Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 63


__ADS_3

DIM. 63



“Kak Dan kemana saja dari kemarin? Kok susah dihubungi?”


Laki-laki rupawan yang baru saja menyuguhkan satu gelas strawberry milk yang dicampur dengan yoghurt itu menatap si empunya suara dengan bibir yang masih setia terkunci. Sebenarnya ia kebingungan menjawab.


“Kak Elang juga susah dihubungi. Kenapa? Apa kemarin malam Kak Dan sama Kak Elang main game bersama sampai lupa waktu?”


Satu lagi laki-laki yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh saat namanya dibawa-bawa. “Eh, kemarin handphone punya gue di-silent, my pretty."


“Tapi, benar ‘kan kalau Kak Dan sama Kak Elang kemarin malam pergi bersama?”


Elang yang sedang menikmati keripik Pringles premium varian truffle kesukaan Jaehyun NCT langsung mengangguk. Sepersekian detik berikutnya ia menggelengkan kepala. Respon tersebut tentu menarik kernyitan di kening lawan bicaranya.


“Jadi ya atau tidak?” desak si lawan bicara. “Kak Elang, ih. Ya atau tidak?”


“Ya.” Jawaban yang diinginkan diberikan. Namun, bukan oleh Elang, melainkan oleh Dan yang kini telah mengambil posisi duduk.


“Jadi Kakak pergi ke mana semalam? Duchess sempat tanya ke Mère sama Perè, tapi katanya suruh tanya langsung ke Kakak.”


Laki-laki rupawan yang masih menggunakan seragam SMA Wijaya itu menatap sang tunangan lekat. Ia kemudian melirik strawberry milk pesanan sang kekasih. “Habiskan dulu, nanti aku jelaskan.”


Duchess mengerucutkan bibir sebal. Dengan gerakan cepat ia mengambil strawberry milk, lalu mulai meminumnya dengan tergesa-gesa.


“Pelan-pelan,” ujar Dan saat ibu jarinya terangkat untuk menyentuh ujung bibir sang kekasih. “Nanti tersedak.”


Duchess mengakhiri sesi minum strawberry milk-nya, menyisakan setengah strawberry milk di dalam gelas. Ia kemudian menatap Dan dengan raut wajah yang menanti sebuah jawaban.


“Apa?” tanya Dan tidak mengerti.


“Jelasin.”


“Hm,” respon Dan. “Nanti, setelah kita menjenguk Dian.”


“Kak Dan barusan udah janji sama Duchess!”


“Di-cancel dulu. Katanya mau jenguk Dian,” sahut si pemilik nama seraya mencuri satu kecupan di pipi kiri sang kekasih. Membuat si pemilik kian sebal dengan wajah yang dihiasi rona merah.


“Anjirrrr! Jangan mesra-mesraan di depan gue dong. Gue ‘kan lagi LDR-an, jadi mupeng,” keluh Elang sembari beranjak membawa Pringles premium varian truffle di tangannya. “Kalau mau jenguk Dian sekarang aja, nanti keburu sore,” tambahnya kemudian, sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang tengah markas.


“Ayo jenguk Kak Dian. Sebelum itu kita mampir dulu beli buah tangan,” ajak Duchess. Alih-alih langsung meng-iyakan, Dan malah sibuk memainkan anak rambut yang menghiasi pelipis sang kekasih. “Kak Dan,” panggil Duchess.


“Hm.”


“Ayo.”


Dan mengangguk. Ia kemudian beranjak, lalu mengulurkan tangan untuk sang kekasih. “Ayo jenguk Kakak laki-laki mu itu. Supaya kamu tidak perlu merasa cemas lagi.”


Dengan senyum yang berkembang di bibir, Duchess menerima uluran tangan tersebut. Ia memang sangat khawatir saat mendengar informasi bahwa Dian tidak masuk sekolah dikarenakan sakit. Padahal laki-laki itu dikenal punya stamina yang kuat, sehingga jarang sekali terserang penyakit. Padahal Duchess saja yang tidak tahu jika Dian sering sakit. Sakit hatinya maksudnya.

__ADS_1


“Ayo.”


💐💐


“Beneran boleh aku pinjam?”


Laki-laki yang menggunakan satu set pejamas motif salur berwarna dark blue itu mengangguk. Dalam dekapan kedua tangannya ada setumpuk buku-buku kuno. “Bawa saja. Lagipula kamu sudah mengantongi izin untuk meminjam semua buku di sini.”


“Kalau aku bawa ke London, bagaimana?”


“Boleh.”


“You sure?”


Keturunan Wijaya itu mengangguk seraya berbelok ke samping, berjalan menuju kamar tidurnya. Diikuti pula oleh duplikat Evelyn Xander yang juga tengah berjalan seraya memeluk beberapa buku berukuran tebal dalam dekapan.


“Ternyata tidak sia-sia aku main ke sini,” ujar gadis cantik bernama Emily itu. Ia tampak senang sekali, seperti baru mendapatkan mainan baru.


Setibanya di kamar si pemilik rumah, ia mendudukkan diri di ujung tempat tidur, lalu menurunkan buku-buku yang ia bawa.


“Aku akan menghabiskan waktu disela-sela kuliah untuk membaca semua buku ini.”


“Baca ketika kamu punya waktu luang. Jika waktunya istirahat, kamu harus tetap beristirahat.”


Emily mengangguk. Ia kemudian melarikan pandangan ke seluruh penjuru rungan yang sebenarnya baru pertama kali ia masuki. “Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar cowok, selain kamar Dan serta saudara-saudara ku.”


“Ini juga pertama kalinya aku membiarkan teman perempuan ku masuk ke sini.”


