Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 56


__ADS_3

DIM. 56


“Rick, lo udah sediain semua minuman yang gue minta, ‘kan?”


Laki-laki bernama Derick itu mengangguk. Posisinya saat ini tengah menata botol-botol minuman beralkohol, mulai dari beer, wine, cocktail, wiski, vodka, tequila, brandy, rum, serta teman-temannya. Ia juga menyiapkan beberapa bungkus snack pilus dan kacang kulit, sesuai permintaan.


“Lo memangnya ada rencana apaan sih? Pakai acara alkohol diganti semua pake jus apel sama sobat-sobatnya?”


Laki-laki beranting-anting yang malam ini tampil manly dalam outfit edgy perpaduan antara T-shirt putih sebagai inner, black leather jacket, serta ripped jeans itu tertawa kecil. Untuk menunjang penampilan, tidak ketinggalan pula baseball cap hitam yang menutupi kepala. Ia juga membawa beanie berwarna hitam untuk menggantikan baseball cap hitam yang saat ini ia gunakan.


“Jangan-jangan lo ada acara sama anak Playground, ya?” canda Derick yang malam ini juga tampil manly, memadukan antara oversized T-shirt serta black cargo pants. Sederhana memang, namun ditunjang dengan lukisan tinta permanen di lengan kirinya, membuat tampilan Derick juga tidak kalah sexy.


“Bukan, Njirr. Gila aja gue bawa anak Playground ke tempat ginian,” dengus lawan bicaranya. “Gue mau bawa anak-anak, tapi no alcohol buat hari ini.”


“Maksudnya gimana? Gue nggak ngerti? Bukannya anak-anak malah suka minum, ya? Beer aja udah jadi minuman sehari-hari mereka.”


“Ini gue kebanyakan bawa anak alim, Njirr. Ada big boss-nya juga.”


“Maksud lo apaan dah. Sumpah, gue nggak ngerti!” seru Derick seraya menyimpan beberapa gelas sloki di depan Elang.


“Dan bakal ikut join.”


“Owh, pantesan no alcohol.” Derick mengangguk-anggukan kepala. Ia sekarang paham maksud dari tujuan Elang meniadakan alkohol, serta menggantinya dengan minuman sehat seperti jus apel yang sekilas mirip minuman beralkohol. “Terus yang ini gimana?”


Derick menunjuk satu botol bening berisi alkohol asli, namun kadarnya tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya sekitar 30 sampai 40 persen.


“Itu biarin. Soalnya gue butuh itu buat kelancaran rencana gue.”


Derick tampak menautkan kening kebingungan. Elang memang meminta minuman non alcohol, tetapi meminta satu minuman beralkohol yang sengaja dipisahkan. Lagipula tempat Derick bukan tempat hiburan pada umumnya yang selalu berkonotasi negatif. Ia memang menjual beberapa jenis minuman yang mengandung alkohol, namun itu pun sudah mendapatkan retribusi izin edar penjualan minuman beralkohol dari pihak yang terkait.


Walaupun pada beberapa ulasan di situs pencarian popular, tempat ini dikatakan sebagai tempat yang menyediakan hiburan bagi pecinta dunia malam, plus para pecinta minuman beralkohol. Kenyataanya tempat yang awalnya milik kakak sulung Derick itu lebih cenderung ke tempat kongkow-kongkow anak muda zaman sekarang. Meraka yang datang ke sana juga harus melewati pemeriksaan, misalnya soal legalitas usia. Tidak sembarangan orang dapat izin masuk ke tempat Derick. Tidak sembarangan pula mereka bisa memesan di tempat tersebut.


Biasanya Derick akan menyuruh seseorang yang kerjanya mirip GRO alias Guest Realtion Officer jika di kelab malam—salah satu jabatan yang kerjanya meng-handle tamu VIP atau sebagai perantara antara tamu, terutama tamu VIP dengan pihak kelab malam—untuk memberikan ulasan soal minuman beralkohol yang tidak boleh sembarangan di pesan.


“Apa tujuanmu sebenarnya?”


“Dih, dateng-deteng bukannya salam, malah langsung nanya. Kaget gue, Dan.”

__ADS_1


Si pemilik nama menatap lawan bicaranya tak peduli. Malam ini ia tampil menawan dalam balutan outfit kasual berupa T-shirt hitam yang dipadukan dengan bawahan jeans regular berwarna biru, ditunjang dengan denim jacket serta sneakers. Tidak lupa dengan black baseball cap yang menutupi sebagian wajahnya.


“Lagian lo datang lebih cepat dari dugaan gue, Dan. Anak-anak juga belum dateng.”


Dan tidak menggubris. Ia memang datang lebih cepat dari perkiraan, karena ingin tahu apa sebenarnya rencana Elang.


“Lo berdua ngobrol dulu deh, gue mau ke belakang,” kata Derick seraya menepuk bahu Elang sebelum berlalu. Meninggalkan Dan serta Elang.


