Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 13


__ADS_3

DIM. 13


“Good morning, Dan.”


Hot Daddy yang tengah menyuapi sang putri potongan waffle itu menyapa putranya dengan hangat. Laki-laki muda berparas rupawan yang baru saja bergabung itu tampak melirik ke kanan dan kiri, baru melirik sang ayah sejenak sebelum menjawab sapaan yang ayahnya lontarkan.


“Morning too, Perè. Pagi ini Mère buat apa untuk breakfast?”


“Salmon rice bowl. Tapi kalau kamu tidak mau makan nasi, bisa breakfast sama waffle with berry compote.”


“Dan mau breakfast sama waffle with berry compote saja.”


Darren, ayah laki-laki muda yang tampan nan rupawan itu mempersilahkan. Putranya memang sama seperti dirinya. Bak pinang dibelah dua. Pagi ini sang istri seperti biasa, menyiapkan sarapan dengan dua jenis menu yang berbeda. Ev memasak Salmon rice bowl yang simpel dan mudah dibuat ala Emily Mariko, seorang influence tikt*k asal Jepang-Amerika. Menu yang dibuat dari bahan-bahan berupa salmon fillet, nasi, es batu, alpukat potong dadu atau opsional, kimchi, lada, garam, minyak, soy sauce, saus sriracha, mayones dan rumput laut kering atau nori, cocok untuk dijadikan menu breakfast.



Ev juga membuat waffle with berry compote yang cenderung memiliki citarasa manis, sebagai menu cadangan jika suami dan putranya pagi ini enggan sarapan menggunakan nasi. Ev juga sudah menyiapkan jus buah dan potongan buah segar untuk menambah kandungan gizi dan serat untuk keluarga kecilnya.


“Ada waffle sandwich isi sayuran dan daging juga, Dan. Kamu tidak mau breakfast sama itu?” sapa sang ibu yang baru saja muncul dengan membawa piring berisi beberapa potong waffle sandwich isi sayuran dan daging.


“Boleh. Dan mau sarapan sama waffle with berry compote sama waffle sandwich isi sayuran dan daging.”


“Sebentar, biar Mère siapkan.” Ev tersenyum kecil seraya mencuri satu kecupan di pipi kanan putra sulungnya.


Si ganteng, kalem, irit bicara, diktator, bucin akut, posesif, dan cemburuan. Copy paste dari sang ayah—Darren Aryasatya Xander. Kendati Ev hanya mendapatkan sedikit bagian yang dapat diwariskan pada sang putra, tidak apa. Lagi pula putra tampan mereka ini adalah kebanggan bagi keluarga Xander. Dan adalah cicit pertama, cucu pertama, anak laki-laki pertama dan ahli waris pertama bagi keluarga Xander dan Atmarendra. Tuan Muda satu ini memang sudah jadi milyader semenjak tumbuh dalam rahim sang ibu.


Tahun demi tahun berlalu, kekayaan Dan tidak pernah berkurang, malah kian bertambah. Sekali pun Dan belum resmi bekerja di perusahaan. Bertambahnya kekayaan itu karena properti yang dialih namakan atas nama Dan mengalami kenaikan harga di pasaran. Belum lagi kenaikan harga saham yang Dan miliki di beberapa perusahaan besar milik keluarganya.


“Duchess tumben belum bangun, semalam Duchess tidur larut malam?” tanya Ev sudah berhasil menyiapkan sarapan untuk putranya.


“Duchess sudah bangun, Mère. Duchess sekarang sedang ada kelas online.”


“Weekend begini?” tanya sang Perè, ikut buka suara.


Dan mengangguk. “Duchess bangun pagi-pagi sekali, gosok gigi, cuci muka, belum sempat mandi, langsung standby di depan MacBook,” tutur Dan.


Ev tersenyum kecil mendengar cerita sang putra. “Tadi mommy Duchess sudah mengirimkan keperluan Duchess. Mère simpan di meja dekat pintu kamar Dan. Katanya Duchess boleh main di sini sampai besok, karena mommy sama daddy Duchess juga mau pergi.”


