
DIM. 54
“Kemana anak itu pergi, sampai-sampai tidak ada waktu sedikitpun untuk mengangkat telepon dari ibunya?”
Perempuan yang sedang berbicara seorang diri itu tampak kesal, karena sudah berulang kali menghubungi sang putri, namun semua panggilan yang dilakukan tidak dijawab satu pun.
“Apa benar dia pergi untuk membeli kebutuhan praktek seni di sekolah?” seraya menghempaskan diri ke atas tempat tidur, perempuan itu bermonolog.
Sebagai seorang ibu, ia menaruh curiga jika sang putri hanya mengada-ngada soal alasan pergi untuk membeli kebutuhan praktek seni di sekolah. Padahal bisa saja sang putri tidak perlu pergi membeli kebutuhan sendiri, cukup membayar sejumlah uang ke sekolah, kemudian akan dikolektif di sekolah.
“Ada apa?”
“Mas.” Perempuan yang menggunakan pakaian rumahan motif flora itu menoleh. Ia kemudian segera menghampiri sang suami yang baru saja tiba. “Ini loh, Capella sulit sekali dihubungi.”
“Memangnya kenapa?” Laki-laki yang baru pulang kerja itu bertanya seraya menyimpan jaket yang ia gunakan di hanger.
“Ella curiga kalau putri kita sebenarnya berbohong,” ungkap Estrella. Memancing kernyitan di kening sang suami.
“Maksud kamu?”
“Begini, Mas. Capella pergi untuk membeli cat akrilik dan kanvas, bahan praktek seni di sekolah sama temannya—Siha. Padahal kalau mau, Capella bisa ikut kolektif di sekolah.”
Elgara yang baru saja pulang dari tempat kerja menghela napas gusar seraya membuka satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. “Mungkin Capella ingin membeli sendiri, karena dia menginginkan yang terbaik.”
“Masalahnya bukan itu, Mas. Tapi, kalau dia bohong—“
“Jika Capella berani berbohong, berarti ada yang salah dengan pola asuh kamu selama ini,” potong Elgara. “Kamu tahu sendiri jika Capella itu anaknya sangat polos. Apa yang dia perbuat, selalu cerminan dari didikan kamu.”
“Maksud Mas apa tiba-tiba menyalahkan Ella?”
“Karena kamu ibunya,” sahut Elgara enteng. “Aku yang ayahnya saja sempat tidak mengenali Capella, karena selama ini kamu terlalu banyak memanipulasi otak kecil putri kita.”
“Mas!”
Elgara menatap sang istri lekat. Tak gentar, ia malah tampak teguh akan pendiriannya.“Kamu pikir aku bodoh, Ella? Aku tahu apa saja racun yang telah kamu tanam di kepala dan hati putri kita.”
“Maksud Mas apa? Ella tidak mengerti.”
Elgara mendengus. Ia yang sudah bertelanjang dada lantas membalik badan, memunggungi sang istri. “Setelah membersihkan diri, aku akan mencari putri kita. Perasaanku sebagai ayahnya, tidak enak sejak tadi. Aku akan mencarinya sebelum sesuatu yang buruk menimpa putri kita.”
Capella mengejar sang suami. “Aku mau ikut, Mas.”
“Kamu diam di rumah,” kata Elgara cepat. “Renungkan kesalahan kamu. Jika kamu masih tidak sadar dan tidak mau berubah, lebih baik kita berpisah.”
“Mas!” seru Estrella tidak suka.
__ADS_1
“Apa?” Elgara kembali menatap sang istri. “Bukankah ini yang kamu mau? Berpisah dari aku, supaya kamu bisa mengejar pria yang selama ini kamu cintai setengah mati?”
“Mas, kamu salah paham. Aku….”
“Kamu tidak bisa menjawab?” Elgara tersenyum tipis seraya bersidakep dada. “Lebih baik kamu pikirkan lagi baik-baik tawaran yang aku berikan. Jika kamu memilih untuk berpisah, aku jamin Capella akan hidup bahagia bersamaku. Aku tidak akan membiarkan putriku tinggal lebih lama lagi dengan ibu seperti kamu.”
“Mas!”
“Aku lelah, Estrella. Menahan laju pergerakan kamu selama ini telah banyak menyakiti harga diriku,” ungkap Elgara. “Aku—pria yang menikahi kamu, tetapi kamu masih memiliki mimpi untuk menjadi istri pria lain.”
“Mas, bukan seperti itu. Estrella selama ini cuma….”
“Sudahlah,” potong Elgara. “Aku muak mendengar bualan kamu.”
💐💐
“Kamu yakin ini tempatnya?”
Gadis yang menggunakan dress model Sabrina yang jatuh di atas lutut, serta dilapisi dengan sweater rajut itu mengangguk. “Ini alamat yang dikirim sama Kak Elang.” Ia mengingat dengan betul alamat yang diberikan laki-laki itu.
“Elang ini siapa lagi?” gadis yang menggunakan topi bisbol warna hitam itu tampak gemas sendiri. “Temen dari temennya pacar kamu?”
Capella mengangguk ragu. Ia bersama Siha sudah tiba di alamat yang diberikan oleh Elang. Sekarang di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan yang tampak sepi dari luar, namun ada puluhan kendaraan roda dua dari jenis dan merk yang berbeda.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bangunan dua lantai bernama ‘Drink Me!’ itu, tetapi menurut ulasan di pencarian ternama—google—katanya tempat ini adalah bar atau sekelas kelab malam. Tempat yang menyediakan hiburan bagi para pecinta dunia malam, plus para pecinta minuman beralkohol. Mulai dari beer, wine, cocktail, wiski, vodka, tequila, brandy, rum, dan teman-temannya, konon tersedia di sini.
