Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 25


__ADS_3

DIM. 25



“Kenapa reaksi lo berlebihan gini, Dan? Atau jangan-jangan ….lo ada main sama dia di belakang Duchess?”


Satu kalimat yang spontan dikatakan oleh Elang ternyata mampu memancing amarah Palacidio Daniel Adhitama Xander. Namun, Dan masih waras untuk mengontrol emosi, sehingga ia tidak sampai lepas kendali. Bisa repot urusannya jika Dan lepas kendali.


“Kenapa lo tiba-tiba berasumsi seperti itu?”


Nada bicara Dan berubah. Itu berarti Dan memang sudah terpancing. Elang cukup mahir mengetahui perubahan emosi Dan dalam waktu singkat.


“Gue asal nebak aja sih,” sahut Elang seraya melakukan gerakan jump shoot dengan santai. Tak peduli jika saat ini kemarahan Palacidio Daniel Adhitama Xander sudah berada di ambang batasnya. Elang memang sedang berencana menggali kubur sendiri.


“Atau jangan-jangan tebakan asal gue barusan bener? Lo ada main sama cewek dari kampung itu?”


“Tutup mulut lo!” seru Dan dengan suara dingin. “Lo pikir gue cowok apaan? gue udah ada Duchess.”


“Mana gue tahu.” Elang menjawab seraya mengedipkan bahu. “Bisa aja lo berkhianat di belakang Duchess. Secara sifat lo kayak bunglon, berubah-ubah. Nggak ada yang tahu pasti sifat lo yang asli.”


Dan berjalan mendekat dengan aura yang mematikan. “Kenapa lo jadi begini?”


“Gue jadi gini gimana maksud lo? Gue mah B aja, Dan. Di sini lo yang mencurigakan,” ujar Elang tak gentar. “Lo panggil gue ke sini karena nggak sengaja lihat personal chat gue sama Capella kan? atau lo kaget lihat dia satu kontak sama gue?”


“Gue nggak peduli soal apapun yang bersangkutan dengan cewek sial*n itu.”


“Oh, wow. Ketos kebanggan SMA Wijaya baru aja ngumpat karena cewek. Amazing.” Elang tersenyum miring seraya berkacak pinggang. Ia semakin tertantang untuk melanjutkan obrolan. “Terus, lo panggil gue ke sini karena alasan apa? apa karena lo ….. jealous?”


“Ngelantur lo?” respon Dan seraya mengambil satu bola basket yang kebetulan ada di sebelah kakinya. “Gue panggil lo kesini cuma mau kasih peringatan.”


“Peringatan soal ….?”


“Cewek bermuka dua yang satu kontak sama lo,” sahut Dan seraya memegang bola basket dengan kedua tangan, dengan posisi telapak tangan membentuk seperti mangkuk besar. “Gue mau peringati lo supaya nggak terjebak sama permainannya. Dia itu picik.”


Setelah berkata demikian, Dan mengambil ancang-ancang singkat, kemudian melemparkan bola basket tersebut. Membuat benda bulat berwarna oranye itu melambung tinggi. Tujuannya tentu saja ring basket yang berada cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Namun, bukan Dan namanya jika tidak dapat mencetak angka, sekali pun lewat aksi lemparan jarak jauh. Selain Elang, Dan adalah salah satu anggota basket kebanggan di SMA Wijaya. Ia juga bergabung dengan tim basket inti milik SMA Wijaya yang diberi nama INSANO Team. Kata ‘Insano’ sendiri diambil dari bahasa Spanyol yang memiliki arti gila.


Jika INSANO Team sudah turun ke lapangan, mereka memang akan membuat lawan gila karena frustasi melawan mereka. Selain dapat membuat lawan gila, INSANO Team juga dapat membuat para supporter menggila karena mabuk visual anggota INSANO Team yang tidak main-main. Maka tidak heran jika INSANO Team menjadi regu yang paling ditunggu-tunggu ketika hendak beradu.


“Dia itu cewek nggak bener.”

__ADS_1


“Yakin nggak bener, nih? Atau ini cuma alibi. Secara waktu malam itu, gue lihat lo ngombol sama Capella kayak akrab gitu. Dia juga nginep di rumah lo, itu berarti dia ‘cukup’ dekat sama keluarga lo. Opini mana lagi yang mau Lo bantah?”


“Dia di rumah gue numpang, udah kayak benalu,” balas Dan. “Dia bisa masuk rumah gue cuma karena kebaikan Mère.”


“Ibu lo aja kenal sama Capella. Itu berarti….”


“Mau sampai kapan lo membantah semua kata-kata gue?” potong Dan cepat. “Gue cuma mau ngasih tahu lo, karena gue tahu sifat asli cewek itu.”