“Tadi Dan sudah ambil bajunya dan kasih ke Duchess.” Dan menoleh pada sang ibu seraya berhenti bicara untuk sejenak.


“Duchess juga minta maaf karena tidak bisa bergabung untuk sarapan bersama. Online class pagi ini katanya penting. Coach-nya yang langsung memberikan arahan.”


“Duchess tidak perlu minta maaf. Lagipula Mère tahu kok gimana sibuknya jadi Duchess yang sejak muda sudah berkutat di dunia modeling.”

__ADS_1


Dan mengangguk seraya beranjak dari posisi duduk.


“Loh, kamu mau kemana Dan?” tanya Darren kala melihat sang putra beranjak dari posisi duduknya. Padahal Dan belum menyentuh sarapan paginya sedikit pun.


“Dan mau nemenin Duchess sarapan di atas. Sorry Mère, Perè.”


“It’s okay, Dan. Temenin Duchess di atas. Ini Mère juga sudah menyiapkan breakfast untuk Duchess.”


“Terima kasih, Mère,” ujar Dan seraya menyunggingkan senyum tipis. Dan lantas mengambil alih piring putih berisi waffle with berry compote dan waffle sandwich isi sayuran plus daging yang cukup untuk dimakan berdua.


Dan kemudian pamit undur diri untuk kembali ke lantai atas. Bertepatan dengan datangnya seorang gadis yang pagi ini menggunakan terusan model sederhana berwarna hijau muda. Rambut hitam panjang milik gadis itu tampak dibagi menjadi dua, lalu dikepang dan dihiasi oleh pita berwarna kuning pada setiap ujung yang sudah diikat. Alih-alih terlihat cantik atau manis, di mata Dan malah terlihat semakin memuakkan.


“Pantesan Dan makin nggak betah di lantai bawah, soalnya ada yang terus berkeliaran tanpa izin,” celetuk Darren saat gadis dengan terusan berwarna hijau itu mendekati Ev.


“Sayang, princess Mère dan Perè, kalau udah sarapannya, naik ke atas lagi yuk.”


“Memangnya kenapa Perè?” tanya si kecil Dyra, polos. “Dyra udah selesai kok sarapannya.”


“Soalnya Dyra lebih baik diam di lantai atas untuk saat ini.”


“Kenapa begitu Perè?”


“Karena di bawah ada tamu yang tidak tahu diri,” kata Darren dalam bahasa Mandarin yang belum dimengerti sang putri.


“Sorry, sayang. Yang penting putri kita belum mengerti,” bela Darren.


Ev menghela napas perlahan seraya berkacak pinggang. Ia kemudian menoleh ke samping, lalu bersuara. “Selamat pagi, Capella,” sapa Ev ramah pada gadis yang berdiri di sampingnya. “Apa tidur kamu nyenyak semalam?”


“I-ya, tante.”


“Syukurlah.” Ev tersenyum ramah seraya menyentuh pundak Capella. “Kamu sudah sarapan belum? Tadi saya sudah suruh bibi mengantar sarapan ke paviliun untuk kamu.”


“Sudah, tante. Terima kasih untuk sarapannya. Masakan tante lezat, kayak masakan ibu. Capella suka.”


Capella berucap dengan suara yang terdengar lembut sekali. Namun di telinga sebagian orang yang mendengar suara Capella, itu terdengar sedikit berlebihan dan jatuhnya memuakkan.


“Itu ….bukan masakan tante. Tadi tante sibuk buat waffle with berry compote dan waffle sandwich isi sayuran dan daging untuk Dan sama Duchess. Nasi goreng spesial dengan topping telur mata sapi yang kamu makan tadi, kebetulan buatan mbok Surti.”


“O…oh gitu, ya, tante....” lirih Capella, tampak tidak dapat menutupi keterkejutan di wajah polosnya.