“Selain Duchess,” koreksi Emily. “Benar bukan?”


“Lalu siapanya kamu?” goda Emily dengan wajah cantiknya yang kian condong ke arah samping.


“A…dik.”


Emily yang mendengar kata “adik” terucap dari mulut Dian langsung tertawa kecil. Ia tidak menyangka jika kata “adik” yang akan dipilih oleh Dian, alih-alih kata-kata manis lainnya. Walaupun sedang tertawa, Emily tetap terlihat anggun. Ia menggunakan salah satu tangannya untuk menutup mulutnya ketika tertawa.


“Jadi sekarang kamu sudah bertekad membuka hati untuk gadis lain?” Emily pikir ucapan Dian ketika masih berada di rumah sakit hanya bercanda, namun ternyata dugaannya salah. Sepertinya Dian memang sudah bertekad untuk membuka hati.


Dian mengangguk. “Hm. Apa kamu tidak mau mencobanya, Em?”


“Mencoba untuk?”


Dian tidak langsung menjawab, sama seperti saat ia melontarkan pertanyaan tersebut ketika di rumah sakit. Membuat gadis cantik yang menggunakan vintage dress selutut berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru itu kebingungan.


“Coba untuk mengetuknya,” jawab Dian pada akhirnya, dibarengi dengan sebuah aksi berani. Membawa salah satu tangan Emily untuk menyentuh permukaan pejamas di mana hatinya berada. Kedua netranya juga senantiasa menatap Emily lamat-lamat.


“….”


“Bagaimana? Mau mencobanya? Mungkin kamu bisa mengetuknya, atau bahkan memasukinya.”


Emily yang masih membeku di tempatnya duduk tak kunjung memberikan jawaban. Ketika baru saja hendak buka suara, pintu yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka tanpa diawali dengan ketukan pada umumnya. Tindakan tersebut tentu berhasil menarik perhatian keduanya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, muncul wajah-wajah familiar yang tampak terkejut saat menemukan Dian dan Emily dalam posisi tersebut.


“What are you doing here?”


Orang pertama yang bereaksi adalah Dan. Laki-laki rupawan itu langsung melontarkan pertanyaan yang ditujukan untuk Emily seraya beringsek maju dan memisahkan sepupunya dari Dian.


“Bukannya kamu sedang ada jadwal di Kokas? Sejak kapan Kokas pindah ke kediaman Wijaya?”


Mendapatkan pertanyaan retoris dari sepupunya yang berusia lebih tua darinya itu, membuat Emily tersenyum salah tingkah. “Aku ke sini untuk meminjam buku, Dan. Lihatlah di sebelah sana.” Emily menunjuk buku-buku yang bertebaran di satu bagian tempat tidur.


Emily tidak berbohong. Ia datang memenuhi undangan Dayu dan Dean untuk mampir ke kediaman Wijaya, plus untuk meminjam buku-buku kuno yang menjadi salah satu koleksi di perpustakaan pribadi keluarga Wijaya.


“And then?”


“And then….” Emily menggantung kalimatnya. Ia tampak kebingungan untuk melanjutkan, karena tidak menemukan kata-kata yang pas.


“Emily teman ku. Apa masalah jika dia berkunjung kesini?”


Dan beralih menatap Dian dengan satu alis terangkat. “Sejak kapan kalian dekat?”


“Sejak lama,” sahut Dian jujur. “Semenjak kami bergabung dengan UNICEF Indonesia untuk menjadi duta pendekar anak.”


Dan tampak kurang puas dengan jawaban tersebut. Duchess yang melihat Dan bersikap demikian, bergegas masuk dan segera mendekat. Ia membawa sunflower bouquet dan satu keranjang buah-buahan organik sebagai buah tangan.


“Kak, sudah. Kakak kenapa sih?” lerai Duchess.


“Dia yang kenapa,” ujar Dan seraya melirik Duchess. “Kenapa tiba-tiba dekat dengan sepupuku?”


“Kami sudah berteman sejak lama, Dan,” ujar Emily, ikut membuka suara. “Kenapa kamu terlihat tidak suka dengan pertemanan kami?”


“Aku bukan tidak suka,” sanggah Dan. “I’am afraid there are hidden intentions of your friendship relationship (aku khawatir ada niat tersembunyi dari hubungan pertemanan kalian).”


“What? Tidak ada yang seperti itu di antara pertemanan kami.” Emily menjawab dengan mantap. “Kami punya idealisme yang hampir sama dalam beberapa kesempatan, jadi kami merasa cocok sebagai teman.”


“Sudah, Em.” Dian beranjak, mendekat ke arah Dan serta Emily. “Biar aku yang menjelaskan.”


“Kalau begitu jelaskan,” titah Dan.


Dian menatap Emily sebentar dengan senyum tipis yang tersungging di bibir. Ia kemudian beralih, menatap Dan yang berdiri bersisian dengan Duchess.


“Kami berteman karena menemukan kesamaan yang membuat kita merasa cocok satu sama lain. Selama ini cuma Emily teman perempuan yang satu frekuensi denganku. Tidak ada alasan khusus yang mendasari pertemanan kami selama ini. kamu tahu sendiri, aku tidak mudah membuka diri pada orang lain, terutama pada perempuan. Tapi, Emily berbeda.”


Dan menautkan kening kebingungan mendengar kalimat panjang kali lebar yang Dian ucapkan. Begitu pula Duchess dan Elang yang diserang rasa bingung, karena tumben Dian mau capek-capek bicara panjang seperti barusan.


“To the point?!”


“Aku suka Emily.”


💐💐


TBC

__ADS_1


KAGET NGGAK TUH 😂


Tanggerang 13-10-22


__ADS_2