Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 7


__ADS_3

DIM. 7



“Ibu, siapa anak laki-laki itu?”


Seorang gadis kecil yang baru pertama kali datang ke pesta ulang tahun mewah selama 7 tahun ia hidup, tampak menunggunakan jari telunjuk untuk menunjuk seorang anak laki-laki yang malam ini tampil begitu gagah. Anak laki-laki bermarga Xander itu tengah berdiri di podium, menghadap brithday cake 8 tingkat yang didominasi warna baby blue. Anak laki-laki itu berdiri di tengah, diapit oleh ibu dan Ayahnya yang tampak seperti raja dan ratu yang tengah merayakan hari bahagia putra mahkota mereka.


Di samping anak laki-laki itu, berdiri seorang gadis imut yang tampak cantik menggunakan gaun berwarna baby blue seperti gaun Cinderella di film kartun. Gadis kecil itu tampak tidak pernah berada jauh dari putra mahkota bermarga Xander itu.


“Dia adalah pangeran, sayang.”


“Pangeran?” ulang gadis kecil yang menggunakan gaun berwarna putih polos yang jatuh di atas lutut.


Di antara anak-anak gadis lain yang hadir di acara hari ini, hanya gadis itu yang penampilannya sangat sederhana. Bahkan tidak ada tiara apalagi mahkota yang menghiasi kepalanya, tidak seperti anak-anak gadis lain.


“Iya. Pangeran yang sangat tampan bukan?”


Dengan gerakan polos, gadis kecil itu mengangguk. “Sangat tampan.”


“Sayangnya ibu,” perempuan yang merupakan ibu dari gadis kecil itu menyamakan tinggi badan mereka, lantas menyentuh bahu sang putri. “Capella juga cantik.”


“Capella cantik, ibu?”


“Tentu saja. Capella bahkan lebin cantik dari pada gadis yang berdiri di samping pangeran.”


“Siapa gadis itu, ibu?”


“Dia adalah putri penyihir.”


“Penyihir jahat?”


Perempuan itu mengangguk seraya mengelus rambut hitam sang putri. Putrinya memang sangat cantik dengan visual yang membuat siapa pun terpesona melihatnya. Tak sia-sia ia mengandungnya selama 9 bulan, karena hasilnya sang putri memang terlahir dengan wajah sangat cantik.


“Cuma Capella yang pantas bersama pangeran. Capella cantik, baik, pintar, rajin, sopan, suka membantu, dan pekerja keras. Saat besar nanti, Capella akan bisa bersanding dengan pangeran.”


“Benarkah ibu?”


“Tentu saja sayang.”


Gadis kecil itu tampak berbinar mendengarnya. Beberapa kali ia kedapatan menoleh ke arah podium, menatap anak laki-laki tampan yang hari ini merayakan hari jadinya yang ke delapan dengan tatapan penuh damba. Seolah-olah anak laki-laki itu adalah idola yang sangat ia idolakan.


“Suatu saat nanti akan datang waktu di mana Capella bisa bersama pangeran. Tinggal bersama pangeran di istana, hidup bersama, tidur bersama, dan punya keluarga bersama.”


“Keluarga? Seperti ayah, ibu, dan Capella?”


“Iya, gadis pintar,” puji sang ibu. “Jadi Capella harus tumbuh jadi gadis yang cantik agar dapat membuat pangeran jatuh cinta.”


“Jadi begitu?” gadis kecil itu tampak mengangguk-angguk.


“Ibu berjanji akan memberikan masa depan yang indah dan penuh kenyamanan untuk Capella. Namun, sebelum itu Capella harus berjauhan dulu dengan pangeran.”


“Kenapa harus begitu?”


“Karena Capella butuh waktu untuk menjadi gadis yang cantik dan menarik. Capella tenang saja, ibu akan memastikan bahwa Capella akan tinggal bersama pangeran di istana nya suatu saat nanti.”


💐💐


“Dia…. Capella.”


“Capella?”


“Iya, Capella Megantara. Putri Elgara dan Estrella.”

__ADS_1


Ev menautkan satu alis saat melihat suami dan putranya langsung bungkam pasca mendengar nama Capella, putri Elgara dan Estrella. Elgara adalah mantan bodyguard yang dulu bekerja untuk sang suami, namun sudah dipindah tugaskan sekitar 18 tahun yang lalu. Sekarang Elgara menetap di suatu kampung yang cukup jauh dari perkotaan. Namun, kampung itu juga sudah tersentuh moderenisasi, sehingga akses untuk menuju tempat itu tidak lagi sesulit dahulu.


