
DIM. 57
“Capella ke sini karena mau bertemu Kak Dan.”
Mendengar kalimat itu terucap dari mulut perempuan yang ia benci sejak lama, membuat Palacidio Daniel Adhitama Xander yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan memilih untuk keluar dari tempat yang menjadi persembunyiannya. Lama-lama ia muak sendiri melihat rencana Elang hancur berantakan. Jika dibiarkan lebih lama lagi, ia yakin Elang akan menggila.
“Mau lo apa sama gue?”
“Capella mau Kakak,” jawab lawan bicaranya tanpa tahu malu.
Dan tersenyum miring seraya melipat kedua tangan di depan dada. “Punya apa lo, sampai-sampai berkeinginan memiliki gue?”
“Capella tidak punya apa-apa selain cinta yang tulus.”
“Tsk. Naif,” komentar Dan. “Sorry, cinta bukanlah sesuatu yang dapat menjadi jaminan.”
“Tapi, Capella mau Kak Dan.”
“Lo terobsesi sama ….wajah gue?”
Capella mengangguk. “Wajah, dan semua yang ada pada Kak Dan, Capella mau memilikinya. Termasuk hati Kak Dan.”
Perempuan ini gila. Tergila-gila. Terobsesi. Tidak tahu malu. Tidak punya harga diri. Pemberani, tetapi tol*l. Psycho. Mungkin semua kata-kata itu yang sekarang terlintas di kepala Elang serta teman-temannya. Melihat bagaimana sifat kukuh Capella dalam mempertahankan keinginannya.
“Gue minta maaf, karena sampai kapan pun keinginan yang lo mau nggak akan terwujud.” Dan berkata seraya merogoh sesuatu yang menggantung di leher—tersembunyi di balik baju yang ia gunakan.
Sebuah kalung yang melingkari leher dengan bandul sebuah cincin terlihat kala Dan berhasil mengeluarkannya. Itu adalah salah tanda, serta bukti jika Palacidio Daniel Adhitama Xander yang sangat menyukai tahu gurita, ayam goreng bacem khas Yogya, dan Americano coffe, sudah memiliki pawang.
“Gue udah ada calon istri sejak umur tiga tahun. Lo….” Dan menunjuk Capella dengan jari telunjuknya. “….mending cari cowok lain yang masih singel. Soalnya gue udah cinta mati sama dia.”
Elang salut mendengar pengakuan Dan. Jika timing-nya pas, ia pasti akan bersorak dan bertepuk tangan heboh seperti orang gila.
Sedangkan Capella memilih tidak menjawab. Namun, cukup jelas perubahan ekspresi di wajahnya.
“Tolong dicatat, cari cowok yang singel, bukan yang memiliki pasangan kayak gue, atau Elang,” lanjut Dan, tak terbantahkan. “Selain Elang, gue berpesan, jangan berani-berani deketin temen-temen gue, entah Daru atau Dian. Jangan pura-pura polos, karena gue tahu lo bakal ngincer salah satu dari mereka, kalau lo gagal dapetin Elang.”
Satu butir air mata lolos dari kelopak mata Capella. Ia terpukul karena Dan telah menebak semua rencana yang sudah tersusun rapih di kepalanya. Capella merasa kalah sebelum berjuang, namun ia belum berniat untuk menyerah.
“Kenapa Kak Dan begini sama Capella?” tanyanya dengan air mata yang kian deras mengalir.
__ADS_1
“Seharusnya pertanyaan itu ditujukan buat lo!” Dan berkata dengan nada datar. “Kenapa lo terobsesi memiliki gue? Apa karena lo mau jadi bagian dari keluarga Xander?”
“Capella….”
“Jawab, kenapa?!” tanya Dan dingin.
“Capella mau Kak Dan tanpa alasan,” jawab Capella kemudian. “Bukankah cinta itu tak bersyarat?”
Dan menyeringai tipis mendengarnya. “Otak lo udah dicuci sampai se-rusak ini, ya? Lo terlalu naif bawa-bawa soal cinta,” Dan bergerak, mengambil satu botol minuman beralkohol yang ada di hadapan Elang. Entah Dan tahu atau tidak, namun botol minuman beralkohol yang ia ambil kebetulan adalah botol yang berisi alkohol asli.
“Lo mau lakuin apapun demi gue?”
“Ya!” jawab Capella tanpa ragu.
Dan menatapnya tanpa ekspresi. “Kalau gitu minum.”
Capella menatap Dan, bergantian dengan botol minuman beralkohol yang laki-laki itu pegang. “Tapi….”
