Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 67 (Before Ending)


__ADS_3

“Ayah.”


Laki-laki dewasa yang sedang mengupas buah apel itu menoleh. Menatap sang putri yang baru saja memanggilnya dengan senyum hangat terpatri di bibir. “Ada apa?”


“Ibu….”


“Iya. Kenapa dengan Ibu?” sahut laki-laki itu kala sang putri memilih untuk menggantungkan kalimatnya.


“Ibu tidak datang lagi ke pengadilan?”


Cukup lama laki-laki itu menjawab pertanyaan sang putri. Padahal hanya dengan satu kata saja, sudah dapat menjawab serta menjelaskan semuanya.


“Kamu tidak perlu memikirkan masalah itu, Capella. Biar Ayah yang menanganinya.”


Mendengar penuturan sang ayah, gadis yang baru saja menyelesaikan sesi konseling rutin dengan psikiater pribadinya itu mengembuskan napas perlahan. Ia tahu jika sang ibu tidak pernah setuju untuk bercerai sampai saat ini. Walaupun sudah dua bulan berlalu pasca kejadian Capella yang sempat melakukan percobaan bunuh diri, Estrella tetap kukuh untuk mempertahankan pernikahan. Kendati demikian, Elgara sudah mantap untuk berpisah.


Gugatan perceraian tetap dilayangkan, serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan perceraian juga sudah Elgara berikan kepada pihak pengadilan, supaya pengajuan gugatan yang ia layangkan segera diproses. Elgara juga melayangkan gugatan soal penguasaan anak. Gugatan ini juga diajukan bersama dengan gugatan cerai.


Elgara juga tidak keberatan karena harus membayar biaya perceraian, karena ia sepenuhnya sadar bahwa biaya perceraian dibebankan kepada penggugat. Dalam kasus mereka, biaya perceraian tentu dibebankan pada Elgara selaku pihak suami yang ingin menceraikan istrinya. Elgara hanya tidak mau “ribet” dalam artian Estrella susah untuk diajak bekerjasama. Padahal sudah tidak ada lagi harapan di antara mereka.


“Makan ini, Ayah sudah kupaskan.”


Satu piring apel tanpa kulit Elgara sodorkan pada sang putri. Ia kemudian dengan telaten mengikat kantong plastik yang barusan digunakan untuk wadah kulit apel supaya tidak berserakan.


Sudah dua bulan berlalu ia dan putrinya tinggal di sini. Di rumah yang lokasinya berada di pinggiran kota Jakarta. Walaupun jarang ditempati, sarana dan prasarana di rumah ini sudah cukup lengkap. Ada berbagai perabotan elektronik, mulai dari televisi yang menempel di dinding, kipas angin konvensional berukuran kecil, AC, water dispenser, rice cooker, air prayer, mesin pembuat coffe, dan beberapa perabotan lain yang ikut berjejal di seisi rumah.


Rumah satu lantai itu hanya memiliki dua kamar. Satu kamar utama, dan satu kamar tidur biasa. Rumah ini juga dilengkapi dengan ruang keluarga, ruang makan yang all in one dengan dapur, perapian, tempat baca yang nyaman, serta kamar mandi dapur dengan ruang cuci yang terpisah. Singkatnya, rumah satu lantai itu sangat nyaman dan sudah siap untuk ditinggali. Ditambah lagi ada pekarangan yang cukup luas dan terawat. Pekarangan tersebut bisa dijadikan sebagai tempat untuk putrinya healing. Oleh karena itu, sudah tersedia beberapa pot dengan media tanah siap tanam yang bisa digunakan untuk bercocok tanam.


“Bagaimana rasanya?”


“Manis,” jawab Capella sambil menatap sang ayah. “Ayah mau coba?”


Elgara menggelengkan kepala. “Habiskan. Itu dikirim sama Budhe dari Malang. Apel Manalagi namanya, bagus buat kesehatan kamu.”


