Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM 8.


__ADS_3

DIM 8.


Ayang-nya Dan yang paling cantik 💙



“Selamat pagi pak Satpam,” sapa gadis cantik yang baru saja memunculkan kepala dari jendela mobil mercy yang terbuka.


“Selamat pagi juga, non Duchess yang cantik.” Satpam yang selalu sigap berjaga di pos jaga itu menjawab sapaan gadis cantik yang sudah familiar di mata tuanya. “Mau ketemu aden Dan ya, non?”


Si empunya nama mengangguk seraya tersenyum tipis. “Kak Dan ada di rumah, kan, pak?”


“Ada non. Soalnya bapak belum lihat aden keluar rumah.”


“Ok, kalau gitu Duchess masuk dulu ya, pak.”


“Silahkan non.”


“Ah, iya, ini buat bapak,” ujar Duchess seraya membuka pintu mobil supaya ia leluasa memberikan sebuah paper bag.


“Apa ini non?”


“Itu cheese tart, pak. Tadi pagi Duchess bantuan mommy baking, terus keinget bapak. Bapak sama keluarga, kan, suka keju. Jadi Duchess bawakan sekalian.”


Satpam di kediaman Xander itu langsung tersenyum sumringah. Gadis cantik itu memang sering kali membawakan berbagai jenis kue yang memanjakan lidah. Kue-kue yang dibuat dari bahan premium, yang jika dijual mana bisa dibeli oleh selembar atau dua lembar uang recehan itu selalu diberikan cuma-cuma.


“Kalau gitu Duchess masuk dulu ya. Bye, bapak.”


Setelah memberikan paper bag tersebut, Duchess langsung diantarkan ke kediaman Xander oleh supir pribadinya. Gadis cantik yang pagi ini menggunakan dress motif flora itu tersenyum lebar saat turun dari mobil. Ia memang sudah janji akan main ke rumah sang kekasih untuk menghabiskan akhir pekan. Namun, senyum Duchess tak bertahan lama, karena retina matanya tiba-tiba menangkan sosok gadis asing yang tengah mencabuti sesuatu di halaman samping kiri, dekat kolam yang terhubung ke area paviliun.


Duchess belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Siapa ya? dan sedang apa di sini?


“Kamu siapa?” tanya Duchess yang sudah berdiri dekat gadis asing itu. Karena penasaran, Duchess memutuskan untuk menghampirinya.


“Aku ….Capella.”


Duchess menatap gadis itu dengan raut penuh tanya. “Capella siapa? Kenapa ada di sini? Kamu ada urusan apa di rumah ini?”


“Capella….” Gadis asing yang menggunakan dress putih model baby doll itu tampak bicara dengan gugup. “….menginap di sini.”


“Oh, kamu tamu kenalan Mère sama Perè, ya?” tebak Duchess dengan senyum ramah. Tidak mungkin mereka mengijinkan orang asing menginap. Pasti kenalan dekat, pikir Duchess.


“Terus kamu sedang apa di sini?” tanya Duchess kemudian.


Gadis polos bernama Capella itu tampak menunduk seraya kembali memusatkan pandangan ke arah rumput yang tadi ia cabuti. Mau menjawab, tapi sudah didahului oleh Duchess.


“Itu ….kamu yang cabutin?” tanya Duchess, tampak shok.


Capella mengangguk dengan polos. “Kenapa? Ini rumput liar. Di tempat Capella tinggal, rumput seperti ini harus sering dicabut supaya tidak menganggu tumbuhan yang lain. Rumput ini termasuk hama.”


Duchess tampak semakin shok mendengar penuturan gadis yang sepertinya sebaya dengannya itu. “Oh, no. Itu bukan rumput liar. Kamu kenapa lancang cabut-cabut bunga punya Mère?” Duchess dengan segera meraih pot putih yang ditumbuhi tanaman yang dibilang rumput liar itu.

__ADS_1


“Itu ….memang rumput, ‘kan?”


“Tentu saja bukan,” kata Duchess sedih. Sebagai putri seorang pemilik florist cukup besar dan terkenal di daerah Jaksel, Duchess tentu tahu jika tanaman itu bukanlah rumput liar. “Ini bunga Daffodil punya Mère yang didatangkan langsung dari luar negeri.”


“B-unga Daffodil?” tanya Capella yang awam akan bunga itu.


“Iya. Bunga ini memang kelihatan kayak rumput biasa kalau belum berbunga, karena bunga ini cuma berbunga di musim semi,” tutur Duchess. Ia tahu betul jika bunga Daffodil atau biasa disebut bunga Narcissus yang dapat tumbuh setinggi 2 kaki atau setara dengan 60 centimeter itu, adalah salah satu koleksi bunga favorit si empunya rumah.