“Apa rencana lo?” Dan kembali bertanya secara to the point.


“Rencana gue?” Elang menyeringai tipis. “Buat cewek medusa itu sadar tempatnya di mana.”


Dan mengernyitkan kening mendengar ucapan Elang.


“Gue bakal buat dia lihat pergaulan bebas gue. Dengan begini, dia pasti bakal mikir dua kali kalau masih mau deketin gue.” Elang berujar dengan mantap.


Elang yakin rencananya akan berhasil. Namun, kepercayaan itu hanya bertahan sampai dua jam saja. Selebihnya, saat planning yang telah disusun matang-matang masuk tahap eksekusi, Elang malah mendapatkan surprise dari target utama. And then, ia sudah mulai harus memutar otak.


“Capella ikut gabung, boleh? Soalnya Capella mau bertemu seseorang. Kata Kak Elang, dia akan datang ke sini bukan?”


Rencana Elang gagal total, karena ternyata target utama tidak mudah masuk ke dalam perangkap. Lihatlah, sekarang gadis desa itu dengan keberanian yang bukan kaleng-kaleng ikut bergabung bersama Elang serta yang lain. Jika cewek polos, lugu, serta normal di luar sana, sebagian besar pasti memilih say no.


“Kita nggak nyediain minuman biasa di sini, lo nggak papa?” tanya Elang, masih mencoba tenang. “Kita ….cuma ada minuman beralkohol.”


“Hmm ….Capella belum pernah minum minuman beralkohol, Kak.”


“Makanya, lo lebih baik pulang. Gue nggak mau di-cap buruk, karena bawa pengaruh negatif dari pergaulan gue.”


“Nggak kok. Selama Capella bisa jaga diri kenapa enggak?”


‘Double gobl*k lo!’ maki Elang di dalam hati. Ia mulai kelimpungan karena rancana tidak sesuai perkiraan.


“Capella, lebih baik kita pulang. Ayah aku pasti bakal marah kalau tahu kita datang ke tempat seperti ini,” bisik Siha. Ia tampak tidak nyaman duduk di antara teman-teman Elang. Ditambah lagi Siha sudah tidak tahan dengan aroma-aroma yang tercium di sekitarnya. Aroma rokok elektronik lebih tepatnya.


“Sebentar lagi. Capella nggak enak sama Kak Elang kalau langsung pulang.”


“Pulang aja. Lagian keberadaan lo nggak dibutuhkan sama sekali di sini,” kata Elang. Memancing etensi Capella lagi.

__ADS_1


“Begitu, ya?” Capella tersenyum kecil. “Jadi, selama ini Kakak perhatian ke Capella cuma bualan?”


“Lah, kapan gue perhatian ke lo? Gue nggak munafik, gue gampang tertarik ke cewek cantik. Tapi, perlu lo garis bawahi, gue juga gampang bosan.”


Capella masih tampak tenang dalam duduknya. Ekspresi tenang itulah yang malah membuat Elang mulai merasa risau. Elang mending battle dengan orang yang ekspresif dan banyak bicara, ketimbang battle batin dengan lawan bicara yang seperti Capella. Please deh, toxic people macam Capella ini memang kerap kali sulit dimengerti.


“Capella nggak peduli.”


‘What the hell is that?’ batin Elang mengumpat.


“Capella ke sini karena mau bertemu Kak Dan.” Capella berkata dengan nada suara yang berani.


Elang tersenyum tipis. “Dan, ya?”


“Iya. Capella mau bertemu Kak Dan.”


“Maaf banget nih, tapi Dan nggak ada di—“


“Kenapa nyari gue?” potong suara suara deep bass khas itu tiba-tiba terdengar.


Elang sampai membelalakkan mata saat Dan akhirnya keluar dari tempat persembunyian. Padahal, sejak awal Dan tidak berniat untuk ikut campur dalam rencana Elang. Bukan ini perjanjian mereka di awal?!


“Mau lo apa sama gue?” Dan kembali bersuara dengan aura yang begitu mengintimidasi. Membuat atmosfir di sekitar jadi membeku seketika. “Bilang, bukan diem. Lo nggak bisu ‘kan?”


Gadis itu mendongkrak. “Kalau Capella bilang, memang Kak Dan janji untuk menyanggupi?”


Dan menyeringai tipis. “Soal sanggup atau nggak, itu keputusan gue.” Ia memalingkan wajah sejenak ke arah lain. kemudian kembali berkata dengan seringai yang kian tergambar jelas. “Sebagai orang yang meminta, lo nggak usah ngelunjak. Orang yang minta-minta itu nggak punya hak buat nuntut ke si pemberi. Ngerti?”


💐💐


TBC


NEXT??


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW, AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON & TONTON IKLAN JUGA SAMPAI SELESAI 💙


Tanggerang 19-09-22

__ADS_1


__ADS_2