
DIM. 9
“Udahan marahnya?”
“Hm.”
“Tapi kakak kelihatannya masih kesal.”
“Hm. Sedikit,” timpal laki-laki rupawan yang tengah memejamkan mata seraya menikmati usapan lembut di rambut hitam legam miliknya. Ia memang suka sekali jika diperlakukan seperti ini. Apalagi oleh sang kekasih.
“Kakak enggak boleh galak-galak sama orang. Serem tau.”
“Tergantung.”
Gadis cantik itu mengangkat sebelah alis seraya bertanya. “Tergantung apanya?”
“Tergantung orangnya,” jawab si tampan pemilik nama yang memiliki arti anak yang cinta damai, percaya pada keadilan Tuhan, dan memiliki wajah yang tampan.
Gadis bergolongan darah O itu mengerucutkan bibir seraya memainkan sejumput rambut hitam yang ada dalam genggamannya. Dari atas sini, wajah tampan laki-laki bernama lengkap Palacidio Daniel Adhitama Xander tampak semakin unreal. Visual yang terpahat di wajahnya benar-benar seperti kartun animasi 3D buatan tangan manusia yang dalam proses pembuatannya selalu mengutamakan keindahan dan kesempurnaan.
Tapi ini Palacidio Daniel Adhitama Xander. Putra sulung dari pasangan couple goals Darren Aryasatya Xander dan Evelyn Angelista Atmarendra. Pasangan yang benar-benar saling melengkapi dalam ikatan yang terbentuk karena saling mencintai. Memiliki orang tua yang diberikan visual luar biasa unreal, ternyata berpengaruh besar pada anaknya. Contoh saja Dan.
Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada si tampan satu ini? sekalipun Dan kerap kali memperlihatkan kesan tidak bersahabat karena raut wajahnya yang datar, dingin, dan cuek, namun pada kenyataanya Dan itu sangat sweet. Posesif. Over protektif. Dan over selektif. Itulah Dan, jiplakan nyata dari Darren Aryasatya Xander.
“Udahan yuk ngobrolnya. Duchess harus ke bawah buat bantu Mère menyiapkan makan siang.”
“Sebentar lagi.”
“Sebentar lagi? Memangnya kakak mau ngapain lagi? Kita udah selesai belajar bersama sama ngobrolnya, ‘kan?”
“Belum.”
“Apanya yang belum?”
“Masih belum kenyang berduaan sama kamu,” kata dan enteng. Membuat Duchess tertawa kecil, sampai-sampai kedua matanya membentuk cekungan mirip bulan sabit. Bulan sabit yang cantik dan mempesona setiap mata yang melihatnya.
“Kakak belajar kata-kata seperti itu dari mana sih? Duchess geli dengarnya ih.”
“Itu kalimat spontan. Bukan kalimat yang dipelajari secara otodidak,” sanggah Dan seraya beranjak dari pangkuan Duchess. “Nanti pulang agak sorean, nggak papa?”
__ADS_1
“Memangnya kak Dan mau ngajak Duchess ke mana?”
“Basecamp. Mau?”
Duchess mengangguk dengan raut wajah antusias. “Duchess udah lama enggak ke sana. Kemarin-kemarin kak Elang yang ngajakin ke sana, tapi Duchess tolak terus.”
“Kenapa? Nunggu aku yang ngajak ke sana?”
Duchess mengangguk, namun sedetik kemudian menggeleng. “Kalau Duchess pergi sama kak Elang, memangnya kak Dan nggak marah? Kakak, kan, gak suka Duchess pergi sama cowok lain.”
“Good girls,” komentar Dan seraya menyentuh pelipis sang kekasih. “Kalau mau pergi ke suatu tempat harus sama aku. Ingat itu.”
“Aye aye kapten!”
Dan tersenyum tipis, lantas menggenggam tangan sang kekasih dengan lembut. Sudah cukup lama Dan menawan sang kekasih di sini. Kedatangan Duchess ke sini bukan tanpa alasan, gadis cantik yang sangat suka mata pelajaran matematika itu datang untuk bimbingan secara private dengan Dan yang jagonya matematika. Selain itu, sekalian menghabiskan weekend bersama. Sekalipun kebersamaan mereka sempat diganggu oleh kehadiran Dyra yang terus menempel pada Duchess. Baik putra maupun putri Xander sepertinya memang terobsesi pada putri mantan sekretaris ayah mereka itu.
