Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 34


__ADS_3

DIM. 34



“Ayo minum ini dulu, Greta.”


“Nggak nyaman, kak,” rintihan masih terdengar dari Duchess yang sudah berendam di dalam bathtub puluhan menit lamanya. Keran air juga tidak dibiarkan mati, supaya air hangat terus mengalir.


Saking lamanya berendam, tangan Duchess sampai keriput. Tubuhnya sudah menggigil dengan gigi bergemeletuk. Dan yang sejak tadi setia menemani tentu merasa jadi laki-laki tidak berguna karena tidak bisa membantu apa-apa lagi. Ia sudah memastikan Duchess minum air kelapa muda yang Elang bawa. Namun, sejauh ini masih belum ada efek apapun yang terlihat. Duchess masih tampak tersiksa akibat efek permen cinta yang entah berantah sebesar apa dosisnya.


“Sebentar lagi,” lirih Dan seraya mengecup pucuk kepala Duchess. “Sebentar lagi, Greta.”


“Kak….”


“Iya, ada apa Greta?”


“Airnya dingin,” kata Duchess dengan suara bergetar. Tubuh gadis cantik itu sudah mulai menggigil.


Dan mengeram lirih. Ia tidak bisa melihat Duchess tersiksa. Rasanya menyakitkan.


“Kita pindah,” ujar Dan kemudian seraya mengangkat tubuh lemah Duchess. Membawanya ke dalam bilik shower.


Dan menurunkan Duchess, menggunakan satu tangan untuk memeluk pinggang ramping sang tunangan sebagai penyangga. Sedangkan tangan yang lain menyalakan shower. Mereka berdua berdiri tepat di bawah shower yang mulai menghujani mereka dengan air hangat. Dan tidak peduli dengan seragam sekolahnya, yang terpenting saat ini adalah tubuh Duchess banyak mengeluarkan keringat supaya efek ‘permen cinta’ dalam tubuh bisa keluar kelenjar keringat.


“Bertahanlah. Kamu pasti bisa. Kamu adalah gadis paling kuat yang pernah aku kenal, Greta,” bisik Dan. “Bertahan. Aku ada di sini untuk kamu. Kamu harus bisa bertahan, jangan sampai hewan liar dalam tubuhku yang turun tangan untuk membantu kamu.”


💐💐


“Ini udah hampir sejam mereka ngurung di dalem kamar. Kira-kira kondisi Duchess sekarang gimana, ya?” lirih Elang seraya melirik lawan bicaranya yang duduk di seberang. “Gue khawatir, penasaran juga.”


“Entahlah. Ini pasti berat untuk tuan muda.”


“Berat apanya? Dan bisa aja keenakan kalau—“


“Keputusan yang berat maksudnya,” potong Daru. “Lagipula bukan sehari atau dua hari kita mengenal tuan muda Palacidio Daniel Adhitama Xander. Apa mungkin dia akan senang saat dihadapkan dengan pilihan sulit seperti saat ini?”


Elang kontan bungkam. Perkataan Daru ada benarnya juga. Dan tidak mungkin dengan senang hati merusak Duchess. Toh, ia yang selama ini paling posesif dan protektif menjaga Duchess. Selain itu, Dan juga sudah menanggung banyak kepercayaan dari orang-orang terdekat mereka untuk menjaga Duchess. Jika Dan memilih merusak Duchess, itu berarti terjadi karena Dan dihadapkan dengan dua pilihan. Pertama, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyentuh Duchess. Kedua, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena kondisi tubuhnya tidak memungkinkan, misalnya ia diberi obat perangsang dosis tinggi oleh oknum-oknum tertentu untuk menjebak Dan.


“Jangan asal bicara. Saat ini Dan pasti sedang berusaha semaksimal mungkin tanpa harus merusak Duchess. Garis bawahi itu.”


Elang mengangguk sebagai respon dari ucapan laki-laki berkacamata di seberangnya. Sudah hampir satu jam, dan belum ada tanda-tanda Dan atau Duchess akan keluar dari dalam kamar. Beluma ada tanda-tanda pula jika Duchess sudah terbebas dari efek permen cinta. Elang mulai gelisah. Ia juga tidak melepaskan handphone barang sedetik, karena takut kehilangan benda elektronik itu di saat harus menelpon ornag tua Dan maupun Duchess.


“Anak-anak kenapa dilarang masuk?”


“Dian!” kaget Elang saat melihat laki-laki dengan hoodie berwarna hitam yang dipadukan dengan skinny jeans hitam, sneakers hitam serta headband yang melingkar di kepala itu muncul dari arah pintu utama.

__ADS_1


“Anak-anak lagi dihukum Dan?” tanyanya lagi, karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia sempat kaget melihat gerombolan anak-anak yang berkumpul di depan basecamp.


“Bukan,” sahut Daru. “Dan memerintahkan mereka untuk menunggu di depan, karena….”


“Karena ditraktir minum es kelapa muda,” serobot Elang. “Lo lihat sendiri, kan, ada tukang es kelapa mangkir di depan basecamp?”


Dian menatap Elang dengan mata memincing.


“Itu ….tukang es kelapa dipanggil sama Dan. Anak-anak boleh pesan es kelapa sesuka hati, gratis, tis, tis. Tanpa dipungut biaya sepeser pun,” tambah Elang seraya nyengir kuda.


Elang mengerutkan kening dengan rasa curiga yang kian bertambah. Ia kemudian melirik Daru, mencoba menggali informasi dari sudut pandang lain.