“Kenapa? Takut?”
Capella menggelengkan kepala seraya berjalan mendekat ke arah Dan. Namun, sebelum Capella sempat mengambil botol minuman beralkohol itu, Elang tiba-tiba berdiri dan bergerak cepat merebut botol tersebut.
“Lo udah gila, Dan?!”
“Tapi, ini….” Elang tak melanjutkan. Ia memilih mengumpat dalam gumaman. “****. Kenapa rencana gue jadi gagal total begini sih?!”
Dan menatap Capella datar, kemudian memberikan instruksi lewat sorot matanya. Capella yang sudah dibutakan oleh tekad, dengan segera mengambil botol tersebut. Membukanya dengar gerakan tergesa-gesa yang kentara sekali menutupi rasa risau. Setelah berhasil membuka botol minuman tersebut, Capella langsung meminumnya tanpa ba-bi-bu.
Rasa pahit, sepat, pedas, agak manis, serta rasa panas terbakar langsung menyerang mulut hingga kerongkongan saat minuman haram itu berhasil ia tenggak. Apa ini rasanya alkohol? Pikir Capella di dalam hati.
Hampir seperempat dari isi botol berukuran sedang itu ia tenggak, sebelum akhirnya ia terserang batuk-batuk dan segera menghentikan aksinya.
“Kakak lihat?” tanya Capella setelah batuknya mereda. Masih dengan tangan memegang botol minuman beralkohol yang tadi ia tenggak.
“Ternyata obsesi lo sama gue, buat lo berani melakukan hal-hal gila.”
“Maksud Kakak?”
“Fix, lo punya masalah kejiwaan,” ucap Dan tanpa ekspresi.
Capella tidak mengerti maksud Dan berkata demikian. Bukan kah barusan Dan memintanya untuk memberikan bukti? Sekarang Capella sudah memberikannya. Apa lagi yang kurang?! Capella jadi frustasi.
__ADS_1
“Gue cuma mau lihat sejauh mana obsesi gila lo berlaku,” kata Dan. “Ternyata sudah sampai sejauh ini,” tambahnya. “Gue jadi kasihan sama Pak Elgara. Apa beliau tahu jika putrinya punya masalah kejiwaan separah ini?”
“Kenapa Kakak jadi bawa-bawa Ayah Capella?” kecemasan dapat Dan tangkap dari sorot mata Capella. Takut kah?
Dan kemudian menyeringai tipis seraya merogoh sesuatu dari denim jacket yang ia gunakan. “Sekarang Pak Elgara tahu kelakuan putrinya.”
Dan mengangkat handphone miliknya yang memperlihatkan sambungan telepon yang tengah berlangsung bersama mantan bodyguard Perè-nya itu. “Ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan pada putri Bapak?”
Cukup lama laki-laki di seberang bersuara. Membuat Capella paham betul jika memang itu ayahnya, maka laki-laki itu pasti sedang menahan amarah yang bergejolak.
“Capella.”
Panggilan itu terdengar lirih, mengalun, memanggil si empunya nama untuk menjawab. Berkat fitur loud speakers, semua orang jadi tetap dapat mendengar suara tersebut. Namun, alih-alih menjawab, si empunya nama terlalu takut untuk sekedar bersuara.
“Tunggu Ayah di sana. Ayah akan segera tiba,” pesan ayah Capella dari seberang sana.
Dari nada bicaranya yang terdengar berat, Capella tahu jika sekarang sang ayah tengah menahan amarah, serta menahan kekecewaan.
“Tuan Muda,” panggil ayah Capella pada Dan.
“Hm?”
“Tolong, tahan putri saya sampai saya tiba di sana.”
Dan tersenyum miring. “Sesuai permintaan Anda, Pak.”
“Terima kasih, Tuan Muda. Maaf telah merepotkan Anda.”
Setelah mengucapkan terima kasih, panggilan telepon tidak lama kemudian terputus. Dan kemudian menoleh pada Elang yang tampak sedang mencerna situasi yang ada.
“Lo dengarkan, Lang? tutup semua akses keluar dari tempat ini. kalian yang mau keluar, segera keluar. Kecuali dia.”
Dan menatap Capella yang masih membeku di tempatnya berdiri. Perempuan itu sepertinya kelewat shock.
“Ayahnya akan datang untuk menjemput, setelah mengetahui seberapa parah sakit mental yang putrinya alami.”
💐💐
TBC
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
__ADS_1
Tanggerang 23-09-22