Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 32


__ADS_3

DIM. 32


“Apaan tuh?”


“Kepo lo.”


“Lah, gue cuma penasaran dodol.”


“Orderan cewek gue nih,” sahut laki-laki dengan hoodie berwarna hitam tersebut.


Elang yang tadinya sedang sibuk mengutak-atik handphone karena ingin jajan online, dibuat penasaran saat salah satu teman satu tongkrongannya datang membawa sebuah paket berkuran kecil.


“Beli apa lagi cewek lo? Perasaan dari kemarin chek out barang terus.”


“Gue juga kurang tau. Tapi, katanya barang yang ini bakal nguntungin gue.”


“Heh? Memangnya barang apaan tuh.” Elang yang penasaran langsung mengikuti temannya itu yang berjalan ke arah dapur. “Nyari apaan lo?”


“Gunting.”


“Gunting? Di laci bagian atas, coba cari. Kalau nggak ada, cari di kamar gue.”


Laki-laki dengan hoodie hitam itu mengangguk. Ia kemudian mencari gunting di laci yang Elang maksud.


“Ada nggak, Lang?”


“Ada,” sahut si pemilik nama seraya menunjukkan gunting yang telah ia temukan. Menggunakan benda tersebut, ia kemudian membuka paket berukuran kecil yang dibeli oleh kekasihnya.


“Cewek lo beli permen haram?”


Elang tampak shock saat melihat benda apa yang telah dibeli oleh kekasih Galang—teman satu tongkrongannya. Elang pikir pacar Galang membeli sesuatu yang biasa dibeli perempuan pada umumnya. Lah, ini yang dibeli adalah ‘permen haram’ atau kerap disebut permen cinta. Katanya, permen cinta diklaim dapat mengontrol libido perempuan dalam belasan menit saja. Untuk membeli permen cinta juga gampang-gampang susah, susah-susah gampang.


“Gue juga nggak tahu, njir. Lo tahu sendiri, kan, kalau cewek gue yang sekarang kating yang udah terkenal track record-nya.”


“Lo tol*l sih. Pacaran kok sama kating. Sama adik kelas kek, masih lazim,” komentar Elang seraya menoyor kening Galang.


Galang hanya menyengir mendengar kalimat tersebut. “Kating lebih menggoda, ***.”


“Janc*k lah!” umpat Elang seraya membuka lemari pendingin. Mengeluarkan satu box ice cream berukuran mini.


Elang masih tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya—Galang—yang masih duduk di bangku kelas dua belas SMA, namun sudah berani pacaran dengan kating alias kakak tingkat yang notabene lebih tua. Si Galang barangkali memang suka dijadikan berondong. Kalau Elang sendiri sih ogah banget pacaran dengan perempuan yang lebih tua. Nanti ia tidak bisa mendominasi. Lebih baik pacaran dengan perempuan yang usianya sebaya atau lebih muda sekalian.


“Tapi suer, gue juga nggak tahu cewek gue bakal beli yang kayak gini. Serem njirr.”


“Cewek lu tuh,” cibir Elang seraya membuka satu bungkus ice cream, lalu berlalu begitu saja.


Galang tersenyum keki seraya meletakkan ‘permen haram’ yang dipesan sang kekasih di dekat water dispenser. Ia juga bingung harus melakukan apa pada permen laknat tersebut. Di tengah-tengah kebingungannya, handphone yang ada di saku hoodie nya berdering, membuat perhatian Galang teralihkan. Ada nama sang mami tertera di layar telepon.


“Ya, mi. Galang ada kok di tempat les, nggak main ke basecamp.”


“….”


“Nggak mi, suer. Kalau mami nggak percaya sama Galang, coba tanya Elang. Soalnya Galang lagi les sama Elang,” dalih Galang seraya buru-buru mencari Elang untuk membantu meyakinkan sang mami. Ia memang bolos les bahasa Perancis, karena memilih kongkow dengan teman-teman satu tongkrongan.


Tanpa Galang sadari, ‘permen haram’ yang kekasihnya beli untuk mereka gunakan bersama dibiarkan teronggok begitu saja di dekat water dispenser.


💐💐


“Sumpah, Dan. Bukan gue yang beli permen gituan.”

__ADS_1


“Terus siapa?”


