
DIM. 24
AUTHOR MABOK VISUAL 😍
“Kenapa dia?”
Laki-laki dengan seragam SMA Wijaya tanpa almamater itu bertanya pasca menyimpan sepiring Choipan berukuran jumbo. Dalam satu piring ada empat Choipan berukuran jumbo dengan isian bervariasi, mulai dari isian otentik Choipan, yaitu bengkoang dan ebi. Ada pula isian talas serta kucai ebi. Makanan khas Pontianak dengan tampilan luar berupa kulit putih yang tipis dan kenyal itu memiliki isian bervariasi, kemudian dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng dan sambal yang pedas. Namun, saat membeli makan satu ini harus dipastikan terlebih dahulu, halal atau non halal.
Laki-laki yang tengah menikmati bakmi kering itu menggeleng. Setelah menelan kunyahan terakhir di dalam mulut, ia baru buka suara. “Mungkin punya pacar baru.”
Dian yang datang dengan membawa Choipan berukuran jumbo itu mengangguk. Ia lantas mengambil posisi di samping Daru yang sekarang tengah menikmati bakmi.
“Tumben jajan di luar kantin,” kata Daru saat menyadari makanan yang dibawa Dian bukan berasal dari menu makanan yang tersedia di kantin.
“Dapat dari mommy-nya Duchess,” ujar Dian seadanya. Ia kemudian membuka plastik pembungkus sumpit sekali pakai supaya bisa menikmati Choipan tersebut.
“Terus Dan tidak diberi?”
Dian yang baru saja hendak mengangkat satu Choipan dengan sumpit, langsung berhenti dan mengangkat kepala. Di depannya, ada sosok Dan yang tengah melipat tangan di depan dada. Menatapnya dengan sorot tajam.
“Mau?” tawarnya datar. Dan kemungkinan tidak diberi Choipan oleh mommy Duchess karena laki-laki itu tidak suka. “Kalau mau, bisa dibagi dua.”
“Tidak perlu.”
“Ya sudah,” ujar Dian santai. “Kayaknya Choipan ini enak, soalnya Duchess juga suka….”
“Bagi.”
Kalimat Dian terpotong begitu saja saat piring berisi Choipan jumbo miliknya berpindah lokasi dengan cepat. Daru juga dibuat melongo dengan tingkah absurd Tuan Muda Dan yang sekarang tengah mengambil satu Choipan menggunakan sumpit yang tersedia di meja. Tanpa kata permisi, laki-laki tampan itu lantas mendaratkan satu Choipan milik Dian ke dalam mulut.
“Katanya tadi tidak mau,” lirih Daru.
“Labil,” komentar Dian. Ia kemudian menggeser piring berisi Choipan itu agar lebih dekat dengannya. Diambilnya satu Choipan isi bengkoang ebi, lalu dimasukkan ke dalam mulut. Dan memang labil jika sudah berhubungan dengan Duchess. Tadi katanya tidak mau, giliran ada embel-embel nama Duchess langsung mau. Dasar.
“Kamu nggak makan siang, Lang?”
Padahal anggota 4 HANDS sedang kumpul dengan formasi lengkap. Namun, cuma terasa tiga orang yang hadir, karena yang satu sibuk ‘haha-hihi’ dengan telepon seluler. Entah apa yang laki-laki itu lakukan sejak tadi, sampai-sampai lupa mengisi perut. Padahal kalau jam makan siang begini, Elang yang paling heboh. Kadang jika sedang datang crazy-nya, Elang akan menjajal satu per satu menu makanan yang ada di kantin. Mulai dari bakso, soto, mie ayam, nasi goreng, nasi kuning, nasi kucing, dan teman-temannya.
“Makan siang gue bentar lagi dateng. Gue beli di luar, delivery order.”
Si pemilik nama menjawab dengan fokus yang tidak berpindah sedikitpun. Sepertinya tidak ada yang lebih menarik dari benda dalam genggaman tangannya.
“Bentar lagi jam istirahat selesai,” beritahu Dian.