Ev juga pernah berkunjung ke sana saat diajak sang suami untuk menemani laki-lakinya itu mengontrol proyek. Saat tiba di sana, Ev benar-benar merasa puasa karena lelahnya pasca perjalanan dibayar dengan pemandangan sumber daya alam yang masih sangat asri. Mulai dari gunung, bukit, hutan hujan, sungai, anak sungai, persawahan, hingga deretan air terjun yang memanjakan mata.


“Mère, Dan udah makannya,” ujar Dan tiba-tiba, membuyarkan lamunan Ev.


“Eh, kok tidak dihabiskan Dan?”


“Tiba-tiba kenyang,” jawab sang putra.


“Perè juga sudah kenyang,” sahut sang suami kemudian.


“Kenapa nasi goreng punya kamu juga enggak habis, mas?”


“Kenyang.”


“Kenyang atau enggak enak?” tanya Ev curiga. Ia kemudian menatap putra dan suaminya bergantian.


“Sudah kenyang, Mère,” jawab ayah dan anak itu bersamaan.


“Kenapa sih tidak dihabiskan? Kan mubadzir. Di luar sana masih banyak orang yang kesulitan mencari makan. Sedangkan Perè sama Dan malam buang-buang makanan.”


Ayah dan anak yang tadinya hendak beranjak itu langsung kembali mengambil sendok yang ada di piring bekas mereka makan. Tanpa banyak kata, dua laki-laki Xander itu kembali menghabiskan sisa nasi goreng yang tertinggal sampai tidak ada satu butir nasi yang tersisa di piring. Ev diam-diam mengembangkan senyum melihat perilaku ayah dan anak itu.


“Done, Mère,” kata mereka setelahnya.


“Kalian kenapa sih? Kok buru-buru mau pergi, padahal belum selesai sarapan.”


“Ada yang bikin bad mood,” sahut Darren ambigu.


“Maksud kamu?”


“Gadis itu,” kata Darren to the point seraya menunjuk gadis yang berada di luar sana menggunakan dagu. “Kenapa dia ada di rumah kita, sayang? Bosan hidup dia?”


“Sorry,” sesal Darren.


Ev mengangguk, kemudian beralih pada sang putra. “Terus Dan juga kenapa buru-buru?”


“Tadinya mau berenang, tapi di-cancel. Berenang nya mau habis sarapan. Sekarang enggak jadi. Airnya sudah terkontaminasi.”


“Air nya terkontaminasi sama apa Dan? Mère lihat air kolam baik-baik saja.”


“Baru saja terkontaminasi,” kata Dan seraya menatap ke arah luar. Arah di mana sumber yang membuat air terkontaminasi, menurut Dan.


“Itu Capella, Dan. Mana mungkin Capella bisa membuat air kolam terkontaminasi.”


“Entahlah. Intinya Dan gak jadi berenang, kecuali air kolam dikuras dan diganti.”


Ev hampir menjatuhkan rahang mendengar keinginan sang putra. Ini suami dan anaknya kenapa sensi begini sama Capella? Padahal gadis cantik yang sangat polos itu baik sekali. Kenapa Darren juga Dan selalu bersikap seperti perempuan PMS saat menyangkut Capella?


“Dan mau naik dulu. Lima belas menit lagi Duchess datang, mau main. Tolong langsung diarahkan ke kamar Dan, jangan ke arah lain.”


“Kalau mau main di luar juga bisa, Dan. Kenapa harus di dalam kamar terus?” tanya sang ibu.


“Biar enggak ada yang ganggu.”


Dan menjawab dengan kalimat singkat, namun padat. Diacungi jempol oleh sang ayah.


“Asal mainnya enggak kebablasan ya, boy?” kode sang ayah, jenaka.


“Dan sayang Duchess. Tidak mungkin Dan tega merusak Duchess.”


“Good boy,” puji Darren seraya menepuk-nepuk bahu sang putra. “Pegang kata-kata kamu.”

__ADS_1


Anak laki-lakinya itu mengangguk, kemudian pamit untuk kembali ke kamar setelah menyelesaikan sarapannya. Ev juga tidak bisa mencegah, karena putranya terlihat tidak mau berlama-lama di sana. Sepeninggalan sang putra, Darren langsung mengambil alih perhatian sang istri.


“Kenapa dia ada di sini sayang?”