“Si Galang, anjir. Ceweknya yang beliin, katanya buat dipake barang malming nanti. Emang nggak ada ahlak tuh cewek si Galang,” cerocos Elang yang mencoba membela diri. “T-erus sekarang gimana, Dan? Katanya efek dari permen cinta bakal bereaksi belasan menit setelah dimakan.”


Dan melirik sang tunangan yang masih asik menikmati roti bakar legend pesanan Elang di ruang tengah basecamp, ditemani oleh Daru yang terliht sedang mengerjakan sesuatu menggunakan MacBook. Gadis cantik itu tampak masih baik-baik saja, tidak ada yang janggal. Namun, tidak tahu belasan menit kemudian.


“Tapi, ada tapinya lagi nih, Dan. Katanya permen cinta itu nggak ampuh-ampuh amat kalau nggak dibantu sama sentuhan fisik atau rangsangan.”


Dan tetap menatap Elang tajam, sekali pun Elang udah mencoba membela diri.


“Gara-gara si Galang nih, bukan gue. Sialnya lagi itu anak sekarang udah cabut. Memang nggak bertanggung jawab!” keluh Elang yang terus menerus dijadikan target laser obsidian hitam milik Dan.


“Terus gimana dong Dan? Gue juga nggak tahu gimana cara ngatasin efek samping dari permen cinta. Pernah nyoba make aja enggak.”


“Apalagi gue!” geram Dan lirih.


Elang langsung mati kutu mendengarnya.


“Suruh anak-anak keluar dari basecamp.”


“Kok tiba-tiba, Dan? Memangnya lo mau apa?” tanya Elang kelewat polos.


“Lakuin aja perintah gue, jangan banyak tanya.” Dan berkata demikian dengan raut wajah semakin keruh.


“Oke, oke.” Elang yang melihat itu langsung menyetujui tanpa bertanya lebih lanjut.


Ini salah Galang, bukan Elang. Si pelaku sudah pulang sejak tadi tanpa dosa, sedangkan Elang di sini yang kena getahnya. Padahal anak papi Dewangga itu tidak tahu apa-apa. Elang masih polos. Elang masih awam dengan hal-hal begituan. Karena Elang tidak pernah melanggar zona aman saat bermain gila dengan para kekasihnya. Paling jauh palingan kissing, buat kissmark, sampai French kiss. Selebihnya tidak pernah, karena Elang juga masih sayang masa depan yang masih membentang begitu panjang.


“Yang lain pada kemana, kak?”


“Pulang,” jawab Dan seraya mengambil posisi di samping Duchess.


“Mau ….belajar.”


“Belajar buat persiapan ujian?” tebak Duchess.


“Hm.”


“Tapi ujian, kan, masih lama, kak. Ini bawa awal masuk semester ganjil.”


Dan langsung kehilangan kata-kata mendengar ucapan sang tunangan. Benar juga, saat ini masih semester ganjil. Masih sangat jauh menuju musim ujian.


“Ujian harian,” ralat Dan kemudian.


Duchess menanggapi ucapan Dan dengan ber-oh ria. Gadis cantik yang hari ini mendapatkan jatah cuti itu kemudian kembali sibuk dengan sebuah buku yang entah berantah kapan ia dapatkan.


“Greta.”


“Iya?”


“Kamu ….tidak merasakan sesuatu yang aneh?”


“Nggak,” jawab Duchess cepat seraya menatap Dan lekat. “Memangnya kenapa kak?”


“Dengar, Greta. Aku tahu kamu itu cerdas, jadi dengarkan kata-kataku dengan baik.”


Lagi, Duchess mengangguk sebagai jawaban.


“Permen yang tadi kamu makan sebenarnya adalah permen yang mengandung sejenis senyawa afrodisiak. Senyawa yang biasa terkandung dalam extrak bunga melati atau ylang-ylang.” Dan menatap Duchess balik, tak kalah lekat. Ia berdo’a di dalam hati supaya ‘permen cinta’ tidak menimbulkan efek yang berbahaya seperti yang terkenal diluaran. “Kamu tahu, kan, senyawa afrodisiak?”

__ADS_1


Duchess mengangguk dengan ragu. Agaknya ia sudah merasakan ada perasaan aneh yang mulai menjalar di seluruh tubuh, apalagi saat Dan mengenggam tangannya. “Senyawa afrodisiak adalah senyawa yang dapat meningkatkan ….gairah seksual serta dapat meredakan stress.”