Bunga yang memiliki bagian tengah yang seperti terompet berwarna oren, sedangkan kelopak bunganya berwarna kuning cerah itu sengaja Ev beli, sekali pun tahu jika bunga itu mustahil mekar di Negara Tropis seperti Indonesia. Nama lain bunga ini sendiri—Narcissus—diambil dari nama dewa Yunani. Menurut legenda, Narcissus sangat terpikat dengan bayangannya sendiri di sungai, sehingga dia mencoba menangkap bayangannya sampai tenggelam di sungai. Lalu bunga yang tumbuh setelahnya dinamakan Narcissus. Nama Narcissus kemungkinan diambil dari keindahan gambar pantulan dari bunga Daffodil di air.


Ev menyukai bunga Daffodil karena bunga itu memiliki berbagi arti dan simbol. Bunga daffodil adalah simbol permulaan baru, terlahir kembali, kreatifitas, inspirasi, semangat, kesadaran, ingatan dan pengampunan. Sedangkan di Cina, bunga ini dijadikan sebagai simbol nasib baik dan dijadikan sebagai simbol resmi tahun baru Cina. Sementara di Jepang, bunga ini dijadikan sebagai simbol kesenangan dan kebahagiaan. Di Prancis sendiri, bunga ini menjadi simbol sebuah harapan.


“Mère pasti sedih kalau tahu bunganya kamu rusak.”


“M-aaf, Capella gak tahu,” lirih gadis itu seraya menundukkan kepalanya semakin dalam.


“Lain kali jangan diulangi lagi. Kamu ini di sini bertamu. Sudah seharusnya kamu menjaga etika sebagai seorang tamu. Tidak baik sembarangan memegang barang-barang yang bukan milik kamu.”


“….”


“Nanti biar Duchess yang bilang ke Mère. Kalau enggak salah, Duchess masih punya beberapa pot bunga daffodil di depot bunga punya mommy. Sekalian biar nanti Duchess kasih Mère bunga philodendron pink princess. Tapi kamu juga harus minta maaf. Gimana pun juga kamu yang udah rusak bunga punya Mère.”


“Capella….”


Duchess menatap gadis yang tampak pemalu itu dengan lekat. “Kamu enggak perlu takut. Nanti biar Duchess bantu—“


“Greta.”


Belum sempat Duchess menyelesaikan kalimatnya, suara familiar seorang laki-laki yang muncul dari pintu samping kediaman Xander mengalihkan perhatian dua gadis itu.


Duchess mengerucutkan bibirnya seraya membalas perkataan Dan. “Tadi Duchess nyapa pak Satpam dulu. Terus ngasih cheese tart hasil baking tadi pagi. Duchess juga bawa cheese tart buat Mère, Perè, Dyra sama kakak.”


“Pasti rasanya enak.”


“Of course. Itu, kan, yang buat mommy sama Duchess,” jawab Duchess bangga. Kemampuan masak dan baking nya memang boleh diadu. Hasil didikan Mère dan mommy nya secara bertahun-tahun tentu membuat skill Duchess semakin terasah.


Untuk beberapa saat, kehadiran Capella di sana sudah seperti mahluk astral. Tak kasat mata. Tidak terlihat oleh Dan maupun Duchess.


“Ayo naik ke atas,” ajak Dan seraya mengambil telapak tangan Duchess untuk digenggam. Mengabaikan sosok yang sejak tadi ada di dekat mereka.


“Tunggu sebentar, Duchess mau simpan bunga ini dulu, kak.”


“Itu bunga punya .... Mère, ‘kan?” tanya Dan dengan kening bertaut. “Kenapa bentuknya begitu?”


“Ini memang bunga punya Mère. Tadi Duchess enggak sengaja lihat bunga ini—“


“Bunga itu dirusak,” potong Dan dengan satu alis terangkat. “Dirusak sama dia?” ia kemudian menunjuk Capella dengan raut wajah dingin.


“Dari tadi cuma dia yang berkeliaran di sini. Kamu jangan coba-coba membela dia, Greta,” desis Dan tak suka.


Duchess memilih menggelengkan kepala. “Ini memang salah dia. Membela dia tidak akan mengubah apa-apa,” kata Duchess seraya menatap Capella. “Tapi Duchess janji bakal ganti bunga daffodil punya Mère. Duchess masih punya beberapa pot di depot bunga punya mommy.”

__ADS_1


“Tidak perlu. Biar dia yang bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dia perbuat.” Setelah berkata demikian, Dan menatap Capella semakin tajam.


