Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 41


__ADS_3

DIM. 41


“Loh, mas El bagun lagi?”


Perempuan dengan gaun tidur tanpa tali yang dilapisi dengan bathrobe bertali itu datang dengan membawa teko kaca bening dan sebuah gelas bertanya. Ia tampak terkejut melihat sang suami yang masih terjaga, tengah duduk di bibir ranjang. Dalam keremangan ruangan yang hanya disinari oleh cahaya yang berpedar dari lampu tidur, ia tidak dapat melihat dengan jelas raut wajah sang suami. Jangan-jangan suaminya ngelindur atau tidur sambil berjalan.


“Mas?”


“Hm.”


Oh, ternyata benar-benar masih terjaga, batin Estrella. Padahal tadi ia berpikir jika sang suami telah terlelap pasca mereka mendapatkan puncak kenikmatan bersama pada ronde ke-dua. Biasanya juga begitu. Sang suami akan jatuh tertidur setelah mereka mendapatkan puncak kenikmatan. Estrella sangsi.


Padahal ia terkadang sensi karena sang suami sering meningalkan dirinya tidur terlebih dahulu, setelah mereka menyelesaikan permainan. Namun, setelah tahu penjelasan dari segi medis, ternyata itu memang hal yang lumrah terjadi pada seorang laki-laki.


“Kenapa mas belum tidur? Kebangun karena nggak ada Ella?”


Seraya menyimpan teko berisi air yang ia bawa dari dapur ke atas meja, ia bertanya. Lantas berjalan pelan ke arah sang suami saat pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban. Apa laki-laki itu benar-benar bangun?


“Kebelet.”


“Oh, Ella tahu. Mas kebelet buang air kecil, makanya bangun?” tebak Estrella seraya berdiri menjulang di depan sang suami. Kedua tangan mungilnya kemudian bergerak, merangkum rahang tegas prianya itu. Membawanya mendongkrak, agar melihat ke arahnya.


“Terus kenapa nggak tidur lagi? Besok ‘kan mas harus ke balai desa untuk memimpin rapat. Lupa? Pak kepala desa sudah mengingatkan lewat telepon loh.”


Elgara menggeleng seraya menatap sang istri lekat. Iya, besok ia harus menghadiri rapat di balai desa. Kepala desa sendiri yang menghubungi dirin


“Sekarang mendingan kita tidur lagi. Mas besok harus bangun pagi, Ella juga. Katanya besok Capella mau bawa bekal sama nasi merah, ayam goreng, sambal matah, sama cap chai. Jadi Ella harus bangun untuk menyiapkan semua itu.”


Estrella mengikis jarak di antara mereka guna mengecup salah satu tulang pipi sang suami. Ia kemudian tersenyum manis setelah merealisaikan keinginannya.


“Ayok?” ajaknya. “Atau …mas mau Ella lagi?”


Elgara menatap sang istri dengan sebelah alis tertarik. Ia masih enggan buka suara. Mau sang istri lagi? maksudnya mengulangi kegiatan mereka setengah jam yang lalu?


“Kalau mau lagi, Ella siap kok.” Estrella bicara dengan raut wajah bersemu malu. Ia kemudian membiarkan simpul bathrobe yang ia gunakan longgar, supaya dapat ditanggalkan dengan mudah.


“Aku capek,” ujar Elgara kemudian.


Laki-laki itu membuat muka, kemudian beranjak menuju sisi kanan tempat tidur. Membaringkan tubuhnya kembali, tanpa peduli pada sang istri. Padahal sang istri masih tampak berdiri dengan kaku di tempatnya. Sepertinya perempuan itu shock.

