Duchess Is Mine

Duchess Is Mine
DIM. 18


__ADS_3

DIM. 18


(MOMMY DEWITA WALAUPUN GAK MUDA LAGI, TETAP BADASSS 😚)



“Oh, jadi ini bentuk mistress di dunia nyata? Tidak aku sangka akan benar-benar berjumpa dengan kamu.”


“Ella bukan mistress,” bantah si pemilik nama yang berarti bintang itu. Perubahan zaman yang membawa kecanggihan teknologi semakin diperbaharui dan semakin menjangkau seluruh pelosok negeri, sedikit banyak telah membuat Estrella jadi manusia yang lebih pandai dalam hal beradaptasi. Oleh karena itu, ia juga menguasai kemampuan dasar menggunakan bahasa Inggris.


“Ella punya suami yang menikahi Ella sah secara agama dan hukum. Ella juga istri pertama, bukan kedua. Apalagi wanita simpanan.”


“Oh. Kalau begitu, syukurlah,” balas Dewita entang. ‘Setidaknya kamu tidak lagi jadi perusak kebahagiaan Ev di dunia nyata,’ lanjut Dewita di dalam hati.


“Lantas kenapa kamu berani main tangan kepada putri saya? Saya yang mengandung, melahirkan, menyusui, hingga membesarkan dia saja tidak pernah bicara kasar apalagi sampai berani main tangan. Kamu siapa? Berani sekali main tangan kepada putri Dewita Widyatama?”


Dengan emosi menggebu-gebu, Dewita membela sang putri habis-habisan. Enak saja putri satu-satunya, pun kesayangan keluarga Widyatama dipukul begitu saja oleh orang asing. Duchess adalah putri berharga yang sudah seperti harta karun mulia yang tidak ada duanya di dunia.


Duchess adalah mimpi terbesar Damian dan Dewita semenjak menikah. Sempat didiagnosa akan kesulitan memiliki keturunan, membuat Dewita sempat pesimis untuk bisa merasakan kodrat menjadi seorang ibu. Namun, Tuhan telah berbaik hati memberi Dewita dan Damian kesempatan juga kepercayaan untuk menjadi orang tua.


“Itaa, tenang. Kita bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik.” Laki-laki berkaca mata yang dulu menjabat sebagai sekretaris Darren itu buka suara karena sang istri mulai out of control.


“Tapi, mas.” Dewita tampak keberatan dengan usul sang suami. Lawan bicaranya saat ini memang benar-benar menyebalkan.


“Kalau dengan cara seperti ini, tidak akan ada kata selesai dengan damai.”


“Ok,” sahut Dewita dengan tatapan sengit mengarah ke Estrella. “Dan, calon menantu mommy,” panggilnya kemudian dengan tatapan beralih pada Dan.


“Iya, mom.”


“Bawa Duchess ke dalam. Tolong kompres lebam di pipi Duchess dengan es batu. Bisa?”


“Tentu saja, mom,” jawab Dan seraya mengangguk. Ia kemudian merangkul bahu Duchess, lalu melirik Mère daan Perè-nya sebelum pergi. “Dan bawa Duchess masuk dulu.”


Mère daan Perè-nya memberikan izin lewat anggukan kepala. Toh, Duchess memang kelihatan sangat shock. Biar para orang tua saja yang menyelesaikan masalah ini.


“Sekarang kita selesaikan masalah ini,” kata Dewita to the point.


Perempuan dengan midi dress in printed silk motif flora dari Blumarine seharga $1.390 dollar atau sekitar 20 juta rupiah, dengan anting-anting plume de paon ear clips berbentuk seperti bulu merak kecil dengan taburan berlian dari Boucheron seharga $20.600 dollar atau sekitar 309 juta rupiah, ditambah dengan alas kaki Satin mules dari Dolce & Gabbana seharga $795 atau jika dirupiahkan berkisar 11 juta rupiah itu memang seharusnya pergi ke suatu tempat bersama sang suami. Namun, perasaannya tiba-tiba tidak enak, dan ingin sekali melihat sang putri. Jadi Dewita meminta untuk diantarkan ke kediaman Xander terlebih dahulu sebelum berangkat. Sekalian membawakan dua pot bunga daffodil dan satu pot bunga philodendron pink princess yang putrinya pinta.


Ternyata firasat nya sebagai seorang ibu telah memberitahu jika ada sesuatu yang terjadi pada sang putri. Jika saja Dewita tidak datang ke sini, mungkin ia akan jadi orang paling terakhir yang mengetahui soal kekerasan yang menimpa sang putri.


“Ayo kita lihat rekaman CCTV untuk mengetahui kronologi yang sebenarnya,” kata Dewita. “Ev, tolong tunjukkan di mana ruang pengawas di rumah kalian.”