“Iya. Nggak mau beli di kantin aja, Lang? kamu, kan, kalau lapar suka sensitif.”
“Iya, ya. Pesenan gue kok belum dateng juga?” Elang mengalihkan pandangan dari layar telepon ke arah teman-temannya. “Gue cek dulu deh. Siapa tahu udah dateng.”
Setelah berkata demikian, Elang beranjak dari kursi dan meninggalkan teman-temannya. Ia pergi dengan langkah cepat, agak terburu-buru. Membuat teman-temannya menautkan kening kebingungan.
“Kenapa dia?” tanya Dan yang baru saja menghabiskan satu Choipan.
Daru menggelengkan kepala. “Tidak tahu. Mungkin punya pacar baru. Tadi katanya dia punya calon pacar baru.”
“Dasar predator,” komentar Dian seraya membuka tutup botol air mineral yang tadi ia beli.
Sudah bukan rahasia umum lagi jika Elang itu suka bergonta-ganti pasangan. Alhasil ia dicap sebagai playboy cap tuna. Hampir tiga angkatan di SMA Wijaya saja, setiap kelas pasti minimal ada dua atau tiga mantan Elang. Saking seringnya berganti pacar, hubungan Elang dengan pacar-pacarnya itu tidak pernah bertahan lama. Rekor paling lama dalam sejarah per-pacaran Elang adalah 4 bulan 4 hari.
“Gue beli fast food nih, ada yang mau?” tawar Elang dengan senyum lebar saat ia kembali menghampiri teman-temannya.
“Kamu beli apa?” Daru bertanya seraya menggeser mangkuk bekas bakmi miliknya.
“Rosemary grilled butter chicken, Korean cheesy buldak fied chicken bucket isi 5, Fienc fries, Onion ring double chrispy, sama cola.”
__ADS_1
“Mau mau makan atau mau apa sih? Kenapa beli makanan cepat saji sebanyak ini?” Dian ikut berkomentar. Ia sih jarang makan fast food, karena ia lebih suka makan healty food. Dian sangsi jika Elang tidak akan menghabiskan semua makanan itu. Ujung-ujungnya pasti akan berakhir di tong sampah.
“Khilaf. Tadi aja diskon di aplikasi, jadi beli,” sahut Elang seraya membuka makanan yang ia beli. “Cobain nih Rosemary grilled butter chicken sama Korean cheesy buldak fied chicken bucket-nya. Apalagi Korean cheesy buldak fied chicken bucket, rasanya asam, manis, pedas, sama gurih.”
Ia kemudian mengambil satu potong Korean cheesy buldak fied chicken bucket bagian drumstick atau bagian paha bawah ayam. Ia memang membeli satu buket ayam mix, mulai dari bagian drumstick, wings, rib, dan thigh. Sambil menikmati ayam dengan mix rasa antara asam, manis, pedas, dan gurih itu, Elang kembali memainkan handphone. Benda itu seharian ini benar-benar tidak jauh darinya.
“Duh, anjir! Panggilan alam,” kesal Elang sembari menyimpan ayamnya yang tinggal sisi beberapa gigitan, karena tiba-tiba ada desakan kandung kemih. “Titip dulu, bro,” pesannya pad daru sebelum mengacir.
Daru hanya menghela napas kecil sambil mencomot satu potong Rosemary grilled butter chicken bagian wings kemudian dicocol ke sambal cocolan. “No bad,” komentarnya. “Kalian nggak mau coba?”
“Nggak. Sudah kenyang,” sahut Dian yang lebih memilih menghabiskan satu Choipan.
Dan juga menolak untuk makan fast food tersebut dan lebih memilih mengisi perut dengan dua Choipan serta setengah botol air putih. Nanti ia bisa beli makanan ringan jika lapar, saat ini perutnya sudah terasa kenyang melihat sang pujaan hati yang baru saja memasuki area kantin.
