Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 62


__ADS_3

DIM. 62




“Mirip sekali ya, Mas?”


Laki-laki paruh baya yang tengah menikmati omurice—nasi putih yang digoreng bersama saus tomat dan diberi topping omelet creamy khas Jepang—pesanan istri tercintanya itu mengangguk. Ketika sadar akan jawabannya, ia langsung berdeham.



“Kamu tidak gagal move on ‘kan, Mas?”


“Uhuk, uhuk.”


“Ya ampun, Mas. Minum dulu biar lega tenggorokannya,” ujar Dayu seraya membuka satu botol air mineral untuk sang suami. Ketika batuk sang suami sudah mereda, Dayu langsung mengucapkan permintaan maaf sebagai bentuk rasa bersalah. “Maaf, Mas. Kamu jadi tersedak gara-gara aku.”


“Hm.”


“Tapi, kamu tidak benar-benar gagal move on, ‘kan?”


Dean Wijaya menghela napas kecil seraya menatap sang istri lekat. Yang ditatap demikian kontan salah tingkah. Pasalnya ditatap oleh Dean Wijaya itu mampu membuat kinerja seluruh sistem operasi di dalam tubuh lumpuh.


“Kamu masih tidak yakin kalau aku belum melupakan Ev?”


“….”


“Lalu Dian itu apa?” tanya Dean seraya tersenyum tipis.


“Putra kita.” Dayu menjawab dengan sekenanya.


“Ya sudah,” sahut Dean seraya kembali menatap sisa omurice di piringnya. “Tanpa aku jelaskan sekali pun, seharusnya kamu tahu arti kamu dalam hidupku setelah Dian lahir di antara kita.”


Dayu tertegun untuk beberapa waktu. Ia kemudian kembali tersenyum tipis seraya menatap wajah tampan sang suami dari samping. “Kalau begitu tidak apa-apa ‘kan kalau semisal Dian kita dekat dengan Emily?”


Dean mengernyitkan kening mendengar pertanyaan sang istri. “Tidak apa. Memang kenapa?”


Dean mengangguk. Ia kemudian mengalihkan tatapan sejenak ke arah hospital bed, tempat di mana sang putra masih ditemani oleh gadis bernama Emily. Mereka tampak mengobrol ringan seraya menikmati indahnya bias langit senja yang tergambar di luar jendela. Posisi hospital bed dan satu set sofa yang tersedia agak jauh, jadi mereka dapat berbicara secara leluasa, tanpa mengganggu aktivitas Dian dan Emily.

__ADS_1


“Melihat putri Pak Edwar membuat aku mengingat masa lalu. Lalu satu pertanyaan tiba-tiba muncul. Bagaimana jika Dian berakhir bersama gadis bernama Emily itu, tanpa harus bersusah payah memperebutkan Duchess.”


“Aku juga memikirkan hal yang sama, Mas,” sahut Dayu. “Selama ini kita terlalu mengekang Dian, serta kurang memperhatikan tumbuh-kembangnya dengan baik.”


Sebagai seorang ibu, Dayu tahu jika ia telah melewatkan banyak hal dari pertumbuhan putranya. Ia merasa sangat bersalah pada Dian yang selama ini telah melewati banyak hal seorang diri tanpa banyak mengeluh. Ketika kembali ke rumah, Dian kemudian mendapatkan tambahan beban berupa sejumlah tuntutan. Contohnya saja tuntutan untuk dekat dengan princess Daneen. Dayu dan Dean sebenarnya cuma ingin membuah hubungan keduanya kembali membaik, namun cara yang mereka gunakan salah.


Padahal sebagai orang tua, tujuan mereka hanya satu. Membuat Dian mendapatkan kebahagiaan dengan gadis lain, selain bersama Duchess tentunya. Mereka hanya takut Dian merasakan triangle love alias cinta segi tiga yang menyakitkan seperti kisah di masa lalu. Walaupun demikian, ternyata Dean dan Dayu salah kaprah selama ini. Dian tidak mau dekat dengan princess Daneen lagi, karena memiliki alasan yang kuat. Alasan yang selama ini tidak diketahui oleh kedua orang tuanya.


“Baru sekarang aku baru bisa melihat putra kita begitu lepas ketika bersama Emily.” Dayu menatap sang putra, meneliti setiap ekspresi yang tercipta di wajah rupawan tersebut. “Hanya Emily satu-satunya teman perempuan yang membawa dampak positif untuk Dian.”


Perkataan Emily barusan bukan berarti Duchess tidak baik bagi Dian, hanya saja Duchess itu sudah ada Dan. Sedangkan ketika Dan dan Dian berada dalam ruang lingkup yang sama, maka akan terjadi bentrokan di antara mereka. Sedangkan ketika Dian bersama Emily, tidak akan ada bentrokan yang terjadi. Dikarenakan Emily itu anaknya netral. Ia juga bersih dari skandal. Skandal dalam artian isu tengah menjalin hubungan dekat dengan siapa, dan sebagainya.


Selama ini yang terdengar soal Emily Atha Atmarendra adalah segudang prestasi yang gemilang. Membuat putri salah satu menteri yang bertahan lama di kabinet RI itu cukup banyak diperbincangkan, baik di dalam ranah politik, pendidikan, kebudayaan, sampai kekeluargaan. Pesona seorang Atmarendra memang sejak dahulu tidak perlu diragukan lagi.