Benar-benar, sudah numpang, tidak tahu diri pula. Makin bertambah lah kadar kebencian Dan pada gadis yang tampangnya sok polos itu.


Benar kata Perè-nya, don’t judge a book by cover. Selentingan itu cocok disematkan untuk gadis yang tampangnya sok polos, tetapi etika tidak dapat di jaga.


Sudah tahu sedang bertamu di sini, kenapa ia lancang sekali?


Semenjak pertemuan pertama mereka belasan tahun silam, tak lantas mengubah atau mengurangi rasa tidak suka Dan. Pertemuan pertama mereka memang tidak dapat dikatakan ‘baik’ apalagi ‘bagus’, karena gadis sok polos ini telah menciptakan ingatan buruk di kepala Dan saat kemunculannya pertama kali.


“Lebih baik kita ke atas,” kata Dan seraya mengeratkan physical touch-nya dengan Duchess.


“Tapi dia—“


“Jangan pedulikan,” potong Dan penuh penegasan. “Ayo,” ajaknya kemudian.


Duchess mengangguk, kemudian meletakkan pot bunga daffodil sebelum mengikuti langkah Dan. Namun, sebelum Dan maupun Duchess sama-sama menghilang di balik pintu, Dan kembali berkata dengan ekspresi yang lebih dingin dan datar.


“Jangan coba-coba jadi pengecut dengan cara lari dari kesalahan yang lo perbuat. Minta maaf ke nyokap gue atas kesalahan yang udah lo perbuat.”


Capella tampak tersentak mendengar kalimat yang diucapkan oleh ‘Pangeran’. Duchess juga agak terkejut karena tiba-tiba Dan berkata demikian. Padahal biasanya Dan tidak pernah menggunakan kata ganti ‘lo-gue’ pada sembarangan orang. Dan hanya menggunakan kata ganti itu pada teman-teman sebayanya yang satu almamater dan sulit diatur, atau anak dari sekolah lain yang suka mencari gara-gara dengan anak SMA Wijaya.


“Pangeran jahat,” lirih bibir yang berwarna pink itu dengan suara yang mulai bergetar.


“Pangeran jahat ….karena sudah dicuci otaknya sama putri penyihir jahat. Capella enggak suka melihatnya.”


Gadis dengan rambut hitam panjang dan bergelombang itu kembali berbicara sendiri. seolah-olah memuntahkan unek-unek di kepalanya yang tersimpan sejak tadi.


“Capella harus bilang sama ibu. Hari ini pangeran marah ke Capella karena putri penyihir jahat. Ibu harus tahu itu.”


Tanpa gadis yang menggunakan dress putih model baby doll itu ketahui, semua gerak-geriknya sudah terekam oleh kamera pengawas yang terpasang di beberapa penjuru rumah. Alhasil semua tingkah lakunya kini bisa disaksikan lewat layar monitor MacBook milik si empunya rumah bersama istrinya.


“See, don’t judge a book by cover,” bisik laki-laki berinisial DAX itu seraya menumpukan dagunya di bahu sang istri yang tampak fokus menonton rekaman pengawas.


“Mungkin Capella memang enggak tahu kalau itu bunga daffodil, mas. Capella selama ini tumbuh dan besar di desa, jadi dia tidak tahu banyak soal bunga.”


“Zaman sekarang sudah modern, sayang. Lagipula kalau anak itu memang tidak tahu, dia seharusnya tidak lancang menyentuh sesuatu yang bukan miliknya. Ini baru lancang menyentuh, lama kelamaan dia bisa saja mau mengambil atau merebut sesuatu yang bukan miliknya. Kayak ibunya saja, lancang.”


“Gimana maksudnya, mas?”


“Enggak, kamu salah dengar,” ralat Darren cepat. Ia kemudian dengan sigap membawa wajah sang istri ke samping saat wanita itu hendak bertanya lebih lanjut. Darren lebih baik membungkam bibir istri cantiknya itu dengan ciuman, ketimbang sang istri menyuarakan ketidakpercayaan lagi.


‘Tunggu saja, Ev. Cepat atau lambat aku akan membongkar sifat asli induk dan anak rubah betina berekor Sembilan itu,’ batin Darren seraya memperdalam ciumannya dengan sang istri.


💐💐


TBC


PERÈ SAMA DAN KOMPAK EUY, MENGUSIR MAHLUK JADI-JADIAN 🫂😄


MAU LANJUT LAGI? JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


KOREKSI TYPO JUGA, JANGAN LUPA 💙


Sukabumi 06-07-22


__ADS_2