Gadis cantik itu tampak berkali-kali lipat lebih cantik saat menggunakan seragam SMA milik SMA Wijaya. Ditemani oleh dua temannya, Duchess tampak mengambil posisi di pojok kantin. Di saat kedua temannya membeli makanan yang tersedia di kantin, gadis cantik itu memilih membuka Tupperware berisi Choipan seperti yang ia dan Dian makan, serta Tupperware lain berisi salad dan potongan buah segar. Tidak lupa ada satu botol air minum berukuran sedang yang Duchess bawa. Isinya pasti Protein shake yang terbuat dari bahan-bahan sehat dan sehat.
Ketika tengah asik menatap Duchess dalam dian, suara notifikasi dari handphone milik Elang menarik perhatian Dan. Kebetulan benda pipih itu ada di dekat Dan.
“Kenapa Dan? Itu notifikasi dari handphone siapa?”
“Elang,” jawab Dan seraya menggeser benda pipih tersebut. Ternyata ada pesan masuk. Kemungkinan Elang buru-buru pergi dan tidak sempat mematikan data internet.
Saat hendak mengembalikan benda tersebut ke asalnya, beberapa butir pesan kembali masuk. Dan bahkan bisa melihat nama pengirim pesan, karena tertera dari pop up pesan singkat di lock screen.
‘Capella?’ ujar Dan di dalam hati. Bohong bila ia tak terkejut mendapati nama tersebut di lock screen Elang. Ia jadi bertanya-tanya, apa Capella yang menjadi teman satu kontak Elang adalah Capella yang sama dengan Capella yang sangat ia benci?
Capella Megantara. Apa mereka orang yang sama? Sepertinya ….tidak mungkin. Mengingat Elang tidak punya koneksi yang akan membuatnya terlibat dengan si anak rubah betina, Estrella. Lagipula Capella juga tinggal di luar kota, lebih tepatnya di desa. Bukan di ibu kota. Sedikit sekali kemungkinan terjadinya pertemuan di antara Elang dan Capella.
Kendati demikian, bagaimana jika benar ini adalah Capella yang sama. Capella yang pernah terang-terangan menyakiti Duchess. Dan ingat sekarang, Capella dan Elang pernah bertemu walaupun singkat. Elang juga sempat tertarik saat melihat Capella, walaupun pertemuan mereka tergolong singkat.
“Dan?”
“….”
“Dan?”
“Ada apa sama handphone Elang? Kenapa dilihatin sampai segitunya?”
“Tidak ada apa-apa.” Dan kembali menyimpan benda pipih tersebut di tempatnya semula. Ia kemudian beranjak dari posisi duduk, lantas menatap Daru serta Dian bergantian. “Aku pergi.”
Dan kemudian pergi meninggalkan Dian serta Daru begitu saja. Laki-laki tampan dengan segudang prestasi itu juga memilih bungkam saat ditanya oleh Daru. Toh, Daru tidak akan tahu jika Dan membawa-bawa soal Capella. Dan harus mencaritahu sendiri, siapa pemilik nomer dengan nama kontak ‘Cute Capella’ itu.
💐💐
“Dan kemana?”
“Udah balik ke kelas.”
“Terus Dian?”
“Dipanggil ke ruang BK.”
“Oh,” Elang ber-oh ria. Ia baru saja kembali ke kantin setelah menuntaskan urusan dengan panggilan alam. Saat kembali, tahu-tahu dua sahabatnya sudah tidak ada di tempat. “Lah, terus ini kenapa nggak dihabisin?”
“Kenyang,” jawab Daru sembari beranjak.
“Masih banyak nih, sayang. Mubadzir loh buan-buang makanan.”
“Kamu kebanyakan belinya,” komentar Daru. “Kasih aja ke orang lain. Itu, kan, masih ada yang belum disentuh.”
“Oh, iya. Gue kasih ke pak satpam aja, ya?” cetus Elang seraya membungkus sisa makanan yang belum ia sentuh sama sekali. Namun, ketika hendak memasukkan handphone miliknya, ia sempat melihat benda itu menyala.
“Hp gue dari tadi bunyi terus, ya?”
“Hm. Berisik. Mana nggak di-silent. Pacar kamu yang spam chat?”
