
DIM. 39
“Maaf, Duchess buat semua orang khawatir. Duchess salah karena ceroboh. Duchess tidak hati-hati.”
Tiga kalimat dalam sekali ucap. Jujur, Dan lebih senang mendengar sang tunangan mengatakan kalimat lain, ketimbang tiga kalimat itu. Karena saat berkata demikian, wajah cantik sang tunangan tampak dihiasi raut sedih.
“Jadikan ini sebagai pelajaran. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati.”
“Iya, kak.”
“Sekarang habiskan makanannya, lalu minum obat. Kamu harus banyak istirahat setelah minum obat.”
Dan yang irit bicara, selalu tidak merasa keberatan saat harus bicara panjang kali lebar jika berhadapan dengan sang kekasih.
Suhu tubuh Duchess memang berangsur-angsur menurun setelah mendapatkan penanganan yang tepat dari tim medis. Satu jam setelah dirawat secara intensif, Duchess sudah kembali mendapatkan kesadarannya. Hal itu tentu membuat para orang tua, termasuk Dan merasa lega.
Saat ini para orang tua tengah berada di luar, karena ada sesuatu yang harus mereka urus. Menyisakan Dan yang masih setia menjaga Duchess. Elang dan Daru baru pamit pulang, karena mereka juga harus mengurus sisa kekacauan yang terjadi di basecamp.
“Sudah, kak.”
Dan menatap mangkuk berisi bubur yang disodorkan Duchess ke arahnya. isi di dalam mangkuk itu masih ada banyak, namun Dan memaklumi. Duchess pasti tidak berselera untuk makan.
“Sekarang minum obat.”
Dan menyodorkan segelas air putih dan dua butir obat berdiameter bulat. Duchess menerimanya tanpa kata. Ia kemudian meletakkan dua butir obat itu di dalam mulut—di atas lidah lebih tepatnya—kemudian bergegas menenggak air putih. Dan yang melihat cara sang tunangan meminum obat hanya tersenyum tipis. Sebuah kemajuan bisa melihat Duchess minum obat butir tanpa banyak drama. Dulu sekali, Duchess tidak dapat minum obat jika tidak berbentuk sirup atau serbuk. Sekarang Duchess sudah mulai terbiasa minum obat butir, pil, atau kapsul.
“Tadi ada coach Dhisty?”
“Hm.”
“Tengok Duchess?”
“Hm.”
“Terus coach Dhisty ada bilang apa sama mommy? coach Dhisty pasti marah, ya? Soalnya Duchess sakit, padahal job desk Duchess padat.”
“Jangan terlalu dipikirkan. Coach Dhisty datang ke sini untuk melihat kondisi kamu,” kata Dan menenangkan.
Tadi coach Duchess yang bernama Dhisty memang datang menjenguk. Walaupun sebentar, perempuan dengan gaya rambut choppier pendek sebatas bahu seperti gaya rambut Taeyeon SNSD itu tetap menyempatkan waktu untuk mampir. Bagaimana pun juga Duchess adalah anak asuhnya. Coach Dhisty berkontribusi sepenuhnya pada perkembangan karir Duchess di dunia modelling. Oleh karena itu, Duchess khawatir jika telah membuat coach nya kesulitan karena dirinya.
Dari coach Dhisty, Dan juga tahu jika Duchess harus selalu bugar dan fit supaya bentuk tubuh idealnya tetap terjaga. Apalagi tahun depan Duchess akan mengikuti sebuah ajang modelling. Untuk itu, Duchess tentu harus mempersiapkan banyak hal. Termasuk tubuh yang merupakan aset utama bagi seorang model. Model bukanlah profesi yang mudah dilakoni, mengingat banyak sekali perihal yang harus diperhatikan juga dijaga. Seorang model juga tidak boleh sembarangan makan, karena pola makan yang ia konsumsi sehari-hari harus diatur dengan baik. Belakangan coach Dhisty mulai mendapati jika Duchess mulai sering ‘nakal’ karena jajan makanan yang tidak healthy.
__ADS_1
“Lebih baik sekarang kamu istirahat. Besok….”
Kalimat Dan tidak sampai selesai terucap, karena tiba-tiba pintu terbuka dari luar dengan gerakan agak bar-bar.
“Kak Dian?”
Si empunya nama yang tengah mengatur napas itu berdiri di ambang pintu dengan tatapan terarah pada Duchess. Laki-laki berkulit sangat putih itu kemudian segera melangkah masuk. Mendekat ke bed pasien yang ditempati oleh Duchess dengan Dan yang setia menemani di samping kiri bed rumah sakit.
“Kenapa bisa seperti ini?”
Duchess tersenyum tipis seraya. Wajah cantiknya masih agak pucat, membuat Dian merasa sedih karena jadi orang terakhir yang mengetahui kondisinya.
“Duchess demam biasa, kak.”
Dian menatap Duchess dalam. Ia masih tidak menyangka jika Duchess yang ia kenal sangat tangguh, kini berbaring di atas bed pasien. Jantung Dian terasa hampir berhenti berdenyut saat membaca pesan singkat yang dikirimkan Elang. Oleh karena itu, Dian langsung tancap gas ke rumah sakit yang telah di-share lock oleh Elang. Sialnya, di perjalanan ia harus terjebak macet yang cukup parah. Hampir satu jam Dian terjebak macet. Ia baru bisa bebas dari kepadatan para pengguna jalan setelah memilih jalur alternatif.