“Fffftt!”


Darren yang sejak tadi diam-diam menyimak pembicaraan kedua perempuan beda usia itu tak dapat menahan gelak tawa jika ia tidak ingat umur dan titel. Alhasil Darren sebisa mungkin menahan gelak tawanya yang hendak pecah. Lucu deh menurutnya, karena gadis yang terlihat sok mengakrabkan diri itu ternyata salah sasaran.

__ADS_1


“Mas!”


Ev kembali melerai sang suami lewat delikan mata tajamnya. Darren mengangguk paham, lantas beranjak dari posisi duduknya seraya membawa si kecil Dyra. “Aku ke atas dulu sama Dyra. Di sini hawanya nggak enak semenjak kedatangan tamu tak diundang.”


Ev kian menatap sang suami dengan mata memicing. Alih-alih takut, hot daddy dua anak itu malah mengedipkan bahunya acuh seraya tersenyum miring.


“Oh, iya. By the way, Elgara ada calling kamu nggak, sayang? Dia pulang kapan, gitu?”


“Memangnya kenapa?”


“Kalau dia calling kamu, karena nggak berani bicara sama aku, bilang supaya cepat pulang dan ambil putrinya. Di sini bukan daycare, apalagi penitipan anak ABG yang berpotensi membuat putra kita darah tinggi di setiap hari.”


“Mas….” Lerai Ev, agar sang suami tidak berbicara lebih lanjut.


“Oh, iya. Satu lagi, kalau mereka datang, tolong jangan dibiarkan langsung pulang. Ada yang ingin aku sampaikan pada mereka yang telah melanggar janji 17 tahun yang lalu.”


Setelah berkata demikian, Darren masih menyempatkan diri untuk mencuri satu kecupan di pucuk kepala sang istri. Lalu ia pergi bersama sang putri dengan obrolan ringan yang menemani, hingga mereka berdua hilang di balik banyaknya anak tangga. Ev dan Capella masih sama-sama memilih bungkam, karena sama-sama tidak tahu bagaimana cara mengusir situasi akward di antara mereka.


Darren memang tidak menyukai Capella. Entah apa alasannya, namun Ev tahu betul jika Darren satu kubu dengan putra mereka. Dua laki-laki kesayangan Ev itu bahkan tak segan-segan memperlihatkan ketidaksukaan mereka secara terang-terang. Jika sudah tidak suka, maka akan tetap begitu hukumnya hingga waktu yang tidak dapat ditentukan.


“Tante.”


“Iya. Ada apa Capella?”


“Kalau boleh tahu, kenapa om Darren dan kakak Dan benci sekali sama Capella? Memangnya Capella salah sapa?” tanya gadis dengan tampang polos dan lugu itu, dengan tangan bergerak gelisah meremas ujung-ujung dress miliknya.


Ev tampak terdiam untuk sejenak. Pertanyaan ini agak sulit untuk dijawab, karena Ev masih memiliki perikemanusiaan yang tinggi terhadap sesama. Beda dengan sang suami dan putra mereka yang bisa saja meniadakan perikemanusiaan untuk orang-orang tertentu yang mereka anggap tidak perlu diberi keringanan.


“Ada. Kamu punya satu kesalahan yang membuat suami dan putra tante tidak menyukai kamu.”


“A-pa itu tante?”


“Coba kamu ingat-ingat kembali, alasan apa yang membuat suami dan putra tante sangat tidak menyukai kamu.” Ev menatap lawan bicaranya lamat-lamat. “Jika mengingat peristiwa itu kembali, saya pribadi bisa saja sangat membenci kamu. Karena kamu hampir merenggut sesuatu yang sangat berharga bagi hidup putra saya.”


💐💐


TBC


DOUBLE UPDATE UNTUK MENEBUS RINDU. JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


KALAU KOLOM KOMRAMAI, BESOK UPDATE LAGI ☝️


Sukabumi 13-07-22

__ADS_1


__ADS_2