
DIM. 19
“Siapa yang bertamu di weekend begini?”
Laki-laki tampan dengan kulit yang sangat putih bersih itu bergumam kecil seraya meloloskan helm full face dari kepalanya. Ia masih duduk di atas motor Yamaha YZF-R1M berwarna hitam miliknya yang sudah terparkir tepat di depan pintu utama kediaman Xander. Siang ini ia datang ke sini karena ada beberapa salinan file yang ingin ia minta dari si ketua OSIS SMA Wijaya. Namun, si Ketos sulit dihubungi. Bahkan nomer teleponnya juga malah sempat tidak aktif. Alhasil ia datang ke sini sendiri, agar tidak perlu banyak buang-buang waktu.
Laki-laki tampan itu siang ini mengenakan jeans hitam dengan atasan kaos polos berwarna hitam yang dilapisi jaket denim berwarna hitam dengan aksesoris rantai yang membuat kadar ketampanannya naik berkali-kali lipat.
Baru saja menepikan motor, ia menyadari jika sepertinya tuan rumah sedang kedatangan tamu. Pasalnya ada dua kendaraan roda empat yang sepertinya bukan milik anggota keluarga Xander. Satu kendaraan roda empat mewah dengan plat nomer yang kode belakanganya WYT ia yakini milik keluarga Widyatama. Pasalnya ia kerap melihat kendaraan tersebut di garasi kediaman Widyatama.
Sedangkan kendaraan dengan plat nomer yang kode depannya F tidak ia kenali. Mungkin memang sedang ada yang bertamu dari luar kota. Tak mau ambil pusing, darah daging dari Dean Wijaya itu memilih turun dari motor gede kesayangannya. Ia kemudian mencoba menghubungi tuan muda di kediaman ini sekali lagi. Akan tetapi, hasilnya lagi-lagi nihil. Hanya terdengar suara operator yang menyahut.
“Ya sudah, aku masuk saja,” gumamnya lirih, seraya mencabut kunci motor miliknya. Lantas dimasukkan ke dalam saku celana.
Baru saja berjalan beberapa langkah meninggalkan kendaraan roda dua tersebut, pintu utama kediaman Xander terbuka dari dalam. Saat henda buka suara untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata sapa, ia malah menemukan dua perempuan asing yang baru saja keluar dengan seorang laki-laki yang asing di matanya pula.
“Ah, maaf.”
Salah satu perempuan yang tidak sengaja menyenggol bahu Dian terdengar mengeluarkan suara kecil. Semacam cicitan, namun Dian masih bisa mendengarnya.
“Hm, tidak masalah,” ujar Dian enteng seraya kembali melanjutkan langkah guna menggapai pintu utama kediaman Xander yang kini terbuka lebar.
Seolah-olah menyambut kehadiran Rahardian Adiwangsa Wijaya dengan penuh suka cita. Tanpa permisi, Dian langsung masuk begitu saja. Toh, nyonya rumah di kediaman ini sudah Dian anggap seperti ibu sendiri, begitu pun sebaliknya. Bukan hal aneh jika Dian bolak-balik datang ke kediaman Xander.
“Capella, kamu sedang lihatin apa? aya jalan.”
Estrella menengok ke arah belakang, arah yang sama dengan arah yang tengah ditatap penuh minat oleh sang putri. Sedang melihat apa coba?
“Kenapa kamu diam saja? Ayo kita pulang,” ajak Estrella seraya meraih tangan sang putri agar cepat-cepat menyusul sang suami yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Suaminya itu memang sedang marah. Estrella harus pandai memutar otak guna menghilangkan amarah sang suami.
Sedangkan sang putri yang berjalan di sisinya, sibuk mengurus isi pikiran sendiri.
‘Apa barusan adalah ….pangeran lain, selain kak Dan? tampan sekali!’ batin putri Estrella di dalam hati.
Ketampanan laki-laki si pemilik nama yang memiliki arti anak mulia yang membawa kemakmuran, kesejahteraan bagi dirinya, orang tuanya, dan orang lain itu ternyata berhasil menarik perhatian Capella.
💐💐
“Duchess masih butuh istirahat. Dia belum mau keluar,” kata Dan yang baru saja menerima salep dari sang Mère.
“Mommy, daddy, Mère sama Perè tenang saja. Percayakan Duchess sama Dan. Dan akan mencoba menghibur Duchess.”
“Iya, mommy percaya sama Dan. Mommy harap Duchess tidak terlalu lama larut dalam kesedihan.”
“Hm.”
“Kalau ada apa-apa, panggil kami. Mommy sama daddy akan menunggu di bawah bersama Mère dan Perè-nya Dan.”
Dan mengangguk sebagai jawaban. Sebelum kembali masuk ke dalam kamar, ia menyempatkan diri untuk tersenyum kecil guna meyakinkan para orang tua. “Duchess pasti akan segera kembali ceria seperti semula.”
__ADS_1
Setelah masuk dan menutup pintu, laki-laki rupawan itu berbalik badan seraya mengembangkan senyum. “See, Mommy, daddy, Mère sama Perè mengkhawatirkan kamu. Jadi, kenapa kamu masih belum mau bertemu mereka?”
