Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 66 (Ending)


__ADS_3

DIM. 66 (Ending)


Seorang gadis cantik yang menggunakan atribut ballerina tampak menunggu di ruang wardobe dengan perasaan gugup. Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh satu angkatan siswa-siswi di SMA Wijaya. Tidak terkecuali bagi ia yang hari ini ikut berpartisipasi untuk mengisi acara.


Setelah genap enam semester mengenyam bangku pendidikan di jenjang sekolah menengah atas, mereka kini telah menyelesaikan ujian akhir. Beberapa dari siswa berprestasi juga sudah apply ke universitas, bahkan ada yang sudah diterima di universitas ternama dunia.


“Oh my God, my Duchess. You look so gorgeous.”


Gadis cantik itu menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Dari sana kedua orang tuanya tampak berjalan masuk dengan setelan yang senada. Sang ayah tampak rupawan dalam balutan setelan formal yang didominasi warna monokrom, yaitu hitam dan putih. Ditambah sedikit aksen warna lain, yaitu abu-abu. Sedangkan ibunya juga tampak cantik menggunakan dress berwarna abu-abu dengan motif cantik yang menonjolkan warna monokrom, yaitu hitam dan putih.


“Mommy. Daddy.”


Kedua orang tua dari gadis cantik itu tersenyum seraya melangkah kian dekat. “Maaf ya, Mommy sama Daddy hampir telat datang ke sini. Tadi ambil bouquet dulu di depot bunga,” ujar sang ibu ketika sudah berdiri di depan sang putri.


“Maaf,” tambah sang ayah.


Gadis cantik itu mengangguk seraya menerima bouquet bunga lily of the valley yang disodorkan oleh ayahnya. Buka tersebut adalah bunga kesukaannya. Kesukaan Duchess Aretha Darchell.


Bunga berwarna putih yang bentuknya mirip lonceng kecil itu memang disukai banyak orang. Selain itu, lily of the valley juga melambangkan kesederhanaan, kerendahan hati, kemurnian jiwa dan keindahan. Bunga dengan harga fantastis—bisa mencapai lima ratus ribu rupiah per tangkai, bahkan dapat menyentuh angka ratusan juta per bouquet—itu pernah digunakan pada pernikahan Putri Wales, Kate Middleton, serta aktris popular asal negeri Ginseng, Song Hye Kyo.


Bunga lily of the valley juga dianggap sangat berharga dalam beberapa agama. alasan kenapa harga bunga satu ini sangat mahal, dikarenakan hanya mekar di musim semi dan tidak hanya tumbuh di negera-negara tertentu.


Walaupun terlihat sangat cantik dan menarik, perlu diingat bahwa bunga satu ini mengandung racun yang dapat mematikan. Convallatoxin namanya. Racun yang terdapat di dalam tumbuhan lily of the valley. Jika dikonsumsi dalam jumlah banyak, racun tersebut dpat menimbulkan kematian.


“Gugup?” laki-laki paruh baya berkacamata itu bertanya. Salah satu tangannya tampak sibuk membelai lembut pucuk kepala sang putri.


“Duchess sepertinya demam panggung.”


Pasangan suami istri itu kontan tersenyum mendengar kalimat yang dilontarkan oleh sang putri. Demam panggung katanya. Padahal Duchess sudah biasa berlenggang-lenggok di ata catwalk. Belum lagi bersolek di depan lensa kamera. Lucu saja kedengarannya, padahal penonton yang ada melihat pertunjukkan yang dipentaskan tidak sebanyak acara akbar yang belakangan sering Duchess lakoni.


“Ini pertama kalinya Duchess menari lagi setelah sekian lama.”


“Mommy tahu.” Dewita bergerak mengambil satu tangan sang putri. Menggenggamnya. “Tapi, putri Mommy harus bisa menaklukkan rasa takut itu. Lagipula selama ini putri Mommy sudah berlatih dengan keras.”