Darren, Ev, Damian serta Dewita bukanlah orang tua yang mudah lepas tanggung jawab, apalagi menyangkut buah hati mereka. Apalagi saat Dan serta Duchess beranjak dewasa, sebagai orang tua mereka tentu membekali putra serta putri mereka dengan wawasan dasar mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan yang sudah beranjak dewasa. Walaupun Dan serta Duchess sudah dijodohkan sejak kecil, para orang tua tidak membenarkan sentuhan fisik yang berlebihan dan menyalahi aturan. Oleh karena itu, Dan maupun Duchess dibekali wawasan sesuai porsi mereka masing-masing agar tidak salah paham.


Bisa saja mereka salah paham—menghalalkan segara cara karena sudah dijodohkan sejak kecil—padahal dalam aturan mereka masih bukan mahrom. Sejauh ini, batas wajar sentuhan fisik yang diperbolehkan mencangkup pelukan, pegangan tangan, hingga kecup kening. Selebihnya, hanya boleh dilakukan jika mereka sudah MENIKAH.


Dan sebagai laki-laki juga mendapatkan kepercayaan double dari sang Perè serta daddy Duchess . Sebagai seorang laki-laki ia dituntut untuk menjaga perempuan yang ia cintai. Bukan laki-laki gantle jika ia merusak perempuan yang ia cintai, sebelum resmi ia peristri.


“Kakak….”


“Hm?”


“Panas ….badan Duchess sepertinya demam.”


Dan menelan saliva nya susah payah. Efek ‘permen cinta’ sepertinya sudah bereaksi. “Elang. Daru.” Ia kemudian memanggil dua temannya yang pasti masih berada di sekitar basecamp.


“Ada apa Tuan Muda?” tanya Daru keceplosan. Laki-laki itu datang dengan napas memburu. Disusul Elang yang datang terpogoh-pogoh.


“Kenapa Dan?”


“Permennya sudah beraksi,” ujar Dan memberitahu. Ia kemudian meraih tubuh mungil Duchess yang mulai gelisah ke dalam dekapan.


“T-erus gimana? Lo seharusnya jangan buat kontan fisik apapun, Dan. Nanti….”


“Bertahanlah, Greta!” seru Dan, memotong kalimat Elang. “Daru, isi bathub di kamarku dengan air hangat,” titah Dan.


“Baik.”


Daru langsung bergegas melaksanakan perintah sang Tuan Muda.


Dan kemudian beralih lagi pada Elang. “Lang.”


“Ya. Kenapa?”


“Cari air kelapa muda.”


“Hah?”


“Cari air kelapa muda.


“Iya, gue dengar. Tapi, kenapa harus air kelapa muda?” tanya Elang kebingungan.


“Karena air kelapa muda dipercaya mampu menghilangkan efek dari obat-obatan yang ada di dalam tubuh, termasuk efek dari obat perangsang yang terkandung dalam permen cinta.”


“Oh, ok. Gue bakal cari sekarang juga.”


Dan mengangguk. Ia kemudian membawa Duchess ke lantai atas, tempat di mana kamar pribadinya berada di basecamp ini. Ia sudah meminta Daru untuk menyiapkan air hangat di dalam bathtub. Dari wawasan yang Dan miliki, untuk menghilangkan efek samping obat kuat, dapat dengan cara mandi menggunakan air hangat. Kenapa air hangat, bukan air dingin? Jawabannya karena air hangat dapat membuat tubuh merasa lebih relaks sehingga dapat mengurangi rasa sakit atau nyeri yang muncul pada tubuh. Ditambah lagi mandi dengan air hangat, tubuh akan mudah mengeluarkan keringat sehingga efek ‘permen cinta’ dalam tubuh bisa mereda dan keluar dari kelenjar keringat.


“Kakak ….Duchess nggak nyaman….” Rintih Duchess dalam gendongan Dan.


“Bertahan, Greta. Aku akan mengupayakan yang terbaik untuk mengatasi efek sampingnya.” Dan berucap seraya mengecup pucuk kepala Duchess penuh perasaan.


Ia harus bisa menolong Duchess, tanpa merusak kepercayaan sang kekasih serta para orang tua.


💐💐


TBC


Sukabumi 06-08-22

__ADS_1


__ADS_2