“Lewat sini,” kata si pemilik nama seraya memberikan arahan pada mereka agar mengikuti dirinya.

__ADS_1


Ruang pengawas kebetulan ada di wings mansion Xander sebelah kanan, dekat area pembatas antara ruang indoor dan outdoor.


“Di sini pusat rekaman pengawas yang ada di setiap penjuru rumah tersimpan.”


Ev mempersilahkan mereka masuk ke ruangan yang luasnya sekitar 4x3 meter tersebut. Ia kemudian menepi, mendekati sang suami yang memberikan kode agar mantan sekretarisnya yang sekarang sudah menjadi rekan bisnis maju dan mengutak-atik personal Computer yang merupakan server dari rangkaian jaringan komputer yang digunakan.


“Gimana sayang?” Dewita bertanya seraya mendekati sang suami.


Laki-laki berkacamata itu tampak fokus mengutak-atik personal Computer di hadapannya. “Rekaman CCTV di lokasi kejadian tidak memiliki kualitas gambar yang bagus. Kemungkinan ada trouble pada jaringan, atau pada alat perekam,” kata Damian memberitahu.


Ia kemudian menggeser kan layar monitor agar yang lain dapat melihat dengan seksama. “Walaupun kualitas gambar tidak terlalu jelas, saya bisa menjamin jika putri kami tidak pernah menyakiti putri kalian.”


Damian menatap mantan bodyguard Darren itu untuk sebentar, lalu beralih pada putri dan istrinya. “Duchess tidak menyentuh putri kalian seujung kuku pun,” tambahnya dengan sorot mata datar juga dingin. “Kalian bisa melihat sendiri di rekaman ini, Duchess hanya diam dan berdiri. Walaupun tidak dapat menangkap pembicaraan mereka, namun saya yakin jika Duchess sempat berniat untuk menolong putri kalian. Akan tetapi, putri kalian entah berkata apa sampai-sampai putri kami urung melakukan tindakan tersebut.”


Damian bukanlah pakar ekspresi. Namun, ia adalah orang yang pandai dan teliti. Ia sudah biasa mengamati. Ia tidak akan melewatkan tindakan sekecil apa pun jika sudah diperintahkan untuk mengawasi atau mengamati. Apalagi saat ini menyangkut sang putri. Buah hati yang sangat ia sayangi juga cintai.


“Putri kalian jatuh karena kesalahannya sendiri,” kata Damian datar. “Dia berjalan mundur, tanpa melihat jalan yang hendak dia lewati. Secara logika, manusia akan lebih mudah terjatuh jika berjalan tanpa melihat jalan yang akan dilalui.”


“Kalian dengar itu?” sahut Dewita seraya bersidakep dada. “Lalu kenapa kamu bisa dengan gampang main tangan? Kamu pikir saya akan diam saja jika Duchess disakiti? Saya bisa saja dipidanakan kamu karena sudah berani main tangan terhadap anak di bawah umur. Bukti visum dan rekaman CCTV ini sudah lebih dari cukup untuk membuat kamu mendekam di penjara.


Menurut undang-undang republik Indonesia nomor 23, setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dapat dijatuhi hukum dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp 72.000.000,00 juta rupiah.”


“Saya tidak takut!” seru Estrella tidak mau kalah.


“Ella, sudah,” lerai Elgara seraya menyentuh pundak sang istri. Ini bukan Ella, istrinya yang ia kenal. “Kamu jangan memperkeruh suasana lagi, sayang,” tambahnya mencoba memberi sang istri pengertian. “Capella tidak apa-apa. Kamu yang salah karena telah menampar nona muda Duchess.”


“Ella, sudah. Kita bahas masalah ini lagi di rumah,” ujar Elgara, masih dengan kesabaran yang extra teruji.


“Tapi, mas—“


“Estrella, diam?!”


Si pemilik nama yang berarti bintang itu langsung terdiam mendengar nada suara sang suami yang naik satu oktaf. Mantan bodyguard yang biasanya kalem, lemah, lembut, dan sangat pengertian itu, kalau sudah terpancing emosi memang bisa berubah jadi menakutkan. Mirip Hellboy.


Capella saja sampai-sampai dibuat berjengit kaget, karena tiba-tiba sang ayah lepas kendali.


“Maaf,” ucap Elgara cepat. Ia kemudian melepaskan rangkulan pada sang putri, kemudian maju untuk berdiri di hadapan Damian dan Dewita.