__ADS_1


Bagaimana tidak shock coba? Selama ini Elgara tidak pernah menolak apalagi mengabaikan dirinya. Estrella merasa sangat …hina hanya karena ditolak secara tidak langsung oleh suaminya sendiri. Harga dirinya terluka. Padahal biasanya dipancing sedikit saja, Elgara akan langsung turn on. Lah, sekarang sudah diberi kode secara terang-terangan, kok biasa saja? Ada apa, ya? Kenapa tiba-tiba Elgara jadi trun of saat diberi kode secara terang terangan?


Berjalan memutari tempat tidur, Estrella memilih segera bergabung dengan sang suami. Ia berbaring dengan nyaman di sebelah Elgara, kemudian membungkus tubuhnya sendiri dengan selimut tebal yang tadi sempat menjadi saksi percintaan panas mereka. Ia juga sudah menanggalkan bathrobe, menyisakan gaun tidur tanpa tali yang memeluk tubuhnya secara sempurna. Merasa udara semakin dingin, ia memilih bergeser. Mencari kehangatan di dada bidang sang suami yang selalu menawarkan kenyamanan juga kehangatan.


Di luar sana, bulan tampak malu-malu muncul. Terbukti dari sinarnya yang redup karena terhalau oleh gumpalan Mega putih.


Rumah mereka memang berada di daerah pedasaan yang masih asri. Maka jangan heran jika di sini suhu udara bisa sangat dingin pada sewaktu-waktu, jadi tidak perlu memasang AC. Omong-omong soal rumah, rumah yang Elgara tempati bersama istri dan putrinya bukan rumah terbesar yang ada di kampung, bukan juga yang paling kecil. Hanya rumah dua lantai yang dibuat sederhana. Bukan rumah dua lantai dengan gaya biophilic yang terpatri dalam ingatan sebuah mimpi.


Rumah itu hanya akan hadir jika Estrella menjadi istri kedua alias wanita simpanan Darren Aryasatya Xander. Bukan menikah dengan seorang bodyguard yang kebetulan jatuh cinta setengah mati kepadanya. Jadi, bisa Estrella bodohi hingga saat ini.


“Ella.”


“Hm?”


“Sampai kapan kamu akan begini?”


“Eh? Mas keberatan Ella tidur dengan posisi seperti ini?” Estrella mencoba mendongkrak, menatap ke mata sang suami secara langsung. “Mas nggak mau Ella peluk? Atau, mas mau minta puk-puk?”


Elgara menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. “Mau sampai kapan kamu menganggap aku sebagai pria bodoh?”


“Maksud mas El apa? Ella tidak pernah sekali pun berpikir demikian,” ujar Estrella dengan raut wajah polos. Sekarang jarak tercipta cukup lebar di antara mereka.


“Mas El, Ella nggak ngerti apa yang mas coba bicarakan. Lebih baik kita tidur. Besok mas El harus pergi pagi.”


Elgara masih tidak mengindahkan. Ia tetap menatap sang istri dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.


“Apa tidak cukup jika hanya aku yang kamu jadikan pion?”


“Mas El bicara apa sih, Ella nggak ngerti.”


Elgara memejamkan mata untuk sejenak. Ia kemudian menarik nafas dalam, kemudian menghelanya perlahan-lahan.


“Ella, jika kamu pernah bermimpi cukup aneh dan terasa sangat nyata. Mimpi yang di mana kamu berkontribusi cukup penting di dalamnya. Mimpi yang didalamnya memperlihatkan identitas kamu sebagai istri muda tuan Darren yang sangat dicintai, itu hanya sebuah bunga tidur.


Ketika kamu bangun dari mimpi itu, otomatis kamu akan dihadapkan dengan kehidupan di dunia nyata. Tempat di mana kamu bukan lagi istri muda sekaligus wanita simpanan tuan Darren, melainkan istri dari Elgara. Seorang bodyguard yang berhasil membuat kamu melahirkan putri cantik ke dunia.”


“….”


“Kenapa kamu tiba-tiba diam membisu, istriku? Di sini aku sedang berbicara panjang dan lebar. Apakah benar kamu mengalaminya sendiri, atau hanya praduga ku saja? Coba beritahu aku, istriku.”