“Demam?”
Dian mengangkat tangan, hendak menyentuh kening Duchess. Namun, ia sadar akan keberadaan seseorang. Ia pun memilih menarik lagi tangannya, lantas berdeham kecil.
“Tadi saat aku berkunjung ke basecamp, kamu sepertinya baik-baik saja.” Dian berkata seraya menatap Duchess lagi. Walaupun tidak sempat bertemu, ia yakin jika Duchess baik-baik saja beberapa jam yang lalu. Atau, ada yang Dian lewatkan sebelumnya?
“Duchess tiba-tiba terserang demam. Awalnya suhu tubuh Duchess tidak terlalu tinggi. Semakin ke sin semakin tinggi, ” tutur Dan.
“Lain kali lebih perhatikan lagi kondisi kesehatan kamu. Kamu adalah seorang publick figure. Kamu harus pandai menjaga kondisi tubuh kamus upaya terus prima,” pesan Dian seraya tersenyum kecil.
‘Dia pikir aku tidak memperhatikan tunangannku dengan baik?’ batin Dan di dalam hati.
“Iya, kak. Kedepannya insiden seperti ini akan jadi pelajaran buat Duchess.”
“Good girls,” puji Dian. “Mommy sama daddy sudah dihubungi?” tanyanya kemudian.
“Sudah. Mommy sama daddy ada di luar kok.
Dian tampak mengernyitkan dahi. “Di depan tidak ada siapa-siapa, termasuk mommy dan daddy.”
“Eh, memang iya?”
“Hm.”
“Para orang tua sedang ada dia rest area,” ujar Dan memberithu. “Mereka sebentar lagi pasti datang.”
Dian menoleh, melemparkan pandangan pada Dan untuk sejenak. Namun, seperkian detik berkutnya ia langsung membuat wajah ke sembarang arah. Mood Dian sedang tidak baik, jangan sampai terpancing emosi.
__ADS_1
“Eh, ada Dian juga?”
Mereka bertiga menoleh ke arah datangnya suara. Di ambang pintu, Dewita berdiri sambil menjinjing sebuah paper bag berukuran mendium. “Kapan datang, nak?”
“Barusan, mom.”
Dian buru-buru mendekati Dewita untu menyalami perempaun itu. disambut baik oleh Dewita tentunya.
“Tadi mommy sempat berpikir, tumben Dian nggak ada di saat Duchess sakit.”
“Maaf, mom.”
“Loh, kenapa harus minta maaf? Mommy yakin kamu punya alasan tersendiri untuk itu.”
Dian mengangguk dengan gerakan kecil. Jika bukan karena desakan kedua orang tuanya, ia tidak mungkin pulang cepat dari basecamp.
“Lebih baik sekarang Dan sama Dian makan dulu. Kalian berdua belum makan, ‘kan?”
“Tidak perlu repot-repot, mom. tadi Dian sudah makan—“
“Nggak repot, kok. Lagipula ini masakan Mère-nya Dan. Sayang loh kalau nggak dimakan. Mommy barusan cuma bantu bawa.”
Dian terdiam. Begitu pula Dan. Dewita yang melihat ekspresi keduanya tersenyum tipis seraya beranjak ke arah meja di depan sofa. Ia kemudian mengeluarkan beberapa Tupperware dari dalam paper bag. Tadi Ev—Mère nya Dan memang sempat mendapatkan kiriman makanan dari rumah—mengingat Ev tengah menyiapkan makan malam saat dihubungi oleh Elang.
“Dan katanya belum makan, jadi Mère bawakan.” Dewita berucap setelah membuka Tupperware. Semerbar aroma lezat langsung menyeruak ke dalam indra penciuman. “Sini, sini. Dan sama Dian makan dulu. Lagipula sekarang Duchess sudah baik-baik saja.”
Dewita dengan segera membawa Dan dan Dian ke arah sofa. Medudukkan keduanya bersisian, supaya mau makan masakan yang sudah susah payah Ev masak. Dewita tahu Dan dan Dian tidak terlalu akrab, namun ia berusaha membuat mereka akrab. Dewita cuma tidak mau jika apa yang ia lihat dalam mimpi mengenai para orang tua kedua laki-laki itu, terulang kembali di dunia nyata. Akan rumit ceritanya. Apalagi di dunia nyata, posisi Duchess bisa sana persis seperti posisi Ev di dalam mimpi.
Haduh, Dewita tidak mau semua itu terjadi. Apalagi ada bibit-bibit pelakor macam Capella yang sudah menunjukkan eksistensinya.
“Ayok, ayok, makan dulu. Dan sama Dian harus habiskan masakan Mère, supaya Mère tidak sedih.”
Dan dan Dian mau tidak mau mengangguk sebagai persetujuan. Bagi keduanya, membuat Mère Ev sedih adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mengingat Dan maupun Dian sama-sama menyayangi perempuan paruh baya tersebut.
“Gimana, enak?”
Dian yang baru saja mengunyah suapan pertamanya, langsung mengangguk sebagai jawaban.
‘Ini enak,’ batin Dian di dalam hati. Masakan Ev memang selalu terasa enak dan cocok di lidahnya. Dan sebenarnya sangat beruntung lahir dari rahim Ev, karena terkadang Dian ….merasa iri kepadanya.
💐💐
Sukabumi 14-08-22
__ADS_1