“Nanti,” jawab gadis cantik yang tengah duduk di tengah-tengah ranjang king size milik si pemilik kamar.
Dan berjalan mendekat, lalu ikut bergabung dengan sang kekasih. “Takut?”
Gadis cantik itu menggelengkan kepala.
“And then?”
“Mereka masih ada di bawah?”
“Mereka siapa hm?”
“Ibunya ….Capella.”
“Tidak. Mereka sudah pulang ke habitatnya,” kata Dan asal seraya membuka tutup salep yang tadi ia bawa.
“Kak Dan bicaranya kasar.”
“Tidak masalah, selagi itu bukan ditunjukkan untuk kamu.”
“Tapi Duchess nggak suka.”
“Ok.”
“Ok apa?”
“Aku akan memperbaiki tata cara bicaraku menggunakan bahasa yang lebih baik.”
Gadis cantik itu tersenyum kecil mendengar itu. “Kak Dan penurut, kayak Emilia. Duchess suka.”
Duchess mengangguk seraya tersenyum. “Why no’t? fish it so cute.”
“I’am not.”
“Yes, you too.”
“I’am not.”
Dan menyudahi kalimatnya dengan tangan yang bergerak dengan lembut membawa wajah sang kekasih untuk mendekat. “Aku oleskan salep dulu.”
“Hm?”
“Sayang....”
“A-pa?” Duchess tergagap seketika karena dipanggil 'sayang' sama Dan.
“Sayang ....sekali karena pipi ini harus memar karena tamparan,” kata Dan yang sedang mengoleskan salep dengan telaten di pipi Duchess. “Kenapa tiba-tiba warnanya jadi semakin merah?”
“A-panya?” kikuk Duchess.
Dan tertawa kecil melihat sang kekasih yang salah tingkah. Sembari menutup salep yang telah selesai digunakan, ia lantas menatap Duchess yang tampak kebingungan.
“Sudah tidak sedih lagi?”
__ADS_1
“Duchess nggak sedih, kok. Cuma ….kaget.”
“Shock?”
“Maybe. Soalnya Duchess nggak pernah dipukul,” kata Duchess dengan suara kecil. Ia memang agak shock karena tiba-tiba ditampar, padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun.
“Itu semua karena kesalahanku.”
“Kenapa jadi kakak yang salah?”
“Karena aku tidak mengusir perempuan itu dengan tegas.”
“Capella?” tebak Duchess.
“Jangan sebut-sebut namanya,” kata Dan, tidak suka. “Sudah tidak sakit lagi, kan?” ia kemudian menatap pipi Duchess yang masih agak berwarna merah, namun sudah agak samar.
Duchess memberikan gelengan kepala sebagai jawaban. “Udah nggak sakit lagi, kok.”
“Baguslah kalau begitu.” Dan tersenyum tipis seraya mengelus surai hitam milik sang kekasih penuh kelembutan. Tadi ia sempat akan hilang kendali saat melihat Duchess kelihatan sangat shock.
Berani sekali perempuan asing itu menyakiti sang kekasih hati. Dan saja sangat mewanti-wanti hal seperti itu terjadi. Eh, ia malah kecolongan di saat seperti ini. Dan merasa telah jadi laki-laki tidak sejati.
“Kak.”
“Hm?”
“Katanya Capella mau ambil kakak dari Duchess.”
“Lalu? Kamu takut?” Dan bertanya dengan satu alis menaik.
“Sedikit,” jawab Duchess seraya menunduk.”Tapi Duchess sempat menjawab dengan mantap, kalau kak Dan tidak akan pernah berpaling ke lain hati. Tapi, Duchess cuma manusia biasa. Ada Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati. Sekarang mungkin kita bisa seperti ini, kedepannya siapa yang tahu jika kita berp—“
Cup!
“Hukuman karena bicara sembarangan,” kata Dan setelah menjatuhkan satu kecupan singkat di kening Duchess. Sampai-sampai si empunya mematung dibuatnya. Speechless.
“Dengar, jangan pernah berbicara sembarangan. Setiap ucapan adalah do’a. Apa kamu mau kita tidak berjodoh dan berpisah?”
Duchess menggelengkan kepala lagi. Ia tidak mau hal itu terjadi.
“Makanya jangan sembarangan bicara,” ujar Dan seraya membawa Duchess ke dalam pelukan. “Aku tidak suka. Membayangkan saja aku tidak mau.”
“Duchess juga nggak mau. Mungkin semua laki-laki di luar sana sama saja, tapi ....kalau kak Dan harus SAMA Duchess.”
Dan tersenyum kecil di balik punggung sang kekasih. “Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama seperti mommy dan daddy, atau Perè dan Mère, kita pasti akan bersama walau seberat apapun rintangannya.”
“Kak Dan janji, ya?”
“Hm. Tentu saja. Kecuali, jika maut yang telah Tuhan siapkan untuk menjadi pemisah atau pemersatu kita di kemudian hari.”
💐💐
TBC
NEXT??
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE JUGA 💙
Sukabumi 22-07-22