Jika ada Duchess di sekitar rumah, Dan maupun Dyra tak segan-segan berebut perhatian Duchess. Adik dan kakak itu sama sekali tidak mau mengalah jika sudah berhubungan dengan Duchess.
Dengan bergandengan tangan, Dan dan Duchess menuruni anak tangga seraya melontarkan obrolan-obrolan ringan. Saat sudah tiba di ruang makan, aroma harum langsung terhirup oleh indra penciuman. Aroma lezat yang menggugah selera itu, mampu membuat perut siapa pun keroncongan secara tiba-tiba. Jika nyonya rumah ini sudang memiliki jadwal free dari kesibukannya di dunia showblitz, ia akan bereskperimen di dapur dan menghasilkan berbagai menu makanan yang rasanya seperti makanan yang diolah oleh Chief bintang lima.
Memiliki istri seperti Evelyn yang paket komplit memang sangat menguntungkan. Untuk urusan perut dan kebutuhan sehar-hari, tidak perlu dihiraukan lagi. Sekalipun sibuk bekerja, Ev tetap mengutamakan kebutuhan istri dan anak-anaknya.
“Mère, Perè, selamat siang,” sapa Duchess riang saat melihat pasangan suami-istri pemilik rumah ini.
Selain itu, Dan juga posesif akut, galak, tukang ngatur, cemburuan, suka seenaknya, dan terkadang pervert. Sifat Dan yang paling berat bagi Duchess sendiri adalah sifat posesif dan cemburuan nya itu loh. Hanya segelintir orang yang tahu memang, bagaimana posesif dan cemburuan nya Dan. Jika Duchess mendapatkan tawaran pemotretan saja, harus diseleksi terlebih dahulu oleh Dan. Apakah layak Duchess ambil atau tidak. Pernah sekali, Duchess menerima tawaran pemotretan untuk salah satu brand pakaian remaja. Ada beberapa look couple yang Duchess bawakan, salah satunya look couple bernuansa sport.
Di akhir foto yang diambil dan dijadikan sampul adalah foto Duchess yang sedang bergandengan tangan seraya tersenyum lepas dengan partner kerjanya. Dan yang tidak sengaja melihat foto itu, keesokan harinya langsung mogok bicara dan terus membuntuti Duchess pergi kemana pun. Terkesan childish memang, namun hal itu masih dimaklumi oleh para orang tua, karena mereka juga ‘marahan’ dalam tahap marahan yang masih bisa dianggap ringan.
“Mère masak apa saja siang ini? maaf. Tadi Duchess enggak bantu Mère masak.”
“It’s okay, cantik. Lagipula sudah ada yang membantu Mère kok.” Ev menjawab dengan ramah. “Hari ini Mère masak ayam pedas bumbu kuning, ayo dicoba.”
“Oh, ya? Siapa? Pasti Mbok surti sama mbak Dini,” tebak Duchess.
Ev yang tengah menyajikan ayam pedas bumbu kuning di atas meja itu menggeleng. Di tatapnya si cantik yang sudah duduk di samping sang putra. Putri dari sahabatnya itu tampak ceria dalam setiap kesempatan, seperti biasa. Seolah-olah ia adalah matahari yang harus selalu shining alias bersinar dengan cerah untuk menyinari bumi dan seluruh jagad raya. Duchess memang seperti ibunya yang selalu ceria, shining, bikin mood, dan terkadang cerewet.
“Mère dibantu saya Capella,” kata Ev seraya menoleh ke samping.
Bersamaan dengan itu, si pemilik nama muncul dengan kedua tangan membawa mangkuk berukuran cukup besar yang berisi makanan kuah yang masih mengepulkan uap panas.
Melihat siapa yang baru saja datang, Dan dan Duchess langsung memperlihatkan ekspresi yang berbeda. Duchess tampak berekspresi biasa saja, sedangkan Dan malah terlihat semakin tidak bersahabat.
