
DIM. 60
Tidak ada yang dapat memecahkan misteri terbesar kehidupan, yaitu kelak. Apa yang terjadi kelak tidak ada yang dapat memprediksi, karena itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan. Sebagai manusia, mahluk yang sama kecil di mata Tuhan, sekalipun manusia itu adalah orang nomer satu di sebuah Negara, bahkan dunia, manusia tetaplah mahluk yang sangat kecil di hadapan Tuhan.
Sebagai mahluk yang kecil, terkadang manusia bisa merasa menjadi mahluk yang paling besar, yang paling berkuasa, yang paling berhak, yang paling bebas, dan yang paling lainnya. Padahal semua manusia sama saja.
Pada dasarnya, manusia hanya bisa menyiapkan sebuah rencana untuk menata kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Agar kelak, setidaknya sudah rencana yang dapat digunakan ketika realita tidak sesuai dengan ekspektasi. Namun, dalam setiap rencana yang dibuat, tidak melulu ada jaminan yang kuat.
Tidak selamanya rencana itu akan dapat terwujud, karena semua kembali lagi pada Tuhan yang Maha Kuasa.
Begitu pula dengan apa yang telah Elgara lakukan selama ini. Ia telah membuat rencana yang matang, begitu ia sadar jika kehidupan yang ia jalani berjalan seperti mimpi. Ya, mimpi panjang dalam satu kali tidur yang pernah Elgara alami. Untuk itu, Elgara membuat rencana, mulai dari plan A, plan B, hingga plan C agar dapat meminimalisir terjadinya kenyataan pada dunia yang ia tinggali. Saking setia nya ia pada sang tua yang sudah berjasa besar dalam hidupnya, Elgara rela menikahi toxic people seperti Estella.
Elgara melakoni peran sebagai suami yang sangat mencintai istrinya dengan baik. Ia juga sudah berusaha menjadi ayah yang baik bagi buah hati dari pengorbanannya selama ini. capella Megantara.
Capella adalah sumber kekuatan Elgara untuk bertahan bersama Estrella. Ia juga merasa telah ikut ambil bagian dalam penderitaan sang putri, karena selama ini terlalu mendalami peran sehingga tidak bersikap tegas pada Estrella. Sekarang Capella yang mendapatkan semua akibat dari efek buruk toxic people seperti Estrella.
“Jadi keputusanmu sudah bulat?”
Elgara mendapatkan kembali kesadarannya ketika laki-laki gagah di hadapannya buka suara. “Iya, Tuan. Keputusan saya sudah bulat.”
“Hm. Keputusan yang kamu ambil memang tidaklah mudah. Namun, sebagai seorang Ayah kamu telah mengambil langkah yang menurutku benar.”
Elgara mengangguk samar. Ia kemudian menoleh ke samping kiri, letak di mana sang putri berbaring tidak sadarkan diri di atas bed rumah sakit. Gadis itu masih betah terlelap semenjak kemarin malam.
“Kalau begitu biar Dimas menghubungi lawyer keluarga Xander untuk membantu kamu mengurus permohonan cerai talak.”
Elgara menggelengkan kepala seraya menatap ke arah tuannya. “Tidak perlu repot-repot, Tuan. Saya bisa mencari lawyer sendiri, kebetulan saya juga ada teman yang berprofesi sebagai lawyer.”
“Kamu yakin?”
Darren Aryasatya Xander yang pagi ini terlihat tampan, rupawan, serta menawan seperti biasa tampak tidak percaya dengan keputusan mantan bodyguard yang sekarang jadi kepala pengawas proyek yang ada di desa.
“Dimas, hubungi lawyer. Setelah jam makan siang, suruh datang untuk menemui saya ke kantor.”
__ADS_1
Perintah telah diberikan. Dimas—mantan asisten Damian--yang sekarang menjadi sekretaris Darren langsung mengangguk. Ia kemudian menghubungi nomer lawyer keluarga Xander yang biasa mengurus masalah terkait hukum yang melibatkan keluarga Xander. Menyampaikan perintah sang tuan.
“Anda tidak perlu repot-repot, Tuan,” ucap Elgara, merasa tidak enak.
Kedatangan Darren pagi-pagi sekali seraya membawa satu keranjang buah-buahan organik kualitas terbaik saja sudah mengejutkan Elgara. Sekarang putra Xander itu memaksa untuk membantu Elgara dengan cara meminjamkan jasa orang kepercayaan milik keluarga Xander. Padahal jika dipikir-pikir, selama ini istri dan anak Elgara adalah sumber dari segala ancaman yang menargetkan anggota keluarga Xander.
