
DIM. 49
“Kakak kenapa? Marah?”
Pertanyaan to the point langsung dilontarkan saat Duchess sudah duduk manis di dalam Civic hitam milik sang tunangan. Ia bertanya demikian, karena berkaca pada pengalaman. Jikalau sedang marah atau kesal, sang kekasih pasti akan mengabaikan setiap pesan yang ia kirimkan. Nah, semenjak insiden di lapangan indoor pagi tadi, sang tunangan sama sekali tidak mengirim pesan atau membaca pesan yang ia kirimkan. Berarti sudah fixs, sekarang sang kekasih sedang marah.
“Perlu Duchess peluk dulu sebelum Kakak berkendara? Takutnya emosi Kakak masih belum stabil.”
Duchess kembali berkata seraya menghadap sang kekasih yang berada di balik kursi kemudi. Laki-laki tampan itu tampak fokus memainkan handphone dengan mode rotasi otomatis. Seolah-olah tak mengindahkan perkataan sang kekasih hati.
“Kak?”
“Hm.”
“Can I hug you?”
“Hm.”
“Hmm?” Duchess menyatukan alis, menunggu jawaban pasti dari sang kekasih. Saat ini mereka sudah tidak berada di parkiran sekolah, karena Duchess baru saja keluar dari tempat les musik.
Kebetulan lagi—seperti pagi tadi—tidak ada seorang pun yang memergoki kebersamaan mereka. Padahal jika ada yang melihat sekali pun, keturunan Xander itu sudah siap go publik soal hubungannya dengan Duchess. Ia tidak mau lagi sembunyi-sembunyi.
“Mère bilang kalau Kakak sedang emosional, pasti harus dipeluk. Itu salah satu cara ampuh untuk menurunkan kadar emosional Kakak.”
Laki-laki tampak yang kelihatannya sedang memainkan game sebagai ajang pelarian itu menoleh. Ia kemudian menekan tombol power agar benda pipih yang sebenarnya sedang digunakan untuk membuat ilustrasi di aplikasi Invinit Design itu mati.
“Berapa banyak pelukan yang akan kamu berikan untuk meredakan api di sini?” tanya laki-laki pecinta ayam goreng bacem Khas Yogya itu seraya menunjuk hatinya menggunakan dagu.
“Duchess tidak tahu. Tapi, Duchess akan mencoba menjadikan semuanya ke dalam satu pelukan,” jawab Duchess seraya mencondongkan tubuh ke samping.
Ia kemudian memeluk Dan yang tampak tidak bergeming sedikitpun dari posisinya. Merasa cara yang ia gunakan tidak berhasil, Duchess kemudian menarik diri. Namun, sebelum itu terjadi, Dan sudah terlebih dahulu memberikan balasan. Meraup tubuh kecil sang kekasih ke dalam dekapan. Duchess yang tidak siap akan tindakan tersebut, jadi terjatuh di pangkuan Dan.
“Kakak!” seru Duchess yang terkejut karena hal itu.
Sedangkan si pelaku memilih pura-pura tuli seraya menyesap aroma khas sang kekasih yang menenangkan. Ada aroma harum khas bayi juga melekat pada tubuh Duchess. Aroma yang selalu membuat Palacidio Daniel Adhitama Xander candu untuk menghirup banyak-banyak.
“Lagi ngapain, Kak?”
Duchess bertanya setelah sekian detik membisu. Tepat saat Dan menenggelamkan wajahnya di perpotongan bahu dan leher.
“Isi baterai,” jawab Dan sekenanya. Ia masih asik menghirup aroma harum dari tubuh sang kekasih. Aroma yang selalu membuat candu.
“Udah belum?” Duchess bertanya seraya menyentuh kepala bagian belakang Dan.
Jika di lihat dari sudut yang berbeda, maka mereka berdua sudah pasti dikira pasangan yang sedang mesum. Apalagi posisi mereka terbilang cukup kontroversial.
“Udah. Nanti ada yang lihat, Miss Stefany juga belum keluar dari tempat les.”
__ADS_1
“Tidak masalah.” Lagi, Dan menjawab dengan enteng. Seolah-olah jika ia digrebek warga detik ini juga, serta terancam dinikahkan secara paksa, ia akan melakukannya dengan suka rela.
“Udah, berhenti dulu.” Duchess yang gemas, karena perkataannya tidak diindahkan sama sekali mencoba menarik diri. Ia dengan sengaja melakukan hal tersebut supaya Dan mau berhenti.