“Dia siapa? Capella?”


“Hm,” jawab Darren datar. Mendengar nama gadis itu saja sudah membuat Dan mual.


“Kemarin Elgara datang ke Jakarta sama istrinya. Mereka harus pergi ke Semarang, sedangkan Capella tidak bisa dibawa berkendara jauh karena suka mabuk kendaraan. Jadi mereka minta izin untuk menitipkan Capella di sini, mas. Aku kemarin mau ngasih tahu kamu, tapi lupa. Lagipula Capella juga tidur di pavilum, bukan di kamar tamu.”


“Bukan itu duduk permasalahannya, sayang.”


“Lalu?”


“Dulu aku sudah pernah bilang jika mereka dikarunia seorang putri, mereka harus jauhkan putri mereka dari putra kita.”


“Mas, kenapa sih kamu masih berpegang teguh sama ucapan kamu belasan tahun lalu itu? Capella itu gadis yang baik dan tidak neko-neko. Kamu percaya deh sama aku.”


“Aku selalau percaya sama kamu, sayang. Tapi, soal masalah satu ini, aku minta supaya kamu yang percaya sama aku.”


“Aku selalu percaya sama kamu, mas.”


“Good. Maka dari itu, jauhkan gadis itu sebelum dia membawa petaka untuk hubungan putra kita.”


“Maksud kamu apa mas?”


Darren menatap sang istri lekat pada bola mata jernihnya. “Kalau aku bilang gadis itu memiliki potensi untuk menjadi perusak hubungan Dan dan Duchess…..apa kamu percaya, sayang?”


“Perusak hubungan Dan? Memangnya apa yang Capella lakukan sampai-sampai membuat hubungan Dan rusak?”


Darren menghela napas gusar seraya memeluk istri tercintanya untuk meredam emosi. Si kecil Dyra yang tengah asik menikmati sosis goreng di piringnya sampai-sampai kebingungan, melihat orang tuanya tiba-tiba berpelukan. Gadis kecil itu pikir orang tuanya tengah cosplay jadi teletubbies yang suka berpelukan.


“Gimana sih caranya aku meyakinkan kamu, yang?” lelah Darren. Ingin sekali ia mengatakn yang sejujurnya pada sang istri, jika ia telah mendapatkan ‘wangsit’ lewat mimpi belasan tahun silam.


Oleh karena itu, Darren sebisa mungkin membatasi sang putra dari perempuan-perempuan seperti Estrella. Perempuan yang tampak polos, lugu, dan biasa-biasa saja, namun bisa berubah jadi rubah berekor Sembilan pada waktu-waktu tertentu. Sekarang Darren bisa melihat jika gadis itu—Capella—berpotensi menjadi perusak atau mengacau bagi hubungan Dan dan Duchess.


“Gimana kalau aku jelasin di kamar kita saja? Aku rasa di sana lebih cocok untuk menjelaskan semuanya.”


“Kenapa enggak di sini?”


“Ada Dyra, sayang.”


Ev menoleh, lantas menemukan sang putri yang baru saja selesai mengahabiskan sarapannya. “Ok,” katanya, menyanggupi.


Darren tersenyum lebar mendengarnya. Senyum yang sempat membuat Ev curiga, namun belum sempat ia menyuarakan protes, sang suami sudah terlebih dahulu menarik tangannya.


“Dini, tolong jaga Dyra sebentar. Saya sama nyonya ada urusan di atas. Urusan yang tidak bisa diganggu.”


Perempuan yang baru saja muncul dari dalam dapur itu mengangguk. “Siap, tuan. Saya akan menjaga nona Dyra, jadi tuan dan nyonya bisa olahraga pagi dengan nyaman—ups, keceplosan.”


Perempuan itu tampak salah tingkah karena keceplosan bicara absurd, namun hal itu tidak dipermasalahkan oleh tuan dan nyonya yang sudah ia layani belasan tahun lamanya.


“Kalau begitu jangan buat siapa pun menganggu,” kata Darren mengingatkan. “Satu lagi, suruh gadis yang berkeliaran di luar sana untuk tetap tinggal di pavilum. Saya tidak suka melihat dia berkeliaran di sekitar rumah saya. Bikin risih saja.”


💐💐


TBC


Perè memang kalau udah was-was gak ada duanya. Jadi nurun sama Dan 😁


NEXT? YUK KOMENTAR YANG RAMAI 👇


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 05-07-22


__ADS_2