Menjelang pentas tari balet yang akan diselenggarakan secara ekslusif, Duchess memang berlatih dengan begitu rajin. Dalam seminggu dua sampai tiga kali, ia juga kerap kali menghabiskan waktu untuk yoga, serta flying pilates. Agar kebugaran serta kelenturan tubuhnya terjaga.


Duchess memang suka menari, namun tidak menjadikan hobby tersebut sebagai sesuatu yang harus ia tekuni terus-menerus. Semenjak fokus pada dunia modelling dan dunia pendidikan, Duchess hampir tidak pernah latihan menari lagi. Namun, khusus untuk perpisahan kakak kelas tahun ini, ia akan menyuguhkan penampilan special. Lebih tepatnya Duchess tampil untuk orang yang special baginya pula.


Duchess bersama teman-teman ballerina yang lain akan membawakan tarian ‘The Swan Lake’ atau ‘Danau Angsa’ yang sudah popular di setiap kalangan.



Kisah ‘The Swan Lake’ atau Danau Angsa Putih menceritakan tentang pangeran bernama Siegfried yang bertemu dengan putri Odeth yang dikutuk menjadi seekor angsa putih di sebuah danau. Sang pangeran yang terpesona akan kecantikan Odeth, berjanji akan membebaskan Odeth dari kutukan itu, dan mereka menarikan Par Dodou bersama-sama. Namun, si penyihir yang mengetahui hal itu berniat mengawinkan Pangeran dengan putrinya sendiri, si angsa hitam Odil. Pangeran yang awalnya tidak mengetahui hal itu, berdansa dengan Odil. Mereka menari dengan sangat indah.

__ADS_1


Odeth pun berduka, karena mengira pangeran telah terperdaya. Ketika mengetahui jika dirinya ditipu, Pangeran merasa sangat kecewa. Tetapi dengan kekuatan cinta, sang Pangeran berhasil mengalahkan si penyihir dan putrinya. Pangeran juga berhasil membebaskan putri Odeth dari kutukan. (Dikutip dari : komik Mari-chan karya Kimiko Uehara)


Duchess memang bukan bertugas sebagai putri Odeth apalagi Odil. Ia sempat mendapatkan kesempatan untuk memperebutkan posisi tersebut, namun memilih mundur. duchess tidak mau membuat senior-senior nya merasa kecewa, karena posisi paling penting diserahkan pada junior mereka. Jadi, Duchess memilih menari bersama rekan-rekannya yang lain. Mengiringi setiap pangeran dan putri Odeth atau Odil menari.


“Kamu pasti bisa tampil dengan sempurna, sayang. Mommy sangat yakin.”


Duchess mengangguk seraya tersenyum lebar, kala sang ibu memberinya support. Ia kemudian menoleh pada sang ayah yang juga menatapnya dengan lembut.


“Putri Daddy pasti bisa.”


Satu anggukan lagi Duchess berikan. Senyum yang tercipta di bibirnya juga kian lebar. “Terima kasih, Mom, Dad. Duchess akan melakukan yang terbaik hari ini,” ucapnya penuh tekad.


Penampilan kali ini harus sempurna, karena ini adalah kejutan bagi laki-laki yang sangat Duchess cintai dan sayangi.


💐💐


“Duchess di mana?”


Bak anak ayam kehilangan induknya, laki-laki rupawan yang hari ini berkali-kali lipat lebih tampan itu bertanya untuk ke sekian kalinya. Pasalnya ia belum melihat sang kekasih hati sejak pagi.


“Tidak bosan dari tadi nanyain Duchess terus?” sindir sang papah.


“Perè kalau tidak melihat Mère seharian, bagaimana rasanya?”


“Sekarang itu yang sedang Dan rasakan,” sahut sang putra.


Ayah dari laki-laki muda yang dikarunia wajah rupawan itu tertawa renyah seraya mengelus surai lembut sang putri. Gadis kecil yang menuruni kecantikan sang ibu itu duduk di antara ayah serta kakaknya.