Alhasil Dan langsung mendongkrak dengan wajah yang kurang enak dilihat. Jelas sekali jika ia belum full mengisi baterai, tetapi sudah dipaksa untuk berhenti.
“Ih, wajahnya kenapa ditekuk gitu? Jadi kurang handsome nol koma sekian,” canda Duchess seraya menyentuh bagian samping wajah Dan.
Duchess suka gemas jika melihat ekspresi Dan yang tampak mupeng karena sesuatu yang ia sukai diambil begitu saja.
“Kakak itu tambah handsome kalau tersenyum.” Katanya kemudian sembari mengulas senyum kecil. “Coba Duchess tanya. Kenapa Kakak marah? Are you jealous?”
“Hm, I’am.”
Senyum Duchess semakin lebar saat Dan tidak menyangkal sama sekali. Walaupun kerap minim ekspresi dan pelit bicara, terkadang ada masanya Dan sangat manis di matanya. Seperti saat ini, laki-laki tampan itu dengan gamblang menjawab pertanyaan Duchess soal alasan yang membuat sifatnya demikian.
“Sudah aku katakan, jangan membagi senyum dan tawa pada laki-laki lain.”
Duchess tertawa dengan anggun. “Tadi itu refleks, kak. Bukan sengaja.”
“Maaf nona Widyatama, saya tidak menerima pembelaan.” Dan menjawab seraya memainkan rambut sang kekasih yang berserakan di bagian pelipis.
Duchess mengerucutkan bibir mendengar itu. “Gimana dong? Kalau kakak marah terus, kita nggak jadi main ice skating?”
“Hm.”
“Padahal Duchess udah izin sama Coach. Duchess juga mau nonton bioskop sama Kakak.”
“Hm.”
Dan langsung menampilkan reaksi yang berbeda kali ini. Agaknya umpan yang dilemparkan Duchess kali ini berhasil. Laki-laki itu memang harus sedikit dipancing dengan apa yang ia sukai jika sedang sensitif.
“Mau pulang dulu atau langsung ke Kokas?” tanya Dan kemudian dengan nada lembut.
“Pulang, ganti baju dulu.”
“Ok,” sahut Dan seraya mengelus pucuk kepala sang kekasih sayang. “Jangan cantik-cantik dandannya. Kalau bisa jangan dandan sekalian,” katanya mewanti-wanti.
Duchess tertawa pelan, alih-alih mengangguk. Jika sudah begini, berarti Dan sudah tidak marah lagi. “Kakak juga jangan ganteng-ganteng. Nanti semakin banyak yang suka.”
“As you wish, Greta.”
💐💐
Sky Rink by Mall Taman Anggrek akhirnya jadi pilihan Duchess untuk bermain ice skating. Mereka tidak jadi main ke Kokas seperti rencana di awal, namun beralih ke Mall Taman Anggrek. Persebaran arena ice skating di Jakarta sebenarnya tidak terlalu banyak. Pasalnya ice skating masih jarang dilakukan baik sebagai ajang olahraga ataupun hiburan oleh masyarakat.
Berbeda dengan Negara-negara yang memiliki musim salju, seperti di benua Eropa. Di sana ice skating sudah menjadi budaya yang diturunkan secara turun-temurun. Di Jakarta sendiri, ada beberapa tempat ice skating yang tersebar di pusat perbelanjaan. Tempat-tempat seperti itu biasanya akan dipadati pengunjung saat akhir pekan.
Duchess menyukai olahraga ice skating dari sang mommy. Sebelum memutuskan untuk berkarir di dunia modelling, Dewita dulunya adalah salah satu atlet ice skating kebanggaan tanah air. Ia pernah mendapatkan mendali emas di Asia Open Trophy dan ajang Piala Lombardia. Kecintaan itu kemudian diwariskan pada sang putri. Namun, Duchess lebih menganggap ice skating sebagai hobby yang sekali-kali harus ia nikmati.
__ADS_1
Ketika meliuk-liuk di atas arena ice skating, rasanya Duchess begitu bebas dan lepas. Seolah-olah ia bisa melakukan apa saja dengan sepatu dengan bawahan runcing yang ia gunakan. Sedangkan sang kekasih hati jadi penjaga yang selalu siap sedia di sekeliling Duchess. Dan senantiasa mengawasi Duchess dengan onyx hitam miliknya. Ia sama sekali tidak peduli jika rupa rupawan yang sudah menjadi identitasnya sejak lahir, mencuri perhatian hampir seluruh orang di arena ice skating.