__ADS_1
Elang menggelengkan kepala. Ia masih bisa melihat nama siapa saja yang mengirimkan pesan padanya lewat pop up di tampilan lock screen. Ada nama Dan juga yang muncul di sana. Baru mengirimkan pesan beberapa menit yang lalu. Pesan yang berisi perintah agar ia datang ke ruangan basket sepulang sekolah.
“Kenapa?” tanya Daru saat melihat Elang tak kunjung bereaksi.
“Tadi Dan lihat hp gue?”
Daru mengangguk. “Cuma sebentar. Tadi handphone kamu bunyi terus, kebetulan posisinya di dekat Dan.”
“Oh,” pantes—lanjut Elang di dalam hati. ‘Lo pasti lihat nama cewek itu di notifikasi hp gue, kan, Dan?’ batin Elang lagi.
“Ya udah, yuk balik ke kelas. Tapi, sebelum itu gue mau ke depan sekolah dulu.”
Daru mengangguk sebagai respon dari ucapan Elang.
‘Coba kita lihat, reaksi lo gimana pas udah tau gue chatting sama Capella?’ Elang meng-iyakan dengan batin bertanya-tanya.
💐💐
“Pulang sama Dian.”
Gadis cantik yang tengah membenahi alat tulis miliknya itu tampak terkejut. “Kakak izinin?”
“Hm,” respon laki-laki rupawan yang berdiri menjulang di depan si gadis.
“Yakin?”
“Hm. Dia habis kumpulan mau ke D’EV. Jadi sekalian aja,” tambah si laki-laki meluruskan. “Aku masih ada urusan.”
“Ok. Tapi, jangan jealous sama kak Dian, ya? ini kan permintaan kakak.”
Laki-laki tampan yang menjabat sebagi Ketua Osis itu mengangguk. Jika tidak ada urusan ‘penting’ denga seseorang, ia tidak mungkin akan mengizinkan sang kekasih pulang dengan laki-laki lain. Apalagi ini Dian Wijaya. Laki-laki paling berpotensi menjadi rivalnya.
“Habis dari D’EV langsung pulang. Jangan mampir kemana-mana.”
“Ok,” sahut Duchess seraya tersenyum lebar.
Kegiatan belajar mengajar atau *** sudah selesai tiga puluh menit yang lalu, alhasil Dan serta Duchess bisa bebas berduan di kelas yang sudah kosong. Tidak bisa sepenuhnya dikatakan berduaan sih, karena Duchess menunggu Dan menjemput di kelas. Sedangkan Dan baru datang dan mengatakan bahwa ia tidak dapat mengantar Duchess karena masih ada urusan.
“Kalau gitu Duchess pulang dulu, ya. Kak Dian barusan udah chat, katanya nungguin di parkiran.”
“Hm. Hati-hati di jalan,” ujar Dan seraya memeluk bahu sang kekasih untuk sejenak. “Nanti kirim pesan kalau sudah sampai.”
Duchess menjawab dengan anggukan kepala. Putri Damian Widyatama itu kemudian pamit untuk segera menemui Dian yang sudah menunggu di area parkiran. Sedangkan Dan telah mengantarkan sang kekasih sampai lantai dasar, langsung berbelok arah menuju ruang basket. Ada seseorang yang harus ia temui di ruangan tersebut.
BRAK!
“Lo datang-datang kenapa pakai acara banting-banting pintu segala sih, Dan?” ujar laki-laki yang tengah bermain dengan bola basket kala Dan muncul pasca pintu terbuka dengan kasar dari luar.
“Udah gue bilangin, dia cewek nggak bener. Jangan sampai ketipu sama cover luarnya yang sok polos!”
Elang tertawa pongah sembari melemparkan bola di tangannya ke dalam ring basket. “Kenapa reaksi lo berlebihan gini, Dan? Atau jangan-jangan ….lo ada main sama di di belakang Duchess?”
💐💐
TBC
ELANG OH ELANG, CARAMU INI AGAK EKSTRIM YA 😶
DAN JUGA, REAKSINYA.....
NEXT?? JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇
LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR
, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐
__ADS_1
Sukabumi 29-07-22