Capella mengangguk dengan semangat. Apel yang ayahnya kupas memang terasa manis dan cocok dengan lidahnya. Agak liat, tetapi no bad.


Semenjak keluar dari rumah sakit, Elgara yang tinggal sebatang kara di Jakarta memang sempat bertemu dengan kerabat dari pihak orang tuanya. Salah satu kerabat dekatnya yang tinggal di Malang juga mendengar soal rencana perceraian Elgara. Elgara tak banyak menjelaskan, namun yang pasti ia tetap memberitahu jika semuanya baik-baik saja. Elgara merasa bersyukur karena masih ada kerabatnya yang peduli, walaupun mereka berada di tempat yang cukup jauh.


Kemarin salah satu kerabat mengirimkan satu peti buah Apel manalagi dari Malang. Apel manalagi adalah salah satu varietas apel Malang yang rasanya paling manis. Oleh karena itu, apel manalagi biasa dikonsumsi langsung. Walaupun sudah matang, uniknya kulit apel ini tetep berwarna kekuningan. Tekstur apel manalagi biasanya memang liat dan memiiki kandungan air sedikit. Aroma apel manalagi juga paling harum jika dibandingkan dengan apel lainnya. Apel ini biasa dijadikan sebagai oleh-oleh, karena daya tahannya yang lama.


“Ayah.”


“Iya?”


“Ayah ….sudah benar-benar yakin untuk bercerai dengan Ibu?” tanya Capella dengan nada bicara yang terdengar begitu hati-hati. Bagaimana pun juga ia tidak menyinggung perasaan sang ayah.


Selama ia hidup di dunia, ia bisa melihat seberapa besar kasih sayang dan cinta yang ayahnya miliki. Hanya saja ibunya memiliki perasaan yang abstrak. Sulit Capella tebak. Namun, jika mereka tidak saling mencintai, kenapa pula hadir dirinya di dunia ini? terkadang pertanyaan seperti itu muncul di benaknya.


“Ayah sangat yakin,” jawab Elgara tanpa ada rasa ragu. “Kamu adalah putri Ayah. Darah daging Ayah. Mengetahui apa saja yang telah menimpa kamu selama ini, membuat Ayah sadar bahwa Ibu kamu bukan orang yang harus Ayah perjuangkan lagi. Melainkan kamu, Capella.”

__ADS_1


Tangan Elgara bergerak, lantas mendarat di pucuk kepala sang putri. Mengelusnya sayang dengan mata yang berkaca-kaca. “Cepat sembuh putri Ayah. Kamu harus sekolah yang benar, lalu kejar cita-cita kamu. Mau setinggi apapun cita-cita kamu, Ayah akan selalu berusaha mendukung kamu untuk mewujudkannya. Satu yang ingin Ayah ingatkan sama kamu, jangan pernah menginginkan apa yang bukan milik kita.”


Capella mengangguk dengan patuh. Bola mata gadis itu tampak mulai berair. “Capella tidak akan mengecewakan Ayah lagi. Capella janji.”


“Ayah pegang janji kamu,” ujar Elgara seraya menjatuhkan satu kecupan di kening sang putri.


Bagi seorang anak perempuan, cinta pertamanya adalah sang ayah. Ujaran tersebut juga berlaku bagi Capella. Cinta pertamanya adalah sang ayah. Jika selama ini sang ibu mendorongnya untuk terobsesi memiliki Dan, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Capella sebenarnya ingin sosok laki-laki setia juga penyayang seperti ayahnya. Tidak perlu tampan dan rupawan, atau pun bergelimangan harta, yang penting setia, penyayang, pemberani, serta hangat seperti Elgara.


