
DIM. 29
“Baru pulang?”
“Hm.”
“Dari mana dulu sepulang dari D’EV?”
“Angkringan pak Sur. Beli nasi goreng krengsengan sama Duchess, lalu singgah di kediaman Widyatama.”
Laki-laki paruh baya yang tengah fokus menatap layar MacBook yang diletakkan di atas meja kaca itu menoleh. “Sudah berapa kali papa katakan, jangan buang-buang waktu.”
“Dian tidak buang-buang waktu hanya karena ingin menemani Duchess,” sahut sang putra.
“Duchess itu tanggung jawab Dan, bukan kamu.”
“Selama mereka belum resmi menjadi suami-istri, Duchess masih tanggung jawab daddy dan mommy-nya.”
“Berani kamu membalas perkataan papa?”
Si pemilik nama mengangguk dengan sopan. “Selama Dian tidak menyalahi etika, Dian akan menjawab perkataan papa.”
“Rahardian Adiwangsa Wijaya,” lirih sang papa.
Dian menatap sang papa dengan tatapan yang sulit diartikan. “Dian ada di sini, di depan papa.”
“Sudah berapa kali papa katakan, jangan menyusahkan diri kamu sendiri. Duchess itu milik Dan. Sampai kapan kamu mau begini?”
“Dian tahu.” Dian bergerak maju, mendekati sang papa.
“Lalu kenapa kamu masih keras kepala?” Dean Wijaya menatap sang putra dengan raut frustasi. “Papa cuma tidak mau kamu patah hati seorang diri.”
“….”
“Papa bicara seperti ini, karena papa sudah merasakannya jauh sebelum kamu.”
“Lalu Dian harus apa?” tanya Dian dengan sorot mata lelah. “Hanya dengan cara ini Dian bisa terus berada di sisi Duchess. Lalu Dian harus menggunakan cara apa lagi supaya bisa terus berada di sisi Duchess?”
Dean Wijaya menghela napas berat seraya melepaskan kacamata baca yang sejak tadi bertengger di hidung mancungnya. “Apa perlu papa jodohkan kamu?”
“Hm?”
“Ada beberapa putri rekan bisnis papa yang tertarik kenal lebih dekat sama kamu. Kamu mau berkenan dengan mereka?”
“Dian masih sekolah, pa.”
“Tahun depan sudah lulus, ‘kan?”
Dian mengangguk, namun sedetik kemudian ia menyuarakan penolakan. “Dian bisa mengatasi masalah ini sendiri. Tidak perlu pakai cara perjodohan segala. Kalau ada putri rekan bisnis papa yang mau berteman sama Dian, silahkan. Tetapi hubungan pertemanan pada umumnya.”
“Mamas sudah pulang?” sapa suara sang mama yang datang dari arah ruang makan.
__ADS_1
“Hm. Iya, ma.”
“Tumben telat.”
“Habis dari rumah Duchess,” jawab Dian seraya mengambil punggung tangan sang ibu untuk disalami.
“Dian sudah makan belum? Kalau belum, masih ada tumis kerang pedas sama cumi saus tiram di meja makan.”
“Dian sudah makan nasi goreng krengsengan di rumah Duchess. Ditambah lumpia basah juga.”
“Begitu, ya,” ujar sang mama dengan raut wajah sendu. Sebagai seorang ibu, ia memang jarang memiliki waktu untuk memasak karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. “Maafin mama ya, mas. Karena mama sibuk, mamas jadi tidak diperhatikan sama mama.”
“Nggak gitu, ma,” sahut Dian seraya menggelengkan kepala. “Dian mengerti posisi mama kok. lagipula Dian juga tidak pernah kelaparan hanya karena mama sibuk. Di rumah masih ada mbok sama mbak yang menjaga perut Dian dengan baik.”
“Pasti mommy-nya Duchess juga selalu memberi mamas makanan, ya?”
Dian mengangguk seraya tersenyum tipis. “Hm. Mommy Dewita selalu memberikan makanan yang sama dengan makanan yang Duchess makan. Jika Duchess makan Choipan, maka Dian juga diberi Choipan.”
“Begitu ya,” lirih Dayu—mama Dian—seraya menyentuh surai sang putra. “Kalau begitu mamas naik dulu gih, mandi pakai air hangat. Nanti mama bawakan susu kurma untuk mamas.”
Dian mengangguk, kemudian pamit meninggalkan kedua orang tuanya. Diam-diam pasangan suami-istri itu memperhatikan punggung putra mereka yang kian menjauh, kemudian menghilang di ujung anak tangga.
Dayu menoleh ke arah sang suami. Menatap dalam laki-laki yang telah menikahi dirinya belasan tahun lalu itu. “Mas.”
“Ada apa?”
“Aku rasa makin kesini waktu kita bersama Dian semakin tersita.”
“Dian sudah dewasa. Dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri.”
“….”
“Apa aku resign saja dari yayasan, mas? Supaya lebih banyak waktu untuk memperhatikan Dian.”
“Kamu yakin?” Dean menoleh ke arah sang istri. Resign bukanlah ide yang bagus menurutnya. Bagaimana pun juga posisi mereka saat ini sudah sama-sama krusial. Baik di pemerintahan maupun yayasan.