“Oh ya?” Elang tampak penasaran. Ia jika sudah mengulik sesuatu, pasti akan diselesaikan hingga tuntas ke akar-akarnya. “Berati bener kalau lo punya hubungan cukup deket sama Capella. Sampai-sampai tau sifat—“


“She is murder,” potong Dan dengan suara dingin. “She's the on who tried to kill Duchess.”


Elang langsung membatu di tempatnya berdiri. Gadis polos, lugu, dan kalem itu adalah seorang pembunuh?


Dan baru saja mengatakannya. Mengatakan bahwa gadis lugu bernama Capella itu adalah seorang pembunuh, dan pernah berencana membunuh Duchess. Kok ia tidak tahu berita sebesar ini?!


“Kapan kejadiannya? Kenapa gue nggak tahu?” tanya Elang beruntun. “Atau lo cuma ngada-ngada?”


Dan menatap Elang lekat tanpa suara. Dan tahu Elang itu pintar dan punya rasa empati yang tinggi. Terutama pada Duchess. Empati yang tinggi dibarengi perhatian yang berlebih Elang terkadang membuat Dan waspada. Takutnya, ada sejarah musuh dalam selimut. Namun, sayang seribu sayang, Elang terkadang terlalu over thinking.


“Insiden itu terjadi saat perayaan ulang tahun ke-delapan gue. Waktu itu lo ikut ke Jepang karena om Dewangga dan tante Daelyn ada kerjaan di sana. Keluarga lo menetap selama setengah tahun di Jepang, padahal seharusnya cuma empat bulan. Tapi, karena saat kalian hendak kembali ke Jakarta, tante Daelyn jatuh sakit, kemudian dinyatakan tengah hamil muda oleh dokter. Jadi om Dewangga memutuskan untuk menunda kepulangan kalian hingga kehamilan tante Daelyn lebih kuat.”


Ternyata ada peristiwa besar yang telah Elang lewatkan pada saat itu. Insiden percobaan pembunuhan terhadap Duchess yang dilakukan oleh ….Capella?


“Karena insiden itu Duchess dilarikan ke rumah sakit. Karena insiden itu Duchess sampai-sampai mengalami fhobia ketika melihat kolam renang. Duchess juga mengalami amnesia retrograde efek dari trauma berat yang dia alami.”


“Amnesia retrograde?”


“Hm. Amnesia retrograde adalah kehilangan ingatan yang bersifat sementara dan tiba-tiba.” Dan menatap Elang dengan tatapan yang berubah menjadi sendu.


Elang tahu betul jika selama ini Dan sangat menjaga Duchess. Bisa dikatakan over protektif malah. Oleh karena itu, ia bisa menangkap kesedihan Dan saat bercerita tentang insiden buruk yang pernah Duchess alami.


“Gue panggil lo ke sini karena mau kasih Lo peringatan. Gue nggak mau cewek sok polos itu nyari mangsa baru lagi. Apalagi mangsanya temen gue sendiri.”


“Maksud lo?”


“Dia ngincer gue.”


“Maksudnya?”

__ADS_1


Kebingungan Elang semakin bertambah setelah Dan berkata jika Capella ‘mengincar’ dirinya.


“Feeling gue kuat soal ketertarikan cewek sok polos itu. Dia udah kayak lintah yang anggap gue itu darah. Dia bakal terus ngejar gue, kalau belum mendapatkan apa yang dia inginkan.”


“Kenapa lo bisa se-yakin ini, Dan? Bisa aja Capella punya rencana lain.”


“Hm. Rencana untuk masuk di antara hubungan gue sama Duchess,” ujar Dan dengan sorot mata yang kian menggelap. “Dia pasti punya rencana untuk itu.”


“Terus rencana lo apa, Dan?”


“….”


“Masa lo mau biarin dia gitu aja? Gue yang baru tahu kalau ‘he is murder’ aja udah gedek banget. Bisa-bisanya dia buat Duchess celaka. Dia nggak tahu aja kalau gue berani pasang badan demi menjaga Duchess,” kata Elang seraya menggulung lengan bajunya. “Terus lo mau apa sekarang?”


“Ikuti permainannya.”


“Hah?”


“Ikuti permainannya. Buat dia percaya kalau kamu sudah berada dalam jangkauannya, lalu tikam secara perlahan.”


“Maksud lo ….gue tetep harus bersikap biasa aja sama Capella?”


“Hm. Kalau bisa, buat dia jatuh cinta.”


Elang menautkan kening mendengar ucapan sang sahabat. “And then?”


“Buat dia merasakan sakitnya patah hati karena dikhianati sampai dia tak percaya lagi akan adanya cinta sejati.”


Dan berbalik, hendak mengambil langkah guna meninggalkan ruangan. “Namun ingat satu hal, jangan sampai kamu melibatkan perasaan dalam permainan yang kamu buat sendiri.”


💐💐


TBC


DAN SUDAH MULAI TAMBAHAN PERLINDUNGAN 😋


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 31-07-22

__ADS_1


__ADS_2