“Tadi Perè berpapasan dengan orang tua Duchess. Mereka bilang Duchess ada kok.”


“Kenapa dari tadi belum kelihatan?” tanya Dan tidak sabaran. Sejak pagi ada saja halangan untuk menemui sang kekasih hati.


“Ada apa, sayang?” sang ibu yang baru saja datang dengan satu cup minuman di tangan langsung bertanya kala melihat raut dongkol di wajah sang putra.


“Duchess mana, Mère?”


Evelyn tersenyum tipis mendengar ucapan sang putra. “Sebentar lagi juga kamu lihat Duchess.”


Dan tampak tidak dapat menutupi rasa senangnya. Laki-laki yang telah menyelesaikan masa putih abu-abu itu sudah tidak sabar untuk bertemu sang kekasih.


“Yang bucin tolong dikondisikan. Ini tempat umum, harap peka terhadap perasaan para jomblo,” celetuk suara familiar milik seseorang yang duduk dua kursi dari tempat duduk Dan.


Dan mendengus. Tak berminat untuk menanggapi celetukan Elang yang duduk berdampingan dengan orang tua, serta pacarnya. Tidak jauh dari tempat duduk Elang, ada Dian yang duduk diapit oleh kedua orang tuanya. Mereka tampak fokus menonton pertunjukkan, sesekali mereka juga mengobrol ringan. Pada saat acara inti, Dian juga sempat menerima video panggilan dari seseorang yang berada di London. Dan tebak seseorang yang ada di London itu pasti tidak mau ketinggalan mengucapkan selamat. Siapa lagi jika bukan Emily?

__ADS_1


Semenjak Dian serius untuk menjalin hubungan dengan Emily, laki-laki itu sendiri yang mendatangi kedua orang tua Emily tanpa backingan. Dian datang dengan niat baik, yaitu ingin menjalin hubungan dengan Emily. Niat baik tersebut tidak mendapatkan respon negatif dari orang tua Emily, mengingat putri mereka juga sudah lama berteman dengan Dian. Ditambah lagi Emily tidak merasa keberatan dengan I’tikad baik tersebut. Jadi, semenjak hari itu, Dian dan Emily mulai melakukan pendekatan.


“Dan, coba lihat ke depan.”


Dan yang sedang dalam posisi menoleh ke kiri, langsung menatap ke arah yang ibunya maksud. Bersamaan dengan itu, tirai berwarna biru gelap yang tadinya menutupi panggung tiba-tiba terbuka. Sepertinya pertunjukkan akan segera dimulai. Sebagai mantan ketua OSIS yang sangat disegani pada masanya, Dan merasa bangga melihat penampilan yang disuguhkan oleh para siswa. Dibalik semua penampilan yang memukai hari ini, ada peran serta para anggota OSIS yang dulu ia pimpin.


Namun, pertunjukkan kali ini terlihat berbeda karena Dan bisa menemukan sosok yang sejak tadi ia cari-cari ada di antara para ballerina yang menari dengan anggun di atas panggung. Tidak salah lagi, itu kekasihnya. Duchess Aretha Darchell.


Seketika itu pula, di mata Dan hanya tampak sang kekasih. Pandangannya selalu mengikuti gerak-gerik sang kekasih yang hari ini berhasil membuatnya terkejut. Ternyata ini yang gadis itu persiapkan berbulan-bulan lamanya, sehingga kebersamaan di antara mereka semakin terbatas.


“Duchess cantik, ya?” bisik sang ibu.


Dan tidak dapat menemukan kata-kata yang pas untuk memuji sang kekasih. Namun, dari anggukan kepala hingga sorot mata, Evelyn tahu jika sang putra juga sangat terpukau oleh penampilan Duchess.