“Kita bisa lebih memperhatikan Dian dengan cara mengurangi jadwal kerja, tanpa harus resign. Kondisi saat ini sedang hetic, jadi tidak mungkin kamu bisa resign. Selain itu yang perlu kita perhatikan saat ini adalah hubungan Dian dan Duchess.”
“Kenapa dengan hubungan Dian sama Duchess, mas? Mereka berteman baik.”
“Aku hanya khawatir,” kata Dean seraya memijit pangkal hidungnya. “Aku tahu persis bagaimana sifat Dan terhadap Duchess. Putra Xander itu sangat posesif seperti ayahnya, aku hanya khawatir Dian terkena masalah karena terlalu dekat dengan Duchess. Keturunan Xander itu tidak akan suka melihatnya.”
💐💐
“Kak Dian kenapa pulang nggak bilang-bilang?”
Suara familiar yang khas itu terdengar hampir di seluruh ruangan saat Dian menghidupkan mode loud speakers. Ia melirik jarum jam untuk sejenak, mencari tahu jam berapa saat ini.
“Tadi sudah izin sama mommy.”
“Tapi sama Duchess nggak izin?”
Dian diam-diam tersenyum tipis. Di seberang sana si pemilik gelar young, beauty, and rich itu pasti sedang cemberut. Dian sengaja menolak panggilan via video call, dan memilih menerima panggilan via telepon biasa, karena tidak mau berurusan dengan Dan lagi. Di sana pasti masih ada Dan. Dian tahu betul seberapa besarnya kadar posesif Dan. Laki-laki itu pasti akan merasa tidak nyaman saat Duchess melakukan video call dengannya.
__ADS_1
“Tapi kak Duchess nggak sakit perut, ‘kan? tadi jus yang Duchess kasih sudah diminum?”
“Hm. Sudah.” Dian menjawab seraya mengelus permukaan perut rampingnya yang hanya tertutup kaos putih polos. Ia baru saja kembali dari kamar mandi setelah tiga puluh menit bersemedi. “Tumben telpon. Dyra sama kakaknya sudah pulang?”
“Belum. Kenapa?”
Itu bukan suara Duchess yang menjawab, melainkan suara kakak Dyra alias Dan. Dian tidak kaget lagi, Dan memang biasa menyerobot pembicaraan jika Duchess menelpon Dian di dekat Dan.
“Belum, kak. Ini Dyra sama kak Dian lagi duduk di samping Duchess sambil makan lumpia basah yang tadi kita beli,” ungkap Duchess menambahi. Suara gadis cantik itu kembali terdengar setelah memperingati sang kekasih karena tiba-tiba menyahut.
“Kak Dian nggak sendirian lagi di rumah, ‘kan?”
“Tidak. Kenapa?”
“Duchess kira kakak di rumah sendirian lagi. Pasti bosan, makanya Duchess telepon.”
“Mama sama papa ada di rumah,” ujar Dian seraya mendekati meja belajar. Matanya langsung tertuju pada figura foto yang menyimpan foto nya dengan Duchess semasa kecil. Bagaimana Dian mau move on dari Duchess, jika sebagian besar hidupnya berporos pada gadis cantik tersebut.
Duchess juga tidak pernah bisa jauh dari Dian. Jika menghilang sehari saja, Duchess akan langsung memberondong Dian dengan panggilan via telepon. Jika dapat ditelepon, Duchess tak sungkan mendatangi kediaman Wijaya untuk mencari Dian secara langsung.
“Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak sendirian.”
Duchess menjawab dengan suara kecil di seberang sana. Terkalahkan oleh suara si kecil Dyra yang sepertinya tengah menanyakan sesuatu.
“Kak Dian.”
“Hm?”
“Duchess tutup teleponnya dulu, ya. Soalnya Dyra sama kak Dan mau pulang.”
“Hm.”
“Kak Dian jangan tidur terlalu malam. Hari ini pasti melelahkan buat kakak. Sebelum tidur jangan lupa minum vitamin biar besok badannya fit. Duchess tutup dulu teleponnya.”
“Iya,” sahut Dian seraya menggeserkan gelas di dekat tempat pensil.
“Have a nice dream. Good night, kak Dian. As’salamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Dian dengan senyum tipis di bibir.
Setelah panggilan itu terputus, Dian memilih menyimpan telepon pintarnya di dekat MacBook. Tangannya kemudian mengambil gelas berisi air putih, lalu mengambil satu kaplet metilselulosa—obat pencahar yang diresepkan oleh dokter keluarga Wijaya.
“Mamas perutnya masih sakit?”
Dian kontan menoleh saat pintu kamar terbuka bersama dengan terdengarnya suara sang mama. “Mau mama panggilkan dokter?”
“Tidak perlu, ma. Setelah minum obat pasti reda.”
“Mamas yakin? Wajah mamas sampai pucat begitu loh. Memangnya tadi mamas makan apa saja?” tanya sang mama risau.
Dian menggelengkan kepala seraya tersenyum kala menatap Dayu. Mencoba menenangkan sang ibu lewat caranya sendiri. “Habis minum obat aku mau tidur. Mama tidak perlu khawatir,” katanya seraya menunjuk satu kaplet metilselulosa di telapak tangannya. Senyum masih senantias tercipta di bibir Dian walaupun tipis. Menutupi rasa melilit di area perut yang tak kunjung reda.
💐💐
__ADS_1
TBC
Sukabumi 03-08-22