
DIM. 23
“Nah, ini tanah kosong yang sudah papi siapkan buat rumah kamu.”
Laki-laki dengan setelan jas formal dari brand Executive itu berbicara seraya membenarkan letak kacamata hitam yang bertengger apik di hidung bangir miliknya. Ia kemudian melirik laki-laki muda yang baru saja keluar dari mobil Mercedez Bens A Class Hatchback warna hitam yang harganya bisa lebih dari 1.265 Milyar. Laki-laki muda yang tampil dengan outfit santai, ripped jeans hitam dengan atasan kaos berwarna hitam dengan motif tulisan kanji. Dipadukan dengan alas kaki Dad Sneakers dari Adidas.
“Apaan ini, pih? Alas?”
“Alas, alas. Ini tuh nantinya bakal jadi aset yang berharga buat kamu. Lokasi tempat ini strategis loh, dekat jalan tol dan pusat perbelanjaan. Walaupun ya, sekarang masih belum diminati. Tapi, tahun depan bakal dibuat fly over sekitar satu kilo meter dari sini. Bakal dibangun perumahan elit juga.”
Dewangga—laki-laki dengan kacamata hitam—berkata demikian karena sang putra seolah-olah meremehkan tanah yang telah ia beli dengan susah payah. Apa kata putranya tadi, alas? Alas dalam bahasa jawa bukannya mengandung arti hutan; rimba, ya? Padahal Dewangga melihat peluang yang sangat besar saat membeli tanah ini. Dewangga membeli karena tertarik akan harga tanah yang cukup ramah di kantong, namun nantinya harga tanah di sini akan melambung tinggi, karena lokasinya yang strategis dan dekat jalan tol serta pusat perbelanjaan.
“Bulan depan alat-alat berat sama material bangunan akan dibawa ke sini. Jadi, papi bawa kamu ke sini untuk meninjau secara langsung.”
Putra Dewangga manggut-manggut mendengarnya. Matanya tampak menyipit saat menyisir hamparan tanah yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar dan ilalang liar. Satu kata yang ia pikirkan saat pertama kali melihat tanah ini, yaitu alas. Yups, hutan atau rimba. Walaupun di sepanjang jalan menuju lokasi sudah ada beberapa bangunan perumahan yang berdiri dan sudah ditinggali. Namun, tetap saja tanah yang ia miliki saat ini masih sangat asri.
Perkataan papinya memang tidak sepenuhnya salah sih. Ia juga bisa melihat potensi dan peluang bagi orang-orang yang memiliki tanah dan lahan di sini. Apalagi sebentar lagi ada pembangunan sarana dan prasarana yang akan menunjang kenaikan harga tanah di area ini. Mungkin dua atau tiga tahun lagi, harga tanah di sini akan sangat melambung tinggi.
“Lang.”
“Iya, pi? Kenapa?”
“Kamu lihat-lihat dulu, ya. Papi mau angkat telepon dari client dulu,” kata sang ayah seraya menggoyang-goyangkan tangan kanan miliknya yang memegang telepon.
“Hmm,” jawab sang putra, seadanya.
Minggu sore begini biasanya ia main ke basecamp untuk kumpul dengan anak-anak yang lain. Namun, kali ini sang papi memaksa untuk ditemani mengunjungi lahan kosong yang akan Dewangga gunakan untuk membangun sebuah hunian bagi sang putra. Tidak ada ruginya juga diberi aset di sini, tempatnya masih asri dan sepertinya asik untuk menyendiri atau untuk sekedar healing.
“Ah, sial banget gue pakai sepatu ini. Sayang, kotor kena tanah basah,” rutuknya saat melihat Dad Sneakers dari merk Adidas yang ia gunakan kotor karena menginjak tanah yang basah. Sneakers dengan harga jutaan rupiah itu berhasil membuat mood Elang down.
Elang menoleh ke kanah dan ke kiri mencari keberadaan sang papi. Namun, ia tidak dapat menemukannya. Tidak jauh dari lahan kosong ini ada dua rumah yang sepertinya berpenghuni, terlihat dari dua kendaraan roda empat yang terparkir di depan rumah tersebut. Kemungkinan sang ayah mencari tempat yang lebih tenang untuk menerima sambungan telepon dari client. Elang tidak perlu takut di tinggal atau diserang hewan buas. Jika ada hewan yang tiba-tiba menyerang, Elang bisa berlari ke rumah terdekat.
“Njir, kok ada begituan di alas begini?” ngeri Elang saat melihat se-ekor mamalia berbulu oren mendekat ke arahnya. Hewan yang paling Elang jauhi di muka bumi ini.
“Hust, hust. Jangan berani berani deket-deket sama gue lo,” usir Elang ngeri. “Pergi, lo ras koeching terkuat di bumi!”