Ketika ‘The Swan Lake’ berhasil dipentaskan dengan apik, tepuk tangan langsung terdengar begitu riuh. Mengisi setiap sudut ruangan tersebut. Mereka yang menonton pertunjukkan barusan pasti berdecak kagum, karena memang penampilan anak-anak SMA Wijaya itu sudah seperti penampilan penari ballet professional. Ketika semua orang pergi, menyisakan satu ballerina yang berdiri di tengah-tengah panggung. Pencahayaan tiba-tiba dipadamkan, membuat beberapa orang tampak kaget dan bertanya-tanya. Namun, kondisi itu tak berlangsung lama.


Pencahayaan kembali muncul dari lampu sorot yang berfokus pada Duchess Aretha Darchell yang sekarang duduk menghadap sebuah piano. Ketika jemari lentiknya menyentuh tuts-tuts piano, semua orang mulai membisu. Hanya indra pendengaran yang bekerja semakin tajam. Mendengar, juga merekam setiap dentingan tuts-tuts piano yang terdengar begitu lembut di gendang telinga.


Duchess membawakan lagu (Everything I Do) I Do For You karya Bryan Adams yang dirilis tahun 90-an. Lagu yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Kanada itu menceritakan tentang seseorang yang rela melakukan apapun demi pasangannya. Ia memperjuangkan apapun demi orang yang sangat cintai, walaupun terkadang harus berkorban.


Lagu tersebut berhasil membuat para penonton terpaku. Seolah-olah mereka bisa merasakan maksud dari pesan terselubung yang terkandung dalam lagu tersebut. Pada akhir penampilan, sebuah video singkat diputar dari proyektor. Pada awal video menampilkan wajah tampan Dan yang masih kecil. Di dalam video tersebut Dan selalu menjaga Duchess kecil di mana pun mereka berada.


Menit-menit berikutnya, muncul wajah Dian kecil yang juga selalu ada di samping Duchess. Begitu pula dengan Elang yang selalu berhasil membuat tawa Duchess kecil hadir. Daru juga tidak luput dari kenangan seorang Duchess. Video dengan durasi yang singkat itu merangkum kebersamaan Duchess bersama empat orang laki-laki tampan tersebut. Dan, Dian, Elang, serta Daru yang selalu menjaga Duchess dengan sangat baik.


“Terima kasih sudah menjaga Duchess dengan baik selama ini,” ucap Duchess ketika video itu tiba pada akhir durasi. Berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan foto Duchess bersama empat Guardians angel-nya.


“Sekarang Duchess sudah besar. Kak Dan, Kak Dian, Kak Elang, sama Kak Daru juga sudah dewasa. Selamat datang di dunia orang dewasa yang sesungguhnya. Kejarlah cita-cita Kakak dengan penuh semangat. Duchess akan selalu menjadi penyemangat untuk kalian.”


Dengan senyum manis yang tercipta di bibir, Duchess mengakhiri kalimatnya. Bersamaan dengan itu, empat pentolan SMA Wijaya langsung berdiri dari tempatnya duduk. Mereka kemudian bertepuk tangah dengan senyum yang tercipta di bibir masing-masing. Duchess benar, mereka sekarang sudah dewasa, dan akan segera menyongsong kehidupan yang sesungguhnya.


Mereka akan meninggalkan masa remaja, dan menyambut masa dewasa. Walaupun demikian, bagi mereka Duchess tetap menempati tahta tertinggi di hati. Sekali pun mereka tahu jika tahta tertinggi di hati Duchess dimenangkan oleh Dan.


Berita soal pertunangan Dan dan Duchess juga sudah diturunkan secara resmi. Jadi, semua orang sudah tahu bahwa Dan sudah memiliki Duchess. Begitu pula sebaliknya. Sedangkan yang lain, Dian, Elang, serta Daru misalnya, mereka juga sudah punya pendamping yang siap mengisi hari-hari mereka.


💐💐


Ending


KOREKSI TYPO 🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa kasih krisar dong! Lik, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga 💐


Tanggerang 20-10-22

__ADS_1


__ADS_2