“Hati-hati,” ujar Dan mewanti-wanti sang kekasih hati saat melakukan gerakan yang cukup ekstrim.
Gerakan meliuk dan berputar yang tampak cantik dan eksotis jika dibawakan oleh Duchess. Tidak sedikit mata juga kamera yang membidik potret Duchess. Gadis cantik yang mengenakan pakaian tertutup, yaitu Jeans biru panjang yang dipadukan dengan atasan knit berwarna teracotta tampak membungkus tubuhnya dengan apik. Duchess juga menggunakan topi couple yang juga digunakan oleh sang kekasih.
“Sudah puas?”
Dan menyodorkan air mineral botol saat Duchess hendak mengambil C1000 yang biasa ia konsumsi dari dalam tas. Mau tidak mau, Duchess meminum air mineral terlebih dahulu jika Dan sudah menyodorkan minuman tersebut.
“Sudah.”
“Hm. Habis ini nonton?”
Duchess mengangguk seraya merendahkan tubuh agar dapat mencapai sepatu luncur yang ia gunakan. Namun, Dan tidak membiarkan hal tersebut. Ia sudah terlebih dahulu berjongkok guna membantu sang kekasih hati.
“Eh, nggak perlu, Kak. Duchess bisa sendiri.”
“Aku saja,” kata Dan. Dengen telaten ia melepaskan sepatu luncur di kaki mungil sang kekasih hati, kemudian menggantinya dengan sneakers putih dari brand Channel. “Sudah merasa lebih nyaman?”
Duchess kembali mengangguk dengan kikuk. Tindakan Dan yang baru saja menarik perhatian banyak pengunjung berjenis k*lamin perempuan. Mereka tampak berbisik-bisik. Mungkin bergosip. Mungkin juga mengatakan Duchess manja karena harus diperlakukan demikian. Namun, tidak sedikit pula yang pasti merasa iri hati.
“Kalau begitu ayao kita pergi menonton,” ajar Dan seraya membawa tangan sang kekasih hati. Meninggalkan area ice skating. Membuat para predator betina di sana menghela napas gusar, karena kehilangan target potensial.
Meninggalkan area ice skating, Dan dan Duchess kemudian melipir ke bioskop di dalam gedung. Rencananya hari ini mereka akan menonton film dokumenter yang diangkat dari kisah nyata, sebuah kisah heroik para garda terdepan bangsa.
“Kakak,” bisik Duchess saat mereka berdua sudah duduk di kursi masing-masing.
“Hm.”
Dan merespon dengan singkat dan sewajar mungkin. Walaupun sebenarnya tindakan spontan Duchess yang berbisik tepat di telinganya, sempat membuat Dan terkejut juga tergelitik. Bagaimana pun juga Dan adalah laki-laki normal. Leher adalah bagian tubuh yang cukup sensitif bagi laki-laki, maupun perempuan.
“Kakak coba perhatiak perempuan sama laki-laki yang barusan masuk. Mereka masih nyari kursi di depan kita.”
“Yang mana?” tanya Dan seraya mendekatkan wajahnya pada Duchess.
“Yang itu,” duchess menjawab seraya membalikkan wajah. Otomatis pandangan mereka langsung beradu dengan jarak yang tercipta begitu dekat. “I-tu maksudnya,” ralat Duchess seraya menatap ke depan lagi. Telunjuknya juga bergerak menunjuk ke arah pasangan yang dimaksud.
Dan tersenyum geli melihat ekspresi sang kekasih. Walaupun berada dalam lampu yang temaram, Dan bisa melihat rona merah tersebar di wajah sang kekasih dengan jelas.
“Duchess sepertinya familiar sama laki-laki itu,” monolog Duchess. Ia masih betah menatap perempuan dan laki-laki yang duduk dua deret di depannya.
“Siapa?”
Duchess menyipitkan mata. Mencoba memastikan pandangan, sebelum target sama-sama duduk dan sulit diawasi.
“Laki-laki itu sepertinya ….kak Elang,” ungkap Duchess dengan pandangan masih tertuju pada laki-laki yang dengan style kasual tersebut.
💐💐
__ADS_1
TBC
Sukabumi 29-08-22