Meow
Meow
“Heh, pergi gue bilang. Masa lo nggak ngerti bahasa manusia, sih?” ketus Elang yang sudah panas-dingin melihat mamalia berbulu oren itu semakin mendekat. Elang itu garang-garang begini, sangat geli jika melihat mamalia satu itu.
“Dia memang nggak ngerti bahasa manusia.”
Elang sontak menoleh saat saat mendengar suara lain selain miliknya terdengar begitu saja. “Siapa lo?”
“Aku cuma mau ambil dia,” kata gadis dengan terusan sederhana berwarna hijau muda.
“Lo….” Elang menggantung kalimatnya. Ia mencoba-coba mengingat, di mana ia bertemu dengan gadis ini. “Lo lagi ngapain di sini? Kok tiba-tiba bisa muncul gitu saja?”
“Capella ….tinggal di sana,” kata gadis dengan terusan sederhana berwarna hijau muda itu sembari mengarahkan telunjuk kanannya ke sebuah rumah.
‘Oh, namanya Capella,’ batin Elang di dalam hati. “Lo tinggal di sana?”
“Em, singgah sementara lebih tepatnya.”
“Oh. Lo bukan anak JKT, ya?”
__ADS_1
“JKT?”
“Jakarta,” ujar Elang meluruskan. “Lo bukan anak Jakarta?”
“Bukan. Capella tinggal jauh dari sini.”
Laki-laki dengan aksesoris anting-anting itu menganggukkan kepala. “Bawa deh itu anabul. Gue anti sama yang kayak gituan.”
“Anabul itu apa, kak?”
“Anak berbulu!” ujar Elang, sedikit kesal. Zaman apa sih ini, masa nggak tahu anabul?!
Capella—gadis dengan terusan sederhana berwarna hijau muda itu tampak sedikit terkejut saat Elang tiba-tiba berkata dengan nada seperti itu. “Maaf,” cicit Capella ketakutan.
Elang menghela napas kecil, ia memang suka lepas kendali jika ada seseorang yang mengetahui kelemahannya. “Lo nggak salah. Nggak usah minta maaf.”
“Tapi, tadi kakak bentak Capella.”
“Mana ada gue bentak lo. Ngawur lo?” Elang menatap lawan bicaranya tidak suka. “Gue cuma ….sedikit kesel. Udah, itu aja.”
“Gitu?”
“Iya,” sahut Elang agak nge-gas. Bicara dengan gadis yang agak lemot itu, membuat Elang yang suka meledak-ledak jadi kesal sendiri. “Lo ….pernah ketemu sama gue nggak sih?”
“Capella bertemu kakak? Kapan?”
“Gue nggak tahu, makanya gue nanya sama lo. Kita pernah ketemu nggak sebelum nya?”
“Kayaknya tidak. Soalnya Capella tidak pergi kemana-mana selama ada di kota ini. Capella tidak pernah keluar rumah selama tinggal di rumah kak Dan.”
‘Nah, ketemu,’ batin Elang di dalam hati. ‘Jadi cewek ini yang gue lihat malam itu di rumah Dan? Kok sekarang bisa ada di sini? Gue ….penasaran sama hubungan cewek ini sama Dan. Orang tua Dan nggak mungkin masukin sembarang orang ke rumah mereka, kecuali jika itu kerabat. Atau jangan-jangan….'
Capella mengangguk dengan polos. Anabul berwarna oren yang ada di pelukannya tampak bersuara beberapa kali, membuat Elang geli sendiri. Ia bahkan tak berani mendekat.
“Iya. Kakak juga kenal sama kak Dan?”
“Kenal.” Elang tersenyum miring seraya bersidakep dada. “Lo kenal Dan dari kapan?”
“Sudah sejak lama.”
“Oh, udah kenal lama, ya? Kalau gitu pasti kenal sama Duchess dong? itu loh, cewek cantik yang sering bareng sama Dan. Anaknya cantik, baik, periang, penurut, imut, pokoknya happy virus banget deh,” Kalau lo kenal Dan, lo pasti kenal Duchess—lanjut Elang di dalam hati.
“Capella tidak kenal. Capella cuma kenal kak Dan.”
“Eh?”
“Kalau tidak ada yang mau kakak tanyakan lagi, Capella permisi dulu.” Gadis itu langsung memutuskan obrolan saat nama Duchess dibawa-bawa.
Elang tentu langsung menahan kepergian Capella. Ia belum puas bertanya-tanya. “Tunggu dulu. Kenapa sih buru-buru banget?”
“Nanti Capella dicariin ayah.”
“Sebentar.” Elang segera merogoh saku celana miliknya, lalu mengeluarkan handphone dengan kamera boba miliknya. Kemudian ia menyodorkan benda tersebut ke arah Capella. “Masukin nomer telepon lo.”