Elgara sebenarnya bisa mengurus permohonan gugat cerai talak sendiri, seperti perkataannya. Ia memang memiliki kenalan yang berprofesi sebagai lawyer, namun jika dibandingkan dengan lawyer keluarga Xander, jam kerja mereka tentu sangat berbeda.
Keputusan untuk melepaskan Estrella dengan cara melayangkan gugatan talak dirasa sebagai keputusan yang paling benar menurut Elgara. Ia sudah memutuskan untuk melepas Estrella agar ia dapat melanjutkan hidup berdua bersama Capella, putrinya. Permohonan cerai talak sendiri adalah perceraian yang diajukan oleh Elgara sebagai suami Estrella.
Elgara sudah merasa capek, lelah, serta pasrah pada kehidupan. Sejauh ini ia telah berusaha menghadang kejadian buruk yang terjadi di dalam mimpi.
Sejauh ini semua berjalan dengan semestinya, dalam artian berbeda dengan gambaran di dalam mimpi. Oleh karena itu, untuk kedepannya Elgara akan menyerahkan semua pada Tuhan. Toh, dinding pertahanan pada keluarga Xander kuat seperti baja. Buktinya hingga saat ini tak ada yang mampu menggoyahkan pertahanan tersebut, mau pasangan ibu dan anak toxic Estrella dan Capella, atau oknum yang lainnya.
“Mas El!”
Elgara yang baru saja mengantarkan kepergian putra Xander, yaitu Darren Aryastya Xander langsung menoleh saat sebuat taxi berhenti dan menurunkan sang istri.
“Kamu tidak perlu tahu,” sahut Elgara, dingin.
“Itu ….Tuan Darren ‘kan, Mas? mau apa Tuan Darren ke sini? Menjenguk putri kita?” kalimat retoris itu dilayangkan perempuan yang datang dengan tampilan on fire, walaupun ia diberitahu oleh sang suami jika putri mereka di larikan ke rumah sakit, ia masih punya banyak waktu luang untuk bersiap.
“Bukan urusan kamu Tuan Darren perlu apa ke sini. Lebih baik sekarang kita masuk ke dalam, Capella sendirian di ruangannya.”
Perempuan yang pagi itu tampil dengan dress berwarna semi kuning dengan outer berupa kardigan rajut itu mengangguk. Tak ada secuil raut wajah khawatir tercipta di wajahnya, entah kemana perginya nada cemas yang sempat Elgara dengar saat ia menelpon.
“Capella sakit apa, Mas?”
“Obsessive compulsive disorder.”
“Apa, Mas?” ulang Estrella.
“Obsessive compulsive disorder atau OCD,” ulang Elgara. “Capella mengalami gangguan mental yang mendorong dia melakukan tindakan tertentu secara berulang-ulang. Tindakan itu dilakukan untuk mengurangi rasa cemas dalam pikiran Capella.”
__ADS_1
Estrella tampak menutup mulutnya dengan tangan, ia tampak tak percaya dengan apa yang ia baru saja dengar. Namun, dua kata yang meluncur bebas dari mulutnya kemudian, berhasil memancing amarah seorang Elgara yang pada dasarnya begitu sabar.
“Capella gila?”
“Estrella?!” bentak Elgara. Untung saja saat ini mereka tengah berada di dalam lift, jadi keributan tersebut tidak memicu perhatian orang lain.
“K-enapa, Mas?”
“Kamu ….ibunya. Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu katakan?”
“Barusan kamu bilang putri kita kena gangguan mental. Itu berarti Capella bisa dikatakan gila, ‘kan?”
“Diam!” ujar Elgara kelewat emosi. Apalagi saat melihat tabiat sang istri yang sok lugu, jatuhnya malah dungu. “Ini semua ….gara-gara kamu.”
“Kok kamu jadi nyalahin Ella, Mas?” Estrella terlihat tidak terima disalahkan begitu saja. “Selama ini yang mengurus Capella itu Ella, Mas. Mas sendiri sibuk kerja, kerja, dan kerja. Pulang-pulang paling sudah rindu sama tubuh El—“
“Demi Tuhan, Estella. Diam aku bilang,” potong Elgara seraya mengepalkan kedua tangannya. Geram. Iya geram sekali menghadapi sang istri.
“Mas….”
“Keputusanku benar-benar sudah bulat ketika melihat Capella menderita di dalam sana. Ternyata kamu pun tidak dapat menggoyahkan keputusan ku.”
“Maksud kamu apa, Mas?” tanya Capella mulai risau. Ia mencoba menjangkau sang suami, namun laki-laki itu sudah terlebih dulu menjauh saat pintu lift mulai terbuka.
“Mari bercerai, Estrella. Aku akan melayangkan permohonan cerai talak ke pengadilan agama.”
✈️✈️
TBC
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘😘
Tanggerang 02-10-22
__ADS_1