“Atas nama istri dan putri saya, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah pahaman yang telah terjadi.” Elgara berkata dengan sorot mata yang menyiratkan ketulusan. “Saya harap tuan dan nyonya mau memaafkan kesalahan istri dan putri saya,” tambahnya seraya membungkuk Sembilan puluh derajat, seolah-olah tengah memberikan penghormatan.


Tindakan itu tentu membuat Damian dan Dewita terdiam untuk sejenak.


Elgara memang sangat menyayangi istri dan putrinya, sampai-sampai rela menanggung kesalahan mereka dan mau menjatuhkan harga diri untuk minta maaf, atas kesalahan yang tidak pernah ia perbuat.


“Sudah,” kata Damian. “Ini hanya kesalah pahaman. Lagipula masalah istri kamu yang main tangan terhadap putri kami, tidak dapat dihindari lagi. Semua telah terjadi.”

__ADS_1


Elgara kembali menegakkan tubuh dengan raut wajah sendu. “Maaf.”


Jika dihitung, ini sudah keempat kalinya Elgara mengucapkan kata maaf. Sedangkan yang bersangkutan sama sekali tidak melakukan hal yang sama.


“Kamu tidak bersalah.” Dewita ikut buka suara. “Istri kamu yang telah membuat kesalahan fatal. Sampai kapan pun, saya tidak akan melupakan peristiwa ini.”


“Nyonya Dewita....”


“Sudah, jangan minta maaf atas kesalahan yang tidak pernah kamu perbuat, El,” kata Dewita yang sebenarnya sudah cukup lama mengenal Elgara. Ia sekarang justru menyayangkan nasib Elgara yang memiliki istri dan putri agak ….crazy.


“Lagi pula Duchess sudah merasakan tamparan tanpa alasan itu. lain kali, jika putrimu atau istrimu kembali terlibat dengan putri saya, apalagi jika sampai berani menyakitinya, jangan harap putri dan istrimu akan selamat.”


Setelah berkata demikian, Dewita melenggang pergi dari ruangan pengawas. Namun, sebelum melewati pintu untuk keluar, ia sempat melewati Estrella yang tengah berdiri berdampingan dengan sang putri.


“Jangan kamu pikir aku tidak tahu tabiat buruk kamu, Estrella. Aku sudah mendapatkan cukup banyak informasi soal tabiat buruk kamu, terutama soal obsesi mu kepada suami Evelyn. Jangan pernah bermimpi terlalu tinggi, jika obsesi mu itu akan menjadi kenyataan,” bisik Dewita tepat di telinga Estrella.


Setelah berkata demikian, Dewita menyenggol bahu Estrella dengan gaya yang dibuat seperti tokoh wanita antagonis yang bersifat angkuh.


‘Kenapa ….dia bisa tahu soal tujuan Ella?’ batin Ella di dalam hati, geram.


“Kalian harus segera membawa Capella pergi dari sini.”


Belum juga reda gejolak amarah yang dipantik oleh Dewita, kini Ev yang buka suara. Kian menyulut emosi Estrella.


“Estrella dan Capella ….diusir?” kata Estrella dengan raut wajah yang dibuat kebingungan.


“Bukan,” sanggah Ev. “Akan tetapi, alangkah lebih baik jika kalian segera meninggalkan tempat ini, karena kita semua pasti butuh waktu. Terutama Duchess. Dia terlihat sangat shock karena insiden yang terjadi hari ini.”


“Tapi, Ella tidak sepenuhnya bersalah, karena Ella ingin menjaga Capella—“


“Kami akan segera pergi, nyonya Ev. Anda tidak perlu risau,” potong Elgara.


Baru saja Estrella ingin memanggil sang suami, Elgara sudah terlebih dahulu menoleh dan menatap sang istri lekat-lekat. Lewat tatapan itu, ia seolah-olah menyiratkan ultimatum yang tidak dapat dibantah.


‘Sial, kamu benar-benar mengacaukan segalanya, mas,’ rutuk Estrella di dalam hati.


“Sekali lagi saya minta maaf atas kekacauan yang disebabkan oleh putri dan istri saya. Saya jamin, lain kali masalah ini tidak akan terjadi lagi,” ucap Elgara, sekali lagi mencoba meyakinkan dua mantan tuannya.


“Pegang kata-katamu itu. Bagaimana pun juga mereka adalah tanggung jawab mu,” sahut Darren seraya meraih pinggang sang istri. Mulai mengambil ancang-ancang untuk keluar dari raungan itu pula. “Ah, satu lagi. Di kemudian hari, pintu mansion Xander tidak akan lagi terbuka untuk putri kalian. Tempat ini bukan daycare apalagi tempat penitipan anak baru gede yang berpotensi membuat putra kami lebih mudah terkena hipertensi.”


💐💐


TBC


NEXT??

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 22-07-22


__ADS_2