“Buat apa?”
“Buat di-save. Boleh?”
“Tapi kita tidak saling kenal.”
__ADS_1
“Makanya kenalan,” kekeuh Elang. “Kalau nggak mau, siniin telepon lo. Biar gue masukin nomer gue.”
“Capella….”
“Gue cuma mau kenalan,” kata Elang serius. “Lo kenal Dan, gue juga. Nggak ada salahnya kalau kita juga kenalan.”
“….”
“Gimana?”
“Ya udah.” Capella mengangguk seraya mengeluarkan handphone miliknya dari dalam saku. “Kakak masukin nomernya di handphone Capella.”
“Dengan senang hati,” jawab Elang seraya tersenyum lebar. Ia buru-buru mengambil benda pipih itu agar dapat memasukkan nomernya sendiri. “Nama gue Elang. Udah gue save, nanti lo tinggal intro saja.”
“Intro?”
Elang tersenyum congkak. “Introduction. Perkenalan.”
Capella mengangguk paham. Gadis dengan terusan berwarna hijau muda itu kemudian pergi setelah Elang tidak lagi menahan kepergiannya. Meninggalkan Elang yang masih mengawasi kepergian si pemilik punggung mungil itu dengan mata elangnya yang tajam.
“Dapet juga,” lirih Elang seraya menyeringai tipis. “Gue tuh penasaran sam lo, karena lo tiba-tiba muncul di rumah Dan. Pakai acara ngobrol berdua sama Dan di saat kondisi rumah udah sepi pula. Padahal di lantai atas—tepatnya di kamar Dan ada Duchess yang lagi tidur. Gimana perasaan Duchess kalau tahu Dan deket sama lo? Gue sih nggak rela kalau Duchess dikhianati sama cewek modelan kayak lo. Makanya gue mau selidiki latar belakang lo dengan cara gue sendiri.”
Elang berkata dengan mata masih tertuju pada Capella yang baru saja tiba di pekarangan rumah yang gadis itu maksud. Elang sengaja melakukan semua skenario ini karena memiliki tujuan khusus. Kalau tidak, mana sudi ia berbuat sejauh ini. Toh, Elang tidak pernah kekurangan stok gadis cantik. Soal fisik, sekarang itu tak lagi membuat Elang tertarik.
“Lang.”
“Eh papi kapan balik ke sini?”
Dewangga yang disapa demikian malah menatap sang putra dengan tatapan horor. “Kamu ngapain ngoceh sendiri? mulai nggak waras kamu?”
“Dih, bahasa papi kasar banget sama anak sendiri.”
“Lagian kamu ditinggal bentar udah makin crazy aja. Papi, kan, jadi was-was. Kamu barusan nggak lihat mahluk halus, ‘kan?”
“Lihat pi!” seru Elang cepat. Membuat kedua bola mata sang papi seperti hendak loncat detik itu pula.
“Beneran?” sahut Dewangga seraya memegang kedua bahu sang putra. “Perlu papi bawa ke pak ustadz atau orang pintar nggak?”
Dewangga tertawa lepas melihat raut wajah sang papi. “Papi lucu deh, masa sih percaya kalau anaknya yang begajulan ini bisa diganggu mahluk halus? Ini tuh siang bolong juga, pi. Mana ada mahluk halus yang berkeliaran jam segini,” canda Elang tak tanggung-tanggung.
“Dasar!” sebal sang papi seraya menoyor bahu sang putra. “Udah, ayo pulang. Kita harus nyampe rumah sebelum makan malam. Mami udah telepon terus nih. Katanya makan malam kali ini mami masak beef slice teriyaki sama yakiniku barbeque supaya kamu nggak makan di luar terus.”
“Hm. Asal sebelum pulang, mampir dulu ke Starb*ck. Elang haus.”
“Ya udah. Nanti mampir ke Starb*ck di rest area.”
Laki-laki muda yang menggunakan ripped jeans hitam dengan atasan kaos berwarna hitam dengan motif tulisan kanji itu mengangguk. Ia sekarang bisa pulang dengan tenang, kemudian menyusun rencana untuk menyelidiki hubungan si Capella dengan Dan. Begini-begini, Elang memiliki tingkat kejelian yang patut diacungi jempol. Apalagi jika ada sangkut pautnya dengan Duchess. First love Elang semenjak zaman jadi anak newbie yang baru mengenal cinta. Cinta monyet lebih tepatnya.
💐💐
TBC
TERJAWAB SUDAH SIAPA YANG LEBIH JELI ANTARA ELANG & RUBAH 🦅🦊
GIMANA, MAU NEXT? APA ELANG BISA MEMBONGKAR TABIAT ASLI CAPELLA?
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐
Sukabumi 27-07-22
__ADS_1