__ADS_1


Estrella tetap bungkam sekalipun Elgara mendesak dirinya. Ia masih sangat shock karena baru mengetahui fakta sebesar. Bagaimana bisa ia kecolongan selama ini? dan sejak kapan suaminya mengetahui hal tersebut?


Padahal selama ini sang suami seperti boneka yang patuh dan penurut. Juga polos, karena tidak tahu apa-apa dan bisa saja disuruh untuk ini itu. Ternyata oh ternyata, selama ini ada yang berkamuflase dengan baik. Estrella juga merasa sangat tertipu. Kenapa pula ia bisa tertipu oleh sang suami? Padahal sejauh ini, tokoh paling manipulatif adalah dirinya.


“Sekarang jawab pertanyaan ku, Ella. Apa kamu masih bersikeras menginginkan posisi sebagai istri muda tuan Darren? Sedangkan di dunia ini sudah banyak yang berubah.”


💐💐


Hatchim.


Laki-laki tampan yang baru saja menerima suapan dari sang istri itu tampak mengusap hidung bangir nya yang baru saja bersin. Ia tak lupa mengucap kata hamdalah kala bersin, disahuti oleh suara sang istri yang mengucapkan kalimat yarhamukallah. Dijawab kembali oleh dirinya dengan kalimat yahdikumullah.


Saat ini ia dan sang istri tengah berada di ruangan khusus yang bisa dipesan oleh keluarga pasien, kala salah satu anggota keluarga atau kerabatnya terluka. Ia dan sang istri kompak untuk ikut menetap di rumah sakit, menemani calon menantu mereka yang sedang sakit.


“Kayaknya ada yang sedang membicarakan aku, sayang.”


“Siapa memangnya?”


“Aku ‘kan bilang kayaknya, sayang. Aku juga nggak tahu lah.”


Perempuan yang masih cantik di usianya yang tidak muda lagi itu tampak menipiskan bibir. Ia yang sejak tadi telaten menyuapi sang suami potongan buah—karena mendadak Darren pingin makan buah segar di malam hari, dalam posisi mereka tengah menginap di rumah sakit. Alhasil tadi Ev sempat meminta teman-teman Elang untuk kembali beberapa jenis buah segar di minimarket terdekat sebelum mereka pulang.


“Katanya kalau tiba-tiba bersin-bersin tanpa alasan itu berarti ada yang sedang membicarakan kita.”


“Masa? Itu cuma mitos loh, mas.”


“Nggak tahu juga sih,” shaut Darren seraya mengedipkan bahu. Ia kemudian menjatuhkan kepala lagi di pangkuan sang istri. Dari jarak sedekat ini, mereka bisa sama-sama membaui parfum masing-masing. Parfum feminim khas sang istri, bersatu dengan parfum maskulin miliknya.


“Bisa saja sih ada yang membicarakan aku, secara Perè-nya Dan dan Dyra ini masih kerap kali menjadi pembicaraan hangat hingga saat ini.”


Ev tertawa kecil melihat tingkat kepedean sang suami. “Nggak papa kalau membicarakan soal kebaikan Perè-nya Dan dan Dyra, asalkan jangan membicarakan hal-hal yang buruk soal laki-laki yang aku cintai, suami yang aku sayangi, serta ayah dari anak-anakku yang tak terganti satu ini.”


Mengikis jarak di antara mereka, Darren kemudian memajukan wajah guna meraup bibir ranum milik sang istri yang selalu membuat candu.


“Istri Darren Aryastya Xander memang selalu pandai berkata-kata,” ucap Darren setelah memutuskan tautan di antara mereka. “Siapa pun yang tengah membicarakan ku, asalkan tidak memiliki niat buruk terhadap istri dan anak-anakku.”


💐💐


TBC

__ADS_1


Sukabumi 16-07-22


__ADS_2