“Hm. Bisa dibilang begitu,” kata Daru seraya menyentuh frame kacamata mliknya.


Dian yang datang dengan membawa satu cup berisi protein milkshake untuk Duchess menatap keduanya bergantian. Ia rasa ada kejanggalan dari kesamaan mereka dalam menjawab.


“Duchess mana?” tanyanya kemudian, tak mau ambil pusing.


“Atas.”


“Pulang.”


Elang dan Daru menjawab bersamaan, namun dengan jawaban yang berbeda. Hal itu kontan membuat Dian semakin curiga. “Ada apa? ada yang coba kalian sembunyikan?”


“Nggak ada,” kata Elang, menyerukan kebohongan ke sekian. “Duchess ada kok, sama Dan. Lagi pacaran, nggak bisa diganggu gugat.”


Elang gelagapan. Ia kemudian melirik Daru, meminta bantuan.


“Di atas. Kemungkinan sedang belajar bersama Dan, jadi Dan minta anak-anak di luar dulu supaya tidak menganggu.”


“Hm?”


“Kamu juga kenapa tiba-tiba kesini? Bukannya tadi ada kegiatan sama anak MPK?” tanya Daru, mencoba mengalihkan perhatian.


“Udah selesai,” jawan Dian seraya mengambil posisi duduk.


Di tempatnya berdiri, diam-diam Elang meotot saat melihat bungkus ‘permen cinta’ yang tertinggal di kaki meja. ‘Pake acara lupa gue buang bungkusnya, anjir!’ batin Elang di dalam hati. Ia sebisa mungkin menghilangkan bukti tersebut dengan cara menginjaknya.


“Muka kalian kenapa pada tegang?” tanya Dian tiba-tiba.


Laki-laki berkulit sangat putih itu dengan santai berkata, seolah-olah tengah menguji kesabaran Elang dan Daru.


“Jadi benar ada yang kalian sembunyikan?”


“Apa yang mereka sembunyikan?”

__ADS_1


Belum sempat Elang atau Daru menjawab untuk menyangkal, suara familiar milik putra Xander sudah terlebih dahulu menyelamatkan mereka berdua. Laki-laki tampan yang baru saja menuruni tangga dengan pakaian berbeda itu tampak menatap Dian dengan santai.


“Duchess ada di atas. Di kamarku, sedang istirahat. Dia baru saja menyelesaikan kelas daring.”


Sembari berjalan mendekat, Dan yang sekarang menggunakan kaos hitam polos dengan bawahan celana jeans itu berkata. Ia bisa menangankan keterkejutan juga raut wajah penuh tanya milik Elang serta Daru. Mereka pasti bertanya-tanya soal kondisi Duchess.


“Kamu membawakan protein milkshake untuk Duchess?” Dan melirik protein milkshake yang dibawa oleh Dian untuk Duchess. “Aku akan bawa ke atas. Thanks untuk perhatiannya, tapi Duchess tidak membutuhkan itu selama ada aku.”


Setelah berkata demikian, Dan melangkah menuju dapur. Meninggalkan Elang, Daru dan tentu saja Dian yang tidak memberikan respon berarti. Elang yang penasaran tak tinggal diam. Ia pun menyusul Dan untuk menuntaskan rasa penasaran.


“Pssstt, Dan. Duchess gimana?” bisik Elang kala menemukan Dan yang tengah membuka kotak P3K di dapur.


“Plester demam instan ada di mana?”


“Hah??”


“Duchess demam,” ujar Dan seraya menutup kotak P3K karena tidak menemukan benda yang ia carai. “Beli plester demam instan di tokokelontong serba ada yang ada di seberang. Sekalian minta tolong putri pemilik toko buat ke sini.”


“Ngapain?” kebingungan Elang kian berlipat.


Dan menoleh, menatap Elang dengan raut wajah datar. “Pakaian Duchess basah. Dia tidak mungkin tidur dengan pakaian seperti itu.”


“Oh.” Elang mengangguk paham. “Tapi lo belum jawab pertanyaan gue, Dan. Gimana kondisi Duchess? Apa efek permen cinta udah lo atasi dengan baik? Gimana caranya lo mengatasi efek dari manisan laknat itu?”


Dan menghela napas pelan seraya mengembalikan kotak P3K pada tempatnya. “Kenapa nggak beli plester demam instan sama panggil putri pemilik toko klontong dulu? Duchess lebih membutuhkan itu ketimbang pertanyaan tak bermutu.”


“Gue cuma khawatir, Dan!” kesal Elang. “Gue cemas, sama kayak lo.”


Dan menatap Elang lagi. Kali ini dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Duchess sudah berhasil melewatinya. Dia sekarang sedang tidur. Tubuhnya demam.”


Elang menghela napas lega mendengarnya. “Syukur deh. Gue ikutan lega.”


“Sekarang beli plester demam instan pake ini,” ujar Dan seraya menyodorkan card miliknya untuk dibelanjakan.


“Nggak usah, gue masih ada uang cash kok,” tolak Elang.


Dan mengangguk. Ia baru saja hendak mengambil air hangat dari water dispenser, sebelum Elang melontarkan pertanyaan yang membuat tubuhnya mematung.


“Itu ….leher lo kenapa merah-merah?”


💐💐


TBC


SPOILER TUAN PUTRI RAHARDIAN 👇

__ADS_1



Sukabumi 09-08-22


__ADS_2