__ADS_1
“Kenapa ada dia di rumah kita, Mère?” tanya Dan to the point.
“Tadi Capella menawarkan diri untuk membantu menyiapkan makan siang, sebagai bentuk permintaan maaf Capella karena udah merusak tanaman bunga punya Mère.”
Suara derit kursi makan mengalihkan perhatian, termasuk perhatian si kepala keluarga yang dari tadi lebih memilih fokus menyuapi sang putri.
“Dan sama Duchess makan di luar saja,” kata Dan tiba-tiba.
“Eh, kok tiba-tiba Dan mau makan di luar? kenapa? Mère udah masakin makanan kesukaan Duchess loh.” Tergambar jelas raut kecewa di muka sang ibu.
Dan lemah akan hal itu. Namun, ia benci melihat gadis sok polos yang berdiri kikuk di samping ibunya. Dan benci gadis itu. Saking bencinya, Dan sampai-sampai tidak mau berhubungan dengan apapun yang terhubung dengan gadis itu. Kenangan buruk yang tertinggal di masa lalu masih melekat kuat di ingatan. Membuat Dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi gadis itu, seperti warning dari sang Perè.
“Mère pilih saja, suruh dia pergi, atau Dan sama Duchess yang pergi,” kata Dan datar seraya menggenggam tangan sang kekasih.
Duchess sendiri masih belum mendapatkan kejelasan, kenapa Dan sangat membenci Capella. Ada apa sebenarnya di antara mereka?
Padahal gadis yang memiliki nama cantik dan unik itu tampak tidak berbuat salah apa-apa. Ia sekilas terlihat polos dan lugu, seperti arti namanya, Capella yang berarti kambing kecil dalam bahasa Latin. Capella juga merupakan nama bintang kuartet dengan dua pasang bintang biner. Bintang Capella ini adalah salah satu bintang yang terang di langit, setelah Vega (Alfa Lyrae), Arcturus (Alfa Bootis), Alfa Centauri, Canopus (Alfa Carinae), dan Sirius (Alfa canis mayoris).
Terlepas dari nama dan arti yang terkandung di dalamnya, Dan tetap tidak memiliki rasa suka setitik pun pada Capella karena sebuah alasan yang sangat membekas di kepala Dan.
“Dan, jangan egois. Mère sudah capek-capek masak, masa kamu mau makan di luar? kamu sedang belajar tidak menghargai usaha orang tua?” kata Darren, buka suara. Padahal ia juga tak suka ada anak mantan mistress nya di dunia mimpi belasan tahun silam.
“Tapi kalau Dan sama Duchess memang sedang ingin makan sesuatu di luar, Mère tidak akan memaksa kalian untuk makan di sini.”
Ev mengalah dengan senyum ramah. Ia tahu sang putra tidak akan mau makan jika ada sesuatu yang tidak ia sukai berkumpul di satu meja yang sama dengannya. Namun, Ev juga tidak bisa menolah mentah-mentah tawaran yang datang dari Capella. Gadis yang lugu itu tadi sempat meminta maaf dengan berurai air mata karena telah merusak tanaman bunga milik Ev. Ev sempat ingin marah, namun urung. Ia memilih menunduk dengan sopan. Ev juga menerima tawaran Capella yang ingin membantu, karena besok juga gadis itu sudah tidak ada di sini lagi. Jadi, why not?
Namun, siapa sangka penolakan sang putra sangat begitu besar. Putranya itu kelihatan enggan sekali melihat putri mantan bodyguard yang bekerja untuk keluarga mereka itu.
“Dan sama Duchess makan di rumah,” kata Dan pada akhirnya. Disambut senyum oleh sang ibu, juga Duchess. “Tapi di kamar,” lanjutnya.
“Dan menolak makan dengan pembunuh.”
💐💐
TBC
NEXT?? JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇
ABSEN JUGA SAMA 💙💙💙💙💙💙💙
LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
__ADS_1
Koreksi Typo juga 🙏🏻
Sukabumi 07-07-22