Capella sempat ragu akan mendapatkan laki-laki seperti itu, mengingat sang ibu pernah membuat ekspetasi nya soal cinta yang tulus rusak parah. Ibunya hanya mengajarkan untuk mencari laki-laki sempurna untuk dijadikan pasangan hidup. Selagi belum memiliki pasangan hidup, Capella bebas untuk menggaet laki-laki mana pun. Ajaran sesat tersebut lah yang telah mencuci otak Capella. Untung saja sekarang ia sudah mulai bisa menghadapi rasa takutnya pada sang ibu.


Selain mengalami Obsessive compulsive disorder atau OCD, belakangan Capella juga diduga mengalami anxiety disorder atau gangguan kecemasan. Mengingat setiap sesi konseling, jika nama sang ibu dibawa-bawa, ekspresi ketakutan dan cemas langsung tergambar di wajah Capella. Karena alasan itu pula, dua bulan belakangan Elgara sangat protektif menjaga Capella. Ketika harus berpergian untuk bekerja, Elgara meminta bantuan salah satu putra kerabatnya untuk menemani Capella.


“Ayah.”


“Iya. Ada apa?”


“Katanya teman-teman Capella mau datang. Kapan ya, mereka sampai?”


Elgara melirik jam dinding yang ada di dekat televisi. “Seharusnya sudah tiba. Tadi mereka bilang sudah masuk jalan tol, menuju ke arah sini.”


Capella mengangguk paham seraya kembali mengunyah apel. Tangannya yang lain sibuk bergulir di barisan tube kecil berisi cat akrilik, memilih warna-warna yang cocok untuk mewarnai sketsa gambar taman bunga yang baru selesai ia buat. Selain konseling dengan metode yang umum dilakukan, Capella juga menjalani terapi lewat seni. Terapi seni lukis lebih tepatnya.


Terapi seni atau Art Therapy adalah salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyembuhkan psikologi lewat seni menggambar, lukis, mewarnai, memahat, hingga menari. Terapi ini mengkombinasikan teknik-teknik terapi psikologis dan proses kreatif untuk meningkatkan kesehatan mental seseorang.


“Kamu tunggu sebentar. Sepertinya teman-teman kamu sudah datang.”


“Selamat siang, Om. Kami datang untuk berkunjung.”


“Siang juga, silahkan masuk.”


Gadis manis yang baru saja menyapa itu menyodorkan barang bawaannya sebelum masuk.


“Ini apa, Siha?”


“Bibit bunga sama bibit tanaman air buat akuaskep, Om.”


“Aquascape,” koreksi perempuan berkepang dua di samping Siha.


“Iya, itu maksudnya.”


Elgara tersenyum tipis seraya menerima buah tangan tersebut. Sudah hampir beberapa akhir pekan, teman-teman sang putri datang dari desa untuk menjenguk Capella. Untung saja Capella masih punya teman yang peduli kepadanya. Jika tidak, Capella pasti akan benar-benar merasa kesepian.


“Ya sudah. Ayo, masuk. Capella ada di dalam, sedang menggambar.”


Siha mengangguk antusias. Ia masuk terlebih dahulu sebelum gadis berkepang dua tadi. Selain mereka, ada juga satu orang anak laki-laki yang pernah Elgara temui beberapa kali di desa. Teman Capella juga.


Sejauh ini Elgara masih bisa merasa bersyukur, karena Capella punya teman-teman yang masih percaya pada Capella. Salah satu teman dekat Capella adalah Siha. Gadis itu bahkan rela bolak-balik ke ibu kota Jakarta agar dapat menjenguk sang sahabat yang tengah melakukan pengobatan.


Dikarenakan Capella sudah memiliki teman di rumah, Elgara kemudian izin untuk pergi ke luar sebentar. Ia sempat mendapat telepon dari bi Mimin yang diminta Elgara untuk tetep menemani Estrella. Bi Mimin menelpon Elgara dan memberitahukan bahwa Estrella masuk rumah sakit setelah ditemukan bersimbahan darah di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Elgara sejak tadi mencoba semaksimal mungkin bersikap biasa saja supaya sang putri tidak curiga. Ia baru bisa lega setelah berhasil mengalihkan perhatiaan sang putri secara alami. Sekarang ia harus bergegas menuju rumah sakit tempat Estrella dirawat.