“Dokter Hani sudah memberikan catatan kesehatan terbaru Dian, Mas.”


“Apa ada masalah yang serius?”


Dian bertanya demikian, karena didasari rasa risau sebagai seorang ayah. Ia tahu betul jika putranya itu bermimpi untuk menjadi abdi Negara. Lebih tepatnya menjadi salah satu anggota pasukan elit dari TNI Angkatan Laut, pasukan Detasemen Jalamangkara atau DENJAKA.


Dean dan Dayu sepenuhnya mendukung cita-cita tersebut. Oleh karena itu, walaupun sibuk, mereka tetap mengingatkan dokter keluarga Wijaya untuk selalu melakukan chek up rutin pada putra mereka. Namun, ternyata ada satu kondisi yang mereka lewatkan selama ini. Kondisi di mana sebenarnya putra mereka sangat tersiksa karena sebuah trauma, sehingga ia berkali-kali mengalami kesulitan tidur dalam kurun waktu tertentu.


“Untuk membuat kondisi Dian lebih baik, bukan berarti kamu harus berhenti bekerja.”


“Lalu apa, Mas? aku tidak sepintar Mbak Ev dalam mengatur waktu untuk mengurus pekerjaan, suami, serta anak-anaknya.”


Dean menghela napas kecil. Ia kemudian kembali menatap sang istri dengan tatapan yang tidak dapat dibaca. “Kita perbaiki satu per satu dengan perlahan-lahan.”


“Caranya?”


“Ada banyak cara yang dapat kita lakukan. Kita bisa memulainya dari pembicaraan antar keluarga bersama Dian.”


Dayu mengangguk, setuju akan opsi yang ditawarkan oleh sang putra. Mungkin dengan cara ini hubungan mereka dengan putra mereka akan lebih baik. Sebelum semakin buruk dan rumit, setidaknya sebagai orang tua mereka punya niatan untuk memperbaiki segalanya.


“Bagiamana kalau kita undang Emily untuk makan malam setelah Dian keluar dari rumah sakit, Mas?”


“Boleh saja,” kata Dian. “Tanyakan dulu pada Emily, apa dia ada waktu untuk mampir ke rumah.”


Dayu mengangguk. Pembicaraan mereka yang kembali berlangsung, terpotong oleh suara langkah kaki yang terdengar mendekat.

__ADS_1


“Om, Tante, Emily mau izin pulang dulu.”


Dean dan Dayu kompak mengangguk. Pandangan mereka kemudian beralih pada sang putra yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Emily. Berdiri sambil memegang tiang infus.


“Terus Dian mau kemana? Mau ke toilet?” Dayu beranjak. Hendak membantu sang putra.


Gelengan kepala ditujukkan Dian, tanda bahwa bukan itu alasan kenapa ia meninggalkan hospital bed. “Aku mau antar Emily ke depan, Mas.”


Dayu menatap sang putra tidak percaya. Begitu pula dengan Dean yang tampak menatap sang putra penuh selidik. Kok tumben, pikir mereka. Biasanya selain Duchess, Dian anti sekali mengurusi yang namanya perempuan. Sekarang Dian bahkan merepotkan dirinya sendiri untuk mengantar Emily. Padahal kondisi Dian saat ini sedang kurang fit.


“Kalau begitu Emily pamit dulu, Om, Tante.”


Duplikat Evelyn itu tersenyum hangat seraya menyalami orang tua Dian satu per satu. Sedangkan Dian diam di tempatnya berdiri, tampak mengamati.


“Hati-hati di jalan, Emily. Kalau kamu ada waktu luang, jangan sungkan untuk main ke rumah Dian selagi kamu masih ada di Jakarta.”


Emily mengangguk dengan binar antusias di wajahnya. “Boleh, Tante?”


“Tentu saja boleh,” kata Dayu seraya melirik sang putra yang masih pandai menjaga ekspresi.


“Kalau begitu Emily akan mampir ke rumah kalau Dian sudah siuman. Emily penasaran sama perpustakaan pribadi keluarga Wijaya. Katanya, di sana ada banyak buku-buku pengobatan tradisional dan historical kuno.” Setelah berkata demikian, dehaman dari arah samping mengambil alih perhatian.


“Ayo, aku antar. Pak Muklis sudah menunggu di depan.”


Emily mengangguk seraya kembali menolehkan kepala ke arah Dean dan Dayu. Ia tampak merasa tidak enak karena harus diantar segala oleh Dian. Ditambah lagi Dian sedang sakit.


“Tidak apa-apa, Em. Dian sepertinya sudah cukup sehat untuk mengantar teman perempuannya pulang,” goda Dayu. Seolah-olah tahu apa yang membuat Emily ragu. Dean sendiri tersenyum kecil dari tempatnya duduk.


“Sudah, Em. Ayo pulang. Nanti kamu terjebak macet,” kata Dian, buka suara. Tanpa diminta, satu tangannya yang bebas dari tiang infus meraih pergelangan tangan Emily.


“Aku antar Emily dulu, Mah, Pah. Tidak perlu khawatir jika dalam lima menit aku belum kembali, karena seperti kata Mamah, aku sudah cukup sehat untuk mengantar teman perempuan ku pulang.”


💐💐


TBC


Bentar lagi ending, it's okay ✋


Tanggerang 11-20-22

__ADS_1


__ADS_2