“Hmm….”
“Ih, buruan putusin. Mau masuk atau enggak?” desak Siha.
“M-asuk,” jawab Capella pada akhirnya. “Aku udah janji mau datang.”
“Ya udah, ayok. Tapi, kamu yang pimpin jalan.”
Capella mengangguk ragu. Ia kemudian memimpin jalan—berjalan satu langkah di depan Siha. Karena di depan bangunan itu sepi, mereka langsung menuju ke pintu masuk. Ternyata ada dua orang penjaga di sana, Capella dan Siha sempat ditanya-tanya oleh meraka. Namun, keduanya diberi akses masuk setelah menyebutkan nama Elang.
Melangkah masuk ke dalam bangunan tersebut, mereka langsung disambut dengan suara musik yang berdentum cukup keras di antara keremangan. Hanya ada cahaya dari lampu diskotik di sana, serta cahaya dari area bar. Selebihnya remang-remang.
Capella langsung mencari keberadaan Elang setibanya di tempat yang baru pertama kali ia masuki tersebut. Siha juga setia mengikuti Capella dari belakang. Merasa familiar dengan sosok yang tengah duduk di sofa melingkar, Capella mendekati spot tersebut. Tempat di mana empat laki-laki dan lima perempuan berkumpul. Sedangkan di berbagai penjuru tempat yang lain, orang-orang sedang asik dengan dunianya masing-masing.
“Kak Elang?” panggil Capella dengan suara yang cukup lantang.
“Eh, udah dateng ternyata.”
Laki-laki yang duduk dengan diapit oleh dua gadis berpakaian minim itu tersenyum lebar menyambut kedatangan Capella.
“Itu siapa, Ella? Ganteng banget. Tapi, kayaknya bukan anak baik-baik deh,” bisik Siha yang kini berdiri di samping Capella.
__ADS_1
“Dia ….teman dari pacar Capella.”
“Hah?!” Siha tampak shock mendengarnya. Teman pacar Capella saja modelnya begini, bagaimana dengan pacar Capella? pikir Siha.
Namun, Capella tidak memberikan respon apa-apa, karena sebenarnya ia juga masih shock.
Bagaimana tidak shock coba, saat ini di depan matanya—lebih tepatnya lima langkah dari tempatnya berdiri, alasan kenapa ia datang ke sini tengah menatapnya dengan senyum menjengkelkan. Di sekitarnya masih terlihat asap-asap dari benda yang Capella yakini sebagai rokok elektrik. Jangan lupakan beberapa gelas kaca berisi cairan berwarna kuning, serta beberapa botol minuman yang terbuka. Apa-apaan coba?
“Gue kira nggak jadi dateng.” Laki-laki beranting-anting yang mala mini menggunakan oversized T-shirt berwarna hitam itu buka suara. “Lo udah jauh-jauh datang ke sini, c’mon. Duduk di sini, gue pengen bicara,” tambahnya seraya menepuk-nepuk pangkuannya sendiri.
“Astagfirullah, Ella.” Siha beristigfar kecil. “Kamu ….beneran berteman sama cowok itu?”
Capella tidak menjawab. “Bisa kita bicara di luar, Kak? Capella enggak mau bicara di sini.”
“Kenapa harus bicara di luar kalau di sini kita bisa bicara?” sahut Elang. “Ah, gue tahu. Lo pasti marah karena kita gagal kencan ke kota tua, ya?”
Capella bungkam. Namun, kedua bola matanya masih menatap Elang lekat. Sedangkan Siha, kebingungan.
“Sorry. Seperti yang lo lihat, gue ada acara sama temen-temen tongkrongan gue. Lagipula kita nggak punya hubungan apa-apa, selain temen chattingan.”
Capella tidak salah dengar bukan? Bukankah waktu itu Elang yang menawarkan diri menemani Ella ke kota tua?
“Maaf kalau lo ngerasa diberi harapan palsu, tapi inilah gue. Anaknya suka freedom. Lo, jangan bilang udah baper karena belakangan kita intensif chattingan.”
“….”
“Baper beneran, ya? Duh, sorry banget. Lihat nih, kanan sama kiri gue juga partner chattingan gue tiap hari.” Elang melirik teman-teman perempuannya seraya mengedipkan mata genit. “Jadi gimana? Lo mau gabung sama kita di sini, sebagai permintaan maaf gue atas batalnya rencana kita, atau ….mau balik?”
Capella menyunggingkan senyum tipis. Ia kemudian menurunkan tote bag yang tersampir di sebelah bahunya, kemudian melepaskan sweater rajut miliknya, membiarkan tubuhnya yang hanya dibalut oleh dress selutut motif Sabrina terekspose.
“Wow. Wow”
Tindakan itu tentu menarik perhatian teman-teman laki-laki Elang. Badan Capella yang bisa dikatakan masuk kategori body goals tentu saja menimbulkan decak kagum.
Sedangkan Elang sendiri tampak mengernyitkan kening. Ia pikir Capella akan pergi setelah melihat pergaulan bebasnya, eh ….taunya malah drama queen.
“Capella ikut gabung, boleh? Soalnya Capella mau bertemu seseorang. Kata Kak Elang, dia akan datang ke sini bukan?”
‘Mamp*s!’ batin Elang di dalam hati.
💐💐
HAHAHA, GIMANA LOH LANG 🤣
ITU KETURUNAN MEDUSA, JAN MAIN-MAIN 🙏🏻
__ADS_1
Tanggerang 17-08-22