“Bi, istri saya di mana?”


“Di dalam, Tuan,” jawab perempuan paruh baya bernama bi Mimin tersebut. Terlihat raut wajah cemas begitu kontras di wajahnya.


Baru beberapa menit Elgara tiba, seorang dokter dengan APD lengkap tiba-tiba muncul dan menanyakan keluarga pasien. Elgara dengan segera angkat suara. Bagaimana pun juga keluarga yang Estrella cuma dirinya dan Capella.


“Begini, Pak. Kami harus segera mendapatkan persetujuan Bapak selaku suami pasien untuk melakukan tindakan dilasi dan kuretase atau kuret. Tindakan ini dilakukan untuk mengeluarkan janin di dalam perut pasien.”


“Tunggu dulu, dok.” Elgara tampak kebingungan kala menatap dokter laki-laki yang sudah cukup berumur di hadapannya. “Maksud dokter apa, ya? Bukannya istri saya terluka karena jatuh di kamar mandi? Ada bagian tubuhnya yang terkantuk benda tumpul bukan?”


Dokter itu mengangguk. “Lebih tepatnya perut istri Anda yang membentur pinggiran closet, kemungkinan besar karena terpeleset.”


“J-adi istri saya sedang mengandung, dok?” Elgara mengatakan kalimat itu dengan sesak yang mendera relung dada. Estrella sedang mengandung? lalu kenapa perempuan itu menyembunyikannya!


Dokter itu mengangguk. “Namun bukan karena alasan itu janin di rahim istri Anda tidak dapat diselamatkan, melainkan karena istri Anda mengonsumsi obat cytotec sebelum peristiwa itu terjadi.”


Elgara langsung terkejut. “Obat apa itu, dok?”


“Cytotec adalah obat yang biasa digunakan untuk mencegah tukak lambung. Namun, obat ini sering disalahgunakan, karena dapat digunakan untuk menggugurkan kandungan.”


Dunia Elgara terasa runtuh seketika mendengar penuturan dokter yang wawasannya jauh lebih banyak darinya.


“Dari hasil lab, dalam tubuh istri Anda terdapat kandungan obat tersebut. Selain itu kami juga membutuhkan persetujuan Anda untuk melakukan prosedur lain mengenai kejiwaan istri Anda.”


“Memangnya istri saya kenapa lagi, dok?” bingung, kecewa, sedih, dan marah berkumpul menjadi satu. Namun, Elgara harus tetap berkepala dingin untuk mengambil keputusan. Ia bisa membicarakannya dengan Estrella nanti. Ya, nanti jika wanita itu sudah siap untuk ditanyai.


“Sepertinya istri Anda memiliki masalah kejiwaan.”


“….”


“Saya tahu Anda shock, Tuan. Anda harus sabar. Kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menolong istri Anda. Saya turut berduka cita atas gugurnya buah hati Anda dan istri.”


Elgara tidak merespon apa-apa. Estrella jatuh dari kamar mandi, fakta itu kemungkinan besar hanya alibi. Perempuan itu telah meminum obat untuk mengugurkan janin tidak bersalah yang bahkan belum ayahnya ketahui. Elgara benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan yang telah belasan tahun ia nikahi.


Elgara bahkan belum mengetahui kehadiran calon anak keduanya, sedangkan Estrella tanpa perasaan telah membunuhnya.


Sepertinya memang keputusan untuk bercerai sudah sangat benar. Toh, Elgara sudah tidak tahan lagi hidup bersama perempuan toxic seperti Estrella yang tega membunuh darah dagingnya sendiri.


✈️✈️


TBC


KOREKSI TYPO 🙏🏻


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐


Tanggerang 28/10/22

__ADS_1


__ADS_2