juga nggak main ke basecamp?”
“Kamu kesini untuk membenarkan mobil, bukan untuk mencari Dan.”
“Elah, gue nanya doang, Wa.”
Dewandaru atau akrab disapa Daru atau Dewa itu menatap lawan bicaranya datar. Ia sudah tahu betul tabiat teman dekatnya yang berjenis kelamin perempuan itu. Ia memang selalu mencari keberadaan Dan jika dipanggil ke basecamp. Oleh karena itu Daru biasa memanggilnya ketika kondisi basecamp sepi. Seperti saat ini.
“Dan kemungkinan besar saat ini sedang bersama Duchess.”
“Seberapa besar kemungkinan itu?”
“Sembilan puluh Sembilan koma Sembilan persen.”
Perempuan berparas cantik walaupun suka tampil dengan style tomboy itu berdecak sebal. “Itu mah bukan kemungkinan lagi, Wa. Tapi pasti.” Ia kemudian mengambil peralatan bengkel yang dibawa Daru dengan kesal. Hendak melakukan pekerjaannya sebelum semakin bad mood.
“Kamu marah?” kata Daru seraya menahan gerakan lawan bicaranya. Ditatapnya langsung sepasang netra rusa milik lawan bicaranya.
“Lagian kamu nggak bisa gitu bohong sedikit. Bilang Dan pergi kemana kek.”
Daru tersebut tipis, sangat-sangat tipis. “Masih belum bisa move on?”
“Dih apaan move on? Lo lupa gue cuma secret adrimer nya Dan?”
“Hm.”
“Hm doang respon lo, Wa? Nyesek deh gue. Segitu malangnya nasib percintaan gue.”
Sambil menatap Daru sedih, ia mengerucutkan bibirnya supaya terlihat seperti perempuan kebanyakan saat merajuk. Padahal ia sendiri tidak biasa melakukan itu.
Jikalau perempuan lain yang melakukan hal tersebut, pasti akan menggemaskan di mata Daru. Namun, beda jika temannya yang satu ini. Rasanya, aneh saja gitu. Cewek tomboy yang punya bengkel sendiri dan suka nge-drive, tiba-tiba bersikap sangat menggemaskan.
“Jangan begitu, tidak lucu.”
“Heh?” perempuan pecinta motor GP itu mengerjap. “Lo beneran nggak bisa bohong dikit aja ya, Wa?”
“Hmm?” Daru menautkan kening.
“Coba lo bilang gue cantik, Wa.”
“Kamu cantik,” kata Daru tanpa ekspresi. Membuat perempuan di hadapannya sebal setengah mati.
Ia kemudian menarik tengkuk bagian belakang Daru agar wajah mereka mendekat. “Sekarang lihat baik-baik. Gue cantik nggak? kata temen-temen bokap, gue itu cantik pake banget. Malah mereka nyaranin gue ikut kontes kecantikan.”
“….”
“Jawab dong. Kok lo malah diem aja, Wa? Atau jangan-jangan lo…”
Cup
“Diem, bisa? Kamu bicara terus, jadi berkurang cantiknya karena berisik.” Kalimat tersebut Daru ucapkan setelah menjatuhkan satu kecupan singkat di kening lawan bicaranya. Plus mengacak rambut kecoklatan si empunya.
Walaupun rambut si perempuan yang diacak-acak, tetapi siapa sangka yang berantakan malah hatinya. Apalagi setelah itu Daru melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan ia yang masih mematung dengan denyut jantung yang bertalu-talu.
“Sial*n lo, Wa. Sekarang bukan lagi Dan yang bikin hati gue berantakan, tapi lo!”
💐💐
TBC
Tanggerang 03-09-22
__ADS_1